Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 288 Mulai Menaiki Bangunan


__ADS_3

Semakin lama, semakin banyak rorang yang sudah berdatangan ke tempat bangunan bertangga itu, Naga terbang merayap mendatangi Chakra Ashanka, kemudian membelit tubuh anak muda itu dengan maksud untuk membangunkannya. Naga terbang itu juga memberi isyarat kepada ketiga naga lainnya, untuk membangunkan majikan mereka. Tidak lama kemudian, Chkakra Ashanka terbangun dan membuka matanya. Anak muda itu tersenyum melihat naga terbang sudah membangunkannya, kemudian segera beranjak dari tempatnya duduk kemudian membasuh muka di air yang mengalir.


Anak muda itu belum menyadari jika ada bangunan dengan beberapa anak tangga sudah muncul di dekat tempat mereka melakukan istirahat. Tetapi suara orang bercakap-cakap membuat anak muda itu mencari sumber suara tersebut. Ketika melihat bangunan tinggi  dengan beberapa anak tangga terlihat di depan matanya, Chakra Ashanka menjadi keget.


"Bangunan apa itu, kenapa tiba-tiba ada bangunan berada di tempat ini? Terus dari mana juga orang-orang itu, apakah mereka datang bersama dengan bangunan ini, ataukah mereka datang dengan cara masuk seperti cara-cara kami?" dengan kebingungan, Chakra Ashanka bertanya pada dirinya sendiri. Tetapi tetap saja, anak muda ini tidak mendapatkan jawaban dari rasa kebingungannya,. Chakra Ashanka menoleh pada teman-temannya yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Aku harus segera memberi tahu yang lain. Rupanya teman-teman semua masih merasa kelelahan, belum ada satupun yang sudah terbangun sepertiku." setelah merasakan kesegaran, Chakra Ashanka kemudian berjalan menghampiri Pangeran Abhiseka. Tetapi baru saja anak muda itu akan membangunkannya, tiba-tiba mata Pangeran sudah membuka dengan sendirinya. Demikian juga dengan teman-temannya yang lain.


"Kamu sudah terlihat segar Ashan..., apakah kamu ingin membangunkanku..?" dengan suara serak khas bangun tidur, Pangeran ABhiseka bertanya pada Chakra Ashanka,


Anak muda itu tersenyum malu, tetapi melihat keadaan yang dirasa lebih berat untuk segera diselidiki, Chakra Ashanka mengabaikan perasaan itu.

__ADS_1


"Paman.., coba lihatlah ke samping. Tiba-tiba Ashan baru menyadari, ternyata di sekitar lokasi tempat kita beristirahat, sudah banyak orang-orang berdatangan, Dan sepertinya bangunan dengan beberapa anak tangga itu yang menjadi tujuan mereka. Apakah kita tidak ingin untuk bergabung dengan mereka..?" Chakra Ashanka menunjuk ke arah bangunan itu. Pangeran Abhiseka kemudian melihat ke arah bangunan itu, dan rasa kekaguman muncul di dalam bola matanya. Sejenak laki-laki itu mengamati  dari tempatnya berada saat ini,  dan sepertinya sudah mendapatkan sebuah jawaban.


"Pangeran..., sepertinya tempat inilah yang kita cari, dan bukan hanya kita. Ternyata para tokoh dunia persilatan juga menginginkannya, dan sepertinya sudah ada beberapa dari mereka yang sudah naik ke atas." Niken Kinanthi yang sudah menyadari beberapa saat sebelumnya, ikut mengambil bicara pada mereka bertiga.


"Iya Ashan.., Nimas Niken.. Sekarang kalian semua..., segera bersiaplah! Bersihkan tubuh kalian terlebih dulu, kemudian kita akan mencoba mengikuti jejak orang-orang disana. Aku yakin..., bangunan itu merupakan inti dari kekekuatan yang diwariskan dalam warisan kuno kali ini." dengan suara tegas, Pangeran Abhiseka segera memberi perintah kepada semua anggota kelompoknya.


