Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 42 Menuju Barat


__ADS_3

Pagi hari pada saat menjelang sarapan, tanpa merasa canggung sedikitpun Wisanggeni sudah menunggu di depan kamar Rengganis. Tidak menunggu lama, dengan muka merah tertunduk Rengganis keluar dari dalam kamar. Bersamaan Rengganis, Larasati juga sudah bersiap untuk pergi sarapan. Tersenyum kecut laki-laki muda itu melihat dua gadis cantik seperti mawar merekah, mereka keluar dan berjalan berdampingan tanpa bertegur sapa.


"Bagaimana istirahatnya tadi malam Anis?" sapa Wisanggeni.


"Baik saja."jawab Rengganis singkat. Tetapi sepertinya dia tersadar, jika disitu ada mangsa yang akan menerkam Wisanggeni jika dia berperilaku kekanak-kanakan. Begitu sampai di hadapan laki-laki muda itu, Rengganis langsung menggandeng tangannya dan segera berjalan sambil menyandarkan kepala di bahu kirinya.


Melihat pemandangan di depannya, Larasati langsung berjalan lebih cepat. Dengan muka cemberut, dia mendahului mereka berdua. Wisanggeni hanya garuk-garuk kepala melihat hal tersebut.


"Selamat pagi Laras.., sudah segar saja pagi ini." sapa Lindhuaji melihat Larasati yang sudah berjalan masuk ke pendopo.


"Huh." jawab Larasati singkat, dan langsung mengambil tempat duduk di samping Widjanarko.


Widjanarko tersenyum, dan dia mengedipkan matanya pada Lindhuaji. Putra kedua Ki Mahesa hanya tersenyum sambil cengar-cengir.


Tidak lama kemudian, Wisanggeni datang dengan merangkul Rengganis yang seakan tidak mau lepas dari laki-laki itu. Widjanarko geleng-geleng kepala melihat pemandangan di depannya itu.


"Ayo Wisang, Nimas Rengganis.. kita segera sarapan! Sesudah itu, baru kita bisa melakukan aktivitas apapun." Widjanarko segera memecah kekikukan suasana, dengan mengajak mereka untuk sarapan bersama.


Rengganis dengan cekatan, mengambilkan nasi beserta lauk dan sayur untuk Wisanggeni. Keadaan itu seperti seorang istri yang melayani suaminya. Tetapi tidak ada seorangpun yang berani untuk menegur mereka. Mereka melakukan sarapan dalam diam.


"Pepes ikannya gurih, bumbunya pas. Pintar sekali juru masaknya memadukan bumbunya." Wisanggeni memuji masakan juru masak.


"Ya jelas paslah Wisang, karena biasanya hanya makan ikan bakar pakai garam saja." sahut Lindhuaji.


"Iya.., itupun belum tentu sebulan sekali bisa mendapatkan ikannya." Widjanarko ikut menimpali perkataan Lindhuaji.


"Ha..ha..ha.., benar juga Kang. Beberapa kali Wisang makan di kedai, juga tidak menemukan pepes ikan dengan rasa yang seperti ini." kata Wisanggeni.


"Jelas tidak ada ya Kang, kan selama ini tidak ada Anis yang menemani Akang menikmati pepes ikan." Rengganis ikut meramaikan suasana.


Larasati hanya diam tidak ikut berkomentar.

__ADS_1


"Nimas Laras.., cobalah wader ini!! Gurih, hasil tangkapan di sungai." Lindhuaji mengambil wader dan meletakkannya pada piring Larasati.


Larasati menoleh ke arah Lindhuaji, kemudian tersenyum dan kembali menundukkan wajahnya.


"Ehmmm..., kok jadi aku pagi ini seperti Dupa yang menyala sendiri ya? Tidak ada satupun yang peduli padaku." komentar Widjanarko melihat kedua adiknya memperhatikan gadis masing-masing.


"Ha..., ha..ha ., oh iya Wisang sampai lupa kak. Waktu Wisang ikut pelelangan, ada Kinara yang menitipkan salam untuk kakak berdua." ucap Wisanggeni tiba-tiba.


Mendengar ucapan tersebut, Widjanarko tersenyum kecut.


"Kinar itu teman Kang Widjanarko bukan temannya Aji. Sebuah pertemanan yang cukup rumit." Lindhuaji berkomentar tentang hubungan Widjanarko dan Kinara.


"Sudah.., sudah.. segera kita selesaikan sarapan kita. Setelah ini, apa rencana kalian?" Widjanarko mengalihkan topik pembicaraan.


Wisanggeni melirik Rengganis yang duduk di sampingnya.


