Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 421 Tugas Berat


__ADS_3

Ketika orang-orang di kerajaan Logandheng terlelap tidur, Wisanggeni mengajak istrinya Rengganis, dan juga putrinya Parvati untuk bergegas meninggalkan kerajaan ini. Mereka berpikir, sudah cukup waktu mereka untuk bersama dengan putra laki-lakinya, sehingga sudah saatnya mereka akan kembali ke perguruan Gunung Jambu,


"Kakang.. apakah kita tidak berpamitan dulu dengan putra kita Chakra Ashanka. Nimas khawatir, anak muda itu akan mencari kita, jika pagi nanti tidak bertemu dengan kita. Setiap ada kita, putra kita terbiasa menghabiskan waktu untuk makan pagi bersama kita." Rengganis memberi tahu suaminya Wisanggeni.


Laki-laki itu tersenyum, kemudian merangkul bahu istrinya Rengganis. Parvati hanya diam memandangi kedua orang tuanya itu.


"Nimas.. semakin kita sering bertemu dengan putra kita, akan muncul rasa enggan untuk berpisah dengannya. Nanti bukannya putra kita Chakra Ashanka yang enggan untuk berpisah, bisa jadi malah Nimas Rengganis yang akan tidak mau pergi." Wisanggeni tersenyum menggoda istrinya. Laki-laki itu sengaja tidak memberi tahu pada Rengganis, tentang kejadian kemarin malam. Dimana Raja Bhadra Arsyanendra mengunjungi kamar putrinya Parvati saat tengah malam.


Parvati juga tidak bercerita pada kedua orang tuanya tentang kunjungan malam itu. Gadis itu malah mengira, ayahdanya tidak mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh raja kerajaan Logandheng saat tengah malam. Merasa masih ingin menghabiskan waktu pada masa mudanya, Parvati juga tidak ingin membicarakan apa yang dikatakan Raja Bhadra Arsyanendra kepadanya.


"Benar juga yang kang Wisang ucapkan. Sebenarnya sudah ada keengganan untuk berpisah dengan putra kita, mengingat kita hanya empat hari berada di kerajaan ini. Baiklah.. Nimas akan mengikuti apa yang kakang kehendaki, demikian pula dengan putri kita Parvati. Bukankan demikian Parvati.." Rengganis akhirnya menyetujui kepergian mereka. Perempuan itu mengalihkan pertanyaan pada putrinya.


"Mmm.. ya ibunda.. Maaf Parvati kurang mendengarnya." gadis putri Maharani dan Wisanggeni itu tergagap. Sejak tadi, Parvati memang dalam keadaan melamun. Gadis itu teringat dengan kata-kata yang diucapkan oleh Bhadra Arsyanendra, dan sangat sulit untuk menghilangkan dari pikirannya,


Wisanggeni tersenyum, kemudian merangkul bahu putrinya dengan menggunakan tangan kirinya.

__ADS_1


"Nimas Parvati.. apakah ada yang kamu risaukan putriku. Ceritakan pada ayahnda dan ibunda, kita akan membantu menyelesaikan masalahmu bersama-sama." Wisanggeni mulai memancing sikap putrinya.


Namun Parvati masih terlihat bingung, gadis itu malah menggelengkan kepala sambil tersenyum masam.


"Apakah kamu enggan untuk meninggalkan kerajaan Logandheng Nimas.. Sebenarnya boleh saja kamu untuk tinggal di kerajaan ini menemani kakangmasmu Chakra Ashanka. Ada juga Nimas Sekar Ratih dan Ayodya Putri yang akan menjadi temanmu. Namun.. ayahnda merasa keberatan Nimas.. karena kamu belum memiliki pasangan hidup." Wisanggeni berkata lirih sambil tersenyum.


"Tidak ayahnda.. ibunda.. Parvati masih ingin tinggal bersama ayah dan bunda. Jangan pernah meminta Parvati untuk berpisah dengan ayah  dan bunda.." Parvati merangkul ayahnda dan ibundanya, tampak gadis itu memang tidak mau berpisah dengan keduanya.


"Baiklah.. jika semuanya tidak ada masalah. Kita akan segera berangkat, dengan mengendarai Singa Ulung dari halaman dalam padhepokan ini. Karena akan sulit kita meninggalkan kerajaan jika kita hanya berjalan kaki. Akan banyak pemeriksaan dari prajurit yang berjaga." Wisanggeni segera mengajak putri dan istrinya untuk berangkat.


Akhirnya ketiga orang itu berjalan keluar dari dalam wisma yang ada di Kepatihan, tempat itu digunakan untuk menginap mereka selama berada di kerajaan Logandheng. Di tengah halaman, tampak SInga Ulung yang sedang mengepakkan sayapnya, siap untuk membawa mereka dari tlatah kerajaan itu.


