
Dalam beberapa hari berikutnya, Wisanggeni dan Rengganis masih bertahan di dalam gua. Laki-laki muda itu terus mempengaruhi energi dan aura kebatinan yang baru saja dia dapatkan setiap hari. Dengan upaya yang tanpa henti, sedikit demi sedikit Wisanggeni mulai terbiasa dengan kekuatan barunya itu.
"Bagaimana Akang.., apakah Akang sudah terbiasa mengendalikan energi baru itu?" sambil mengusap keringat dengan menggunakan kain kecil, Rengganis bertanya pada Wisanggeni.
"Belum seluruhnya Nimas.. Aku masih membutuhkan waktu sedikit lagi.. untuk bisa mengendalikan energi warisan ini dengan sempurna." sambil meminum air, Wisanggeni menjawab pertanyaan istrinya.
"Akang harus memulai latihan lagi. Setelah itu, kita harus menemukan saudara-saudara kita, dan bersama-sama kita harus keluar dari tempat ini." Rengganis meminta suaminya untuk terus berlatih. Wisanggeni tersenyum, dia meraih jari-jari tangan Rengganis, kemudian menciumnya.
"Akang akan mencobanya lagi Nimas. Sabarlah untuk menungguku.." Rengganis menganggukkan kepala. Setelah merasa cukup beristirahat, Wisanggeni segera berdiri dan berjalan meninggalkan gadis muda itu.
Di atas sebuah batu yang datar, Wisanggeni duduk bersila. Di bawahnya adalah sebuah jurang yang sangat dalam, dengan pemandangan sebuah bukit yang tampak di depan matanya.
"Aku akan mencoba menggunakan teknik latihan berputar. Sepertinya teknik ini bisa untuk menekan sumber aura. Dari putaran terus menerus itu, aku akan bisa membentik sebuah pusaran untuk mengendalikan sumber aura. Lama-kelamaan sumber aura akan menjadi murni." pikiran Wisanggeni mencoba memikirkan cara terbaik untuk mengendalikan auranya.
Wisanggeni terus mencoba mengarahkan pikirannya ke pusaran aura, tetapi lama kelamaan pusaran tersebut menghilang, dan di depannya muncul pancaran sinar gelap.
"Bang.., bang.." terdengar suara ledakan.
"Aku gagal ternyata." gumam Wisanggeni lirih.
"Kekuatan pusaran tadi sepertinya terlalu besar, jika hal itu terus kulakukan, kekuatan tenaga dalamku akan rusak. Aku akan mencobanya lagi." bisik laki-laki itu.
************
Lima hari kemudian
__ADS_1
Pusaran sumber aura terlihat berputar dengan cepat di aliran darah Wisanggeni. Kedutan demi kedutan terasa di beberapa bagian tubuh laki-laki itu, dan Wisanggeni merasa jika dia sudah mencapai batasannya pada saat ini. Kedutan berganti dengan rasa kesemutan dan semakin lama terasa menjadi tidak tertahankan.
"Aku harus menambahkan aura murni dari kekuatanku sendiri, seharusnya putaran ini lebh cepat." Wisanggeni kembali berpikir bagaimana meningkatkan efektivitas auranya.
"Buum.., buum..." begitu Wisanggeni mengeluarkan aura dari dalam dirinya sendiri, pusaran kembali berputar sangat cepat, bahkan mencapai tingkatan yang belum terjadi sebelumnya.
Wisanggeni memusatkan pikirannya kembali, sumber aura dia tekan ke pusat pusaran langsung.
"Buum..." di saat laki-laki muda itu menekan auranya, pusaran itu langsung hancur dan menghilang. Senyum kepuasan muncul di mulut Wisanggeni.
"Syukurlah.., aku berhasil menyerap semua energi murni dari warisan itu." gumam laki-laki itu sendiri.
Wisanggeni berdiri, kemudian laki-laki itu mengarahkan matanya ke arah gugusan batu yang menjulang di samping tempatnya duduk.
"Aku tidak mengira, jari-jariku menjadi begitu tajam ketika kupusatkan auraku disana. Memotong sebuah batu besar.., seperti memotong tahu saja." Wisanggeni kembali berbicara dengan dirinya sendiri. Laki-laki membalikkan badannya, dia melihat Rengganis melihatinya dengan tatapan penuh kekaguman.
"Kamu menungguku Nimas..." secercah senyuman muncul di bibir Wisanggeni. Laki-laki itu kemudian mendatangi istrinya yang selalu setia menunggunya.
