
Sebuah bayangan menyerupai laki-laki tinggi besar dengan mata memerah menatap Wisanggeni dan Rengganis dengan tatapan penuh amarah. Terdapat sebuah kapak di tangan laki-laki itu yang masih meneteskan darah. Dengan pandangan seram, laki-laki itu perlahan mendekat ke arah mereka. Wisanggeni dengan cepat menggeser Rengganis dan menggunakan tubuhnya untuk menutupi pandangan laki-laki itu pada kekasihnya itu.
"Ha..., ha..., ha..., siapa kalian, sepasang anak muda yang akan menghantarkan kematian di pemakaman kuno ini?' dengan tertawa terbahak-bahak laki-laki tinggi besar itu bertanya pada mereka.
"Maaf Ki Sanak.., nama saya Wisanggeni keturunan dari Ki Wijanarko yang konon kabarnya dikuburkan di pemakaman ini. Sebagai keturunannya, menjadi kewajiban bagiku untuk berbakti dan menghaturkan sungkemku pada beliau. Dan di belakang saya ini, dia adalah Rengganis putri dari Ki Sasmita yang leluhurnya juga dimakamkan di pemakaman ini. Salam hormat dari kami berdua untuk Ki Sanak." tanpa mempedulikan kemarahan laki-laki itu, Wisanggeni mengajak Rengganis membungkukkan badannya memberi penghormatan pada laki-laki di depannya itu.
Laki-laki itu terdiam sesaat, dia tidak menyangka masih menemukan orang yang tahu adab dan tata krama. Selama ini, orang-orang yang masuk ke pemakaman tanpa ijin selalu berakhir dengan kapaknya itu. Mereka selalu memiliki watak sombong, dan berusaha untuk menantangnya. Tetapi dia tidak menemukan hal-hal yang arogan pada dua manusia di depannya itu.
"Apakah kalian pikir, dengan mudah aku bisa kalian perdaya dengan penampilan kalian. Tunjukkan padaku, bukti apa yang bisa meyakinkanku jika kamu memang keturunan dari orang-orang besar pada masa lampau. Aku tidak mau, ada kesalahan yang aku perbuat sebagai penjaga kedamaian pemakaman ini!" dengan suara yang sudah mulai menurun, laki-laki itu meminta bukti.
"Nimas..., bukti apa yang harus aku keluarkan? Apakah Nimas memiliki bukti juga?" dengan suara lirih, Wisanggeni bertanya pada Rengganis.
"Rengganis juga bingung Akang, karena tadi Rengganis diantar Ki Narendra langsung datang kemari. Setelah ayahnda memberi tahu pada Akang, Rengganis bisa memastikan jika Kang Wisang langsung menuju kemari." ternyata Rengganis juga bingung, benda apa yang akan dia gunakan untuk membuktikan jika dia adalah keturunan Jagadklana.
Wisanggeni berpikir sebentar, dia merasa belum mendapatkan pembagian barang apapun dari Ki Mahesa, tetapi saat ibunya akan meninggal, ibunda menitipkan kotak pada Hapsoro yang berisi pisau belati dan selendang yang dia gunakan untuk mahar pada Rengganis. Karena merasa bingung, perlahan dan penuh keraguan, Wisanggeni mengambil pisau belati dan dia tunjukkan pada laki-laki menyeramkan itu.
Sesaat laki-laki tinggi besar itu mencermati pisau belati yang ada di tangan Wisanggeni. Tanpa pernah diduga laki-laki itu langsung menundukkan badannya dan duduk bersimpuh di depan Wisanggeni. Dengan pandangan tak percaya, laki-laki itu menatap WIsanggeni dengan penuh kelembutan.
"Setelah sekian lama.., aku melihat lagi pisau pusaka dari Den Ayu Ratri.." gumam laki-laki menyeramkan itu.
__ADS_1
Wisanggeni bertatapan dengan Rengganis, laki-laki muda itu merasa kebingungan saat nama eyang putrinya disebut laki-laki menyeramkan itu.
"Maaf Ki Sanak.., ada hubungan apa antara Ki Sanak dengan Eyang putri saya?" Wisanggeni memberanikan diri bertanya pada laki-laki menyeramkan itu.
"Anak muda..., aku adalah Kapak Berdarah. Pada jaman dulu, aku bertugas sebagai pengawal pribadi Den Ayu Ratri.., aku sangat mengenali pisau belati itu, Ampuni Paman yang tidak bisa lagi mengenali keturunan dari Den Ayu Ratri.." laki-laki menyeramkan itu menundukkan kepalanya sampai menyentuh tanah di depannya.
