
Sukendro dan para anak muda lainnya segera tiba di pinggir padang rumput. Dari tempat mereka berdiri, terlihat kekacauan di dalam goa yang dapat mereka saksikan hanya dari tempat mereka berada. Beberapa anak muda mencoba untuk masuk ke dalam goa, namun mereka terlempar keluar karena kurangnya energi dan kekuatan mereka. Akhirnya mereka hanya bisa berada di pinggir lapangan, dan duduk melakukan meditasi untuk membantu dengan kekuatan doa.
Sementara itu, Wisanggeni dan Rengganis tampak kehilangan tenaga mereka. Keduanya akhirnya pingsan, namun keajaiban terjadi. Orang-orang yang merupakan leluhur kampung ALas Kedhaton yang akan diselamatkannya, mereka sudah terlepas dari rantai api yang mengikat tubuh mereka. Namun.. karena tidak ada energi lagi dalam tubuh mereka, para leluhur itu juga jatuh tidak berdaya di dalam goa.
"Apakah aku tidak salah lihat KI.. aku merasakan ada kekuatan hidup dalam salah satu goa yang berada disana. Kekuatan siapakah itu, kekuatan itu sangat lemah tetapi aku merasaka sangat akrab dan tidak asing dengan kekuatan itu." salah seorang sesepuh yang sudah sampai di pinggir padang rumput, bertanya pada Ki Sancoko.
"Akupun juga merasakannya.. Tetapi siapa yang bisa dan berani untuk masuk ke dalam, dan melihatnya dari dekat. Kita semua tahu sendiri, betapa beratnya upaya kita untuk dapat menerobos dan masuk ke dalam sana." dengan lesu, Ki Sancoko menjawab pertanyaan dari sesepuh lainnya.
"Huh.. tetapi apakah dengan jawabanmu itu, kita semua hanya akan menjadi pecundang. Kita membiarakan orang asing datang, kemudian mereka mengerahkan kemampuan kita untuk menolong kita. Namun.. kita hanya membiarkannya menjadi mayat dan moksa di tempat kita. Sepertinya itu bukan jiwa asli dari warga Alas Kedhaton, yang tidak tahu terima kasih." dari belakang, terdengar suara yang tidak setuju dengan pernyataan yang dibuat oleh Ki Sancoko.
"Iya.. iya.. dengan sekuat tenaga dan kemampuan kita.. sudah saatnya kita harus berjuang. Kita harus berusaha masuk ke dalam, bagaimanapun caranya. Dengan masih pekatnya kabut yang menutup di pintu goa, kita tidak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam.." sesepuh yang lain ikut menimpali.
Akhirnya terjadi perdebatan di antara sesepuh warga kampung Alas Kedhaton. Beberapa orang ada yang nekat seperti para anak muda, mereka mencoba untuk menerobos masuk ke dalam padang rumput. Tetapi belum sampai mereka masuk ke dalam, tubuh mereka sudah kembali terlempar keluar.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan, energi kekuatan hitam masih cukup tebal dan mengalir keluar dari dalam goa. Tetapi masih ada energi kehidupan di dalam sana, aku bisa merasakannya." seorang sesepuh kembali berbicara sambil menunjuk ke dalam goa.
"Gunakan kayu Gaharu, bakar dan nyalakan di sekeliling padang rumput. Menurut apa yang pernah diwariskan orang-orang dulu, Gaharu bisa membantu menyingkirkan energi kekuatan hitam meskipun tidak seberapa kekuatannya. Dengan menggabungkan kekuatan kita, aku yakin perlahan akan mampu mengikis energi dan kekuatan hitam. Kita akan dapat mengetahui pasangan suami istri berada dan bagaimana keadaannya." Ki Sancoko memberi interupsi.
Melihat pemimpin mereka menjadi bersemangat, segera dibantu dengan para anak muda kembali aroma Gaharu tidak lama kemudian menyeruak masuk ke dalam padang rumput. Beberapa orang duduk bersila dan mengeluarkan energi kekuatan mereka, dan mengarahkan ke dalam serta menembus masuk ke dalam goa. Setelah dilakukan beberapa saat, sampai tenaga dan energi para sesepuh kehabisan, akhirnya para warga kampung dapat melihat ke dalam goa yang tampak jelas di depan mereka.
