Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 345 Kesalah pahaman


__ADS_3

Raja Adhyaksa terhenyak di dalam kamar peraduannya. Laki-laki itu menyangka jika keponakan yang selama ini masih diperlakukan dan dianggap sebagai seorang anak kecil, ternyata memiliki kemampuan bersilat lidah yang sangat tajam. Tanpa sadar perkataan yang diucapkan oleh bocah kecil itu, setajam pisau belati yang sudah diasah, dan bahkan raja Adhyaksa mengakui jika dirinya akan kalah jika, perdebatan tadi dilanjutkan.


"Ternyata keponakanku pelan-pelan sudah mulai tumbuh menjadi anak muda. Aku harus hati-hati, dan tidak boleh sembarang untuk bicara. Jika aku tidak berhati-hati, maka aku sendiri yang akan terjebak dalam perdebatan yang tidak berujung pangkal. Tetapi sebenarnya apa yang aku cari dari takhta ini.. Sepertinya aku juga tidak mendapatkan kebahagiaan dari takhta ini, malah kebebasanku sedikit demi sedikit terenggut. Karena urusanku tidak hanya pada diriku sendiri, pada keluargaku.., tetapi juga kepada semua rakyat yang berada di tlatah kerajaan Logandheng." di dalam kamar, raja Adhyaksa melamunkan perdebatannya dengan keponakannya Bhadra Arsyanendra tadi malam.


"Apakah aku harus sedikit mengalah pada bocah itu, dan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menyerahkan singgasana kepadanya?? Tetapi bagaimana aku dapat menjaga amanah yang diberikan oleh kakangmasku.." sejenak laki-laki itu terjebak dalam kebingungan.


"Krett.." tiba-tiba pintu kamar peraduan didorong dari luar. Tersembul wajah ayu istri dari raja Adhyaksa yang selama ini berada di kamar yang berbeda dengan laki-laki itu. Raja Adhyaksa menoleh ke arah pintu kamar, dan dengan kaku laki-laki itu tersenyum menyambut kedatangan istrinya,


"Kakang prabu.. apakah kakangmas merasa letih malam ini? Jika jawabannya iya, maka Nimas akan memijit punggung kakangmas, karena sejak tadi Nimas perhatikan, lampu di kamar ini masih menyala." dengan suara lembut, perempuan itu mengajak suaminya berbicara.


"Lakukanlah Nimas.., tapi aku tidak akan bisa memberikan pelayanan kepadamu malam ini. Pikiranku sedang kalut, aku belum mendapatkan jalan keluar untuk terlepas dari masalah ini. Mengertilah dengan keadaanku Nimas.." raja Adhyaksa menanggapi perkataan yang diberikan oleh istrinya.


Perempuan itu berjalan mendekati raja Adhyaksa, kemudian tangannya membuka lemari kayu kecil yang ada di samping ranjang tempat suaminya berbaring. Tidak lama kemudian, perempuan itu menuangkan minyak ke dalam cawan, dan mengembalikan ke tempat semula setelah perempuan itu merasa cukup.


"Mohon ijin untuk melepaskan baju ageman yang di bagian atas kakangmas..." dengan trampil, tangan perempuan itu melepaskan pakaian atasan yang dikenakan oleh suaminya. Tangannya yang mungil dengan lincah mengoleskan minyak ke punggung suaminya, dan dengan cepat memberikan pijatan-pijatan ringan di punggung laki-laki itu.

__ADS_1


"Apakah kedatangan Raden Bhadra Arsyanendra yang dapat membuat suamiku menjadi gundah gulana..?" sambil terus memberi pijatan pada punggung suaminya, kanjeng ratu bertanya pada laki-laki itu.


Raja Adhyaksa terdiam, dan beberapa saat kemudian terdengar laki-laki itu menghela nafas. Pijatan yang diberikan istrinya perlahan bisa mengurangi ketegangan dalam pikirannya.


"Benar apa yang kamu utarakan Nimas.. Ternyata bocah kecil itu sudah tidak layak lagi untuk kita katakan sebagai seorang bocah. Anak itu memiliki keahlian untuk berbicara,  dan kata-kata yang keluar dari mulutnya tanpa sadar sudah menyindir dan membuka kekuranganku dalam memimpih kerajaan Logandheng selama ini." akhirnya laki-laki itu bercerita tentang kegundahan yang dialaminya.


