Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 452 Kita Keluarga


__ADS_3

Setelah ketiga anak muda itu bersiap, mereka segera akan menempuh perjalanan. Tetapi mengingat apa yang diucapkan oleh Raja Bhadra Arsyanendra di kraton kilen tadi, Ayodya Putri bermaksud mengingatkan kembali pada Chakra Ashanka.


"Kakang.. apakah kakang lupa dengan pesan yang diucapkan oleh Kanjeng SInuhun tadi..?" dengan suara pelan, Ayodya Putri memberanikan diri berbicara pada laki-laki muda itu. Gadis muda itu berpikir jika Chakra Ashanka tidak mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Raja Bhadra Arsyanendra.


"Pesan apa Nimas Putri, sepertinya kakang tidak mungkin mengingat semua kata-kata tadi. Fokus perhatianku hanya pada keselamatan ayahnda Wisanggeni dan ibunda Rengganis, juga Nimas Parvati. Kakang sudah tidak menyerap lagi semua perkataan itu." dengan ingin tahu, Chakra Ashanka bertanya kembali pada Ayodya Putri.


"Sepertinya tadi Nimas mendengar, Kanjeng Sinuhun meminta kakang membawa pasukan kerajaan untuk menemani perjalanan ini. Apakah kakang sudah menyiapkannya, jika belum.. Nimas Putri bisa membantunya untuk kakang." Ayodya Putri menyampaikan kalimat yang tadi diucapkan oleh Bahdra Arsyanendra.


Chakra Ashanka terdiam kemudian tersenyum. Untuk pesan yang ini, bukannya laki-laki muda ini melupakannya. Tetapi memang akan sangat beresiko, jika membawa terlalu banyak orang untuk datang ke padang rumput tersebut.


"Nimas Putri.. aku berencana memang tidak akan membawa mereka. Dalam mimpiku,, padang rumput itu bisa saja menelan banyak korban, jika mereka datang dengan tidak membekali dirinya dengan kekuatan energi dan aura batin yang tinggi. Untuk itu Nimas.. aku berencana akan datang ke padang rumput itu sendiri, karena menjadi tugasku untuk memastikan keselamatan kedua orang tuaku.." ucap Chakra Ashanka lirih.


Sekar Ratih dan Ayodya Putri terkejut mendengar perkataan dari laki-laki muda itu. Keduanya menatap tajam ke mata Chakra Ashanka.


"Apa maksud perkataan kakang.. apakah kakang akan meninggalkan kami di tempat ini. Ingat kang.. jika kakang berani melakukan hal itu, maka jangan salahkan jika Nimas Ratih akan mengobrak abrik dan membuat kekacauan di tempat ini.." dengan reaksi marah, Sekar ratih menanggapi perkataan anak muda itu. Gadis muda itu merasa jika kepergian Chakra Ashanka tidak akan melibatkan dirinya.


Chakra Ashanka tersentak dengan ucapan Sekar Ratih, laki-laki muda itu menatap wajah Sekar Ratih yang terlihat marah. Begitu juga dengan Ayodya Putri yang tidak dapat menyampaikan rasa kesalnya.

__ADS_1


"Nimas.. jangan salah paham dengan sikapku. Kali ini adalah kisahku untuk memperjuangkan keluargaku Nimas.. aku tidak akan melibatkan kalian dalam bahaya. Ada kekuatan kuno dalam hal yang akan menjadi musuh yang nantinya akan aku hadapi. Aku harap.. kalian berdua mengerti." Chakra Ashanka berbicara lirih.


Mata Sekar Ratih memerah, perempuan itu menatap Chakra Ashanka dengan marah. Tidak dapat dipahami, untuk apa laki-laki muda itu menolak untuk mengajaknya. Dalam keadaan apapun, anak muda itu pernah mengatakan akan selalu melibatkannya dalam perjalanannya. Melihat reaksi yang ditunjukkan Sekar Ratih, Chakra Ashanka menjadi kaget, tetapi gadis muda itu sudah membalikkan badan meninggalkannya sendiri berdiri dengan Ayodya Putri disitu.


Tidak berapa lama kemudian, terlihat Sekar Ratih sudah kembali keluar dengan membawa bungkusan yang kemudian dimasukkannya ke dalam kepis. Chakra Ashanka terkejut, kemudian mengejar gadis muda itu.


