Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 36 Perjalanan ke Barat


__ADS_3

Wisanggeni segera mengajak Larasati dan Subali ke rumahnya, dia mengajak dua orang temannya itu untuk membantunya membangun kembali kekuatan dari Klan Bhirowo. Laki-laki muda itu agak merasa deg-degan jantungnya, karena melihat Larasati yang jauh lebih cantik dari terakhir kali mereka bertemu. Tubuhnya bertambah sintal, tetapi dia menyadari jika perasaannya itu hanya didominasi oleh naf...su usia mudanya, bukan karena rasa tertarik untuk memilikinya sebagai pendamping hidupnya. Rengganis adalah wanita yang dia inginkan untuk mendampingi hidup untuk selamanya.


"Rengganis..., dimana kamu saat ini?" gumam Wisanggeni tanpa sadar dari mulutnya.


"Ada apa kang Wisang.., siapa yang kakang sebutkan barusan?" tiba-tiba Larasati bertanya pada Wisanggeni, saat mendengar gumamannya tadi.


"Bukan siapa-siapa Laras.., ayok anggap saja sebagai rumah kalian sendiri. Silakan kalau mau mencari makanan, sepertinya tadi orang-orangku sudah menyiapkan makanan untuk kita." Wisanggeni menelan air liurnya sambil tersenyum pahit.


Larasati tersenyum manis, kemudian dia duduk di samping laki-laki muda itu. Gadis itu memang memendam rasa pada laki-laki muda itu, tetapi Wisanggeni sepertinya hanya suka melihat tubuhnya, tidak pada perasaannya. Subali melihat kedua orang laki-laki dan perempuan itu duduk berdampingan, dia kemudian pamit untuk menyiapkan makanan.


"Saya akan ke belakang dulu untuk menyiapkan makanan untuk kita." Subali langsung melangkahkan kaki menuju dapur.


Sepeninggalan Subali, Larasati menyandarkan kepalanya di pundak Wisanggeni. Tangannya yang lembut, mengambil tangan laki-laki muda itu kemudian menciumnya dengan sangat pelan. Jantung Wisanggeni semakin bergemuruh, darah seperti mengalir dan bergolak di dalam perutnya. Dia berusaha mengendalikan dirinya, kemudian setelah mengambil nafas dalam laki-laki muda itu menegakkan kembali tubuh Larasati.


"Aku mau mengecek dulu orang-orangku." ucapnya sambil tersenyum pahit.


Wisanggeni melangkahkan kakinya ke halaman samping, singa putih yang tampak imut karena bebentuk kucing, memandang kurang menyukai sikap Larasati yang terlalu agresif. Kemudian singa putih mengikuti Wisanggeni keluar dari ruangan itu. Banyak orang yang sedang berlatih disitu. Melihat kehadiran putra dari Ki Mahesa, orang-orang disitu memberikan hormat padanya. Sekitar 40 orang berhasil dikumpulkan oleh Sastro dan diajak bergabung bersama dengan putra bungsu dari Kepala Klan. Setiap siang hari, mereka bekerja mengumpulkan pendapatan, jika malam mereka berlatih meningkatkan ilmu kanuragan.


"Bagaimana latihan kalian saat ini, aku harap kalian sudah memiliki peningkatan kanuragan yang lumayan." tanya Wisanggeni pada warga yang tinggal di rumahnya.


"Lumayan Den..., ilmu yang kemarin Aden berikan pada kami, sudah separuh lebih yang sudah menguasainya dengan baik." Sastro melaporkan perkembangan dari orang-orang yang berlatih disitu.


"Baguslah kalau begitu.., ayok teruskan latihanmu! Aku akan menuju kamar, untuk membuat obat herbal. Karena kita membutuhkan uang banyak untuk bertahan hidup di kota ini." ucap Wisanggeni, kemudian membalikkan badannya untuk kembali menuju kamarnya. Melihat Larasati masih duduk di ruang tamu, Wisanggeni mengambil jalan melingkar untuk menuju kamarnya. Segera dia menyiapkan bahan-bahan obat, dan tungku pembuat pilnya. Tidak menunggu waktu lama.., aroma harum obat herbal level kekuatan dasar menyeruak ke seluruh ruangan.


Selesai membuat beberapa botol porselin obat herbal, Wisanggeni mengatur pernafasannya kembali karena tenaga dalam dan energinya tersedot habis untuk membuat beberapa obat herbal. Setelah merasa kembali stabil, laki-laki muda itu kemudian membaringkan tubuhnya diatas pembaringan. Angannya melayang, dan tidak tahu kenapa dia memikirkan lekuk tubuh Larasati. Lekukan sintal tubuh perempuan itu seperti melambai-lambai menginginkan belaian dan sentuhannya. Laki-laki muda itu kemudian berusaha menghilangkan pikiran mesumnya.