"Baik.. Pangeran." orang-orang itu termasuk juga Pangeran ABhiseka  dan Niken Kinanthi, segera beranjak menuju ke air yang mengalir. Mereka segera membersihkan diri mereka, untuk segera melanjutkan perjalanan.


**********


Chakra Ashanka berjalan paling depan sendiri, dengan semua orang pada kelompoknya berjalan mengikuti dari belakang. Begitu sampai pada lantai pertama di bangunan itu, mereka melihat banyak orang yang sedang bersemedi di situ. Anak muda itu membelokkan langkah mengitari tempat yang ada di lantai tersebut. Ternyata anak muda itu tidak melihat masih ada tempat yang kosong untuk mereka gunakan melakukan semedi seperti yang lainnya. Di lantai ini, mereka belum merasakan apapun, sehingga mereka bisa berjalan berkeliling mengitari semua ruangan di lantai tersebut.

__ADS_1


"Paman..., bibi..., sudah tidak ada tempat bagi kita untuk melakukan semedi seperti orang-orang yang sedang duduk melakukan semedi di lantai ini. Haruskah kita akan naik ke lantai yang ada pada anak tangga berikutnya..?" Chakra Ashanka bertanya pada pihak yang dia rasa lebih tua. Karena dia datang dengan ayahndanya bersama dengan Pangeran Abhiseka dan Niken Kinanti, maka anak muda itu bertanya dengan menyebut nama kedua orang itu,


"Benar apa yang kamu katakan Ashan.., kita akan mulai menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai dua. Bagaimana dengan pendapat kalian...?" Pangeran Abhiseka melihat ke arah Widayat dan teman-temannya. Karena mereka bisa berada di tempat ini dengan datang bersama, maka Pangeran Abhiseka juga tidak mau memutuskan sendiri langkah yang mereka ambil. Laki-laki itu tetap memanusiakan orang-orang yang datang bersama dengan Widayat.


"Bagi kami tidak masalah Pangeran.. Tetapi sepertinya ada tekanan yang menekan kita pada setiap lantai yang akan kita tuju. Semakin tinggi lantai yang akan kita naiki, semakin kuat pula tekanan yang akan kita rasakan. Jadi sepertinya, kita tidak akan mungkin bisa bersama-sama untuk menaiki tangga menuju ke atas. Kita harus menyesuaikan dengan kemampuan energi dan aura batin yang dimiliki masing-masing dari kita. Jadi.., bisa terjadi jika kita nanti akan berpisah berbeda lantai dalam melakukan semedi." Widayat mengatakan apa yang menjadi pemikirannya. Widayat juga melihat kepada rombongan yang datang bersamanya, dan ke empat orang lainnya juga mengiyakan,


Pangeran Abhiseka tersenyum, sebenarnya laki-laki ini juga sudah merasakan kekuatan yang diucapkan oleh Widayat., Tetapi laki-laki ini baru akan mengatakan di lantai sesudahnya, dan rupanya Widayat sudah terlebih dulu menyampaikannya.


"Baiklah Widayat..., kita akan menggunakan pendapatmu. Marilah teman-teman semua, kita akan berusaha untuk dapat mendapatkan wasiat kekuatan dari warisan kuno ini. Jangan paksakan, ambil secukupnya sesuai dengan kemampuan dan daya tubuh dari masing-masing kalian semua." Pangeran Abhiseka mempertegas perkataan yang diucapkan oleh Widayat. Laki-laki itu kemudian mulai berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai dua.


Orang-orang saling berpandangan, kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala. Ternyata benar seperti yang dibicarakan oleh Widayat dan Pangeran Abhiseka, begitu mereka akan menapakkan telapak kaki di lantai dua, tekanan kekuatan seperti datang menyergap mereka. Langkah kaki mereka merasa lebih berat, dari langkah kaki saat mereka berjalan di lantai satu. Tetapi karena melihat Pangeran Ashanka, Widayat, Chakra Ashanka, dan Niken Kinanthi sudah lebih tinggi di atas mereka, ke empat orang yang dibawa Widayat segera menyusul ke arah mereka.

__ADS_1


*************


__ADS_2