Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 357 Kehidupan Tenang


__ADS_3

Trah Bhirawa


Widjanarko merasa tidak percaya melihat kedatangan Wisanggeni adiknya dengan menggandeng seorang anak perempuan. Laki-laki itu mengucek matanya, dan setelah yakin bahwa yang dilihatnya adalah adiknya Wisanggeni, laki-laki itu segera datang menghampiri kedua orang itu.


"Apakah aku sedang tidak bermimpi, tidak ada angin tidak ada hujan aku melihat Rayi Wisanggeni dengan keponakan cantikku Parvati." dengan muka bahagia, Widjanarko merentangkan kedua tangannya dan mengangkat tubuh Parvati dalam gendongannya.


"Paman besar.., Parvati ditemani ayahnda datang berkunjung ke Kota Laksa." suara nyaring Parvati menyapa Widjanarko.


"Ha .., ha.., ha.. iya keponakan cantiknya. Paman besar sangat bahagia dan berterima kasih mendapat kunjungan dari keponakan cantik paman. Ayo kita segera masuk ke dalam, kalian pasti sudah sangat capai." Widjanarko menurunkan tubuh Parvati kemudian mendatangi adik bungsunya Wisanggeni.


"Rayi... aku sudah mendengar cerita tentang istrimu Maharani dari Rayi Lindu Aji dan Nimas Larasati. Kakangmas turut berduka Rayi.." Wisanggeni memeluk Widjanarko, dan terdengar ucapan prihatin dari Kakandanya itu.


"Terima kasih kakang Janar.. semua mungkin sudah menjadi takdir dalam kehidupan kami. Semua sudah digariskan oleh Sang Hyang Widhi, kita hanya mengikutimu garis dan kodratnya." dengan tersenyum kecut, Wisanggeni menanggapi ucapan duka dari Kakandanya.


"Bagaimana dengan Parvati, apakah keponakan cantikku ini bisa menerimanya?" Widjanarko bertanya tentang Parvati.


"Kakang bisa melihatnya, putriku Parvati syukurlah dapat melewati dan merelakannya. Itu juga karena bantuan Nimas Rengganis yang membantu untuk menyiapkan hati dan perasaannya." ucap Wisanggeni.


Widjanarko tersenyum kecut sambil melirik ke arah Parvati. Kemudian laki-laki itu kembali menghambat Parvati dan menggendongnya kembali.


"Paman akan menggendongmu Nimas Parvati.., mumpung paman masih kuat mengangkat badanmu. Mungkin sebentar lagi, paman tidak akan memiliki kesedihan untuk mengangkatmu kembali." ucap Widjanarko sambil menggendong Parvati di belakang punggungnya.

__ADS_1


Wisanggeni tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap kakak pertamanya itu. Perlahan ketiga orang itu segera memasuki pendhopo Utama. Beberapa Anggota dari Trah Bhirawa memberi hormat pada Wisanggeni, dan anggota yang lebih tua segera bergabung mendatangi laki-laki itu.


"Den Bagus Wisanggeni.., akhirnya Den bagus datang kembali ke Trah ini setelah sekian lama." paman Baskara mendatangi putra Ki Mahesa itu kemudian memeluk tubuhnya.


"Paman Bhaskara... bagaimana kabarnya paman? Setelah sekian lama, saya dan putriku Parvati baru sempat berkunjung ke sini. Tidak lama lagi istriku Nimas Tenggara dan putraku Chakra Ashanka juga akan menyusul kami disini paman." masih dengan sikap ramahnya, Wisata menyapa laki-laki tua itu.


"Den Ayu Rengganis.., bagaimana kabar istrimu itu. Paman masih ingat, dimana ada Wisanggeni disitu pasti ada Nimas Rengganis. Hal itu terjadi sejak kalian masih kecil, paman akan selalu mengingatnya." ternyata paman Baskara masih menginginkan masa lalu.


Wisanggeni tersenyum, laki-laki itu teringat bagaimana kedekatannya dengan istrinya Rengganis sudah terjadi, sejak mereka masih kecil. Orang-orang lama di Trah ini pasti akan selalu mengingatnya.


"Baiklah Den Bagus.., lanjutkan perjalananmu untuk bertemu dengan Ki Mahesa. Paman juga akan melanjutkan pekerjaan paman di halaman belakang. Biasa untuk tubuh paman yang sudah tua, memastikan agar orang-orang di Trah ini tidak kekurangan bahan pangan merupakan tugas yang tepat untukku." laki-laki itu tersenyum.


