Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 412 Pesohor


__ADS_3

Kejadian sebelumnya dari atas pohon


Mata Wisanggeni menatap dengan serius apa yang sedang terjadi di bawah sana. Sejak tadi, matanya tidak beranjak melihat ke arah laki-laki tua yang sedang bersiap untuk mengirimkan serangan ke arah putranya Chakra Ashanka. Dari samping laki-laki itu, Rengganis menatap heran dengan perubahan muka serius dari suaminya itu. Untuk mengobati rasa penasarannya, perempuan itu menyentuh lengan Wisanggeni.


Laki-laki itu kemudian menoleh ke arah istri dan putrinya. Tampak keheranan di wajah kedua perempuan itu, dan Wisanggeni tersenyum.


"Jangan heran dengan ekspresiku Nimas Rengganis.., Parvati. Aku baru mengamati dengan teliti wajah dari paman tua itu. Aku tidak akan melupakannya.." mendengar kata-kata yang keluar dari bibir suaminya, Rengganis mengerutkan keningnya. Perempuan itu mencoba melihat ke arah laki-laki tua yang ada di bawah itu, namun sepertinya dia memang tidak mengenalinya.


"Maksud kakang... apakah kakang mengenali paman tua itu..?" Rengganis melanjutkan pertanyaannya.


"Iya Nimas.. kakang tidak akan dapat melupakannya. Paman itu pernah bersama-sama dengan Guru dan para pendekar lainnya, ketika kita akan menumpas Gerombolan Alap-alap. Hanya saja, kala itu aku belum sempat untuk mengenal dekat dengan laki-laki tua itu. Kali ini.. tanpa sengaja kita dapat berjodoh, akhirnya kita kembali dipertemukan dengan paman tua itu." Wisanggeni menceritakan tentang paman tua yang sudah bersiap untuk memberikan serangan pada putra laki-lakinya itu.


"Lalu bagaimana kakang.. dengan putra kita. Nimas sangat yakin, jika laki-laki tua itu memiliki kekuatan ilmu kanuragan yang tinggi. Saat ini putra kita Chakra Ashanka akan menerima serangan darinya." wajah Rengganis tiba-tiba membias rasa khawatir.


Wisanggeni tersenyum, kemudian menjentikkan jarinya di hidung Rengganis, kemudian mengusap pelan wajah perempuan itu. Parvati tersenyum melihat tindakan yang dilakukan oleh ayahndanya itu.

__ADS_1


"Nimas.. hentikan dan buang keraguanmu pada putra kita. meskipun paman itu, terlahir lebih dulu daripada kita, tetapi aku yakin.. kekuatan putra kita Chakra Ashanka tidak perlu kita ragukan. Banyak perjalanan sulit dialami oleh anak muda itu, dan anak kita mendapatkan banyak manfaat dari perjalanan itu." dengan wajah santai, sambil tersenyum, Wisanggeni menenangkan perasaan Rengganis.


Mendengar hal itu.. Rengganis dan Parvati akhirnya sedikit merasa tenang.  Keduanya kembali melihat ke bawah, dan terlihat suasana hening baik di pagelaran maupun di pelataran kerajaan. Semua orang menatap ke arah pelataran, di tengah medan pertarungan. Tanpa takut dan gentar sedikitpun, anak muda itu berdiri dan tersenyum menatap paman tua yang sedang menyiapkan sebuah serangan untuknya.


"Api Banaspati keluarlah..." sebuah lingkaran bola api meluncur ke arah Chakra Ashanka dari tangan laki-laki tua tersebut.


Jika tatapan hampir semua orang yang berada di pagelaran dan pelataran melihat ke arah Chakra Ashanka, namun berbeda dengan tatapan keluarga dekat Chakra Ashanka. Ketiga orang yang masih duduk di atas pohon itu, melihat dan memperhatikan reaksi dan ekspresi dari laki-laki tua yang mengirimkan serangan di bawah.


"Nimas.. mungkin saatnya nanti kakang harus turun tangan untuk menyelamatkan paman tua itu. Energi dan aura batin laki-laki itu sudah habis terkuras.. dan akan sangat berbahaya untuk kestabilan keadaannya. Jika tidak segera diberikan pertolongan, maka laki-laki tua itu bisa berakhir mengenaskan." ucapan dengan nada khawatir keluar dari mulut Wisanggeni. Ketika sorak sorai terdengar riuh di bawah mengelu-elukan Chakra Ashanka, Wisanggeni segera melompat turun dan langsung menuju ke arah laki-laki tua itu.


