
Maharani menyusul Wisanggeni ke tapal perbatasan, perempuan muda itu merasa bosan dengan kegiatan yang dia jalani di dalam pesanggrahan. Mendampingi suami, menunggu kepulangannya, menimbulkan rasa jenuh di hati perempuan muda itu. Apalagi sampai saat ini, perempuan ini masih sering memiliki rasa tidak enak pada Rengganis, karena sudah menjalin sebuah ikatan dengan suami perempuan muda itu.
"Kenapa kamu menyusulku kesini Nimas Maharani..?" melihat kedatangan perempuan muda itu, Wisanggeni menyambut istrinya dengan senyuman. Tangannya meraih telapak tangan perempuan muda itu, kemudian menciumnya di depan umum. Wisanggeni tidak pernah memiliki rasa malu melakukan hal itu di depan murid-murid pesanggrahan, karena dia memang ingin menunjukkan bagaimana perlakuan lembutnya pada kedua istrinya.
Pipi Maharani bersemburat merah, perempuan muda itu segera menarik tangannya dari genggaman tangan laki-laki itu. Melihat sikap istrinya itu, Wisanggeni malah merangkulkan tangan di pundak perempuan itu.
"Apakah Nimas malu dengan perlakuan yang Akang berikan..??" bisik Wisanggeni di telinga perempuan muda itu. Maharani tidak menjawab, perempuan muda itu malah menyingkirkan tangan suami dari pundaknya.
"Akang.., Nimas membawa makanan dan wedang serai untuk Akang.." dengan alasan mengantar makanan dan minuman, Maharani mengajak Wisanggeni duduk. Melihat sikap malu perempuan itu, Wisanggeni hanya geleng-geleng kepala, dan tidak mau mengecewakan istrinya, laki-laki itu mengikuti Maharani duduk.
Dari kejauhan Wisanggeni melihat Manggala dan Prayudha berjalan dengan seorang anak muda laki-laki. Sebenarnya laki-laki itu sudah mengetahui kejadian saat Prayudha berusaha mempengaruhi laki-laki itu tanpa beradu raga, dan dia mengakui kepintaran anak laki-laki itu. Tetapi sepertinya karena melihat Wisanggeni sedang duduk dengan Maharani, Manggala dan Prayudha berhenti tidak jauh dari tempatnya duduk. Wisanggeni menganggukkan kepala dan tersenyum pada kedua anak laki-laki itu, kemudian mulai menikmati bekal dan minuman yang dibawakan oleh Maharani.
"Kemana Nimas Rengganis dan Chakra Ashanka Nimas..., kenapa kamu tidak mengajak mereka berdua kemari?" tanya Wisanggeni pelan. Ekspresi wajah Maharani seketika berubah, mendengar suaminya menanyakan tentang Rengganis dan putranya. Tetapi dengan cepat, Maharani mengendalikan perasaannya sendiri.
"Tadi Nimas melihat Chakra Ashanka sedang berlatih dengan Nimas Rengganis Akang..., aku tidak enak mengajaknya kemari." Maharani berusaha mencari alasan untuk menjawab pertanyaan laki-laki itu. Tetapi dia memang tidak berbohong, karena saat dia akan menuju kesini, Rengganis sedang mengajari Chakra Ashanka berlatih kanuragan.
"Tanggung jawab Nimas Rengganis sangat berat. Seharusnya tanggung jawab membekali kanuragan pada putraku, menjadi tanggung jawabku. Tetapi karena mengurus pesanggrahan ini, aku jadi sering melupakan tanggung jawabku." ucap Wisanggeni tiba-tiba. Mendengar perkataan dari bibir suaminya itu, membuat Maharani merasa sedikit bersalah. Jika tadi dia tidak menyinggung hal itu, maka Wisanggeni tidak akan mengucapkan kata-kata penyesalan.
__ADS_1
"Tapi saya pikir, Nimas Rengganis juga membutuhkan kegiatan Akang. Jujur Akang..., saya sendiri juga merasa jenuh hanya duduk-duduk dan melihat orang-orang berlatih." ucap Maharani lirih. Wisanggeni melihat ke arah Maharani yang saat ini sedang menundukkan kepala. Dia juga tidak menyangka, jika kejenuhan tidak hanya dia rasakan, tetapi juga dirasakan oleh istri-istrinya. Setelah mengambil nafas...
"Lakukan apa yang membuat kalian senang Nimas. Apakah belum ada kabar mengenai kandunganmu Nimas..?" tiba-tiba Wisanggeni mengajukan pertanyaan yang mengejutkan perempuan muda itu. Maharani tidak menyangka, jika ternyata Wisanggeni juga menginginkan seorang anak darinya. Dia berpikir, Chakra Ashanka sudah cukup mengobati kerinduan laki-laki itu akan hadirnya seorang anak dalam keluarga mereka.
