Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 272 Menunggu Keajaiban Kuno


__ADS_3

Wisanggeni dan Chakra Ashanka terus berjalan meninggalkan sungai. Niat mereka untuk menginap di dekat mata air, akhirnya harus mereka kesampingkan mengingat banyaknya orang yang sudah berada di tempat itu. Tidak mau mencari tahu informasi lebih lanjut, mereka terus berjalan menembus gelapnya hutan di depan mereka.


"Ayahnda.., apakah ayah tidak tertarik ikut mencari apa yang mereka ceritakan tadi ayah..?" dalam perjalanan, dengan polosnya Chakra Ashanka bertanya pada Wisanggeni. Laki-laki itu menolehkan wajahnya ke arah putranya, kemudian tersenyum,,


"Putraku..., kita juga belum tahu sebenarnya fenomena apa yang akan mereka lihat dan saksikan. Mereka juga hanya mendengar dari berita simpang siur yang tidak dapat diketahui kebenarannya. Lebih baik sambil kita berjalan, kita akan mendapatkan kesempatan untuk ikut menyaksikan fenomena langka tersebut. Istilah jawa mengatakan "Jangan pernah Ngoyo, sakmadyo wae.." yang memiliki makna, jika kita menginginkan sesuatu, janganlah ngotot tanpa berpikir jernih, tetapi lakukanlah semua sesuai porsinya. Jika memang sang Hyang Widhi sudah menggariskan, sesuatu akan menjadi milik kita, maka dengan sendirinya barang itu akan mendatangi kita." perkataan pelan yang diucapkan Wisanggeni, menembus di hati Chakra Ashanka, Banyaknya pengalaman yang ditempuh oleh ayahndanya, menjadikan anak muda itu dapat belajar banyak dari Wisanggeni.


"Baik Ayah.. banyak hal yang bisa Ashan ambil sebagai sebuah pembelajaran, ketika berjalan dengan ayahnda. Putra ayah ini sangat bersyukur, bisa mendapatkan pengalaman untuk belajar langsung dari sumbernya," ucap Chakra Ashanka mengagumi ayahnya. Keduanya terus berjalan, dan di pinggir sebuah tebing.. Wisanggeni mengajak Chakra Ashanka untuk berhenti.


"Kita duduk di batuan besar di pinggir situ Ashan..!" ucap Wisanggeni. Anak muda itu bergegas mengikuti ayahndanya. Mata Chakra Ashanka terbelalak, melihat keindahan pemandangan alam di depan matanya. Dari atas terlihat bagaimana lembah di bawah tampak hijau karena banyaknya pepohonan di bawah sana. Terlihat pelangi melintas di depan matanya, menambah keindahan bukit yang disaput dengan warna-warni pelangi.


"Setelah ini, kemana langkah kita selanjutnya ayahnda...? Apakah kita jadi mencari tempat untuk ayahnda mendalami ilmu kanuragan Trah Bhirawa, ataukah akan pindah ke tempat lain?" Chakra Ashanka bertanya pada ayahndanya.


"Kita tidak perlu mencari putraku. Ayah teringat, ketika pertama kali ayah berlatih sendiri dengan ditemani oleh Bibi Larasati di sebuah goa, Mungkin ayahnda akan menuju ke tempat itu lagi. Tempat itu ada di tengah hutan, ayah yakin tidak sembarang orang akan dapat mencapai lokasi tersebut." Wisanggeni menjawab pertanyaan Chakra Ashanka, pikirannya menerawang membayangkan tempat pertama kali dia dapat menemukan mustika Nabau.


"Tetapi tidak ada salahnya kita turut untuk mengadu nasib melihat fenomena alam apa yang diceritakan oleh para tokoh tadi. Siapa tahu kamu atau ayahnda akan berjodoh dengannya, sehingga memiliki kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari keajaiban kuno tersebut. Apakah kamu merasa keberatan putraku??" dalam senyumnya, Wisanggeni menjelaskan pada putranya itu. Duduk di depan laki-laki itu, putranya dengan Rengganis menganggukkan kepalanya,

__ADS_1


"Tidak ayahnda, setiap titik perjalanan banyak makna dan pembelajaran yang bisa Ashan ambil, dan sangat menyenangi perjalanan ini." ucap Chakra Ashanka menjawab pertanyaan ayahndanya.


Wisanggeni menyandarkan badannya pada sebatang kayu, sambil memejamkan mata. Chakra Ashanka hanya memandang istirahat ayahndanya, meskipun dia tahu jika ayahnya tidak betul-betul hanya melakukan istirahat.


