
Wisanggeni menatap pada murid yang menyampaikan kabar barusan. Laki-laki itu bingung, bagaimana harus bersikap. Apakah dia akan bahagia ataukah akan mengabaikan berita baik itu, melihat di sisinya ada Rengganis. Tetapi yang mengejutkannya, tiba-tiba Rengganis mendekat pada murid itu.
"Ceritakan dengan jelas pada kami.., apakah berita yang kamu sampaikan tadi benar adanya!" Rengganis mempertegas perkataan murid tadi, sambil tersenyum. Tidak terlihat ada kekecewaan pada sikap dan perilakunya.
"Iya Nyai..., beberapa purnama yang lalu, Nyai Maharani datang kesini dengan ditemani oleh dayang dari kerajaan ular. Mereka datang membawa kereta kuda, dan Nyai Maharani sedang dalam keadaan hamil besar. Beberapa saat kemudian, kami mendengar kabar jika Nyai Maharani sudah melahirkan bayi yang sangat cantik. Tetapi karena belum ada giliran perputaran kami ditarik ke gerbang di padhepokan, kami belum memiliki waktu untuk melihat putri cantik Guru." murid itu menceritakan berita kelahiran putri Maharani.
"Kang.., ayo kita segera menuju ke padhepokan. Nimas ingin segera menggendong putriku yang cantik.." setelah mendapatkan kabar bahagia itu, Rengganis kembali mengajak Wisanggeni untuk segera masuk ke padhepokan.
"Sabarlah Nimas..., kita tidak boleh tergesa-gesa. Murid-murid ini sudah menyiapkan jamuan untuk kita. Kita harus menikmati terlebih dulu, baru kita akan pergi dari tempat ini." Wisanggeni menanggapi perkataan Rengganis. Dalam hati, sebenarnya Wisanggeni tahu bagaimana kegusaran yang ada di hati istrinya itu. Keceriaan dan responnya saat ini, menunjukkan bagaimana hati Rengganis yang saat ini gusar mendengar kabar berita itu. Wisanggeni lebih berhati-hati untuk menjaga perasaan perempuan itu.
"Baik Akang.." Rengganis kemudian kembali duduk di lincak tersebut. Tangannya meraih kembali cangkir yang sejak tadi diletakkannya kembali. Dengan sabar, perempuan itu menunggui Wisanggeni yang bertanya tentang kabar dari para murid yang berlatih di luar padhepokan.
***********
__ADS_1
Berita tentang kedatangan Wisanggeni dan Rengganis dari perjalanan jauh sudah santer terdengar di dalam perguruan. Saat pasangan suami istri itu melakukan peninjauan dan menikmati jamuan yang disiapkan murid-muridnya, beberapa murid yang lain sudah mengabarkan kedatangan mereka ke dalam wilayah perguruan. Maharani yang sedang menidurkan putri cantiknya, samar-samar mendengar kedatangan suaminya itu.
"Bagaimana aku akan menghadapi Nimas Rengganis nanti..?? Ternyata Kang Wisang.. masih menyempatkan waktu untuk mengunjungi murid-murid daripada melihat Parvati putri kamu. Apakah memang aku dan putriku akan selalu menjadi nomor dua bagi kang Wisanggeni..?" mendengar perkataan itu, Maharani berpikir sendiri. Perempuan itu tidak bisa menghilangkan kegelisahannya, rasa was-was masih menghantuinya. Tetapi kembali mengingat jika kedatangannya kembali di perguruan ini karena untuk bersatu dengan suaminya, dan mempertemukan Parvati dengan ayahndanya, akhirnya perempuan itu kembali tenang.
"Aku tidak boleh terlalu banyak berpikir hal-hal yang tidak penting. Kedatanganku kesini karena keinginanku, bahkan perkataan para sesepuh di kerajaan Ular tidak ada yang aku dengar sedikitpun. Aku harus menerima semua perlakuan ini dengan lapang dada." ucap Maharani. Tatapan matanya melihat ke wajah Parvati yang terlihat cantik dalam tidurnya. melihat wajah polos bayi yang tertidur di bawahnya, Maharani tersenyum damai,
"Tok.., tok.., tok..." tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar kamar. Maharani merapikan pakaiannya, kemudian perempuan itu berdiri, dan melangkah menuju pintu. Ketika daun pintu terbuka, Maharani merasa terkejut melihat kedatangan tiba-tiba Rengganis di tempat itu. Tidak disangka, Rengganis langsung memeluk tubuh Maharani dengan erat.