*******


Melihat punggung laki-laki di depannya, Chakra Ashanka tersentak. Anak muda itu sangat mengenali tubuh dan perawakan laki-laki di depannya itu, dan air mata menggenang di kelopak mata anak muda itu, Tetapi dengan cepat, Chakra Ashanka mundur dan memberi ruang untuk laki-laki di depannya itu. Anak muda itu menengadahkan wajahnya ke atas, dan berhenti di sebuah pohon. Sebuah senyuman menyejukkan muncul dari dahan pohon besar yang tumbuh di pelataran itu, dan dada Chakra Ashanka menjadi sesak.


"Ayahnda.. ibunda.. Nimas Parvati.. ternyata kalian semua tidak pernah membiarkanku sendiri. Dimanapun, dan dalam keadaan apapun kalian semua selalu mendukungku.." anak muda itu mengusap air mata dengan menggunakan lengan bajunya. Keharuan seketika menyeruak masuk ke dalam hatinya.

__ADS_1


Dari belakang Wisanggeni, anak muda itu melihat ayahndanya memberikan kapsul herbal ke mulut paman tua itu. Dan yang menjadi keheranannya, puluhan orang yang datang bersama dengan paman itu tidak sedikitpun melakukan tindakan pada ayahndanya.


"Apakah ada yang membawa air disini, jika ada apakah ada yang berkenan untuk memberikannya sedikit kepadaku?" tiba-tiba kata-kata Wisanggeni mengagetkan orang-orang yang ada di tempat itu. Tidak lama kemudian, ada salah satu prajurit yang memberikan minuman dalam sebuah gelas kayu, dan menyerahkannya pada Wisanggeni.


Perlahan di bawah tatapan ratusan orang, dengan sabar dan hati-hati.., Wisanggeni meminumkan air tersebut ke paman tua tersebut. Setelah menunggu beberapa saat, perlahan telapak tangan laki-laki tua itu melakukan sebuah gerakan, dan perlahan mata tua itu mulai membuka. Tatapan kekaguman muncul di wajah orang-orang yang berada disitu. Ada seorang laki-laki asing yang tidak mereka kenal dan lihat sebelumnya, tiba-tiba muncul dan memberikan bantuan penyembuhan pada paman tua itu.


"Den bagus Wis... wisanggeni.." dengan terbata-bata.. laki-laki tua itu memberi sapaan pada Wisanggeni. Dengan sikap sopan, sebuah senyuman dan anggukan kepala menjawab sapaan dari laki-laki tua itu.


"Kehormatan dan kebahagiaan dapat bertemu lagi dengan paman. Mohon ijin yang lebih muda, memberikan penghormatan kepada pihak yang lebih tua.." dengan senyum di bibirnya, Wisanggeni menjawab sapaan laki-laki tua itu dengan penuh ketulusan. Dari belakang ayahndanya, Chakra Ashanka terkejut ketika mengetahui jika ayahndanya mengenal paman tua yang baru saja bertarung dengannya. Melihat hal itu, anak muda itu merasa malu dan menundukkan wajahnya ke bawah. Chakra Ashanka merasa menyesali perbuatannya.


"Siapapun.. bantu saya untuk mengangkat paman ini. Tidak layak untuk seorang pesohor besar, harus terbaring lemah di atas tanah seperti ini.." tiba-tiba Wisanggeni membalikkan badannya, dan meminta bantuan pada orang-orang yang ada disitu.


Wisanggeni bertatapan dengan putranya Chakra Ashanka, dan anak muda itu menundukkan wajahnya merasa malu beradu pandang dengannya. Namun.. Wisanggeni memberikan senyuman dan memberikan usapan lembut di atas kepala anak muda itu. Mata para prajurit terbelalak melihat apa yang ada di depannya. Sesepuh kerajaan tampak marah melihat pada Wisanggeni, namun tangan Raja Bhadra Arsyanendra menghentikan gerakannya yang akan turun kembali ke pelataran. Mata raja yang baru saja dikukuhkan itu, menatap dengan penuh minat pada laki-laki yang masih berada di pelataran. Hal itu menimbulkan keheranan dan pertanyaan pada para prajurit dan sesepuh yang berdiri di sekelilingnya.


********

__ADS_1


__ADS_2