"Nimas Ratih.. jangan tambahi lagi dengan beban pikiran untuk memikirkanmu. Urusan keluargaku, belum aku temukan jalan keluarnya, kali ini kamu menambah lagi masalahku.." terdengar suara keras Chakra Ashanka yang ditujukan untuk gadis muda di depannya itu. Sekar Ratih berhenti dan tersenyum sinis menatap anak muda di depannya itu.


"Aku akan menempuh jalanku sendiri kakang.. karena pagi ini kakang sudah membuka mataku. Jika keberadaanku di samping kang Ashan sudah tidak dibutuhkan lagi, dan hanya mengganggu perjalanan kakang.." tanpa memandang ke mata anak muda itu, Sekar Ratih berbicara dengan nada judes.


**********


Beberapa Saat Kemudian


Setelah semua bekal yang akan dibawa sudah masuk semua ke dalam kepis, akhirnya Chakra Ashanka dengan ditemani Sekar Ratih dan Ayodya Putri keluar dari Kepatihan. Tidak ada satupun prajurit kerajaan yang menyertainya, karena memang anak muda itu menolak ketika kepala parajurit menawarkan bantuannya.


"Kita akan berjalan dulu sampai di luar kota ini. Baru kakang akan meminta Singa Resti dan naga terbang untuk mengantarkan kita. Aku yakin, kedua binatang itu memiliki penciuman yang lebih tajam  dari kita, sehingga tempat keberadaan padang rumput itu akan lebih cepat untuk kita temukan." Chakra Ashanka berjalan di depan, dan kedua gadis itu mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Baik kakang.. kami akan berada di belakang kakang.." Sekar Ratih menjawab perkataan Chakra Ashanka.


Setelah melewati beberapa waktu, akhirnya aku mereka sampai juga di pinggiran kota. Laki-laki muda itu segera mengeluarkan kedua binatang yang selalu menemaninya kemanapun itu. Tetapi baru saja anak muda itu akan memasukkan tangannya ke dalam kepis, terlihat seorang anak muda dengan pakaian bagus berdiri di depannya.


"Kanjeng Sinuhun... untuk apa Sinuhun berada di tempat ini.." dengan nada terkejut, Chakra Ashanka menyapa siapa laki-laki muda itu.


"Ganti panggilanmu kepadaku kakang.. Untuk saat ini, aku menempatkan diriku sebagai Bhadra Arsyanendra, adik dari kakang Chakra Ashanka. Turut menjadi tanggung jawabku untuk menemukan keberadaan paman Wisanggeni dan Bibi Rengganis.." Bhadra Arsyanendra bicara dengan nada rendah.


Chakra Ashanka terkejut, namun anak muda itu tidak bisa menolak apa yang sudah ada di depannya. Hanya menerima dan mengijinkan Bhadra Arsyanendra itu untuk mengikutinya pergi.


"Rayi Bahdra., bagaimana kerajaan Logandheng, siapa yang akan memimpinnya untuk sementara..?" teringat dengan tanggung jawab akan kerajaan, Chakra Ashanka bertanya pada anak muda itu.


"Tidak perlu kakang memikirkannya. Sebelum menuju ke tempat ini, aku sudah menyampaikan beberapa amanah pada sesepuh kerajaan. Rakyat tidak akan tahu kemana arah tujuanku, dan mereka tetap akan menganggap keberadaan kita di istana kerajaan." Bhadra Arsyanendra menjelaskan,


Chakra Ashanka hanya bisa mengambil nafas panjang, tidak ada cara untuk menolak kehadiran teman-temannya itu. Akhirnya Chakra Ashanka mengeluarkan kedua binatang peliharaanya untuk mengantar mereka pergi. Tidak lama kemudian, kedua binatang peliharaan itu sudah membesar dan berdiri di depan ke empat orang itu. Karena mereka terdiri dari empat orang, dan ada dua binatang yang akan mengantar mereka pergi, akhirnya mereka membagi diri. Sekar Ratih dan Ayodya Putri mengendarai naga terbang, sedangkan Chakra Ashanka dan Bhadra Arsyanendra menggunakan Singa Resti untuk mengantar mereka.


********

__ADS_1


__ADS_2