*******


Malam Harinya


Wajah Ki Mahesa tampak cerah dan kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya. Kedatangan Wisanggeni dan Parvati menjadi obat mujarab untuk kebahagiannya itu. Malam ini semua berkumpul di pendopo utama. Ki Mahesa dengan dikelilingi kedua cucunya putra Widjanarko dan Lindu Aji, juga Parvati duduk di dekat laki-laki tua itu. Widjanarko dan Kinara serta Lindhu Aji dan Larasati juga berkumandang di tempat itu.


"Syukurlah kita masih bisa berkumpul kembali setelah sekian lama di tempat ini. Kita hanya tinggal menunggu Nimas Rengganis dan cucuku Chakra Ashanka datang kesini." ucap Ki Mahesa pada semua yang ada di dalam ruangan itu. Laki-laki tua itu tidak berhenti mengeluarkan senyuman dari bibirnya. Bukan harta benda yang dapat membahagiakan orang seusia Ki Mahesa, selain dikelilingi oleh keturunannya.


"Apakah Eyang bahagia dikunjungi oleh Parvati?" dengan polosnya Parvati bertanya pada Ki Mahesa.

__ADS_1


"Ho... ho.. ho.., tentu saja cucuku. Tidak ada kebahagiaan untuk laki-laki seusia kakekmu ini selain diingat dan dikunjunginya oleh anak menantunya dan keturunannya." sambil tertawa, Ki Mahesa menjawab perkataan cucunya.


Melihat Parvati kecil, sebenarnya mengingatkan mereka pada Mahasiswa yang sudah berubah wujud di dunia ini. Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menyinggung hal ini di depan gadis kecil itu. Wisanggeni tersenyum melihat bagaimana semua yang ada di pendopo berusaha menyenangkan hati putrinya.


"Dimas Wisang..., apa rencanamu selanjutnya? Apakah kamu dan keluargamu akan tetap bertahan di perguruan Gunung Jambu?" ketika Parvati sedang berbicara dengan Ki Mahesa dan kedua saudara sepupunya, tiba-tiba Widjanarko dan Lindu aji mengajak laki-laki itu bicara.


"Mau apa lagi kakangmas yang bisa aku lakukan, selain nguri-uri peninggalan Ki Cokro Negoro. Di dalam perguruan itu, aku mendapatkan ketenangan dan kedamaian yang mungkin akan jauh berbeda, dengan apa yang aku rasakan di tempat lain." sambil tersenyum, Wisanggeni menjawab pertanyaan kedua saudara laki-lakinya.


"Rayi.. sebenarnya perguruan Gunung Jambu bisa tetap kamu kendalikan dari jauh. Kamu bisa mengembangkan bakat -bakatmu di tempat yang lebih cocok untuk kemampuanmu." Widjanarko menambahkan.


"Sebenarnya beberapa lalu, Nimas Niken dan Pangeran Abhiseka datang kemari. Mereka bertemu dengan Ayahnda untuk memintamu Dhimas... Mereka ingin kamu mendampingi kerajaan Laksa untuk menjadi Senopati sekaligus sebagai Patih kerajaan Laksa ini. Tetapi sepertinya ayahnda tidak menjawab, karena tidak ingin menjanjikan apapun." Lindu Aji menambahkan.


Wisanggeni terdiam, laki-laki itu teringat dengan para sahabatnya. Tetapi memang laki-laki ini tidak tertarik dengan kekayaan duniawi, yang lebih mengarah pada keserakahan. Menikmati kehidupan dengan didampingi istri dan melihat keberhasilan anak-anaknya merupakan keinginannya. Jadi, mendengarkan perkataan kedua Kakang laki-lakinya, sedikitpun tidak membuatnya tergiur.


"Apakah kamu tidak memiliki ketertarikan sedikitpun dengan tawaran itu Rayi?" Widjanarko mempertegas perasaan Wisanggeni.


"Untuk saat ini sepertinya tidak kakangmas, ampuni Wisang yang mengecewakan harapan keluarga ini. Banyak kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan harta atau kemewahan, jadi mungkin Wisang tidak dapat memenuhi keinginan kakangmas berdua." ucap Wisanggeni lirih.


Widjanarko dan Lindu Aji saling berpandangan. Jawaban yang keluar dari mulut adiknya, sama seperti yang ada dalam pikiran mereka. Wisanggeni tidak akan tergiur dengan tawaran kesenangan dan kemewahan duniawi. Menjalani kehidupan sama dengan manusia yang lain, itulah yang selalu diinginkannya sejak dulu.


******

__ADS_1


__ADS_2