
Kerajaan Logandheng
Menggunakan Singa Resti dan Naga terbang, Bhadra Arsyanendra kembali ke kerajaan Logandheng dengan ditemani Chakra Ashanka. Sekar Ratih ditinggal putra Wisanggeni itu untuk menemani ibundanya di perguruan Gunung Jambu. Karena dengan perginya Ayahndanya Wisanggeni dan Parvati untuk menuju kerajaan ular, Rengganis hanya berada di padhepokan ditemani oleh para murid dan pelayan. Untuk itu, agar menemani ibundanya, Sekar ratih diminta untuk memberikan pelayanan pada Rengganis.
"Raden Bhadra.., kita akan turun sebentar di bawah. Sepertinya sebelum kita memutuskan untuk memasuki wilayah kerajaan, kita harus beristirahat sebentar dan mengisi perut kita terlebih dahulu. Sehingga, begitu jita berada di istana, kita tidak akan menunggu dalam keadaan lapar." sebelum memasuki wilayah kerajaan, Chakra Ashanka mengajak rombongan untuk beristirahat sebentar.
Bhadra Arsyanendra tersenyum dan menganggukkan kepala, sebenarnya sejak tadi bocah kecil itu sudah merasa lapar. Tetapi dia merasa tidak enak untuk memberi tahu dan mengajak Wisanggeni untuk beristirahat.
"Baik kakang Ashan.., aku menyetujui usulanmu." jawab Bhadra Arsyanendra singkat,
Tidak lama kemudian, Chakra Ashanka menepuk punggung SInga Resti, dan memberi isyarat pada naga terbang untuk menurunkan mereka di salah satu kedai penjual makanan yang ada di pinggiran kota Logandheng. Chakra Ashanka tidak memiliki pilihan untuk turun di lokasi yang lebih jauh, untuk mengecoh warga di sekitar tempat itu. Tetapi karena kali ini dalam perjalanannya, dia membawa Bhadra Arsyanendra, maka semakin dekat dengan masyarakat langsung, maka keamanan bocah kecil itu akan lebih terjamin,
"Hap..., hap..." Chakra Ashanka segera melompat turun dari punggung Singa Resti, kemudian diikuti oleh Bhadra Arsyanendra dan kedua pengawal pangeran kecil itu,
Beberapa orang tampak menengok kedatangan mereka, tetapi karena wajah bhadra Arsyanendra sengaja ditutup dengan menggunakan caping, maka tidak ada yang dapat mengenali wajah bocah kecil itu. Melihat masih ada beberapa bangku kosong di dalam, Chakra Ashanka mengajak rombongan untuk duduk dan masuk ke dalam. Tetapi kedua pengawal Raden Bhadra menolak, dengan alasan mereka akan melakukan pengamatan untuk memastikan keamanan bocah kecil itu.
Tanpa mau menunggu lama, Chakra Ashanka memesan makanan yang sempat disajikan, dan meminta minuman panas untuk mereka. Setelah memesan makanan, sambil menunggu anak muda itu segera kembali duduk di bangku yang sudah dipilihnya.
__ADS_1
"Heh..., apakah kamu sudah tahu berita terbaru di kepatihan..?" tiba-tiba terdengar percakapan di beberapa meja dekat tempat duduk Chakra Ashanka.
"Ada berita apa, kebetulan aku baru saja datang ke kota ini kemarin. Tadi malam langsung tidur, sehingga belum mendapatkan kabar apapun tentang kota ini." teman yang duduk di bangku yang sama menanggapi pertanyaan dari temannya tadi.
"Katanya kepatihan hari ini terlihat kosong. Beberapa orang meninggalkan kepatihan tadi malam, saat orang-orang di kota Logandheng sedang terlelap tidur. Kabarnya berita kematian patih Wirosobo telah mengejutkan anggota keluarganya, dan juga di kerajaan. Keluarganya tidak bisa menemukan jasad Patih Wirosobo, berbeda dengan jasad Senopati Wiroyudho. Jika beberapa waktu lalu, putra Kanjeng patih dapat dibawa pulang jasadnya, tetapi kali berbeda dengan yang dialami patih Wirosobo. menurut kabar yang beredar jasad Patih Wirosobo meledak dalam pertarungan, sehingga jasadnya tidak bisa dibawa pulang." salah satu dari orang-orang tersebut menceritakan kabar yang dia dapatkan,
"Jangan keras-keras suaramu..., kita belum tahu apakah kabar berita itu benar atau salah. Jika benar, kenapa kerajaan belum memberikan pengumuman kepada warga kerajaan, untuk apa hal itu ditutupi." khawatir ada pihak lain yang tidak suka mendengar berita itu, salah satu dari mereka membuat sebuah peringatan,
"Iya juga ya... Mungkin karena sangat terpukul dengan kejadian yang dalam waktu dekat kehilangan dua anggota keluarganya, maka istri Kanjeng patih dan putra bungsunya Raden Anggoro tadi malam meninggalkan Kepatihan,." orang tadi melanjutkan ceritanya dengan nada sedikit pelan. beberapa orang yang duduk di bangku seberang, mereka mengangguk-anggukkan kepalanya.
