Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 463 Berat Hati


__ADS_3

Di tengah hutan


Parvati duduk di balik air terjun, gadis muda itu tidak mempedulikan dan bahkan terlihat seperti tidak merasakan guyuran air deras yang membasahi seluruh tubuhnya. Berhari-hari gadis muda itu menekuni semedi dalam posisi seperti itu, dan hari sudah merupakan hari ke tujuh, hari terakhir seperti yang diucapkan oleh perempuan tua yang melatihnya itu.


Perempuan tua itu menatap Parvati dari arah ketinggian, dan terlihat senyum puas yang muncul pada bibirnya. Tanpa disengaja, perempuan itu merasa  sudah dikirim Hyang Widhi, seorang gadis muda yang akan menjadi pewaris semua ilmu dan kekuatannya, Apalagi daya tangkap gadis muda itu, sangat cepat dan jauh melebihi harapannya. Tetapi tiba-tiba perempuan tua itu tersentak, karena melihat Parvati tanpa perintahnya seperti mengalami keterkejutan dengan membuka matanya secara cepat.


"Hmm.. ada apa Parvati.. apakah kamu sudah mendengar suaraku untuk mengakhiri semedimu cah ayu... Kamu harus tahu dan mengerti, jika inti energi belum kamu serap sepenuhnya, maka hal itu bisa menjadi bumerang bagimu." suara perempuan tua itu terdengar menggelegar dan bergema memenuhi seluruh wilayah itu.


"Trap... trap..." tiba-tiba dengan sekali lompat, perempuan tua itu sudah berdiri di depan Parvati. Gadis muda itu tanpa disuruh sudah berdiri, dan menatap wajah perempuan tua itu.


"Apa yang terjadi Parvati.." tanpa menghakimi, perempuan tua itu kembali bertanya pada gadis muda itu. Perlahan perempuan tua itu membantu Parvati berjalan keluar dari bawah air terjun. Mereka kemudian meniti batu-batuan di sekitar air terjun itu, kemudian kembali ke daratan.


Di atas batuan pinggir mata air, perempuan tua itu mengajak Parvati untuk duduk. Gadis muda itu terlihat bersedih. dan beberapa kali dengan pandangan kosong menatap ke depan.


"Eyang.. , Parvati mendapatkan firasat, sesuatu seperti terjadi pada ayahnda dan ibunda. Keduanya saat ini membutuhkan pertolongan dari anak-anak." tidak diduga, dengan tergagap Parvati berbicara tentang Wisanggeni dan Rengganis.


Perempuan tua itu diam, kemudian meluruskan punggungnya ke belakang. Tempat keberadaan mereka saat ini, sudah diputus hubungan dengan dunia luar. Perbedaan dimensi tidak akan tersambung selama seseorang berada di tempat ini, namun Parvati bisa merasakan keadaan di luar tempat tersebut.

__ADS_1


"Katakan dengan jelas Parvati.., eyang tidak bisa memahami apa yang kamu ucapkan. Seharusnya kamu fokus berlatih ketika berada di dalam lingkup tempat ini. Jangan biarkan pikiranmu melayang kemana-mana.." dengan suara pelan, perempuan tua itu memberi nasehat pada gadis muda itu.


Parvati terdiam, gadis muda itu ingin membuang jauh-jauh pikiran yang datang dan mengganggu ketika dia berlatih. Namun dengan jelas.. bayangan ayahnda dan ibundanya terlihat kesakitan, dan membutuhkan asupan energi dari putra putrinya. Ketika Parvati mengulurkan tangan untuk memberikan pertolongan, tiba-tiba bayangan orang tuanya langsung menghilang. Hal itu terjadi beberapa kali, sampai akhirnya Parvati tersentak dan terbangun dari posisi semedinya terakhir kali.


"Eyang.. Parvati ingin keluar dari tempat ini eyang.. Parvati akan mencari keberadaan ayahnda dan ibunda, ingin tahu bagaimana keadaan mereka berdua.." dengan menatap iba, Parvati berbicara pada perempuan tua itu.


"Parvati.. apakah kamu memahami konsekuensi apa yang bisa terjadi padamu. Sejak awal, kamu mulai berlatih di tempatnya ini, bukannya aku sudah menyampaikan kepadamu. Kemampuan kanuragan disini tidak bisa dilakukan dan dipelajari dengan setengah-setengah. Jika kamu belum menuntaskan apa yang kamu lakukan, maka pelatihanmu selama ini akan sia-sia." dengan tegas, perempuan tua menyampaikan persyaratan pada gadis muda itu.