"Kakangmas.., untuk apa kakang melakukan perdebatan dengan Raden Bhadra. Sejak awal, posisi kakangmas sebagai raja di kerajaan Logandheng, hanya untuk menggantikan posisi sementara. Jika Raden Bhadra sudah merasa siap, kakangmas sudah berjanji untuk menyerahkan takhta itu pada bocah itu. Untuk itu, apa lagi yang kakangmas risaukan..?" perkataan yang diucapkan oleh istrinya seakan menyadarkan Raja Adhyaksa,


"Benar katamu Nimas.., itu juga sejak tadi sudah kakangmas pikirkan. Hanya saja, hati kakangmas masih tergelitik dengan perkataan Raden Bhadra yang seakan menuduh kakangmas berada, dan menjadi orang yang patut dipersalahkan atas penyerangan ke perguruan Gunung Jambu, Dan jujur  saja Nimas.., hati kakangmas merasa tergelitik, dan merasa bersalah.." kembali Raja Adhyaksa menundukkan kepala.


"Akui jika memang apa yang dikatakan anak itu benar kakangmas. Memang selama ini, kesalahan kita adalah membiarkan paman patih bertindak sendiri, tanpa kita melakukan pengawasan, benar tidak apa yang sudah dilakukannya. Untuk saat ini, paman patih dan putra sulungnya sudah tidak ada, sebagai biaya untuk membayar kekejaman yang selama ini sudah dilakukannya. Tidak akan jatuh harga diri kita, jika kakangmas mengaku bersalah pada Raden Bhadra." sambil tersenyum, kanjeng Ratu memberikan masukan pada suaminya.


Mendengar perkataan dari istrinya, Raja Adhyaksa merasa mendapatkan pencerahan. Mendung yang semula terlihat menggantung di wajah laki-laki itu, perlahan menghilang dari wajahnya,


********

__ADS_1


Seperti yang sudah dirembug bersama dengan istrinya tadi malam, pagi harinya Raja Adhyaksa mengirimkan utusan untuk memanggil Raden Bhadra Arsyanendra ke istana kerajaan. Banyak jamuan makanan kesukaan bocah kecil itu sudah disiapkan oleh juru masak kerajaan, dan semuanya diminta disiapkan oleh kanjeng Ratu. Dengan mengajak Chakra Ashanka, Bhadra Arsyanendra segera datang ke istana dengan dikawal oleh beberapa prajurit setia keluarga ayahndanya.


"Ijin menyampaikan hormat saya kepada paman raja Adhyaksa, dan juga kepada bibi ratu.." sebelum Bhadra Arsyanendra duduk, bocah itu mengucapkan salam kepada paman dan bibinya. Chakra Ashanka dan para prajurit yang membersamainya, juga melakukan hal yang sama.


Raja Adhyaksa tersenyum, kemudian mempersilakan para tamu yang secara khusus diundangnya untuk segera menduduki kursinya, Begitu mereka duduk, pelayan perempuan masuk dan menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu-tamu tersebut,


"Nikmatilah keponakanku Raden Bhadra, paman dan bibi sengaja memerintahkan para pelayan untuk mempersiapkan makanan kesukaanmu. Semoga saja, semua masih sama seperti dulu. Tidak ada yang beda dengan pola dan menu-menu makanan yang kamu suka.." raja Adhyaksa menjelaskan pada Bhadra Arsyanendra.


"Baiklah paman.., bibi.. terima kasih atas kasih sayang dan rasa perhatian, yang masih kalian curahkan untuk keberadaan Bhadra di istana kerajaan. Semua makanan yang sudah tersaji memang masih menjadi makanan dan minuman yang Bhadra suka." tanpa rasa malu, Bhadra Arsyanendra langsung mencicipi menu yang sudah disiapkan untuknya.


Raja Adhyaksa dan istri teramat senang melihat raut wajah cerah dari keponakannya itu. Kemudian mereka mempersilakan para tamu yang lain untuk segera mencicipi hidangan yang sudah tersaji. Gelak dan tawa terdengar membahana, menjadi penyeling di saat mereka sedang menikmati hidangan di depan mereka.


"Kakang Ashan.., cobalah. Ini makanan kesukaanku.." Bhadra Arsyanendra mengambil satu potong makanan, kemudian meletakkannya di dalam piring Chakra Ashanka.


"Terima kasih Pangeran, sungguh kehormatan bagiku mendapatkan pelayanan langsung dari Pangeran Bhadra." tanpa bermaksud untuk memberikan pujian, putra Wisanggeni menempatkan dirinya sebagai manusia biasa yang berkunjung ke istana.

__ADS_1


**********


__ADS_2