
Mendengar suara orang yang berbicara padanya, Wisanggeni merasa mengenal suara laki-laki itu. Setelah melihat dengan seksama, Wisanggeni baru menyadari jika laki-laki berpakaiannya bangsawan di depannya adalah Pangeran Abhiseka. Begitu juga dengan Rengganis dan Maharani, keduanya juga baru tahu jika laki-laki itu adalah Pangeran.
"Syukurlah kalian akhirnya sampai juga di tempat ini." Pangeran Abhiseka memeluk Wisanggeni kemudian mengajak laki-laki untuk duduk di kursi.
"Wisang..., bagaimana kalau kedua istri dan putramu beristirahat dulu. Ada yang ingin aku sampaikan padamu." tiba-tiba sambil melihat Rengganis dan Maharani Pangeran Abhiseka berbicara pada Wisanggeni.
"Tarno..., antarkan kedua tamu kerajaan dan putranya ini ke griya yang ada di pojok taman. Mereka perlu untuk istirahat, layani mereka dengan baik!" Pangeran Abhiseka memerintah seorang pengawal bernama Tarno untuk mengantarkan kedua istri Wisanggeni.
"Baik Pangeran.., hamba akan mengantarkannya." Tarno mentaati apa yang diperintahkan oleh Pangeran. Laki-laki itu segera mendatangi Rengganis dan Maharani.
"Mari Den Ayu..., hamba antarkan ke tempat peristirahatan." dengan sopan, Tarno berbicara pada kedua istri Wisanggeni. Rengganis dan Maharani melihat ke arah suaminya, ketika suaminya itu menganggukkan kepala akhirnya kedua perempuan itu segera mengikuti langkah pengawal kerajaan.
Setelah beberapa saat Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka menikmati hidangan, mereka kembali terdiam. Tiba-tiba Pangeran Abhiseka melihat ke wajah Wisanggeni.
"Wisang..., ada yang ingin aku sampaikan padamu. Dan aku harap kamu tidak menolak langsung, sebelum berpikir dengan serius." ucap Pangeran Abhiseka perlahan. Suami Rengganis dan Maharani itu menatap mata putra raja di depannya itu.
"Katakan Pangeran.., aku akan mengajak bicara kedua istriku jika ada sesuatu yang akan aku pikirkan. Pangeran bisa menyebutkan itu sebagai sebuah pemikiran dariku." Wisanggeni menanggapi kalimat yang diucapkan Pangeran.
Pangeran Abhiseka tersenyum, kemudian...
"Kerajaan ini membutuhkan generasi muda yang memiliki kecakapan dalam berpikir, berolah rasa, menyusun strategi untuk membangun kerajaan yang makmur dan sejahtera." dahi Wisanggeni berkerenyit mendengar perkataan itu, tetapi dia tidak memotong ucapan Pangeran.
"Tetapi tidak dapat aku temukan orang yang bisa aku percaya Wisang.., hanya satu saja. Dan itu adalah kamu. Aku harap kamu bisa memaknai maksud perkataanku." kembali Pangeran melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Saya bisa menebak apa yang Pangeran maksud. Tetapi jika Pangeran menghendaki aku untuk bergabung dengan kerajaan ini, mohon Pangeran bisa memaafkanku. Saya masih memiliki tanggung jawab besar untuk mengelola Pesanggrahan di perbukitan Gunung Jambu." Wisanggeni mengingatkan kembali tentang amanah dari Ki Cokro Negoro.
Mendengar perkataan yang langsung diucapkan Wisanggeni, Pangeran Abhiseka terdiam. Tampak kekecewaan terbayang di matanya, tetapi dia juga tidak bisa berkata apa-apa. Mereka terdiam untuk beberapa saat, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Aku sepertinya punya ide lain untuk memaksamu Wisang..." tiba-tiba Pangeran Abhiseka tersenyum licik.
"Maksud pangeran..??" Wisanggeni bertanya sambil menatap langsung mata Pangeran Abhiseka.
"Bukannya Klan Bhirawa ada di tlatah wilayah kerajaan ini.., berarti tidak akan salah jika aku memaksamu untuk menjadi pendamping di kerajaan ini." ucap Pangeran seperti tersenyum penuh kemenangan. Tetapi semua tidak seperti yang diperkirakan oleh Pangeran itu ...
"He.., he.., he... Pangeran Abhiseka sudah terlambat. Kedatangan Wisanggeni kembali ke Klan Bhirawa bukan hanya untuk bertemu dengan ayahnda, ataupun mengantarkan kedua saudara saya. Tetapi sekaligus menyerahkan sepenuhnya kekuasaan Klan Bhirawa pada Kang Lindhuaji Pangeran." dengan senyum dan tertawa lirih, Wisanggeni memberikan informasi pada pangeran itu.
