
Pangeran Abhiseka tersenyum ketika tangannya meraba ke arah pintu keluar. Meskipun tidak terlihat oleh mata, tetapi sering melakukan perjalanan bersama Wisanggeni, laki-laki itu memahami kebiasaan yang dilakukan oleh ayahnda Chakra Ashanka itu. Dengan menggunakan tangannya, Pangeran Abhiseka meminta teman-temannya untuk mundur ke belakang. Kemudian dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, Pangeran Abhiseka mengirimkan serangan ke arah pintu keluar goa.
"Jueglarr..., blar...." terdengar suara ledakan keras, dan beberapa saat kemudian.
"Kretak.., kretak.., kretak..." retakan-retakan kecil seperti sebuah kaca retak terlihat dalam pandangan mereka, Menggunakan tangan kanannya, Pangeran Abhiseka menyibakkan retakan tersebut kemudian berjalan keluar dair dalam goa. Melihat Pangeran sudah berhasil sampai di luar goa, orang-orang yang berada di dalam segera mengikuti untuk berjalan keluar.
Sesampainya di luar, mereka mengerenyitkan dahi mereka melihat beberapa orang yang terlihat kesakitan masih berada di luar goa tempat mereka beristirahat. Tetapi mereka tidak mau bertindak menjadi orang baik, dan juga tidak mau bertindak yang bisa meninggalkan masalah. Pangeran Abhiseka memberi isyarat agara mereka segera berjalan meninggalkan orang-orang itu,
Baru beberapa langkah mereka berjalan.., tiba-tiba tanpa mereka duga beberapa orang melompat dan berdiri di depan mereka, seperti menghadang perjalanan mereka. Pangeran ABhiseka, Widayat dan Niken Kinanthi menatap orang-orang itu dengan mata menyipit. Mereka tidak tahu, urusan apa sehingga orang-orang itu menghalangi perjalanan mereka.
"Ha.., ha..., ha..., akhirnya yang kita tunggu-tunggu keluar juga. Kita sudah berpikir dengan cermat, tidak seperti manusia-manusia bodoh, yang akhirnya hanya tergeletak tak berdaya di depan goa." salah satu dari mereka mengucapkan perkataan..
"Ha.., ha... benar.., benar.. Hei Ki Sanak..., sepertinya tidak baik jika kita harus melakukan sebuah pertarungan, Meskipun kalian menyembunyikan mereka dengan baik, tetapi aku yakin jika ketiga binatang naga kecil itu masih berada dekat dengan kalian saat ini. Serahkan binatang-binatang itu kepada kami..!" dengan lantang, salah satu dari orang tersebut berbicara tanpa tedeng aling-aling.
__ADS_1
Pangeran Abhiseka diam tidak memberikan tanggapan. Hanya matanya dengan awas menatap pergerakan dan gerak-gerik orang-orang yang ada di sekitarnya. Chakra Ashanka melangkah ke depan, anak muda itu berhenti di samping Pangeran Abhiseka.
"Apakah kalian tidak memiliki mulut untuk menjawab pertanyaan kami. Jangan berlagak sombong, dan berpura-pura bodoh di depan kami. Bekerja samalah dengan kami..!" merasa tidak mendapatkan jawaban dari kelompok yang dipimpin Pangeran Abhiseka, salah satu dari orang tersebut merasa naik pitam.
"Tutup mulut kalian yang busuk itu!! Kalian semua yang sudah berlagak sombong, malah pura-pura menilai kami sebagai manusia yang sombong. Apa urusannya binatang naga itu bersama dengan kami.., apakah kalian merasa keberatan, dan ingin merampas semuanya dari kami. Hadapi aku.., jika kamu memiliki pikiran buruk seperti itu." dengan suara nyaring, Niken Kinanthi menjawab perkataan mereka. Mata perempuan itu memindai wajah orang-orang yang berdiri mengelilingi mereka.
"Pedas juga kata-katamu cantik.. Ehmm..., sepertinya kita mendapatkan angin segar untuk menemani kita di hutan yang dingin ini. Lihatlah.., betapa menyegarkan dan menyedapkan di pandangan kita kedua perempuan itu.." tiba-tiba dengan tatapan me*sum, salah satu mengomentari Niken Kinanthi dan Widayati.
