Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 134 Panggil Aku Akang


__ADS_3

Dua gadis muda dan cantik menghadapi delapan orang, mereka berdiri di tengah lingkaran dengan posisi saling memunggungi. Mata mereka menyipit dan memandang lawan dengan tersenyum sinis. Meskipun Rengganis pada awalnya ragu, melihat siapa gadis yang dia tolong, tetapi mengingat mereka memiliki status yang sama, akhirnya dia berusaha ikhlas.


"Kembalilah pada kodratmu.., jangan pernah berpikir untuk menyamakan dengan kami para laki-laki! Atau menyerahlah.., kalian berdua bisa menjadi penghangat tempat tidur kami. Ha.., ha.., ha.." salah satu dari mereka, dan sepertinya pemimpin rombongan tertawa mengejek Rengganis dan Maharani.


"Swooshh.., sretttt.., kebanyakan omong kamu." selendang Rengganis langsung menyambar pipi orang yang sedang berbicara. Darah menetes dari pipi yang tersayat oleh pinggiran selendang.


"Bayu Manikam... uuups.. buumm." belum sampai orang tadi mengirimkan serangan, Rengganis sudah terlebih dahulu mengirimkan serangan untuk mereka.


"Kekuatan Naga Bumi.. bangunlah.. sroottt.. sshh..sshh.." seperti seekor naga, lidah Maharani mengeluarkan api dan diarahkan pada orang-orang disitu.


Beberapa saat dua gadis itu saling berjibaku mengerahkan kekuatan mereka, dan kedelapan orang itu sudah terkapar di tanah. Enam orang meninggal di tempat, dan tinggal dua orang yang sedang terluka parah. Rengganis dan Maharani berjalan mendekati kedua orang itu yang tampak ketakutan.


"Siapa yang menyuruh kalian untuk mengacaukan sarang saudara kami yang ada di danau itu?" teriak Maharani dengan suara keras. Matanya bersinar tajam dan berkilat, memandang kedua laki-laki itu dengan marah.


Rengganis mengerenyitkan dahinya, mencoba memahami alasan Maharani bertarung dengan mereka. Beberapa saat, Rengganis berusaha menerka-nerka.


"Kami hanya menjalankan perintah dari pemimpin Trah Jagadklana Laksito. Naga-naga yang ada di danau itu, sering menyerang dan mengacaukan penyeberangan orang-orang kami untuk melintasi danau." dengan menggigil ketakutan, satu dari orang tersebut menjawab pertanyaan Maharani.


"Bedebah kalian semua. Tidakkah kalian berpikir.., ada sebab pasti ada akibat. Siapa yang membuat bendungan di pinggir danau. Tidakkah kalian berpikir jika itu akan membuat sarang kami kehilangan air?" kembali teriakan Maharani membuat kaget Rengganis. Gadis putri Ketua Trah yang sebenarnya Ki Sasmita, tidak habis pikir dengan perbuatan Laksito dan orang-orangnya. Wisanggeni yang masih berada di atas juga ikut tersentak, saat mendengar perkataan itu. Laki-laki itu tidak mengira, jika Laksito mengulang lagi perbuatannya yang banyak merugikan orang banyak.


"Kalian mengulangi perbuatan nista kalian?? Tidakkah kalian berpikir, banyak orang yang dirugikan oleh perbuatan kalian. Akan banyak wilayah yang mengalami kekurangan air, sawah akan kering dan panen mereka akan gagal. Dan sekarang bahkan naga-naga penghuni danau tidak memiliki persediaan air yang cukup untuk dunia mereka." Rengganis berbicara dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Ampuni kami Nimas.., kami hanya menjalankan perintah dari Ketua kami. Tidak ada keberanian yang kami miliki untuk menolak perintah itu." orang itu memohon ampun. Keduanya mencoba bersimpuh di hadapan Rengganis dan Maharani sambil menghiba.


"Duakk.., bukkk.." sebuah tendangan diarahkan Maharani pada keduanya. Tubuh keduanya langsung terjengkang ke belakang.


"Mudah sekali mulut busuk kalian untuk memohon ampun. Dimana letak kesombongan dan sikap keras kepala kalian, saat tadi aku mengajak kalian untuk berbicara." kembali Maharani berbicara dengan mereka. Kedua orang itu masih bersimpuh,. mereka tidak berani untuk mengangkat wajahnya.


