Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 228 Saling Melengkapi


__ADS_3

Keesokan Paginya


Begitu fajar menyingsing, perlahan Rengganis terbangun. Perempuan muda itu tersenyum, melihat dirinya masih berada dalam pelukan suaminya. Terlihat Wisanggeni sudah bersih, yang menandakan jika laki-laki itu sudah terlebih dulu bangun mendahuluinya.


"Kang Wisang sudah terbangun dari tadi?" Rengganis bertanya pada suaminya.


"Bersihkan dirimu Nimas.., aku merasa sudah terlalu lama tidak melihatmu dalam keadaan tidur. Syukurlah pagi ini, aku bisa melakukannya lagi.  Pergilah mandi dulu Nimas.., aku akan menunggumu di meja kursi tersebut." perlahan Wisanggeni melepaskan pelukannya, dan Rengganis segera meninggalkannya untuk membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri, Rengganis menyisihkan waktu untuk membahas beberapa hal dengan suaminya Wisanggeni. Di atas kursi, pasangan suami istri duduk berdampingan seperti enggan untuk terpisahkan. Sejak mereka berada disitu, Wisanggeni terus menggenggam tangan Rengganis.


"Bagaimana rencana kita selanjutnya kang.., apakah Akang kembali ke istana kerajaan untuk bertemu dengan Pangeran Abhiseka?" Rengganis bertanya pada suaminya.


"Sepertinya tidak diperlukan lagi Nimas..? Kedatanganku ke kerajaan Laksa, untuk membantu Pangeran Abhiseka terlepas dari pemberontakan yang dipimpin Pangeran Prakosa. Saat ini, kerajaan sudah kembali diambil alih, dan sudan mulai melakukan pembenahan. Rencana yang akan kita lakukan adalah diam di Trah ini untuk beberapa waktu, kemudian kita akan kembali ke padhepokan di perbukitan Gunung Jambu." Wisanggeni menjawab pertanyaan Rengganis, dan laki-laki itu menatap wajah istrinya untuk beberapa saat. Wisanggeni merasa, sudah terlalu lama dan terlalu sering, dirinya meninggalkan Rengganis dan Chakra Ashanka. Ke depan, Wisanggeni berjanji pada dirinya sendiri, untuk selalu mengajak dan melibatkan Rengganis dalam setiap perjalanannya.


"Kenapa kang Wisang menatap saya seperti itu, apakah ada yang salah dengan Nimas..?" merasa jengah dengan tatapan suaminya, Rengganis bertanya dengan membenahkan dirinya. Wisanggeni tersenyum, kemudian..


"Tidak ada sesuatu yang kurang Nimas.. Hanya saja, akang merasa jika akhir-akhir ini terlalu lama dan terlalu sering meninggalkanmu. Ke depan, dalam keadaan apapun aku akan selalu melibatkanmu Nimas.., bersediakah kami untuk selalu bersama mendampingiku?"  sambil mencium punggung tangan istrinya, Wisanggeni menyampaikan apa yang terlintas di pikirannya. Rengganis tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat pasangan suami istri itu saling berpelukan, kemudian untuk tidak membuat khawatir orang-orang yang berada di Trah Bhirawa, karena sepengetahuan mereka jika Wisanggeni masih berada dalam keadaan yang tidak sadar. Perlahan Wisanggeni membawa Rengganis berdiri, dan mengajak perempuan itu melangkahkan kaki ke luar kamar.

__ADS_1


"Kemana tujuan kita kang..?" kembali Rengganis bertanya, ingin mengetahui tujuan Wisanggeni akan membawanya.


"Aku ingin melemaskan sedikit otot-ototku Nimas, sekaligus kita akan mengajak Chakra Ashanka. Sudah cukup lama, aku tidak pernah melihat dan mendampingi putraku berlatih." ucap Wisanggeni, dan keduanya segera menuju ke luar kamar.


*******


Di pinggir batas padhepokan Trah Bhirawa terlihat Ki Mahesa sedang melakukan peregangan sambil menikmati matahari pagi. Sejak fajar menyingsing, laki-laki paruh baya itu sudah mengajak putra dari Lindhu Aji dan Larasati untuk berlatih dan memperdalam ilmu kanuragan. Di bawah sinar matahari, terlihat putra Lindhu Aji duduk bersila sambil memejamkan matanya. Kedua tangannya membentuk sebuah simbol, dengan pernafasan yang teratur.


"Chala..., pejamkan matamu, fokus dan konsentrasi pada pernafasanmu anak baik.." terdengar suara Ki Mahesa mengarahkan cucu dari putranya Lindhu Aji,  Laki-laki paruh baya itu bediri mengamati gerakan yang dilakukan oleh cucunya itu. Dengan patuh, Chala melakukan apa yang diperintahkan oleh kakeknya.