*********


Wisanggeni dan Chakra Ashanka akhirnya memutuskan untuk tidur di atas pohon, setelah melihat langit terlihat cerah. Keduanya sudah berada di atas pohon yang sama, sebuah pohon besar yang memiliki dahan yang berbeda dan mampu menopang tubuh kedua laki-laki itu. Sesaat Wisanggeni memejamkan matanya, tiba-tiba laki-laki itu merasa mendapat firasat untuk membuka matanya.


"Ashan..., bukalah matamu, apakah kamu sudah tidur?" Wisanggeni meminta putranya untuk terjaga.


"Iya ayah..., Ashan belum tidur. Sejak tadi, seperti ada yang berbisik pada Ashan untuk menunda mata ini istirahat." ternyata Chakra Ashanka juga mendapatkan sebuah firasat yang sama.


"Bersiaplah Ashan.., kita akan memulai perjalanan. Sepertinya fenomena alam yang baru saja kita lihat, bisa jadi merupakan keajaiban kuno yang ditunggu oleh orang-orang. Tidak ada salahnya kita ikut berburu seperti orang-orang tadi. Ikuti ayahnda.." Wisanggeni segera berdiri dan meminta Chakra Ashanka untuk mengikutinya. Putra laki-lakinya itu segera mengikuti apa yang dilakukannya.


Tanpa bicara, Wisanggeni melompat ke dahan yang ada di pohon yang ada disampingnya. Chakra Ashanka melakukan hal yang sama. Beberapa kali mereka melakukan lompatan itu, dan akhirnya mereka sampai di sebuah tempat dengan pohon-pohon yang bertumbangan di sekitarnya. Di tengah area, terlihat tanah lapang yang sepertinya terbentuk karena ledakan dari atas langit tadi, dan sebuah candi terlihat berdiri di tengahnya.

__ADS_1


Beberapa orang terlihat sudah melihat bangunan candi itu dengan pandangan kagum, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk mendekatinya. Mereka berpikir, dashyatnya ledakan yang ditimbulkan dari munculnya candi itu, menjadikan area di sekitar tanah lapang itu merupakan tempat yang mengerikan.


"Ayahnda.., apa yang akan kita lakukan?" kembali Chakra Ashanka bertanya pada Wisanggeni. Ayahndanya itu terlihat sedang melihat ke arah candi dengan seksama. Tampak kegembiraan muncul di wajah ayahndanyam seperti mendapatkan sebuah mainan baru,


"Kita akan menunggu sebentar Ashan.. Jika beberapa waktu ke depan, tidak ada orang yang berani mendekat ke arah candi itu, kita akan mendahului untuk melakukannya. Tetapi jika sudah ada yang berani untuk mencobanya, maka kita akan menunggunya untuk beberapa saat, Kita akan bisa menilai, tempat itu berbahaya atau tidak.." ucap Wisanggeni menasehati putranya,


"Baik ayah..., Ashan akan mengikuti arahan dari ayahnda." ucap anak muda itu.


Di sekeliling mereka, orang-orang mulai berdatangan ke tempat itu. Tetapi belum ada satupun tokoh yang berani untuk memasuki tanah lapang tersebut. Terlihat orang yang tadi meminta Wisanggeni untuk bergabung, juga terlihat sudah sampai di tempat tersebut. Ketika mata mereka bertatapan, senyuman sinis muncul di bibir mereka. Tetapi sedikitpun, Wisanggeni dan Chakra Ashanka tidak terpengaruh oleh sikap mereka.


"Hmmm..., rupanya kalian berdua hanya membohongi kami. Dengan kepolosan kalian, berusaha untuk mengelabui kami." tiba-tiba salah satu dari mereka, berbicara tentang Wisanggeni dan Chakra Ashanka.


Merasa tidak memiliki urusan dengan mereka, kedua laki-laki itu hanya mengerutkan dahinya tanpa menanggapi perkataan tersebut.


"Apakah kamu tidak memiliki telinga..? Aku berbicara kepadamu tuli..." tidak mendapatkan tanggapan dari kedua laki-laki itu, orang itu berteriak kepada mereka.

__ADS_1


Chakra Ashanka maju ke depan mendatangi orang yang sudah menghardik mereka. Wisanggeni mendiamkan sikap yang dilakukan oleh putranya itu.


**********


__ADS_2