Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 43 Munculnya Warisan


__ADS_3

"Kita harus sampai di mata air itu sebelum tengah malam. Karena aku yakin, akan banyak para pendekar dari berbagai pelosok akan bergabung untuk memperebutkan warisan itu. Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya." seseorang dengan penampilan seperti seorang bangsawan, sedang berbicara dengan teman bicaranya di kedai.


"Tapi apakah kamu tahu, kemana arahnya kita akan berjalan? Biasanya warisan itu tidak akan menunjukkan diri dimana lokasi tepatnya. Mereka sengaja menampakkan diri, saat orang lain tidak sadar bahwa itu adalah sebuah harta karun yang sangat berharga." teman lainnya ikut menanggapi.


"Nanti menjelang tengah malam kita harus sudah berada di kaki bukit kecil di sebelah utara desa ini. Biasanya, saat warisan itu menampakkan dirinya, akan didahului dengan sinar yang sangat terang. Tergantung dari keberuntungan kita juga, atau kalau kita tidak beruntung, kita bisa mengikuti arus para pendekar yang juga turun untuk mencari lokasinya."


Wisanggeni bertatapan mata dengan Rengganis, mereka tidak sengaja turut mendengarkan pembicaraan itu. Saat ini mereka baru menikmati makan malam di kedai tempat mereka menginap. Tanpa diduga Wisanggeni, Rengganis tiba-tiba berdiri. Dia berjalan meninggalkan Wisanggeni sendiri, kemudian menuju kelompok orang yang sedang membicarakan masalah warisan itu. Seperti dia sengaja, tiba-tiba Rengganis berpegangan pada kursi yang dipakai duduk orang-orang tersebut, sambil memegangi kepalanya.


"Nimas..., apakah kamu baik-baik saja?" salah seorang dari mereka berusaha memegangi Rengganis.


"Duduklah disini dulu, mungkin kamu sedang tidak enak badan." teman laki-laki yang bertanya padanya, menggeser kursi dan memberikan pada Rengganis.


Dari mejanya, Wisanggeni hanya geleng-geleng kepala melihat tindakan nekat dari perempuan muda itu.


"Terima kasih Ki Sanak..., aku juga tidak tahu, kenapa mendadak kepalaku terasa pusing." terdengar suara Rengganis pura-pura lemah sambil terus memegangi kepalanya.


"Istirahatlah dulu disini Nimas, minumlah dulu!" seseorang dari mereka menuangkan teh panas ke cangkir yang terbuat dari tanah, kemudian memberikan pada perempuan itu.


Rengganis menerimanya, kemudian perlahan dia meminum teh panas tersebut.


"Terima kasih..., sudah agak berkurang pusing di kepalaku. Maafkan saya, karena sudah mengganggu obrolan kalian disini." perempuan itu minta maaf pada mereka.


"Tidak mengapa Nimas.., apakah saat ini Nimas sedang sendiri disini? Dan apakah berasal dari luar kota juga, kenapa bisa bertemu dengan kami di penginapan ini?" laki-laki yang berpakaian seperti bangsawan, tersenyum dan bertanya pada Rengganis.


"Kebetulan saya mau menuju ke Gunung Baturetno Ki Sanak.., dan saya sedang bersama dengan Saudara saya. Kebetulan Saudara saya, sedang berisitirahat dan akhirnya saya kesini untuk menikmati makan malam sendiri." sahut Rengganis dengan suara lirih.

__ADS_1


"He..he..he.., ternyata bisa menjadi keberuntungan kita teman-teman. Kita bisa berjodoh untuk bertemu disini, dan kita bisa berkenalan. Jika kami boleh tahu, ada tujuan apa kalian pergi ke Gunung Baturetno?? Apakah kalian tidak tahu, betapa berbahayanya Gunung itu, apalagi untuk seorang gadis secantik kamu?" lanjut laki-laki berpakaian bangsawan itu.


"Saya akan mencari keluarga saya disana. Memang ada apakah disana, karena saya malah tidak tahu jika tempat itu berbahaya untuk kami." tanya Rengganis dengan ekspresi khawatir.


"Di Gunung Baturetno sampai sekarang ini, masih tertutup untuk orang-orang kebanyakan, Mereka dihuni oleh satu kekuatan yang tak terlihat, tetapi sangat kejam. Jika tidak salah namanya Alap-alap, mereka bisa menyerang orang tanpa terlihat oleh lawan musuhnya. Jika kami boleh usul, urungkan niat Nimas untuk mendatangi tempat itu! Oh iya, kita belum saling bertukar nama. Namaku Anggoro, dan dua orang temanku ini Sapto dan Hastho." Anggoro mengulurkan tangan mengajak Rengganis bersalaman.