"Sudah beberapa hari Akang tidak kembali.., Nimas sangat mengkhawatirkanmu Akang. Syukurlah.., akhirnya Akang sudah bisa mengendalikan kekuatan itu." Rengganis menerima dekapan erat dari suaminya.
"Iya Nimas.., kesabaranmu untuk selalu setia menungguku telah memotivasi keberhasilanku. Ayo kita kembali dulu ke gua.., sambil kita pikirkan bagaimana menemukan kembali keluarga kita. Pasangan suami istri itu berjalan menuju gua sambil bergandengan tangan.
************
Sementara itu di Jagadklana
__ADS_1
Merasa pemimpin Trah dan orang-orang penting Jagadklana, bergabung dengan Guru Wisanggeni untuk menumpas Gerombolan Alap-alap.., kepemimpinan di Jagadklana sementara dipimpin oleh ibunda Rengganis. Melihat seorang perempuan memimpin sebuah Trah besar, Laksito mempengaruhi orang-orang untuk menentang keputusan itu. Bersama dengan beberapa orang yang memiliki dasar ilmu kanuragan yang tinggi, Laksito berangkat menuju pendhopo Jagadklana.
"Nyai.., Nyai Ageng..., ada tamu yang ingin menemui Nyai Ageng.." seorang pengawal kaputren melaporkan pada ibunda Rengganis jika ada tamu. Perempuan paruh baya itu meletakkan sulaman di atas meja, dia memandang [ada pengawal tersebut.
"Siapa yang akan bertemu denganku mbakyu.., apakah tidak melihat jika saat ini bukan waktunya untuk bertamu?" Nyai Ageng bertanya pada pengawal tersebut.
"Laksito Nyai Ageng..., anak muda itu datang dengan membawa banyak orang. Para pengawal tidak bisa mengendalikannya, dan beberapa malah bergabung dengan Laksito." pengawal menjawab pertanyaan itu.
"Apa maunya anak laki-laki itu? Apakah karena Ki Sasmita dan orang-orang penting Trah Jagadklana, tidak berada disini saat ini, sehingga mereka menjadi kehilangan rasa hormat padaku?" Nyai Ageng langsung berdiri, perempuan paruh baya itu segera berjalan menuju pendhopo. Pengawal keputren segera berdiri dan mengikuti langkah kaki perempuan itu.
Sesampainya di pintu masuk arah pendhopo, Nyai Ageng melihat banyak orang datang bersama, dengan Laksito memimpin di depannya. Tanpa mengenal rasa takut atas amanah yang dia emban, Nyai Ageng langsung masuk ke pendhopo dan langsung mengambil tempat duduk.
"Maafkan kami Nyai Ageng.., kami tidak bisa mengendalikan mereka." seorang pengawal langsung menghampiri Nyai Ageng.
"Tidak apa-apa kamu sudah berusaha.., kembalilah ke tempatmu berjaga. Aku akan bisa berbicara sendiri dengan mereka." Nyai Ageng meminta pengawal itu untuk meninggalkannya.
Begitu pengawal itu pergi, Nyai Ageng mengedarkan pandangan ke sekeliling pendhopo. Dengan pongahnya, Laksito tidak mengenal tata krama melihat dan bertatapan langsung dengan Nyai Ageng.
"Hal penting apa yang menjadikanmu tidak mengenal adat dan tata krama Laksito?" Nyai Ageng bertanya pada Laksito dan memandang dengan matanya yang tajam.
"Mohon dimaafkan jika kedatangan kami mengganggu waktu istirahat Nyai Ageng. Tetapi kedatangan kami kesini, ingin meluruskan ketentuan yang ada di Trah Jagadklana. Selama ratusan tahun Trah ini ada, belum pernah sekalipun trah ini dipimpin oleh seorang perempuan." sambil tersenyum sinis, Laksito menjawab pertanyaan Nyai Ageng.
"Hmm.., apakah maksudmu membawa banyak orang kesini untuk memintaku turun dari posisiku sekarang. Jika untuk alasan itu Laksito.., aku tidak dapat mengabulkannya. Pesan dari suamiku.., itulah yang aku junjung tinggi." dengan berani Nyai Ageng mengomentari perkataan Laksito. Perempuan itu tetap tenang menghadapi laki-laki muda serakah itu. Sedangkan muka Laksito menjadi tidak enak dipandang.
*****************
__ADS_1