Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 182 Jalan Buntu


__ADS_3

Melihat semakin banyaknya warga dari luar wilayah yang berantusias mengasah ilmu kanuragan di perguruan Gunung Jambu, Rengganis membuat sebuah aturan baru. Bagi para murid yang dinyatakan sudah melampaui tahapan tertentu, harus segera meninggalkan perguruan itu untuk memberi kesempatan pada murid baru untuk berlatih di tempat itu. Karena khususnya tempat berlatih mereka dengan luas wilayah yang terbatas, bagian dalam perguruan yang ada di perbukitan hanya digunakan untuk berlatih para murid yang sudah berhasil mencapai level tiga. Untuk level satu dan level dua, dibuatkan tempat di dekat tempat penyisihan seleksi masuk ke perguruan ini.


Rengganis berdiri menyaksikan Manggala dan Prayudha yang sedang melatih para murid baru di luar perbatasan padhepokan mereka. Chakra Ashanka terlihat sedang berlatih dengan Tunggul Amerta di dekat batu besar.


"Hop..., clap..." di bagian lain, beberapa murid perempuan sedang berlatih menggunakan senjata pisau.


"Ciaattt...., hugh...." melihat banyaknya murid yang berlatih di perbatasan, Rengganis tersenyum. Perempuan muda itu melangkahkah kaki menuju ke pinggir halaman, Rengganis mendatangi penjual jajanan yang banyak berada di sekitar tempat itu.


"Den Ayu..., apa yang ingin Aden cari..? Kami akan segera mengantarkan ke tempat Den Ayu duduk, silakan duduk di kursi ini dulu Den!" seorang penjual yang diijinkan membuka kedai makan di tempat itu, bergegas mendatangi Rengganis.


"Tidak perlu repot-repot paman.., aku hanya ingin menikmati jahe serai panas saja." ucap Rengganis sambil tersenyum pada penjual itu.


"Baik Den ayu.., mohon tunggu sebentar!" dengan segera, penjual itu berjalan meninggalkan Rengganis. Tidak lama kemudian, penjual itu sudah kembali dengan membawa satu gelas minuman panas ke arah Rengganis. Sukun godog terlihat juga dibawa laki-laki itu di atas sebuah piring.


"Minumlah Den Ayu.., selagi panas! Ini sukun matang di pohon yang terjatuh, kemudian paman rebus sebentar den ayu, monggo dinikmati." penjual menawarkan pada Rengganis untuk segera menikmati minumannya. Rengganis segera mengambil gelas, kemudian meminum beberapa teguk minuman itu. Rasa hangat mengalir di kerongkongan perempuan itu, dan perlahan mengalir turun ke perutnya.


"Ternyata tempat ini menjadi sangat ramai paman.., aku sama sekali tidak mengira. Nanti pasti Kang Wisang akan terkejut, jika sudah sampai kembali ke tempat ini." sambil menggigit sukun godog, Rengganis mengajak penjual itu berbicara.

__ADS_1


"Iya Den Ayu.., paman juga semakin bisa menambah jualan. Tidak menyangka juga, akhirnya paman bisa mendapatkan pekerjaan dengan berjualan, setelah perguruan ini menjadi besar. Kira-kira berapa lama lagi Den Bagus akan kembali ke padhepokan Den Ayu..? Paman sudah sangat lama tidak bertemu dengan Den Wisanggeni." penjual itu menanyakan keberadaan Wisanggeni. Mendengar kalimat itu, tatapan Rengganis beralih ke arah pegunungan. Perempuan muda itu tersenyum.., dan berusaha menyembunyikan rasa rindunya pada suami yang sudah beberapa waktu meninggalkannya.


"Ada urusan yang harus diselesaikan sendiri oleh Kang Wisang paman.. Harusnya tidak lama lagi, kang Wisang akan segera kembali ke tempat ini. Tetapi berada di wilayah hutan yang kita belum mengenali tempatnya, memang membutuhkan waktu yang lebih lama paman. Kita harus lebih bersabar untuk menunggu kepulangan Kang Wisang." dengan senyum pahit, Rengganis membuat penjelasan pada penjual makanan itu.