"Sang Hyang Widhi..., beri aku kekuatan untuk mengendalikan pikiranku yang liar ini." dengan tersenyum pahit, laki-laki muda itu memanjatkan doa.

__ADS_1


 


 


*************


 


Wisanggeni berjalan meninggalkan rumah ditemani Singa putih. Dia sengaja tidak berpamitan dengan orang-orang yang ada di rumahnya, karena dia mendapatkan kabar dari Kinara jika dia sudah berhasil menghubungi kakaknya. Gadis itu juga menyampaikan jika searah perjalanan menuju tempat Widjanarko dan Lindhuaji, ada seorang yang sedang mendapatkan penyakit yang susah untuk disembuhkan. Orang itu bersedia untuk membayar dengan harga yang mahal, jika berhasil menyembuhkannya. Atas informasi yang dia dapatkan itu, Wisanggeni ingin mencoba nasibnya untuk mengobati orang tersebut. Siapa tahu keberuntungan berpihak padanya.


"Singa Putih.., kita berjalan dulu sampai ke pinggir desa. Baru kamu berubah untuk bisa berangkat menuju kesana dengan cepat." dengan mengelus kepala kucing imut itu, Wisanggeni berbicara pada Singa Ulung. Seperti biasanya kucing itu akan menggesekkan kepalanya ke badan Wisanggeni.


"Berhenti!!" tiba-tiba terdengar suara orang meminta Wisanggeni berhenti. Laki-laki muda itu menghentikan langkahnya, dan terlihat di belakangnya lima orang dengan penampilan sangar berjalan ke arahnya.


"Ada apa Ki sanak? Apakah Ki sanak memanggil saya?" tanya Wisanggeni dengan sopan.


"Apa maksud Ki sanak? Aku hanya melewati wilayah ini untuk menuju pinggiran desa. Maaf KI sanak, aku tidak bisa semudah itu untuk meninggalkan semua barang bawaanku, karena aku masih membutuhkannya." Wisanggeni menolak permintaan mereka.


"Terlalu banyak bicara kamu. Serang!" seorang dari mereka berteriak.


"Clap.." terlempar golok yang hampir mengenai pundak Wisanggeni, untung dia dengan cepat menundukkan badannya. Golok itu langsung menancap pada pohon di belakangnya.


Belum sampai Wisanggeni menegakkan badannya kembali, sebuah tendangan diarahkan padanya. Dengan cepat, tangannya menangkap kaki orang tersebut dan menghempaskannya ke belakang.


"Bruk.." terdengar suara orang terhempas di tanah.


"Bang..sat.. kamu anak muda. Kamu berani mengacaukan anak buahku. Ciaat..." terdengar teriakan pemimpin orang-orang itu, tapi tiba-tiba..

__ADS_1


"Aaaaaa.." tiba-tiba orang itu terjatuh ke belakang, bahkan Wisanggeni belum melakukan serangan apapun. Tidak menunggu waktu lama, tiba-tiba tubuh orang itu membiru. Melihat pemimpinnya terjatuh, keempat orang itu langsung melarikan diri.


"Keluarlah Laras..., jangan main belakang!" melihat warna biru, Wisanggeni menebak jika laki-laki itu terkena serangan racun. Hanya Larasati yang bisa melakukannya.


"Srettt." Larasati dengan tersenyum malu mendarat di samping Wisanggeni.


"Kenapa mengikutiku?" tanya Wisanggeni.


"Kang Wisang yang jahat. Baru saja beberapa hari kita ketemu, kenapa kakang sudah meninggalkan Laras?" kata Larasati sambil merajuk.


Wisanggeni tersenyum melihat bibir monyong gadis itu, membuat darahnya kembali berdesir.


"Aku ada urusan penting Laras. Jika kamu berada di rumah, kamu bisa membantu dengan Subali. Kalian bisa melatih mereka untuk meningkatkan ilmu kanuragan mereka." kata Wisanggeni dengan suara pelan.


"Aku hanya mau jika itu dengan kakang." jawab Larasati langsung ke pokoknya. Dia kemudian mengambil kotak penyimpanan pemimpin penjahat itu, kemudian melemparkannya pada Wisanggeni.


"Baiklah.. meskipun sebenarnya kita tidak dibenarkan pergi berdua. Kamu harus menjaga diri agar tidak menggodaku. Aku akan pergi ke kota di wilayah Barat, aku akan mengunjungi kedua kakakku. Kamu boleh ikut denganku, siapa tahu kamu berjodoh dengan salah satu dari kakakku nanti." mendengar perkataan Wisanggeni, Larasati terlihat gembira, tetapi begitu kalimat terakhir terucap dia kembali cemberut. Dengan gemas Wisanggeni mengelus kepala Larasati.


************


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2