Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 295 Keributan di Tapal Batas


__ADS_3

Menggunakan kemampuan meloncat dari keturunan manusia ular, tidak butuh waktu lama, Maharani sudah sampai di tapal batas. Terlihat asap membubung tinggi, dan beberapa bangunan porak poranda. Perempuan itu heran dan berpikir, selama ini tidak ada yang berani untuk membuat kekacauan di wilayah itu, tetapi baru kali ini terjadi kekacauan yang sangat dashyat di tempat itu. Banyak orang yang tidak tahu apa-apa berlarian untuk menyembunyikan diri, dan sebagian mencari pertolongan.


"Tempat ini bukan merupakan wilayah dari perguruan Gunung Jambu. Apakah aku perlu menolong orang-orang ini?? Tetapi jika aku memberi mereka pertolongan, aku khawatir orang-orang jahat itu akan menyangkut pautkan orang-orang ini dengan perguruan kita. Apa yang harus aku lakukan?" Maharani merasa dalam keadaan bimbang, dalam hati perempuan itu ingin memberikan bantuan pada orang-orang lemah itu. Tetapi kekhawatiran untuk menimbulkan masalah bagi perguruan Gunung Jambu, juga menjadi pemikirannya.


"Tomng kami Den Ayu,...., ada orang jahat yang menghancurkan pemukiman kami. Desa kami sudah habis luluh lantak, tolong kami den ayu!" Maharani merasa kehabisan akal, ketika melihat ada seorang perempuan sedang menggendong bayi, meminta pertolongan padanya.  Mleihat perempuan yang meminta perlindungan pada Maharani, orang-orang di sekeliling mereka juga berlari menuju ke arah Maharani.


"Tenangkan diri kalian, ceritakan apa yang terjadi!! Aku tidak tahu masalah apa yang sedang mengganggu kalian saat ini. Dan sebelumnya juga mohon dimaafkan, aku juga tidak akan begitu mudah ikut campur dalam perkara ini. Banyak hal yang harus aku jaga dan pertimbangkan." Maharani meminta penjelasan dari mereka, dan sebelum mereka salah paham, perempuan itu sudah menjelaskan posisi dirinya.


"Ada peperangan perebutan kekuasaan di kerajaan kami Den Ayu. Kami sebenarnya masuk dalam pemerintahan kerajaan Logandeng, dan setelah raja kami wafat, ternyata terjadi perebutan kekuasaan di antara penerusnya. Kebetulan putra dari raja yang sah, terlihat pernah bersembunyi di desa kami. Akhirnya desa kami menjadi bulan-bulanan dan hancur diluluh lantakkan oleh orang yang haus akan kekuasaan." dengan tubuh gemetar, orang-orang itu menceritakan pada Maharani.


Perempuan itu menghadapi pertentangan dalam batinnya, antara ingin menolong mereka, tetapi ada rasa khawatir menimbulkan permasalahan dengan perguruan Gunung Jambu. Selama ini, perguruan ini tidak menjadi milik kerajaan manapun, termasuk kerajaan Laksa, Telah terjadi kesepakatan pada masa Ki Cokro Negoro memimpin perguruan ini, dengan raja-raja yang ada di sekitar perguruan. Mereka menyepakati jika Perguruan Gunung Jambu, merupakan sebuah wilayah yang bebas, dan tidak mendapatkan campur tangan dari kerajaan manapun. Tetapi apa yang dilihatnya kali ini sangat pelik.


Sebelum Maharani memiliki seorang putri dan belum menjalin ikatan dengan Wisanggeni, perempuan ini terkenal karena kekejamannya. Naf**su binatang lebih menguasai daripada sisi kemanusiaanya. Tetapi setelah melihat bagaimana suami, dan juga lingkungan saat ini, ditambah hadirnya Parvati, sisi-sisi kemanusiaan dalam diri perempuan itu lebih menguasainya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan.., apakah aku perlu untuk membahasnya dengan Nimas Rengganis terlebih dahulu, sebelum aku memutuskan untuk memberikan pertolongan pada mereka?" Maharani kembali bertanya pada dirinya sendiri.


"Jueglarrr....." tiba-tiba di kejauhan terdengar suara ledakan yang sangat menggemparkan. Kembali asap hitam membubung tinggi, dan semakin banyak orang yang berlarian menuju tempatnya berdiri.


