
"Kumpulkan semua batu identitas dari lima klan terbesar di wilayah ini, kita akan dapat menemukan kehidupan yang abadi. Tanpa kekurangan, berlimpah materi, dan akan menjadi penguasa tertinggi di wilayah ini. Masukkan pada kubah Condrodimuko." tampak laki-laki bertopeng dengan mengenakan pakaian jubah, meminta para anak buah untuk menuruti keinginannya.
"Baik Paduka..." secara serentak yang hadir disitu menanggapi perintah laki-laki bertopeng tersebut. Beberapa orang serentak maju ke depan, dengan membawa sebuah kotak kubus.
Di sebuah kubah dengan banyak asap dan belerang panas yang tampak menguap, beberapa orang berhenti. Batu identitas beraneka warna sudah terkumpul menjadi satu, ada warna emas, warna perak, warna merah, dan warna hijau siap untuk disusun menjadi satu formasi segitiga di dalam kubah Condrodimuko. Saat mereka menyadari jika, masih kurang dua batu identitas, untuk menggenapi formasi tersebut, mereka hanya saling berpandangan mata. Setelah menganggukkan kepala, dan saling memberi kode, satu orang perwakilan bergegas untuk melaporkan pada laki-laki berjubah tersebut.
"Paduka.., maafkan kami! Bukannya kami tidak mengikuti apa yang sudah paduka perintahkan, tetapi memang formasi tersebut masih memiliki dua kekurangan batu identitas. Kami belum berhasil untuk mendapatkannya Paduka, mohon ampuni kami!" kata orang tersebut sambil menundukkan wajah tidak berani memandang orang mereka panggil sebagai Paduka.
"Ha.., ha.., ha..., akhirnya kalian mengakui kebodohan yang telah kalian lakukan. Tunggulah beberapa saat lagi, pemilik batu-batu tersebut tidak lama lagi, mereka akan mengantarkan kematiannya dengan datang ke tempat ini. Kita hanya tinggal menunggunya saja." sambil tertawa keras, manusia bertopeng itu mengatakan prediksinya.
"Baik Paduka.., kami akan segera bersiap untuk menyambut kedatangan mereka."
"Jangan pula kamu lupakan bodoh..., untuk menyambungkan batu-batu identitas tersebut, dibutuhkan darah seorang perawan! Kalian harus pula mendapatkan darah perawan tersebut, siapkan semuanya dari sekarang. Jangan hanya menunggunya saja!"
"Sudah siap paduka. Kami sudah berhasil menangkap 10 perawan dari desa-desa yang sudah kami musnahkan. Tidak hanya satu perawan saja yang kami dapatkan, tetapi 10 dapat kami tangkap Paduka."
"Baguslah.., jaga formasi itu. Aku akan menyiapkan semua pirantinya terlebih dahulu." laki-laki berjubah itu segera pergi meninggalkan orang-orang itu. Beberapa pemimpin klan maupun trah yang berhasil dihasut oleh gerombolan Alap-alap segera mengikuti laki-laki berjubah itu.
Di dalam sebuah ruangan tertutup, laki-laki berjubah mempersilakan para pemimpin klan untuk duduk bersila di lantai. Laki-laki tersebut kemudian duduk di atas kursi goyang, dengan tetap tidak membuka penutup mukanya. Sambil menggoyangkan kursinya.., dalam sesaat laki-laki tua itu terdiam. Kemudian...,
__ADS_1
"Firasatku mengatakan jika Tumbak Seto sudah berhasil dimusnahkan, tetapi sinar kehidupannya saat ini masih ditawan oleh seseorang. Tanpa sinar kehidupan itu, kita tidak akan bisa untuk membuatkan jasad agar Tumbak Seto hidup kembali." suara tua laki-laki berjubah itu tiba-tiba mengagetkan pada pemimpin Klan yang duduk disitu.
Mereka saling berpandangan, dalam hati mereka khawatir. Tumbak Seto memiliki ilmu kanuragan di atas mereka, dan beberapa yang duduk disitu terpengaruh atau terhasut oleh Tumbak Seto.
"Apa kalian takut.., kalian meragukanku??" tiba-tiba dengan suara menggelegar, laki-laki berjubah berdiri dan memandang para pemimpin Klan itu.
"Kami tidak berani Paduka.., sampai mati kami akan berjuang untuk Paduka." teriak para pemimpin Klan bersama-sama. Sudut mulut laki-laki berjubah itu terangkat sedikit, kemudian berjalan masuk ke kamar meninggalkan mereka.