"Aku akan berusaha Akang..., dan jika dibolehkan, sebenarnya Nimas mau minta ijin." Maharani menundukkan kepalanya. Wisanggeni menggunakan tangannya memegang dagu Maharani, kemudian mengangkat wajah perempuan itu ke atas untuk menatapnya. Selama ini, Maharani tidak pernah melakukan permintaan terhadapnya.
"Katakan Nimas..., ijin apa yang ingin kamu dapatkan?" dengan rasa penasaran, Wisanggeni bertanya pada perempuan itu.
"Nimas ingin sementara waktu kembali ke istana ular Akang. Apakah Akang memperbolehkan?" tanya Maharani tidak berani menatap mata Wisanggeni. Beberapa saat laki-laki itu terdiam, dia ingin mengantarkan Maharani, tetapi tanggung jawab menjaga perguruan ini juga belumĀ bisa dia tinggalkan.
*******
Setelah Maharani kembali ke pesanggrahan, Wisanggeni melambaikan tangannya memanggil Manggala dan Prayudha. Tidak lama kemudian, kedua anak laki-laki itu membawa Tunggul Amerta ke hadapannya. Dengan tatapan marah, Tunggul Amerta menatap Wisanggeni dengan pandangan sengit. Sedangkan Wisanggeni hanya melihat anak muda itu sambil tersenyum.
"Bagaimana Prayudha.., Manggala.., apakah kalian sudah menyelesaikan tugas yang aku berikan?" Wisanggeni menanyai kedua anak laki-laki itu, tetapi tatapannya mengarah pada Tunggul Amerta. Senyuman muncul di bibir laki-laki itu, sedikitpun tidak ada rasa ketakutan melihat tatapan kemarahan Tunggul Amerta.
"Bicaralah sendiri Tunggul, seperti yang tadi sudah kamu katakan padaku." ucap Prayudha pada Tunggul Amerta, sedangkan Manggala kebingungan melihat keadaan itu.
__ADS_1
Tanpa menjawab perkataan Prayudha, tiba-tiba..
"Clap.." sebuah bilah pisau kembali meluncur menyerang Wisanggeni, tetapi dengan cepat tanpa melihat, bilah pisau itu sudah berada di tangan laki-laki itu. Muka Prayudha terlihat pucat melihat keberanian Tunggul Amerta menyerang Wisanggeni langsung di depannya.
"Tunggul..., kenapa kamu membohongiku?" Prayudha berteriak membentak Tunggul Amerta. Wisanggeni mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Prayudha mengendalikan sikapnya.
"Ki Sanak.., apakah kamu menyadari perbuatanmu?? Kamu berada di wilayah daerah kekuasaanku, tetapi dari tadi kamu berani melemparku dengan bilah pisau di depan anak buahku. Apakah kamu sudah bosan hidup?" dengan tersenyum, Wisanggeni bertanya pada anak laki-laki itu.
"Dimana kamu menahan kakakku?" kembali dengan tatapan sengit, Tunggul Amerta menatap mata Wisanggeni tanpa merasa takut, Mendengar pertanyaan anak laki-laki itu, dahi Wisanggeni berkerut.
"Apakah Ki Sanak pernah mendapatkan cerita, jika aku menahan kakakmu?? Jika aku boleh tahu, siapa nama kakakmu, karena banyak wilayah yang sudah aku datangi. Dan aku juga tidak mungkin untuk mengingat satu persatu dengan siapa aku berkelahi, aku berteman, ataukah aku berhubungan." Wisanggeni penasaran dengan pertanyaan anak laki-laki itu. Tetapi bagaimanapun, semangat anak laki-laki itu perlu mendapatkan acungan jempol. Karena dengan berani, tanpa mengenal rasa takut, laki-laki itu berani sendiri datang untuk mencarinya.
Prayudha terdiam, matanya terus melihat ke arah Wisanggeni dengan sengit. Tetapi laki-laki yang ditatap itu sedikitpun tidak merasa gentar, malah hanya memandang Prayudha sebagai satu kelucuan baginya.
"Aku melihatmu sendiri mengangkat tubuh kakakku dari dalam air di bawah sebuah curug yang ada di tengah hutan. Kamu sembunyikan dimana kakakku, atau sudah kamu lenyapkan kakakku?" sambil berteriak, Tunggul Amerta berlari menghampiri Wisanggeni. Untungnya Manggala dan Prayudha langsung memegang kedua tangan dan bahu anak laki-laki itu. Beberapa pengawal yang berjaga, ikut berlari mendekat ke arah Wisanggeni.
**************
__ADS_1