"Bangunlah paman.., antarkan aku dan Nimas Rengganis ke makam leluhurku kami Eyang Widjanarko. Aku akan mengucapkan salam dan sungkem padanya." Wisanggeni berjalan maju ke depan, kemudian berjongkok dan mengangkat kepala laki-laki itu kemudian menegakkannya.
Saat laki-laki seram itu menatapnya, Wisanggeni tersenyum kemudian menganggukkan kepala.
"Ikuti saya anak muda..!" Wisanggeni meraih tangan Rengganis, perlahan mereka mengikuti di belakang laki-laki menyeramkan itu.
"Bang*** sat..\, beraninya kamu mengkhianati aku Narendra. Apakah kamu tidak berpikir\, betapa bahayanya pemakaman kuno itu\, dan kamu malah mengantarkan putriku Rengganis memasuki pemakaman itu tanpa persiapan apapun. Apakah kamu tahu siapa Kapak Berdarah...\, roh dari laki-laki yang bertugas menjaga kedamaian makam itu\, apa kamu pikir akan membiarkan putriku untuk memasuki wilayah itu??" dengan marah\, Ki Sasmito menampar Ki Narendra di pendhopo Jagadklana.
Ibunda Rengganis menangis terisak, mendengar kabar yang disampaikan Ki Narendra, jika putri kesayangannya Rengganis mengikuti kekasihnya putra ketiga Klan Bhirawa untuk memasuk pemakaman kuno. Tanpa adanya bukti jika mereka adalah keturunan dari trah yang sudah dikuburkan di makam tersebut, para roh pengawal tidak akan mudah membiarkannya untuk masuk.
"Ampuni saya Ketua.., tapi saya yang sudah tua ini memiliki keyakinan. Jika Nimas Rengganis akan aman dan selamat, jika dia bersama dengan Den Wisanggeni. Ketua jangan berpikir jika anak laki-laki muda itu merupakan manusia yang lemah. Dalam tubuhnya ada garis keturunan dari Ki WIdjanarko, dan siapa tahu, anak muda itu akan dibangkitkan garis keturunannya di dalam pemakaman kuno itu." Ki Narendra membuat alasan kenapa dia mengantarkan dan mengijinkan Rengganis pergi bersama dengan Wisanggeni.
"Plak..." tamparan keras dialamatkan ke Ki Narendra oleh Ki Sasmita yang masih melihatnya dengan tatapan penuh amarah.
__ADS_1
"Hanya dengan harapan dan pikiran konyolmu itu, kamu berani mengorbankan putriku bersama dengan anak muda yang belum matang itu." teriak Ki Sasmita.
Ibunda Rengganis segera berdiri dan memegangi suaminya. Perempuan paruh baya itu, kemudian mendudukannya di kursi yang terbuat dari anyaman kayu rotan.
"Sabarlah Kangmas.., siapa tahu apa yang disampaikan Ki Narendra benar adanya. Setelah membersamai Rengganis dari putri kita itu sejak masih kecil, saya yakin Ki Narendra tidak akan tega membiarkan putri kita berada dalam keadaan yang sulit." Ibunda Rengganis mencoba menenangkan hati suaminya.
Ki Sasmita terdiam, dia hanya menatap kegelapan malam di luar sana. Perlahan laki-laki tua itu menarik nafas dalam, kemudian perlahan menghembuskannya keluar.
"Ki Narendra..., mundurlah. Istirahatlah dulu.., tinggalkan aku dan Kangmas Sasmita sendiri di ruangan ini." Ibunda Rengganis meminta Ki Narendra untuk menarik diri.'
"Baiklah Nimas.." Ki Narendra segera bergegas meninggalkan kedua orang pemimpin Trah Jagadklana itu di pendhapa.
"Suamiku.., ada baiknya kita harus segera menyusun strategi kangmas. Aku sangat mengkhawatirkan keselamatan Rengganis, ada baiknya kita mengumpulkan beberapa sesepuh untuk berjaga-jaga di luar pemakaman kuno." Ibunda Rengganis dengan suara perlahan dan penuh kekhawatiran menyampaikan usulan pada suaminya.
Setelah diam, Ki Sasmita akhirnya berbicara..
"Iya Nimas.., keselamatan putri kita adalah hal utama. Aku sendiri yang akan memimpin para sesepuh untuk mencoba memasuki pemakaman itu."
***************
__ADS_1