"Jika memang itu yang akan terjadi Eyang.. sepertinya Parvati rela menerimanya Eyang. Kesehatan dan keselamatan ayahnda dan ibunda, merupakan hal utama dalam hidup Parvati.. Jikalau, apa yang sudah Parvati pelajari di tempat ini, semuanya sia-sia dan tidak ada artinya.. Parvati akan siap untuk menanggung semuanya Eyang..." kembali Parvati menjelaskan. Sama sekali tidak terlihat sedikitpun kekhawatiran akan kehilangan semua kekuatannya.


"Apakah kamu sudah berpikir dengan benar cucuku.. Dan jika kamu meninggalkan tempat ini, tanpa ada ilmu yang bisa kamu miliki, aku juga tidak akan menerimamu untuk kembali berlatih di tempat ini.." kembali dengan tegas, perempuan tua itu menekan gadis muda itu.


Perempuan tua itu tidak segera menanggapi ucapan gadis muda itu. Terlihat kekecewaan di wajah tuanya, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya untuk dapat menahan Parvati berada di tempat ini. Akhirnya beberapa saat kemudian.. perempuan tua itu mengambil nafas panjang, dan menghembuskannya lagi perlahan,


"Parvati.. baiklah. Eyang tidak bisa menahanmu untuk lebih lama berada di tempat ini. Bersiaplah.. aku akan menguji terlebih dahulu, bagaimana pencapaian ilmu yang sudah sebagian aku turunkan kepadamu. Karena hal itu akan bisa berpengaruh dengan bisa atau tidaknya kamu kembali ke tempat ini.." dengan suara perlahan, seperti sudah putus asa kehilangan cara, perempuan tua itu mencoba mengerti apa yang dialami oleh gadis muda itu.


"Baik eyang.. apapun yang eyang inginkan, Parvati akan siap untuk melaksanakannya." gadis muda itu menghaturkan sikap sopan, dan menyetujui apa yang diinginkan oleh gurunya itu.

__ADS_1


*******


Beberapa Saat kemudian


Di halaman pondok tempat Parvati beristirahat, gadis muda itu tengah bersiap untuk diajak bertarung oleh gurunya. Tahapan itu harus dilaluinya, karena perempuan tua itu sangat menyayangkan kepergian gadis muda itu meninggalkannya. Namun.. tekad bulat untuk mengetahui bagaimana keadaan kedua orang tuanya, membuat gadis muda itu tetap keukeuh tidak mau mengurungkan niatnya.


"Apakah kamu sudah siap Parvati.. untuk menerima serangan dariku.." dengan nada tegas, perempuan tua itu bertanya pada gadis muda itu.


"Siap Eyang.. Parvati sudah bersiap sejak tadi.." jawab Parvati tidak kalah tegas. Gadis muda itu sudah ingin segera keluar dari tempat itu, dan mencari tahu keberadaan orang tuanya.


"Baiklah.. jangan salahkan Eyang, jika serangan ini akan menyakitimu.." sahut perempuan tua itu, yang segera mengambil sikap sempurna.


Tangan perempuan tua itu diangkat ke atas, kemudian diturunkan lagi secara perlahan. Beberapa saat perempuan itu menggerakkan tangan mengikuti arah angin bertiup, dan tidak lama kemudian mengendalikan angin yang semakin lama semakin kencang berhembus, Sedangkan Parvati tetap dalam posisinya, matanya tidak berkedip menatap pergerakan yang dilakukan oleh gurunya itu.


"Woooosssh.... sretttt... clap.. clap..." angin kencang-kencang tiba-tiba diarahkan oleh perempuan tua itu, dan kemudian dihentakkan dengan kedua tangannya ke arah Parvati.


Beberapa saat, angin kencang itu berputar-putar, dan barang-barang yang ada di tempat itu beterbangan. Parvati tersenyum, seakan tidak merasakan hembusan dan hempasan angin yang semakin lama semakin kencang. Kedua kaki perempuan itu tetap berdiri, dan bertahan di tempatnya..

__ADS_1


*********


__ADS_2