Hampir satu hari dihabiskan SInga Ulung untuk mengelilingi kerajaan Logandheng, namun mereka belum menemukan padhepokan KI Bawono. Tidak mau terlalu lama menanggung hutang janji pada sesepuh itu, Wisanggeni mengajak putri dan istrinya untuk mengunjungi padhepokan itu. Tetapi hampir menjelang senja, mereka belum menemukan penunjuk arah untuk menuju padhepokan itu.


"Kakang.. apakah tidak lebih baik jika kita beristirahat dulu sebentar. Lihatlah putri kita Parvati.. gadis itu terlihat lelah dan mengantuk." melihat putrinya Parvati di depan sendiri, sejak tadi terkantuk-kantuk di punggung SInga Ulung, Rengganis tidak tega melihatnya.

__ADS_1


"Baik Nimas.. mungkin kita juga perlu beristirahat dulu untuk menyegarkan pikiran dan badan kita. Tidak baik untuk terlalu memporsir kondisi tubuh kita." Wisanggeni menyetujui usulan istrinya.


Perlahan dari belakang, Wisanggeni mengusap leher bagian bawah Singa Ulung untuk memberinya isyarat, agar binatang itu mengurangi kecepatannya. Seperti yang diharapkan, binatang itu mengetahui apa yang diinginkan oleh majikannya, binatang itu mengurangi kecepatan dan perlahan terbang ke arah bawah.


"Ulung.. jika kamu menemukan penginapan, ada baiknya kita turun ke bawah. Kita akan mengistirahatkan tubuh kita barang sejenak, sambil kita mencari padhepokan Ki Bawono dari darat." dengan suara lirih, Wisanggeni berbicara pada Singa Ulung. Dari atas udara, terlihat jika kerajaan Logandheng belum begitu makmur apalagi sejahtera. Masih kalah jauh jika dibandingkan dengan kerajaan Laksa. Masih banyak bangunan warga masyarakat yang terlihat belum layak, dan banyak peminta-minta di sudut-sudut jalan.


"Tugas berat untuk putra kita  dan bocah itu, kerajaan ini masih membutuhkan kerja keras mereka.." Wisanggeni bergumam melihat keadaan warga masyarakat di bawah.


"Iya kakang.. aku juga memikirkannya sejak tadi. Terjadinya perang bertahun-tahun di tlatah kerajaan ini, ternyata berdampak buruk pada pembangunan dan kemakmuran rakyatnya. Banyak penerimaan kerajaan digunakan untuk mendanai peperangan, sampai mereka terlupa untuk memikirkan nasib rakyat mereka." Rengganis ikut menanggapi. Sebagai seorang perempuan, sejak tadi hatinya merasa sedih melihat masih banyak anak-anak yang mengenakan pakaian yang tidak semestinya. Juga banyaknya peminta-minta menimbulkan rasa trenyuh dalam hati perempuan itu.


"Aku berharap Chakra Ashanka akan bisa membawa perubahan untuk kerajaan ini. Lihatlah banyak warga berkasak kusuk dan berkumpul di bawah sana. Bisa jadi, mereka sedang berkumpul dan membicarakan tentang pemberontakan. tetapi mereka juga tidak bisa dipersalahkan. Mereka melakukan itu karena menuntut adanya kesetaraan dan keadilan untuk kelompok mereka." Wisanggeni menunjuk ke tempat yang banyak orang berkumpul. Tempat itu ada di sudut kota kecil, yang ada di pinggiran tlatah kerajaan Logandheng.


"Sepertinya kita perlu melihatnya kakang, siapa tahu dugaan kakang ada kebenarannya. Sebelum masalah itu menjadi besar dan luas, bisa kita cegah terlebih dahulu. Masih banyak permasalahan yang ada di kota kerajaan, sangat lama untuk putra kita dapat menjangkau tempat ini." Rengganis kembali menyampaikan sebuah usulan.


Wisanggeni tersenyum, laki-laki itu kembali menepuk paha atas SInga Ulung sebanyak tiga kali. Binatang itu segera terjun ke bawah, dan di pinggiran sebuah desa, Singa Ulung menginjakkan ke empat kakinya. Dengan gesit, Wisanggeni melompat turun duluan , kemudian laki-laki itu membantu istri serta putrinya turun dari punggung Singa Ulung.

__ADS_1


"Kita berjalan ke arah sana, tadi kakang sempat melihat ada penginapan kecil seperti tidak terurus ada di sudut kota." Wisanggeni menunjuk ke arah selatan.


*********


__ADS_2