"Selamat Nimas Maharani atas kelahiran putrimu dan Kang Wisang..." tanpa menunggu diijinkan masuk, Rengganis langsung merangsuk masuk ke dalam kamar. Perempuan muda itu langsung mendatangi Parvati yang masih lelap tertidur.
"Tidurkan saja Parvati Nimas Rengganis.., agar tidak menjadi kebiasaan yang tidak menyenangkan di kemudian hari. Saya tidak ingin Parvati terlahir menjadi seorang gadis yang manja, jika sejak bayi selalu mendapatkan perlakuan seperti ini." Maharani melarang Rengganis untuk menggendong Parvati.
"Tidak perlu terlalu khawatir Nimas.. Parvati sangat lucu dan menggemaskan.." sambil tersenyum, Rengganis tanpa bosan menatap bayi yang tertidur di tangannya. Aura kebahagiaan seakan mengalir deras memasuki rongga dadanya, saat melihat bayi yang polos itu.
__ADS_1
Jari-jari tangan Rengganis mengukir lembut ke wajah bayi Parvati, dan sesekali dengan gemas, Rengganis menciumi bayi di tangannya itu. Melihat sikap dan perlakuan Rengganis pada putrinya, seketika keraguan yang ada di hati Maharani menjadi hilang tak berbekas. Hatinya sudah mulai membiasakan dengan kenyataan yang ada di depannya.
**********
Wisanggeni terpukau melihat kecantikan Parvati yang masih tertidur di pangkuan Rengganis. Berkali-kali laki-laki itu menajamkan matanya untuk memastikan apakah bayi cantik itu benar-benar putranya dengan Maharani. Sementara itu, terlihat Maharani terdiam melihat reaksi dan keterkejutan dari Wisanggeni melihat untuk pertama kalinya pada putri cantiknya.
"Kang Wisang.., Parvati seperti menjadi magnet yang menarik kita Akang... Bayi ini sangat cantik, dan menumbuhkan rasa kangen dan enggan untuk pergi dari sampingnya. Bukannya demikian..?" Rengganis bertanya pada suaminya, kedua tangan perempuan itu memberikan bayi yang ada di tangannya ke gendongan Wisanggeni. Tanpa ragu, Wisanggeni menerima uluran bayi itu kemudian memberi kecupan di kedua pipi Parvati.
"Bagaimana kang..., bayi kita ini sangat cantik sekali. Chakra Ashanka pasti akan merasa senang hatinya, jika anak itu tahu kalau adiknya sudah hadir di dunia ini." ucap Rengganis pada Wisanggeni.
"Iya Nimas..., Parvati benar-benar cantik. Terima kasih Nimas Maharani.., kamu sudah menghadirkan magnet baru dalam keluarga Wisanggeni. Kamu melahirkannya sendiri, tanpa ada aku di sampingmu. Bahkan kabar kehamilanmu juga tidak aku dengarkan, kamu benar-benar sudah memberi kejutan kepadaku." dengan tulus, Wisanggeni memuji Maharani di depan Rengganis. Maharani tersenyum malu, dan melihat Rengganis yang turut menganggukkan kepala kepadanya.
"Para murid di perguruan ini telah banyak membantuku kangmas..., bahkan dengan sabar mereka membantuku memeprsiapkan persalinan Parvati. Nimas betul-betul merasa terbantu dengan uluran tangan mereka." Maharani menanggapi perkataan yang disampaikan Wisanggeni. Dengan menggendong Parvati, Wisanggeni berjalan menghampiri Maharani. Di depan Rengganis, tanpa ragu Wisanggeni memberi pelukan pada Maharani, dan Rengganis hanya tersenyum melihat keintiman itu.
__ADS_1
"Kang Wisang.., Nimas Maharani.. ijin untuk membawa Parvati keluar. Aku akan mengasuh dan membawanya keluar, sehingga kalian berdua bisa bertukar cerita dan melepas kerinduan." melihat pemandangan itu, Rengganis mengambil Parvati dari gendongan Wisanggeni kemudian membawanya keluar.
************