Chakra Ashanka menatap Raden Bhadra Arsyanendra, dan bocah kecil itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Tanpa bicara, kedua anak laki-laki itu kemudian menikmati menu makanan yang sudah mereka pesan.
********
Kedua pengawal raden Bhadra Arsyanendra mendekati Chakra Ashanka yang berdiri sembari mengusap kepada Singa Resti dan naga terbang. Mereka ingin memberi tahu anak muda itu, jika mereka bisa memanfaatkan fasilitas kerajaan untuk memasuki istana, sehingga kedua binatang itu harus disimpan kembali.
"Mohon maaf Den Bagus Ashan.., jika kami berdua berani lancang. kami harus menyampaikan hal ini kepada Den Bagus, mengingat jika junjungan kami Raden Bhadra masih memiliki hak untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan dari kerajaan ini." dengan hati-hati, salah satu pengawal memberi masukan pada Chakra Ashanka.
__ADS_1
"Hmm..., apa maksud dari kalimatmu..? Apakah maksudmu aku harus melarang kedua binatang peliharaanku ini untuk memasuki istana kerajaan? Baiklah akan aku lakukan, dan keduanya akan aku simpan. Tetapi untuk memanfaatkan fasilitas kerajaan, hendaknya kalian bertanya langsung pada Raden Bhadra. Bukan aku yang menentukan.." Chakra Ashanka menyerahkan masalah itu pada Bhadra Arsyanendra.
Mendengar namanya disebut-sebut, bocah kecil itu mengangkat wajahnya dan melihat pada orang-orang yang berada di tempat itu.
"Ada apa kakang Ashan, sepertinya tadi aku mendengar kang Ashan menyebut namaku." Bhadra Arsyanendra bertanya pada Chakra Ashanka.
"Kita akan masuk ke wilayah istana kerajaan dengan berjalan kaki seperti orang kebanyakan, atau akan memanfaatkan fasilitas Raden Bhadra sebagai keluarga istana yang sah." Chakra Ashanka mempertegas yang disampaikan oleh pengawal,
"Mohon dimaafkan Raden bhadra. Kami sebenarnya hanya ingin memposisikan Raden Bhadra sebagai penerus sah kerajaan Logandheng, dan seharusnya masuk juga dengan berdiri tegak. Tidak dengan bersembunyi dengan mencari kelengahan musuh. Hanya itu yang terlintas pada pikiran kami berdua Raden.." sebelum Bhadra Arsyanendra mengambil keputusan, salah satu pengawal mendahului bicara. Bhadra Arsyanendra terdiam beberapa saat kemudian bocah kecil itu tersenyum mendengar perkataan pengawal setianya.
"Kakang Ashan.., sebenarnya aku tidak peduli dengan pencitraan. Tetapi melihat kesetiaan kedua pengawalku ini, ada baiknya kita mengikuti keinginan mereka berdua. Kita akan mencari tempat untuk beristirahat, dan biarkan kedua pengawalku ini yang akan memikirkan cara untuk memasuki kerajaan." akhirnya Bhadra Arsyanendra membuat keputusan.
Wajah kedua pengawal itu berbinar karena pangeran junjungannya ternyata mendengar apa yang mereka katakan, Mereka kemudian meminta kedua anak muda itu untuk beristirahat di sebuah penginapan, yang ternyata sudah disiapkan oleh mereka.
"Kami harap, Raden Bhadra dan Den Bagus Ashan untuk beristirahat sebentar di penginapan. Sekedar untuk meluruskan kaki dan pinggang, selebihnya kami berdua yang akan membuat pengaturan." dengan sopan, kedua pengawal meminta Bhadra Arsyanendra dan Chakra Ashanka untuk beristirahat.
Tanpa menjawab, kedua anak muda itu menuruti apa yang dikehendaki oleh kedua pengawal itu. Mereka langsung mengikuti pelayan yang sudah datang untuk menjemput mereka berdua.
__ADS_1
**********