
Setelah menempuh lima belas hari perjalanan, akhirnya Maharani bisa melihat kembali perbukitan Gunung Jambu, yang tampak gagah terlihat di depannya. Tiba-tiba dalam hatinya, perempuan muda ini ingin menikmati pemandangan di depan matanya. Maharani berniat ingin melihatnya dengan meluangkan waktu sejenak. Perempuan itu tersenyum, kemudian bergeser ke depan dan menepuk punggung dayang yang menemaninya pergi.
"Bibi.., pelankan kereta kudanya. Tidak lama lagi kita akan sampai di gerbang perbatasan utama untuk menuju perguruan kang Wisang.. Aku ingin sejenak menikmati pemandangan dari tempat ini. Lihatlah ada luweng di sebelah sana, kita bisa mampir sebentar untuk beristirahat." dengan suara pelan, Maharani meminta dayang menurunkan kecepatan kereta kudanya. Kereta kuda yang mereka bawa memang bukan kereta kuda sembarangan, binatang itu memiliki kecepatan seperti angin kencang dan merupakan kereta pusaka kerajaan ular.
"Baik Gusti Ratu..., bibi akan mengarahkan kereta ke arah luweng disana. Kita bisa beristirahat sebentar. Apalagi jika kita amati, kuda yang membawa kita juga sudah terlihat terlalu lelah. Binatang itu telah membawa kita dalam lima belas hari tanpa istirahat." perempuan yang belum begitu tua itu, dengan sabar menanggapi perkataan Maharani.
"Terima kasih Bibi.." ucap Maharani, matanya mengerjap, bersinar melihat pemandangan di sisi jurang sebelah kanan. Di bawah, perempuan itu melihat hamparan sawah dengan padi menguning, dan juga aliran sungai terlihat dari tempat mereka berada. Sejenak rasa damai menghinggapi batin perempuan muda tersebut. Tangannya mengusap pelan ke arah perut yang terlihat membuncit.
"Kang Wisang.., sebentar lagi kita akan bertemu kembali. Aku yakin, kamu tidak akan menyadari jika saat ini aku sudah mengandung putramu.." guman Maharani pelan..
Dari depan kereta, dayang tersenyum mendengar gumaman perempuan itu. Setelah memutuskan untuk menjalin ikatan resmi dengan Wisanggeni, banyak terjadi perubahan pada perempuan itu. Maharani yang dulu terkenal liar dan tidak mengenal kata ampun, saat ini sudah banyak jauh berubah. Melihatnya mengusap perut dengan penuh kasih sayang, membuat hati siapapun yang melihatnya akan meleleh.
Beberapa saat kemudian, di bawah rerimbunan pohon jati, dayang menghentikan kereta kudanya. Di bawah terlihat sebuah luweng.., dan anak sungai yang mengalir dengan air yang sangat bening. Burung-burung beterbangan, seakan menyambut kedatangan mereka di tempat itu.
"Gusti ratu.., kita sudah sampai di dekat luweng berada Gusti.. Turunlah, bibi akan menjaga kereta kuda ini. Sepertinya matahari tidak terlalu terik disini, sinarnya tidak nampu menembus rimbunnya daun-daun jati yang lebar." dayang menyampaikan pada Maharani, jika mereka sudah sampai di tempat tujuan awal.
__ADS_1
Perlahan Maharani menggeser tubuhnya ke depan. Setelah memastikan kereta kuda berhenti dalam posisi benar, perempuan separuh baya itu mendahului turun. Menggunakan kursi kayu kecil, dayang meminta Maharani untuk segera turun dengan menggunakan kursi kecil tersebut untuk menahan beban.
"Turunlah Gusti.., bibi akan memegangi Gusti Ratu.." dayang mengulurkan tangan untuk meraih tangan Maharani. Dengan menggunakan tangan dayang sebagai penumpu bebannya, perlahan perempuan muda itu menuruni kereta kuda dengan menginjakkan kakinya di atas kursi kecil tersebut.