"Tapi saya dan orang-orang disini percaya Den Ayu..., percaya jika Den Bagus Wisanggeni merupakan laki-laki baik dan bertanggung jawab. Jika tidak ada urusan penting, tidak mungkin laki-laki itu akan meninggalkan Den Ayu untuk waktu yang cukup lama." penjual itu menambahkan.


*********


Di atas tebing


Wisanggeni bersama dengan Sumpeno dan Santosa segera melanjutkan perjalanan mereka. Beberapa meter di depan, terlihat ada tiga orang yang menatap kedatangan mereka dengan pandangan ingin tahu. Mungkin mereka berpikir, ada jalan lain untuk menuju ke tempat tersebut. Tetapi Wisanggeni dan kedua temannya pura-pura tidak tahu dan mengabaikan mereka.


"Ada apa Ki Sanak?" Wisanggeni bertanya pada laki-laki itu.


"Kenapa tadi kalian bertiga berjalan dari arah sana.., apakah ada jalan lewat situ?" ternyata laki-laki itu hanya menanyakan tentang jalan yang mereka ambil untuk menuju ke tempat itu. Sumpeno dan Santosa melihat ke arah Wisanggeni, sedangkan laki-laki yang mereka lihat malah tersenyum.


"Mungkin bagi beberapa orang, jalan yang kami lewati bukan sebuah jalan. Tetapi bagi kami, tempat itu merupakan jalan akses tercepat menuju ke tempat ini, daripada harus berebutan naik melewati jalan yang terbilang datar, tetapi akhirnya ambrol." Wisanggeni menjawab pertanyaan orang itu tanpa bermaksud membuat sindiran.

__ADS_1


"Maksudmu..? Kamu menyindir aku?" tanpa diduga, laki-laki itu merasa tersindir.


"Bukan maksud saya seperti itu Ki Sanak. Dan sepertinya kita tidak perlu meributkan hal itu, karena kita sudah berada di tempat ini dalam keadaan selamat, entah jalan mana yang sudah kita pilih." Wisanggeni segera menanggapi perkataan laki-laki itu, dan terlihat perkataannya bisa menenangkan laki-laki tersebut.


Tiba-tiba dari belakang Wisanggeni, dua orang yang tadi mereka lihat berjalan menghampiri mereka. Melihat salah satu temannya bisa berbicara akrab dengan Wisanggeni, kedua orang itu berubah ekpresi wajahnya. Wajah kedua laki-laki itu sudah mulai menandakan bersahabat.


"Tadi kami bertiga menuju kesini melewati air terjuan Ki Sanak. Kami memanjat tebing di samping air terjun, memang sedikit licin, tetapi kami bisa menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk meringankan tubuh kami. Akhirnya kami bisa menuju ke tempat ini dengan selamat." Wisanggeni menambahkan, dan setelah mendengarkan penjelasan dari Wisanggeni, ketiga laki-laki itu menganggukkan kepala.


"Baiklah.., jika begitu, bagaimana kalau kita bergabung saja untuk meneruskan perjalanan. Kita akan lebih bisa saling mengingatkan dan saling menjaga jika berjalan banyak orang." laki-laki itu kemudian mengajak mereka untuk bergabung. Wisanggeni langsung menyetujui usulan itu, dan menganggukkan kepala.


Beberapa saat keenam orang itu berjalan, tetapi akhirnya mereka menemui sebuah jalan buntu. Di depan mereka hanya ada tebing yang sangat tinggi, dan jika melihat ke atas mustahil mereka bisa memanjatnya tanpa menggunakkan alat bantuan.


"Bagaimana kita akan keluar dari sini?" tanya Sumpeno pada Wisanggeni.


"Tenanglah dulu Sumpeno.., pasti ada jalan di sekitar sini. Ayo kita berbagi tugas, cermati batu tebing yang ada di depan kalian, siapa tahu kita bisa menemukan sebuah petunjuk untuk pergi dari sini." Wisanggeni mengatur mereka, untuk memfokuskan diri pada wilayah batu-batuan yang ada di depan mereka.


"Baik.., mari kita lakukan!" mereka segera menyanggupi usulan dari Wisanggeni. Beberapa orang itu kemudian menyebar, dan mencermati  setiap batuan tebing yang ada di sekitar mereka.

__ADS_1


***********


__ADS_2