**********
Di sebuah persimpangan, Ki Mahesa bertemu dengan Ki Sasmito yang sedang berhenti dan tampak kebingungan menentukan arah yang akan mereka tuju. Kedua sahabat lama, yang pernah sama-sama menempuh ilmu kanuragan dalam satu padhepokan itu saling berpandangan, kemudian berpelukan erat.
"Kamu sudah sampai disini Sasmito..., bagaimana kabarmu selama ini?" Ki Mahesa menyapa besannya itu dengan penuh rasa hormat. Kehangatan dalam suaranya tampak jelas, karena saat ini mereka sudah tersatukan dalam satu hubungan karena putra putri mereka.
"Apakah kamu lupa dengan Brahmono..., saat aku dan Ratri menikah, dia juga hadir di acara pernikahan kami. Meskipun saat ini semua tinggal mimpi.." ucap Ki Mahesa sambil tersenyum kecut.
"Kita saat ini sudah tua Mahesa..., banyak berdoa saja. Kita tinggal melihat anak dan cucu kita meneruskan perjuangan kita untuk mewujudkan kedamaian di belahan dunia ini." Sasmita menepuk bahu Mahesa tiga kali. Kemudian tatapannya diarahkan pada laki-laki yang tersenyum dan berada di samping Ki Mahesa.
"Sudah sekian lama tidak bertemu Sasmito.." Brahmono menyapa lebih dulu pada Sasmito. Kedua orang itu akhirnya berpelukan.
__ADS_1
"Apakah bisa dicukupkan temu kengennya teman-teman. Kita lurus ke depan saja, firasatku mengisyaratkan sepertinya Gerombolan Alap-alap berada di tengah hutan itu. Di dalam hutan, ada sebuah kubah yang bisa membangkitkan suatu kekuatan roh untuk menghancurkan kekuatan bumi." Cokro Negoro mengajak semua sesepuh untuk segera memasuki hutan yang terlihat di depan mereka.
Sasmito melihat ke arah Cokro Negoro.., merasa tidak pernah bertemu dengan laki-laki tua itu, Sasmito mengerenyitkan keningnya.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya Ki Sanak.., mengapa aku merasa asing dengan Ki Sanak?" merasakan kekuatan tinggi yang ada pada Cokro Negoro, Sasmito bertanya pada Guru Wisanggeni itu.
Cokro Negoro tersenyum, kemudian..
"Aku bukanlah siapa-siapa Ki Sanak, dan kita juga tidak pernah bertemu sebelumnya. Tapi jika Ki Sanak tidak keberatan, ayo ikutilah aku. Kita harus segera sampai di dalam hutan, sebelum malam datang." ucap Cokro Negoro tanpa bermaksud merendahkan Sasmito dan rombongannya.
"Sasmito..., apakah di waktu sebelumnya kamu pernah mendengar nama Cokro Negoro?" tiba-tiba Mahesa bertanya pada Sasmito. Ayahnda Rengganis itu menoleh pada besannya..
"Cokro Negoro tokoh legendaris yang tiba-tiba menghilang dari dunia persilatan itu?? Sampai sekarang tidak ada yang mampu menemukannya ada dimana orang tersebut." setelah menghela nafas, Sasmito menjawab pertanyaan Mahesa.
"Laki-laki ini adalah tokoh legendaris tersebut Sasmita. Beliau adalah Cokro Negoro.., dan juga merupakan Guru dari putra bungsuku atau menantumu Wisanggeni." dengan tersenyum, Mahesa mengenalkan tentang Cokro Negoro pada Sasmito.
Mendengar perkataan besannya, Sasmita terkejut. Laki-laki itu segera duduk bersimpuh di lantai dan memberi hormat pada Cokro Negoro. Rombongan yang dibawa Sasmita saling berpandangan, mereka kemudian mengikuti apa yang dilakukan oleh pemimpin Trahnya.
"Maafkan saya yang tidak dapat mengenali tokoh seperti anda Ki Cokro..saya yang lebih yunior siap untuk mendapatkan teguran." ucap Sasmito dengan pelan. Kedua tangan Cokro Negoro terulur ke depan meraih bahu Sasmito, kemudian perlahan membangunkan kembali pemimpin Trah Jagadklana itu.
__ADS_1
"Aku tidak cukup berharga dan tidak pantas untuk menerima perlakuanmu. Ayo kita segera menuju ke dalam hutan." ucap Cokro Negoro menanggapi Sasmito.
*******************