"Tadi malam saya berbicara dengan Nimas Rengganis, setelah sarapan ini kami berdua mau mohon pamit. Kami akan ke wilayah di ujung Barat, akan ke Gunung Baturetno." ucap Wisanggeni pelan.


"Untuk Larasati, silakan memilih sendiri. Mau ikut dengan kami, atau mau tetap berada di Klan ini. Saya serahkan semuanya pada Larasati sendiri. Kemudian jika berkenan, saya juga nitip pada Kang Aji dan Kang Widjanarko untuk memantau aktivitas dan perkembangan dari Klan Bhirawa." lanjut Wisanggeni.


Selepas sarapan, Wisanggeni dan Rengganis akhirnya pergi meninggalkan Klan Gumilang. Larasati kembali ke kota sebelumnya, dia memilih untuk mengawasi perkembangan dari Klan Bhirawa. Melihat gadis itu peduli dengan Klan yang semula dipimpin oleh ayahndanya, Lindhuaji akhirnya menemani Larasati bergabung dengan sisa-sisa anggota Klan.


********


"Kang lihatlah disana..., tampak asap mengepul! Berarti disana merupakan pemukiman penduduk." ucap Rengganis.


Gadis itu terlihat sangat bahagia dapat kembali berdua dengan Wisanggeni. Mereka berdua saat ini berada di atas punggung Singa Ulung, yang terbang di atas hutan. Rengganis duduk di depan, dan Wisanggeni memeluk Rengganis dari belakang.


"Iya.., kita akan menuju kesana. Kita ke desa terdekat dulu. Sambil mencari informasi letak persis dari gunung tersebut, kita bisa mencari penginapan untuk beristirahat." sahut Wisanggeni. Hidungnya kembang kempis mencium harum rambut gadis itu.


"Singa Ulung..., kita turun di desa terdekat ya! Kita akan mencari penginapan dulu di desa tersebut." Wisanggeni melanjutkan pada Singa Ulung sambil mengusap lembut bulu halus di kepalanya.

__ADS_1


"Aauuumm.." Singa Ulung mengaum merespon ajakan Wisanggeni.


Tidak lama kemudian, Singa Ulung mulai mengurangi kecepatan terbangnya. Setelah beberapa saat, akhirnya di pinggir desa binatang itu segera turun ke tanah. Wisanggeni langsung melompat turun, kemudian memegang tangan Rengganis dan membantunya turun dari punggung Singa Ulung. Kemudian dia menepuk kaki bagian atas binatang tunggangan itu, dan sekejap Singa Ulung berubah menjadi seekor kucing yang menggemaskan.


"Terima kasih Singa Ulung." ucap Rengganis sambil menggendong kucing putih itu. Dia mengelus bulu di punggung kucing itu dengan lembut. Wisanggeni tersenyum melihat tindakan Gadis itu.


"Kita akan istirahat di kedai dulu, atau sekalian pesan makanan sambil cari penginapan?" tanya Wisanggeni.


"Cari penginapan saja kang. Biasanya penginapan juga menyediakan makanan untuk pengunjungnya." sahut Rengganis.


Mereka kemudian berjalan masuk ke desa, dan setelah beberapa ratus meter, mereka menemukan ada Penginapan Pelangi.


"Bagaimana jika kita ke penginapan itu saja?" Wisanggeni menunjuk penginapan yang ada di ujung jalan.


Rengganis menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Wisanggeni.


"Iya kang, sepertinya penginapan itu bersih."


Bergegas mereka segera mendatangi penginapan tersebut, dan ternyata penginapan itu sekaligus juga sebagai kedai makan. Mereka langsung mendatangi ke bagian pemesanan.


"Kami pesan kamar untuk dua orang." kata Wisanggeni pada petugas jaga.


"Mau satu kamar untuk berdua, atau masing-masing satu kamar?" tanya penjaga.


"Dua kamar." sahut Rengganis. Wisanggeni hanya tersenyum mendengar jawaban dari gadis itu.


"Baik, 4 keping emas." jawab petugas. Rengganis langsung mengeluarkan 4 keping emas dan memberikannya pada petugas jaga.


Petugas jaga kemudian mengambil dua kunci kamar, kemudian memberikan pada Rengganis. Gadis itu mengambil kunci tersebut dan satu kunci dia berikan pada Wisanggeni.


"Kang Wisang.., Singa Ulung menemani Anis dulu ya?" Rengganis minta ijin pada Wisanggeni untuk membawa Singa Ulung.

__ADS_1


Wisanggeni menganggukkan kepala, kemudian segera masuk ke dalam kamar.


*********


__ADS_2