
Chakra Ashanka bersama Rengganis dan Sekar Ratih menghentikan langkahnya, perlahan ketiga orang orang membalikkan tubuhnya ke belakang. Mata anak muda itu terbelalak, melihat seorang perempuan dengan pakaian mewah berdiri di belakangnya. Perempuan muda itu memiliki kulit putih bersih, mata yang jernih dan wajah yang sangat cantik. Sebagai anak muda yang sudah menjelang remaja, Chakra Ashanka terpukau dengan kecantikan perempuan muda itu. Demikian pula Rengganis, perempuan itu juga mengakui kecantikan yang dimiliki oleh perempuan muda itu.
"Tunggu sebentar, aku ingin mengajak kalian semua berbicara." perempuan itu mengeluarkan suara, meminta Chakra Ashanka beserta ibunda dan Sekar ratih mendengarnya.
"Bagaimana ibunda.., apakah kita akan memberikan kesempatan pada perempuan itu untuk berbicara dengan kita?" anak muda itu bertanya pada Rengganis. Terlihat perempuan muda itu mengerutkan dahi, menatap heran pada ketiga orang yang ada di depannya. Sepertinya perempuan muda itu heran melihat bagaimana, seorang anak laki-laki yang sangat tunduk pada ibundanya.
"Aku mengajakmu berbicara, kenapa kamu malah mengacuhkanku dan mengajak perempuan itu bicara. Apakah kamu tidak tahu siapa akau..?" perempuan muda itu merasa terabaikan. Dengan nada tinggi, perempuan muda itu berteriak pada Chakra Ashanka.
"Humph..., kamu bertanya padaku, apakah aku tidak tahu siapa kamu. Setahuku kamu adalah seorang gadis yang sombong, yang tidak memiliki sedikitpun rasa hormat pada pihak yang lebih tua. Apakah menurutmu ada masalah, jika aku lebih mengutamakan ibundaku dari pada dirimu.." dengan senyum sinis, Chakra Ashanka menanggapi perkataan perempuan muda itu. Dari samping, Sekar ratih tersenyum dan menutup mulut menggunakan kedua tangannya.
Mendengar perkataan pedas yang dilontarkan oleh Chakra Ashanka, raut wajah perempuan muda itu terlihat berubah. Wajah merah menahan marah terlihat jelas di kulit mukanya yang putih bersih.
"Kata-katamu tidak sopan untuk diucapkan pada seorang gadis. Kamu akan menyesal setelah mengetahui siapa aku sebenarnya." perempuan muda itu berteriak menghujat Chakra Ashanka.
"Terlebih kata-katamu tidak layak dan sangat tidak sopan untuk diucapkan pada pihak yang lebih tua. Dari pada mengetahui siapa kamu, siapa identitasmu, lebih baik kami untuk tidak mengetahuinya." dengan nada yang juga pedas, Chakra Ashanka berbicara dengan suara keras. Terlihat orang-orang yang berada di sekitar tempat itu, seperti menahan kekhawatiran melihat perdebatan itu.
__ADS_1
"Bunda.., sepertinya kita hanya membuang-buang waktu saja jika tetap meladeni perempuan gila ini. Kita harus segera kembali berjalan ke tempat di sebelah sana. Ratih.., berjalan di sebelah kanan ibunda, aku akan mengawal kalian berdua dari belakang." seusai berbicara, Chakra Ashanka bergegas mengajak Rengganis dan Sekar ratih meninggalkan tempat tersebut.
"Tunggu.., jangan tinggalkan aku. Dengarkan kata-kataku, atau kamu akan menyesal telah berurusan padaku!" perempuan muda itu kembali berteriak dengan marah, Tetapi sedikitpun Chakra Ashanka tidak memiliki ketertarikan untuk meladeni perempuan muda itu. Anak muda itu tetap berjalan di belakang kedua perempuan itu, memberikan pengawalan dari belakang.
Tidak diduga, bukannya berbalik arah meninggalkan Chakra Ashanka dengan kemarahan, tetapi gadis itu tetap berjalan mengikuti anak muda dengan dua perempuan itu di belakangnya. Di sekitar gadis muda itu, terlihat empat pengawal memberikan pengawalan kepadanya. Rupanya sikap keras hati yang ditunjukkan oleh anak muda itu, menimbulkan ketertarikan gadis itu untuk mengikuti Chakra Ashanka.