"Maksudmu.., apakah kamu sudah betul-betul tidak memiliki sedikitpun kuasa atas Klan Bhirawa?" seru Pangeran dengan muka terkejut. Pewaris tahta tunggal di kerajaan itu bingung, baru kali ini merasa bertemu dengan orang yang tidak akan kekuasaan.
*******
Tidak mau berlama-lama karena khawatir Pangeran Abhiseka akan menemukan cara untuk memaksanya, setelah menginap satu malam di ibukota kerajaan, Wisanggeni segera mengajak anak istrinya untuk bersiap. Terlihat Rengganis sedang menyiapkan perlengkapan untuk Chakra Ashanka, dan Maharani juga membereskan barang-barang yang lain.
"Apakah semuanya sudah selesai..?? Jika sudah kita akan segera berpamitan dengan Pangeran Abhiseka, tidak baik kita terlalu berlama-lama disini." ucap Wisanggeni sambil bertanya pada kedua istrinya.
"Sudah Akang.., mari kita berangkat!" ucap Rengganis yang langsung memegang tangan Chakra Ashanka sambil berjalan.
Melihat putranya yang sudah pintar untuk berjalan sendiri, Wisanggeni tersenyum. Laki-laki itu terharu, tanpa perhatian untuk tumbuh kembang putranya, ternyata Rengganis sudah bersusah payah menyiapkan dasar-dasar kekuatan untuk Chakra Ashanka.
__ADS_1
"Kenapa Akang tersenyum sambil melihat Chakra Ashanka?" dengan keheranan, Rengganis kembali mengajak suaminya berbicara.
"Kamu betul-betul seorang perempuan yang hebat Nimas Rengganis.. Tanpa aku ketahui, kamu sudah melatih dan menyiapkan putra kita dengan sangat baik." Wisanggeni memuji Rengganis.
"Akang terlalu tinggi memuji Nimas.., jika tidak berpegangan, maka Nimas bisa terjatuh."ucap Rengganis lirih.
"Nimas hanya melatih putra kita sedikit saja, darah keturunan dari Trah Jagadklana sudah diturunkan dari leluhur kita. Asalkan mendapat pelatihan yang tepat, akan membangkitkan keturunan itu Akang." Rengganis melanjutkan perkataannya.
Wisanggeni tersenyum kemudian berjalan mendekati perempuan itu. Tanpa diduga, laki-laki itu memeluk erat Rengganis dan memberikan kecupan di dahi istrinya. Melihat Maharani menatap interaksi intim mereka, Rengganis tersipu malu. Tetapi dalam hatinya, dia merindukan mendapat perlakuan intim dari suaminya. Sehingga Rengganis pun membalas pelukan erat itu.
"Apapun alasannya Nimas.., Akang sangat berterima kasih padamu. Sebentar lagi, kita akan mendidik bersama-sama putra kita. Kita akan menghabiskan hidup kita dengan tenang di perbukitan Gunung Jambu." bisik Wisanggeni pelan di telinga Rengganis. Keduanya semakin larut dan tenggelam dalam pelukan.
"Bund..., bund..." tiba-tiba Chakra Ashanka menarik kain yang dikenakan Rengganis. Tergagap perempuan itu, dan mendorong dada Wisanggeni untuk menjauh darinya.
"Ada apa sayang Bunda..?" perempuan itu langsung berjongkok, mensejajarkan diri dengan putranya. Anak kecil itu mengangkat kedua tangannya ke atas, ternyata Chakra Ashanka minta gendong. Rupanya anak kecil itu merasa iri dengan keintiman ayahnda dan ibundanya.
"Sama ayahnda saja Ashan.., tubuhmu sudah semakin tinggi dan berat. Kasihan ibunda.." ucap Wisanggeni, yang langsung menggendong putranya itu. Dengan kegirangan, Chakra Ashanka langsung berjalan mendekati ayahndanya.
"Semuanya sudah siap.., apakah kita jadi berangkat sekarang?" tiba-tiba Maharani mengeluarkan suara. Sejak tadi, perempuan itu terdiam, karena dia tahu diri tidak mau mengganggu keintiman Rengganis dan Wisanggeni.
"Baiklah.., ayo kita segera menuju pondok Pangeran Abhiseka." ucap Wisanggeni pelan. Kedua istri itu berjalan mengikuti langkah laki-laki itu.
*********
__ADS_1