Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 303 Bertemu Teman


__ADS_3

Akhirnya Chakra Ashanka pingsan karena tidak dapat menahan masuknya ilmu kanuragan yang diwariskan oleh kakek Ananta. Laki-laki tua itu tersenyum menyaksikan keadaan yang dialami oleh anak muda itu. Beberapa saat kemudian, laki-laki tua itu menarik kembali kedua tangannya. Tidak hanya Chakra Ashanka, laki-laki tua itu juga terlihat pucat, karena semua esensi energinya sudah disalurkan ke tubuh anak muda itu.


"Anak muda.., aku harap kamu berhasil menyerap semua warisan yang sudah aku berikan kepadamu. Kini tinggal bagaimana kamu akan mengolahnya, jika kamu berhasil kamu akan menjadi seorang pendekar pilih tanding di wilayah ini. Kamu akan dengan mudah mengendalikan semua sifat-sifat binatang yang ada dalam tubuh manusia, kamu sudah berhasil mengendalikan ke tujuh chakra yang ada di dalam tubuh manusia." melihat Chakra Ashanka yang terkulai lemas, laki-laki tua itu tersenyum getir.


Perlahan tangan laki-laki tua itu mengusap kepala Chakra Ashanka, kemudian perlahan tubuh fisiknya memudar dan lama kelamaan menghilang seperti tidak ada orang sebelumnya di tempat itu. Anak muda itu tidak menyadari apa yang sudah terjadi di sekitarnya, anak muda itu masih tertidur dalam keadaan pingsan dengan pulas. Terlihat, luka-luka yang ada di tubuh Chakra Ashanka, perlahan menutup dengan sendirinya, dan akhirnya menghilang tidak menimbulkan jejak sedikitpun,


Suasana di ruangan lantai tujuh, kembali terlihat sepi dan tenang. Bahkan lama kelamaan bangunan berbentuk candi itu memudar dan hilang. Anak muda itu belum menyadari apa yang sudah terjadi dengan dirinya. Tiba-tiba saja tubuh Chakra Ashanka tergeletak di atas hamparan rumput yang ada di hutan tersebut. Tidak sedikitpun telihat tanda-tanda jika di tempat itu, baru saja berdiri sebuah candi.


*********


Pagi Hari.....


Suasana di pagi hari di tengah hutan terdengar ramai oleh suara binatang. Semua binatang saling bersuara seperti menunjukkan kepemilikan dan jati dirinya di tengah hutan tersebut. Sinar matahari menerobos masuk melewati sela-sela dedaunan, sehingga tempat itu tetap terlihat teduh dan damai.


"Krik..., krik.. krik.." terdengar suara jangkrik di tengah hutan.


"Kriyek..., kriyek.." suara burung juga saling bersahutan di atas pohon. Suasana alam yang ramai tampak terdengar di sebuah hutan dengan rumput hijau yang tumbuh di bawah pepohonan. Seorang anak muda tampak tertidur lelap, tidak merasa terganggu dengan keriuhan hutan di pagi hari itu.


"Uuukk.. aaa... uukk... aaaa..." suara monyet yang saling melompat dari satu pohon ke pohon yang lain juga terdengar dengan jelas.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki beberapa orang tampak melewati tempat tersebut. Binatang-binatang yang semula berkumpul melarikan diri meninggalkan tempat tersebut. Mereka memilih untuk menyembunyikan diri, melihat kedatangan beberapa manusia yang lewat, dari pada menjadi mangsa dari manusia-manusia itu.


"Lihatlah ada anak muda yang sedang tertidur di atas rumput.., siapakah dia..?" terdengar suara laki-laki menunjuk ke arah anak muda berambut panjang, dengan cambang memenuhi rahangnya.,


"Tunggu sebentar.., kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Anak muda itu tidur, mati atau pingsan.." salah satu dari orang tersebut terdengar menahan langkah mereka untuk menghampiri anak muda itu.


Orang-orang itu kemudian menghentikan langkahnya. Setelah beberapa saat mereka menunggu, dan ternyata tidak ada gerakan dari laki-laki muda itu, akhirnya mereka saling berpandangan.