Perlahan Chala melakukan gerakan sesuai arahan yang diberikan oleh Ki Mahesa, dan asap keruh keluar dari pernafasannya. Ki Mahesa tersenyum melihat hal tersebut,


"Itulah inti manfaat dari gerakan yang kamu lakukan akhir-akhir ini Chala. Aliran darah kotor yang ada di rongga dada dan saluran pernafasan sudah berhasil kamu keluarkan. Ke depan, kamu sudah siap untuk mewarisi ilmu warisan dari Trah Bhirawa. Teruslah berlatih cucuku.., dan jika sudah saatnya kami akan bisa melepaskanmu untuk bertahan hidup di dunia luar, dunia yang sebenarnya. Bagaimana kamu bertahan hidup dalam kondisi apapun, itulah makna dari kehidupan yang sebenarnya." Ki Mahesa memberi nasehat pada cucunya. Ki Mahesa akhirnya mengajak Chala duduk di atas batu, dan tetap di bawah sinar matahari pagi,


Tanpa mereka sadari, dari arah padhepokan terlihat Chakra Ashanka berjalan menuju ke arah mereka berbincang. Putra Wisanggeni dan Rengganis itu mendatangi mereka, untuk berlatih bersama kakek dan saudara sepupunya.


"Kakek.., Kang Chala.." dengan nyaring, terdengar suara Chakra Ashanka memanggil keduanya.


Ki Mahesa tersenyum menyambut kedatangan cucu laki-lakinya, dan merentangkan kedua tangannya untuk menerima pelukan dari cucunya tersebut.

__ADS_1


"Dari mana kamu Ashan.., apakah kedua orang tuamu mengetahui jika kamu menuju ke sini?" dengan lembut, Ki Mahesa bertanya pada Chakra Ashanka. Laki-laki paruh baya itu, mendudukkan putra Wisanggeni itu di sebelah kanannya, dan terlihat Ki Mahesa duduk dengan diapit kedua cucunya.


"Ayahnda ditemani ibunda kakek..., semoga setelah diberikan perawatan tadi malam, ayahnda bisa segera pulih dan sehat kembali." Chakra Ashanka menjawab pertanyaan yang diberikan Ki Mahesa.


"Iya cucuku.., itu juga yang kakek harapkan. Berlatihlah dengan Chala... Ashan. Kakek ingin melihat, apakah kalian berdua sudah siap dan memiliki dasar kekuatan untuk membangun pertahanan diri, dan menerima beberapa ilmu kanuragan yang akan kakek wariskan pada kalian berdua," ucap Ki Mahesa sambil berdiri.


Chakra Ashanka melihat ke arah Chala, dan anak laki-laki itu menganggukkan kepala. Keduanya langsung berdiri di depan Ki Mahesa.


"Baik kakek.., jika kakek ingin mengetahuinya, apakah kami berdua harus saling bertarung?" tanya Chakra  Ashanka dengan polosnya.


"Untuk membentuk sebuah pertahanan diri, bukan terletak pada menang atau kalahnya kita dalam suatu pertandingan cucuku. Tetapi bagaimana kita  bisa memberi bantuan pertahanan untuk menjaga lawan kita agar tidak cidera." Ki Mahesa mulai menjelaskan inti dari latihan yang akan mereka lakukan.


"Hal tersebut untuk menghindari percekcokan jangka panjang antara kedua petarung. Jika hal ini bisa berlangsung lama, dan setiap orang bisa melakukan dan mengamalkan, maka perlahan tidak akan ada lagi dendam kesumat antar petarung." laki-laki paruh baya itu melanjutkan memberi wejangan pada kedua cucunya. Kedua anak laki-laki itu mendengarkan dengan penuh seksama dan perhatian,


"Baik kakek.., kami berdua mendengarkan nasehat dari kakek. Ijinkan kami untuk mencobanya dulu kakek.." setelah menggenggam kedua tangan mereka di depan kedua dadanya, dan menganggukkan kepala pada Ki Mahesa, Chakra Ashanka dan Chala berhadapan dan siap untuk bertarung.


"Srekkk..., srett..." dengan gerakan gesit Chakra Ashanka melompat mundur ke belakang, dan Chala menyusulnya dengan melompat ke depan menghampiri saudara laki-lakinya.


Ketika Chala mengarahkan pukulan pada Ashan, anak laki-laki itu dengan cepat menangkis menggunakan tangan kanannya. Kemudian membalasnya dengan mengirimkan sebuah pukulan, tetapi dengan gesit pula Chala menangkis pukulan tersebut. Terlihat oleh Ki Mahesa, bagaimana kedua cucunya saling melengkapi dalam gerakannya. Tidak tampak adanya ambisi untuk saling berusaha memenangkan pertarungan di antara keduanya.

__ADS_1


***********


__ADS_2