"Saya Rengganis,." kata Rengganis sambil menerima uluran tangan dari mereka bertiga.


"Atau kamu bisa ikut kami mencoba peruntungan malam ini saka Nimas Rengganis. Kita akan mencoba memperebutkan turunnya warisan dari jaman dulu, yang menurut kabar beredar akan turun dan nampak nanti di tengah malam." Hastho menyampaikan informasi mengenai warisan.


"Begitu ya?? Baiklah akan aku ajak saudaraku, semoga dia mau untuk mengikuti kalian nanti malam, dan menunda keberangkatan kita untuk pergi ke Gunung Baturetno. Dan saya akan istirahat dulu ke kamar, semoga nanti tepat tengah malam kita bisa bertemu lagi." sahut Rengganis, dia kemudian berdiri dan memohon pamit pada mereka.


 


 


***************


 


"Kang Anggoro...," seru Rengganis sambil mengajak Wisanggeni mendatangi laki-laki itu.


"Iya Nimas.., kita menunggu Sapto dan Hastho dulu ya. Laki-laki ini siapa?" tanya Anggoro dengan tatapa selidik.


"Tadi aku sudah cerita kan, jika aku berada disini dengan saudaraku. Kenalkan, ini Kang Wisang saudara yang tadi aku ceritakan." dengan suara renyah, Rengganis mengenalkan Wisanggeni. Wisanggeni hanya tersenyum sambil menggenggam kedua tengannya  dan mengangkatnya di depan dada.

__ADS_1


"Oh iya, maaf saya lupa Nimas. Itu dia.., akhirnya Sapto dan Hastho mucul juga." Anggoro mengarahkan pandangannya ke pintu keluar penginapan. Terlihat dua orang laki-laki, dengan masing-masing membawa pedang di tangannya sedang menuruni tangga ke halaman.


Setelah mereka berkumpul, akhirnya dengan tenang mereka segera berangkat dan menuju ke arah pinggir desa. Wisanggeni melihat banyak kelompok orang menuju arah yang sama, mereka memasuki hutan yang terlihat sangat lebat di depan mereka.


"Bukk.., hati-hati Nimas Rengganis, disini masih banyak binatang liar." teriak Anggoro, dan kakinya menendang binatang berbulu tajam yang langsung terlempar jauh ke depan.


Sapto dan Hastho menempatkan diri di kanan dan kiri di sebelah Rengganis, mereka tanpa diminta memberikan pengawalan pada perempuan muda itu. Wisanggeni hanya berjalan tenang di belakang Rengganis, dia malah bersyukur. Dia sedikitpun belum mengeluarkan kekuatannya, karena ketiga laki-laki itu dengan sigap melindungi mereka selama perjalanan.


"Lihat itu..., disana ada sinar terang. Ayo kita segera menuju kesana!" teriak Anggoro tiba-tiba, tangannya menunjuk pada seberkas sinar terang yang berasal dari langit dan turun menembus kelebatan hutan.


Mereka berpandangan, dan setelah menganggukkan kepala mereka langsung melompat menuju sinar terang tersebut. Mereka bahkan melupakan Rengganis.


"Bagaimana kang Wisang, apakah kita langsung akan menuju kesana?" tanya Rengganis pada Wisanggeni dengan suara pelan.


"Pasti ya, tapi kita harus menjauhkan diri dari mereka. Aku tidak mau, laki-laki yang kamu kenal tadi akan kecewa dengan kamu, dan kamu jadi tidak memiliki mangsa untuk kamu goda." sahut Wisanggeni sambil tersenyum.


"Aaaaww." tiba-tiba Wisanggeni berteriak saat jari ramping Rengganis mencubit pinggangnya.


"Lagian kang Wisang pikiarannya aneh-aneh. Kan banyak informasi yang keluar dari mulut orang-orang itu." jawab Rengganis sambil memonyongkan mulutnya cemberut.


Melihat bibir merah yang dikerucutkan ke depan, menjadikan muncul fantasi liar di pikiran Wisanggeni. Secepat kilat dia menyambar bibir Rengganis dan melu**tnya, dan Rengganis ikut menikmati permainan itu. Tetapi akhirnya mereka tersadar, dengan cepat Wisanggeni melepaskan bibirnya kemudian menyambar tangan Rengganis dan membawanya melompat ke depan.


 


 

__ADS_1


*********************


__ADS_2