"Siapa yang berani memeriksa anak muda itu? Siapa tahu anak muda itu sedang mengalami pingsan, dan membutuhkan pertolongan kita." ucap seorang perempuan dengan cemas.


Seorang laki-laki dewasa kemudian maju mendekati anak muda itu. Laki-laki itu meletakkan jarinya di bawah hidung anak muda itu, dan merasakan ada uap hangat menyapu jarinya. Laki-laki itu tersenyum, kemudian mengguncang tubuh anak muda itu.


Tidak lama kemudian, terdapat gerakan dari anak muda itu. Tiba-tiba mata anak muda itu mengerjap dan akhirnya membuka dengan lebar.


"Paman.., Paman Abhiseka.., apakah Ashan tidak salah melihat?" melihat laki-laki di depannya, anak muda itu tiba-tiba berteriak memanggil laki-laki di depannya.


"Suaramu seperti suara keponakanku Chakra Ashanka. Apakah kamu mengenalnya..?" merasa bingung dengan wajah asing anak muda di depannya, Pangeran Abhiseka bertanya pada anak muda itu.


Anak muda itu beranjak bangun dari tidurnya, kemudian tanpa permisi langsung memeluk erat tubuh laki-laki di depannya itu. Pangeran Abhiseka merasa bingung, tetapi pegangan dan kehangatan yang dirasakan dari pelukan itu, laki-laki itu merasakan sesuatu yang akrab,

__ADS_1


"Ini Ashan paman..., aku adalah Chakra Ashanka putra dari ayahnda Wisanggeni dan ibunda Rengganis." anak muda itu menyebutkan jati dirinya. Pangeran Abhiseka merasa tidak percaya, kemudian laki-laki itu melepaskan pelukan dan melihat lagi dengan seksama anak muda yang ada dalam pelukannya. Setelah melihat sesuatu yang tidak asing dari mata dan bibir anak muda itu, Pangeran Abhiseka kembali memberi pelukan pada anak muda itu.


**********


Suasana hangat kembali berkumpul kembali dengan teman-teman seperjalanan, dirayakan dengan membuat daging rusa bakar di hutan itu. Selain rusa bakar, banyak buah-buahan yang berhasil dipetik dari hutan tersebut.


"Bagaimana keadaanmu anak muda.., kenapa tiba-tiba kamu bisa berada di tempat ini..?" Widayat bertanya pada anak muda itu.


"Iya paman.., Ashan sendiri juga tidak tahu kenapa menjadi begini. Terakhir kali, Ashan hanya mengingat sedang berbicara dan menerima warisan dari kakek Ananta. Rasa sakit yang muncul dari warisan itu, Ashan tidak kuat untuk menahannya. Hanya itulah yang berhasil Ashan ingat paman, tidak ada lagi yang lainnya." Chakra Ashanka menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Widayat,


Pangeran Abhiseka dan Niken Kinanthi saling berpandangan, mereka pernah mendengar nama pesohor yang disebutkan oleh anak muda itu. Hanya saja, pesohor itu menenangkan diri, kemudian hilang tidak diketahui rimbanya sampai sekarang. Mereka sama sekali tidak menyangka, akhirnya Chakra Ashanka yang dapat menerima warisan dari pesohor tersebut.


"Ashan..., tidak perlu kamu ingat kembali kejadian-kejadian itu. Sekarang makanlah.., ini aku sisakan sampil atau paha atas rusa untukmu." Niken Kinanthi menyerahkan daging paha atas rusa yang sudah dipotongnya menggunakan pisau belati kepada anak muda itu.


"Iya Ashan.., kamu harus segera mengambalikan berat badanmu, dan membersihkan cambang yang mengotori wajahmu. Kami tidak mau mendapatkan teguran dari Nimas Rengganis ibundamu, dan sahabatku Wisanggeni ayahndamu." Pangeran Abhiseka menambahkan.


Tanpa banyak bicara, Chakra Ashanka menerima potongan daging rusa itu, kemudian langsung memasukkan ke dalam mulutnya dengan lahap. Semua orang bersuka ria menikmati jamuan makanan sambil berseloroh dan bercerita dengan ramai.


************

__ADS_1


__ADS_2