"Clap..., clap..., clap... aaawww...." tiba-tiba sebuah pisau kecil menyerempet bibir laki-laki yang berbicara kotor dengan mereka barusan. Darah segar mengalir dari bibirnya yang tergores tajam oleh pisau kecil tersebut. Mata Widayati terlihat marah menatap mereka dengan tajam,
"Sretttt....., brakk...." tidak diduga, Chakra Ashanka mengeluarkan selendang Rengganis. Setelah menambahkan energi dan aura ke dalamnya, selendang itu berubah menjadi seperti sebuah pedang yang panjang. Tanpa melihat siapa yang terkena, pedang panjang dari selendang itu melukai orang-orang dari pihak lawan.
"Aaaw..., aaawww...." orang-orang yang terkena kibasan dari selendang itu berteriak kesakitan. Mereka tidak menyadari akan serangan tiba-tiba itu, dan bau amis darah merebak di tempat mereka berada saat ini.
__ADS_1
Masing-masing orang yang dipimpin Pangeran Ashanka sudah bersiap mengeluarkan pertahanan, dan senjata mereka masing-masing. Mata orang-orang di depannya, terlihat menatap mereka dengan pandangan marah. Tidak lama kemudian, orang-orang itu maju memberikan serangan pada orang-orang di pihak Pangeran Abhiseka. Mereka tidak tahu siapa yang mereka hadapi saat ini. Perut kosong karena lapar, dan ingin segera pergi meninggalkan tempat itu menjadi penyemangat bagi orang-orang di kubu Pangeran Abhiseka untuk menyampaikan serangan.
**********
Di atas punggung Singa Resti, Wisanggeni menunjukkan tempat yang akan dia tuju. Niatnya untuk mencari tempat dimana pertama kali dia melatih ilmu kanuragannya dia batalkan, laki-laki itu tiba-tiba tertarik untuk mendatangi sebuah bukit kapur yang terlihat berwarna putih dari angkasa. Dalam pikiran laki-laki itu, dengan berlatih di dalamnya, sesak yang ditimbulkan dari bercampurnya dengan aroma belerang, akan membantunya mempercepat latihannya.
"Resti.., kurangi kecepatan terbangmu...!! Antarkan aku ke bukit yang berwarna putih di ujung sana." sambil menepuk leher SInga Resti, Wisanggeni meminta binatang itu untuk mengantarkannya ke tempat yang ingin dia tuju. Tanpa menjawab, SInga Resti segera menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh laki-laki itu. Setelah merasa mendekati ke tempat yang dimaksud, binatang itu segera mengurangi kecepatannya, dan mulai terbang menurun ke puncak bukit tersebut.
"Tap..., hap..." Wisanggeni segera melompat turun ke atas bukit kapur tersebut. Aroma belerang menyeruak tajam masuk ke dalam hidung laki-laki itu. Sesaat, Wisanggeni mencoba untuk menyesuaikan indera penciumannya dengan aroma baru yang menyesakkan dadanya. Laki-laki itu merentangkan tangan ke kanan dan ke kiri sambil menghirup nafas ke dalam paru-parunya. Setelah beberapa kali melakukan, Wisanggeni sudah berhasil menyesuaikan saluran pernafasannya. Mata laki-laki itu melihat ke tempat yang dianggapnya dapat digunakannya untuk melakukan meditasi.
Wisanggeni berjalan menuju sebuah goa kecil, dan mulai masuk ke dalamnya. Laki-laki itu tiba-tiba menundukkan badannya dan tangannya mengamati beberapa tulang yang banyak berserakan di atas tanah berkapur tersebut, Kemudian Wisanggeni berjongkok.
"Ini seperti tulang manusia.., berarti tempat ini pernah disinggahi oleh manusia. Hanya saja sepertinya, dia tidak bisa bertahan dengan lingkungan disini. Akhirnya harus mati secara tragis." Wisanggeni berbicara sendiri. Beberapa saat laki-laki itu menyingkirkan tulang-tulang tersebut kemudian menguburkannya. Setelah merasa tempat yang akan digunakan untuk meditasinya bersih, Wisanggeni berjalan menghampiri sebuah tempat yang ada di pojok ruangan tersebut.
__ADS_1
Wisanggeni segera naik ke atas sebuah batu, kemudian duduk bersila di atasnya. Setelah beberapa saat menyesuaikan diri, laki-laki itu segera melindungi tempat itu dengan tabir pelindung. Tidak lama kemudian, Wisanggeni sudah masuk ke alam bawah sadarnya.
**********