Singa Ulung tiba-tiba turun dan menginjakkan kaki di samping mereka. Maharani terlihat malu dan menggeser tubuhnya, saat melihat Wisanggeni yang sedang menggendong putranya berjalan ke arah mereka.


*********


Atas permintaan Wisanggeni akhirnya Maharani memberi ampun pada kedua orang itu. Rengganis berjalan menghampiri suaminya untuk mengambil Chakra Ashanka dari gendongan Wisanggeni. Merasa tahu diri, jika keberadaannya akan mengganggu ketenangan Wisanggeni dan Rengganis, Maharani bersiap untuk menyelinap pergi.


"Maharani..., tetaplah disini. Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu." suara Rengganis terdengar, istri Wisanggeni itu melarangnya pergi. Khawatir akan mengecewakan Rengganis, Wisanggeni hanya terdiam.


"Maharani..., kamu tidak salah. Kita tidak ada pilihan lain saat itu. Keputusanmu untuk melakukan penyatuan dengan suamiku sudah dinyatakan sah di mata semua orang. Hakmu dan hakku sama atas kang Wisang.." dengan tersenyum pahit, Rengganis mengatakan itu semua.


Maharani terdiam, gadis itu tidak berani menatap mata kedua orang di depannya itu. Dari awal dia sudah berpikir untuk tidak akan mengganggu hubungan Rengganis dan Wisanggeni, meskipun dia sudah melepaskan segelnya dengan suami Rengganis. Sehingga pergi meninggalkan mereka dengan diam-diam, sudah dia ambil.


"Maharani..., layani kang Wisang. Lakukan kewajibanmu!" ucapan terakhir dari Rengganis menyadarkan Maharani dari lamunannya. Rengganis juga sadar diri, sudah terhitung lama dia tidak bisa memberi pelayanan pada suaminya.


Wisanggeni terkejut mendengar perkataan Rengganis, dia yang sejak awal meragukan penerimaan istrinya akan kehadiran Maharani, saat ini hanya menatap Rengganis dengan tidak percaya. Istrinya tersenyum dan mengangguk padanya.

__ADS_1


"Lihatlah Akang.., di depan ada penginapan. Lakukanlah.., Nimas akan mengajak Ashan untuk istirahat!" sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Wisanggeni, Rengganis berbisik.


Di depan Maharani, Wisanggeni memberikan ciuman di pipi Rengganis. Kemudian dengan kedua tangannya, laki-laki itu menggandeng Rengganis dan Maharani masing-masing dengan tangan kanan dan kiri. Maharani mengangkat wajahnya kemudian mengikuti langkah kedua orang itu.


"Maafkan Akang Nimas Maharani..!" ucapan yang keluar dari mulut Wisanggeni yang tertuju untuknya, seperti air segar yang menghilangkan dahaganya. Maharani tersenyum malu dan menganggukkan kepala perlahan.


"Terima kasih Nimas Rengganis.." sambil mencium punggung tangan Rengganis, sebuah senyuman indah diberikan Wisanggeni. Sama dengan yang dilakukan Maharani, Rengganis juga menganggukkan kepala.


Wisanggeni melepaskan tangannya dari genggaman Rengganis, kemudian laki-laki itu menggeser langkahnya dan berada di tengah-tengah kedua gadis itu. Wisanggeni merangkul keduanya di sebelah kiri dan kanan, kemudian membawanya ke penginapan.


"Siapkan kami tiga kamar!" perkataan yang diucapkan Wisanggeni pada penjaga penginapan itu mengejutkan kedua istrinya.


"Baik Ki Sanak..., mohon tunggu sebentar agar kamarnya disiapkan dulu oleh pelayan kami." penjaga penginapan segera menyetujui permintaan Wisanggeni.


"Aku akan berlaku adil pada kalian berdua. Masing-masing dari kita akan tidur di kamar masing-masing." seperti tahu apa yang dipikirkan kedua istrinya, Wisanggeni menjelaskan tindakannya.


"Terima kasih Paduka.." sahut Maharani malu-malu.


"Nimas.., gantilah sebutanmu padaku. Sama seperti Nimas Rengganis memanggilku. Sebut aku dengan panggilan Akang, sekarang aku adalah suamimu. Bukan menjadi Padukamu." kata-kata Wisanggeni sangat jelas terdengar oleh Maharani, kembali rasa bahagia mengaliri hatinya.


Rengganis melihat interaksi keduanya dengan hati senang, ternyata perlahan dia sudah mulai bisa menerima kehadiran Maharani.

__ADS_1


********


__ADS_2