Di depan, bukannya anak muda itu tidak tahu jika langkahnya saat ini diikuti oleh gadis muda itu. Tetapi Chakra Ashanka tetap bersikap masa bodoh, dan tidak tertarik dengan sikap egois yang ditunjukkan oleh gadis itu. Tanpa merasa bersalah, anak muda itu tetap melanjutkan jalan kakinya.
*******
Di kios penjual kain
"Berikan aku kain yang dipegang oleh perempuan itu, berapapun harganya akan aku bayar." suara gadis yang tadi akan mengajak Chakra Ashanka berbicara, terdengar di kios penjual itu.
Tidak mau berdebat, anak muda itu memberi isyarat pada ibundanya, agar membatalkan niat atas kain sutra tersebut. Gadis cantik berkulit putih itu langsung menyeruak masuk dengan para pengawalnya.
__ADS_1
"Baik Den Ayu.., apakah akan diambil semua gulungan kain ini. Melihat kulit Den Ayu yang putih bersih, kain ini akan sangat cantik untuk dikenakan." penjual merasa tersanjung dengan permintaan gadis itu. Penjual langsung meninggalkan Rengganis dan Sekar Ratih, dan mengabaikan mereka.
"Semua kain yang bagus-bagus akan aku ambil semuanya, berapapun harganya." dengan nada penuh kesombongan, gadis itu meminta penjual untuk mengambilkan untuknya.
Melihat sikap pilih kasih dan mudah berubah yang ditunjukkan penjual, Chakra Ashanka kehilangan respeknya pada penjual tersebut. Anak muda itu menarik tangan ibunda dan Sekar ratih, kemudian mengajaknya untuk berpindah ke kios yang lainnya. Melihat hal itu, Rengganis hanya tersenyum.
"Apakah ibunda kecewa, tidak jadi mendapatkan kain sutra tadi..? Jika iya, kita akan mencarinya lagi di tempat yang lain." Chakra Ashanka bertanya pada Rengganis. Anak muda itu merasa tidak enak, sudah menggagalkan keinginan dari ibundanya.
"Jangan terlalu banyak berpikir Ashan, gadis muda itu sepertinya tertarik padamu. Dia hanya ingin memancing kemarahanmu.., ibunda tidak masalah jika kita tidak jadi membeli kain-kain itu. Yang terpenting adalah cindera mata untuk ayah Mahesa dan dua keponakan ibunda sudah didapatkan. Demikian juga oleh-oleh untuk putri ibunda yang cantik Parvati, semuanya sudah kita beli putraku." untungnya, pada saat Chakra Ashanka berhadapan dengan penunggang kuda tadi, untuk mengurangi kecemasan Sekar ratih, Rengganis mengajak gadis itu untuk mencari oleh-oleh itu. Sehingga tidak menjadi masalah besar untuk mereka, ketika mereka tidak mendapatkan oleh-oleh tambahan.
"Ibunda Ashan memang yang paling cerdas dan penuh perhitungan. Jika begitu, bagaimana jika kita mencari kedai makanan saja bunda. Kita akan mengisi perut, karena hari juga sudah terlihat siang." melihat bukan sesuatu hal yang harus ada untuk kain sutra itu, Chakra Ashanka merubah haluan.
"Baik putraku.., ayo kita berjalan di sebelah sana. Bunda masih ingat, di ujung jalan ada kedai makan yang menjual beraneka makanan khas daerah ini." Rengganis langsung menyetujui ajakan putranya. Ketiga orang itu bergegas keluar dari pasar, menuju ke tempat yang ditunjukkan Rengganis,
Dari luar kios penjual kain, gadis cantik itu melihat kepergian ketiga orang yang diincarnya dengan perasaan sebal. Mulut gadis itu sampai monyong keluar, karena ternyata anak muda itu tidak merespon tindakannya yang merampas kain pilihan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana Den Ayu.., apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Apakah Den Ayu masih ingin masuk ke dalam pasar?" pengawal memberanikan diri bertanya pada gadis itu.
********