Mata jernih Maharani mengerjap, menyaksikan apa yang dia lihat di depan matanya, Perempuan muda itu merentangkan tangannya, kemudian memejamkan mata menikmati hembusan angin yang menerpanya. Kesejukan angin berhembus terasa memasuki rongga dadanya. Setelah beberapa saat, dengan tersenyum bahagia perempuan muda itu mulai menuruni jalan setapak untuk menuju ke luweng tersebut.
***********
Di bawah air terjun, Maharani menggunakan air yang deras mengalir dari atas untuk memijat punggung dan bahunya. Kulitnya terlihat halus dan mulus terkena guyuran air dari atas curug. Ketenangan terus merasuk di dadanya, dan sesekali tangannya menyibakkan rambut hitam legam sepanjang pinggang, yang terkadang menimpa tubuh bagian depan.
"Apakah kamu sudah tidak sabar ingin segera keluar dari gua garbo ibunda putraku...?" Maharani bertanya lirih dengan mengusap kembali perutnya secara perlahan.
Gerakan-gerakan kecil kembali dirasakan Maharani, ketika dia mengajak bayi yang masih ada di dalam rahimnya berkomunikasi. Dari atas, dayang tersenyum melihat naluri keibuan yang tampak jelas terlihat dari bagaimana Maharani memperlakukan kehamilannya. Perempuan muda itu tidak pernah terdengar keluhannya, sepertinya sangat mensyukuri dan mengahrapkan bayinya akan segera terlahir dengan selamat.
Perlahan dayang itu bergegas berjalan menuju ke arah luweng tempat Maharani sedang beristirahat dengan merendam tubuh, dan mengguyur kepala menggunakan air terjun. Sudah beberapa saat perempuan muda yang sangat dijaga dan dihormatinya itu, menghabiskan waktu di luweng tersebut. Menjadi kewajiban dari dayang tersebut untuk meminta Maharani beristirahat.
__ADS_1
"Gusti ratu..., berhentilah dulu. Gusti ratu sudah terlalu lama, bermain air di tempat ini. Hari keburu senja Gusti ratu.., kita harus segera meninggalkan tempat ini!" dayang berteriak meminta Maharani untuk segera naik.
Ratu ular itu membuka matanya, kemudian perlahan berdiri dan berjalan menghampiri dayang tersebut. Dayang tersenyum melihat keelokan tubuh telanjang Maharani, yang berjalan dengan perut membuncit menuju ke arahnya. Kulitnya putih bersih seperti batu pualam, dan tidak ada sedikitpun bekas luka di atas kulit mulus tersebut,
Dengan sigap, dayang menyerahkan kain panjang untuk mengelap air yang masih menempel di tubuh Maharani. Setelah perempuan muda itu menyeka tetesan air, dayang segera menyerahkan seperangkat baju ganti. Tidak lama kemudian, Maharani sudah kembali berpakaian lengkap. Muncul aura yang menakjubkan dari wajah dan tubuh Maharani, setelah kulitnya tersentuh air.
"Bibi.., sepertinya aku mulai merasa lapar. Apakah bibi sudah menyiapkan kudapan untuk kita gunakan mengisi perut kita?" tanya Maharani perlahan. Menghabiskan waktu beberapa saat di dalam air, ternyata tanpa dia sadari menimbulkan rasa lapar di dalam perutnya.
"Gusti ratu harus segera beristirahat, dan kembali naik ke atas kereta kuda. Bibi sudah menyiapkan makanan dan minuman hangat untuk Gusti ratu. Kebetulan tadi bibi menangkap beberapa ekor ikan, dan memetik buah-buah liar yang banyak tumbuh di tempat ini." perempuan paruh baya itu, segera memegangi tangan Maharani, dan kembali mendampinginya berjalan ke atas,
Tanpa banyak bicara, Maharani mengikuti langkah kaki perempuan paruh baya itu. Di atas kereta, ternyata sudah tersaji makanan dan minuman seperti yang sudah disampaikan oleh dayang tersebut. Dengan mata berbinar, Maharani segera menaiki kereta kuda kembali.
"Bibi memang selalu bisa membaca apa yang aku inginkan.." ucap Maharani memuji pelayanan dari dayang yang menemaninya. Perempuan muda itu tidak dapat menunggu lagi, perlahan Maharani segera menikmati sajian yang sudah tersaji disitu.
***********
__ADS_1