"Ciaattt..., hap..." tubuh Maharani melompat tinggi ke tempat yang lumayan jauh, di tangannya tiba-tiba sudah ada seorang anak kecil. Perlahan Maharani menurunkan kembali ke atas tanah, dan tatapan marah tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam dirinya. Perempuan itu melipat identitas sebagai seorang Guru dari perguruan Gunung Jambu, dan memutuskan membawa identitasnya sendiri. Beberapa orang segera memegang anak kecil itu, dan membawanya berlari untuk bersembunyi.


"Keluarlah manusia laknat..., apakah membunuh seorang anak kecil akan memuaskan naf*sumu..! Lawanlah aku, akulah yang lebih cocok untuk menjadi lawanmu," dengan suara nyaring, Maharani berteriak memanggil orang yang sudah berbuat onar itu. Melihat seorang anak kecil yang tidak memiliki salah dan dosa, akan jatuh menjadi korban keganasan mereka, telah menotok hati dan jantung perempuan itu.


"Ternyata betul yang kamu katakan..., alangkah hangatnya tempat tidurku tadi malam, jika perempuan cantik itu bisa berdua denganku di atasnya. Ha..., ha..., ha..." salah satu dari orang tersebut menyahuti perkataan temannya itu. Dengan tertawa terbahak-bahak, mereka menatap Maharani dengan tatapan me**sum.


"Hati-hati Den Ayu..., mereka terkenal dengan sebutan lima saudara penyapu nyawa. Banyak tetangga di pedesaan kami, yang mati dengan mengenaskan di tangan mereka.." dari belakang Maharani, terdengar ucapan warga desa yang mengingatkannya untuk berhati-hati.


Maharani tersenyum sinis, matanya semakin berkilat menatap kelima orang yang dengan memegang pedang di tangan masing-masing, sedang menatapnya dengan penuh minat. Kelima orang itu dengan gesit segera melompat dan mengelilingi tubuh Maharani.

__ADS_1


"Hmmm..., betul-betul sebuah bongkahan pinggul yang sangat padat, dan sepertinya akan sangat kenyal jika tanganku ini menyentuhnya.. ha.., ha.., ha.." kembali teriakan penuh pelecehan terucap dari mulut orang-orang itu.


"Sretttt...., bang..., bang..." tanpa menjawab, sebuah serangan beruntun dikirim Maharani menyapu kelima orang yang berdiri mengelilinginya. Tanpa ampun, Maharani mengirimkan serangan bertubi-tubi kepada mereka berlima.


"Ternyata kamu bisa memiliki ilmu kanuragan juga ternyata..., baiklah aku akan menjadikanmu penghangat ranjangku nanti malam.." sambil mengusap darah dari sudut bibirnya, salah satu dari lima bersaudara itu, merespon serangan yang dikirimkan Maharani kepada mereka.


"Jadikan itu sebagai mimpi burukmu manusia laknat. Kamu sudah berani untuk memancing keributan dengan manusia ular.. Lihatlah apakah kamu masih bisa untuk bertindak dan berperilaku sombong di hadapan mereka." selesai mengucapkan kata-katanya, tubuh Maharani tiba-tiba menggeliat. Tubuh itu menjelma menjadi sebuah naga yang besar berkepala wanita yang cantik, dengan tatapan ganas menyapu pada kelima orang itu.


Orang-orang di sekitar tempat itu terkejut, mereka sama sekali tidak menyangka jika perempuan yang mereka mintai tolong adalah seorang Ratu Ular. Dari cerita yang beredar dari mulut ke mulut, mereka mendengar jika perempuan itu merupakan sosok wanita yang kejam, dan tidak akan pernah memberikan ampunan pada lawan-lawannya. Tetapi apa yang mereka dengar, ternyata tidak sama dengan kenyataan yang saat ini mereka lihat di depan mereka.


"Sssshhh.... bluarr..." ketika Ratu Ular Maharani membuka mulutnya, keluar jilatan merah warna api menyerang ke arah orang-orang itu. Suasana menjadi kacau, orang-orang yang tadi ikut menyaksikan bagaimana perempuan itu akan melawan kelima saudara itu, mereka menyembunyikan dirinya.


************

__ADS_1


__ADS_2