"Kita sudah bisa melihat orang-orang yang ada di dalam goa. Kita harus segera kesana.." Sukendro berteriak, dan tanpa menunggu rekannya yang lain, anak muda itu langsung berlari masuk ke dalam,
*******
"Ada dimana kita kakang, kenapa tubuh Nimas masih terasa tidak memiliki tenaga.." dengan suara pelan, Rengganis bertanya pada suaminya. Laki-laki itu sudah tersadar lebih dulu, dan langsung menyadari dimana saat ini mereka berada.
"Sepertinya kita dibawa ke kampung Alas Kedhaton Nimas.. kakang tidak asing dengan lingkungan sekitar tempat ini." ucap Wisanggeni lirih. Laki-laki itu kemudian mengangkat tubuhnya kemudian duduk bersandar. perlahan Wisanggeni membantu istrinya untuk bangun dan mereka duduk berdampingan sambil melihat keluar.
__ADS_1
"Heh... iya kang, sepertinya warga Alas Kedhaton sudah membawa kita pergi dari padang rumput. Tetapi bagaimana mereka bisa menyelamatkan kita, bukankah kabut pekat berisi energi kekuatan hitam itu sangat sulit untuk ditembus. Bahkan kita harus mengalami keadaan seperti ini." seperti meragukan, Rengganis kurang mempercayai pendengarannya.
Wisanggeni tersenyum kecut, kemudian laki-laki itu memegang telapak tangan perempuan itu. Masih banyak terlihat biru-biru lebam di kulit perempuan cantik itu. Merasa sakit melihat kulit istrinya seperti itu, Wisanggeni mengangkat telapak tangan itu, kemudian menciumnya pelan.
"Apakah Nimas menyesal kita sudah terperosok dalam masalah warga kampung Alas Kedhaton. Padahal tujuan kita hanya untuk beranjang ke tempat Ki Bawono.., tetapi kita malah masuk dan terjebak di Alas Kedhaton.." dengan menatap mata istrinya, Wisanggeni ingin mengetahui isi hati perempuan itu.
"Tidak kakang.. dalam kehidupan ini, bukannya hukum alam itu akan berlaku. Kita akan menuai hasil dari apa yang sudah kira tanam. Sudah selayaknya kang, jika kita memiliki kemampuan.. kita akan memberikan pertolongan pada manusia lainnya. Bukankah sebenarnya itu adalah tujuan kita hidup di alam ini.." sambil tersenyum, Rengganis menjawab pertanyaan yang diucapkan suaminya. Sedikitpun tidak ada riak penyesalan terlihat di wajahnya yang cantik, dan hal itu yang membuat Wisanggeni semakin menyayangi istrinya itu.
"Itu juga ada di dalam pikiranku Nimas.. kita harus segera memulihkan energi kekuatan kita. Masih banyak leluhur Alas Kedhaton yang belum berhasil kita selamatkan. Kakang yakin, semakin kesana, kekuatan energi hitam kuno itu akan semakin pekat, dan kita akan semakin kesulitan untuk menjinakkannya." kembali Wisanggeni mengajak istrinya untuk melakukan meditasi.
Tangan laki-laki itu masuk ke dalam kepis, kemudian mengeluarkan botol obat herbal yang diraciknya. Untung saja, laki-laki itu bisa membuat obat herbal sendiri, sehingga tidak ada kesulitan mereka mendapatkan obat untuk mengembalikan energi mereka yang hilang.
"Minumlah Nimas.. kemudian olah energi yang muncul dengan kekuatan perutmu.." Wisanggeni memberikan dua buah pil pada istrinya.
__ADS_1
Tanpa bicara, Rengganis segera mengambil pil herbal itu kemudian menelan keduanya secara langsung. Benar apa yang dikatakan suaminya, begitu pil herbal itu masuk ke perutnya, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Terasa ada sesuatu yang bergolak di dalam perutnya. Rengganis segera memejamkan matanya, kemudian duduk bersila. Tidak lama kemudian Rengganis masuk dalam meditasi untuk mengendalikan energi yang berasal dari pil herbal itu.
******