Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 482 Hati Mulia


__ADS_3

Ki Bawono dengan kedua orang yang datang bersamanya, terlihat sangat gembira melihat Wisanggeni beserta keluarga besarnya berada di kota ini. Setelah sekian lama, laki-laki tua itu baru merasakan bagaimana bahagianya dapat dikunjungi oleh kerabat, meskipun antara Wisanggeni dengannya terjalin secara tidak sengaja. Dalam usia tuanya, memang masih merasa dibutuhkan, dikunjungi atau didatangi oleh kerabat, merupakan sebuah kebahagiaan dan nilai lebih tersendiri.


"Bagaimana kabarnya nak mas Wisang.. terakhir kali paman melihatmu.. nak mas masih dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan Nimas Rengganis." layaknya orang tua, Ki Bawono menanyakan kabar Wisanggeni. Masih terlihat kekhawatiran di mata laki-laki tua itu.


Ada kehangatan di hati Wisanggeni, melihat perhatian yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Ki bawono.  Wisanggeni tersenyum kemudian menoleh pada istrinya Rengganis. Perempuan muda itu juga tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Puji syukur pada Hyang Widhi paman.. dalam waktu yang tidak lama syukurnya WIsanggeni dan Nimas Rengganis, masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dan bergabung lagi dengan semua anggota keluarga. Lihatlah paman.. semua putra putriku dengan teman-temannya akhirnya datang mencari dan menemaniku.. he.. he.. he.." Wisanggeni tertawa kecil menanggapi perkataan laki-laki tua itu.


"Ha.. ha.. ha.. benar-benar.. Dengarlah anak cucuku semuanya.. itulah kerinduan seorang ayahnda dan ibunda. Hingga orang tua harus atau rela menanggung rasa sakit, asalkan dapat berkumpul kembali dengan sanak keluarganya. Untuk itu.., rajin-rajinlah berkirim kabar.. atau berkunjung pada kedua orang tuamu." Ki Bawono melihat ke arah anak-anak muda itu.


"Baik kakek.. kami akan mengingat semua pesan dan kata-kata yang kakek ucapkan.." dengan cepat, Chakra Ashanka menyahuti perkataan Ki Bawono.


Parvati hanya tersenyum dan menganggukkan kepala menanggapi perkataan Ki bawono, sedangkan Arya dan Dananjaya hanya melihat mereka sambil tersenyum. Meskipun baru mengenal keluarga Parvati untuk waktu yang belum lama, kedua anak muda itu bisa menilai betapa hangat komunikasi dalam keluarga itu. Dananjaya dalam hati sangat bersyukur, mendapat kesempatan untuk dapat mengenal dan akhirnya bisa meminta Parvati untuk dijadikannya seorang istri.


"Ki Bawono.. maafkan kami yang muda ini, belum bisa memenuhi janji untuk datang berkunjung ke padhepokan Aki." tiba-tiba Wisanggeni mengingat kembali janjinya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Tidak perlu kamu hitung sebagai utang anak muda.. Kedatanganku kesini untuk menyambangi, anggap saja hutang janjimu sudah lunas. Aku mendengar apa yang terjadi padamu di Alas Kedhaton, dan juga pernah melihatmu di puncak bukit ketika putramu Chakra Ashanka membawanya kesana.." Ki Bawono tersenyum.


Wisanggeni terkejut dan mengerenyitkan dahinya, laki-laki itu tidak menyangka, jika orang yang akan dikunjunginya ternyata sudah menemukannya terlebih dahulu.


"Leluhur Alap-alap memang bukan lawan yang mudah untuk dihadapi. Meskipun mereka hanya merupakan arwah saja, namun kekuatan kunonya tidak ada yang bisa melawannya selama ini. Jauh beberapa dekade yang lalu, leluhurku pernah mencoba untuk membebaskan tawanan dari leluhur Alas Kedhaton. Tetapi tidak berhasil dilakukannya, malah beberapa orang dari kami menjadi korban dalam pertempuran itu. Ternyata sejarah kembali terulang.. Wisanggeni kembali menundukkan gerombolan Alap-alap baik saat ini maupun di masa lampau.." Ki Bawono melanjutkan.


"Sepertinya itu hanya kebetulan terjadi saja Aki.. Wisang dan Nimas Rengganis betul-betul kehilangan banyak energi untuk mengalahkan kekuatan kuno. Itupun karena di bantu oleh leluhur Alas Kedhaton yang berhasil membebaskan dirinya, jika tidak.. anak muda ini mungkin sudah tidak bisa berada di tempat ini lagi Aki.." dengan senyum kecut, Wisanggeni merendah dan tersenyum kecut.


"Kamu memang selalu begitu.. sama persis dengan leluhur dari Trah Bhirawa.. ha.. ha.. ha.." Ki Bawono menimpali.


******


Karena sudah mendapatkan kunjungan dari Ki Bawono, dan laki-laki itu berbaik hati untuk membatalkan janjinya, Wisanggeni akhirnya memutuskan untuk kembali ke padhepokan Gunung Jambu. Arya dan Dananjaya menyambut baik keputusan itu, karena mereka ingin segera meresmikan ikatan Dananjaya dengan Parvati, baru kemudian membawa gadis muda itu untuk berkunjung pada keluarganya. Rengganis semula berpikir akan tinggal jauh terpisah dengan putrinya, namun Wisanggeni kemudian mengarahkan istrinya.


"Kang Wisang.. kita belum tahu dimana keberadaan nusa yang ditempati oleh nak mas Dananjaya, akankah kita akan merelakan anak gadis kita mengikuti anak muda itu kakang..." dengan tatapan cemas, Rengganis bertanya pada suaminya.

__ADS_1


Wisanggeni tersenyum, kemudian meluruskan pundak istrinya dan menggeser duduknya untuk berada di depannya. Ke empat mata itu saling bertatapan, dan masih terlihat jelas rasa khawatir yang ada pada mata ostrinya Rengganis. Wisanggeni mengusap pelan kedua alis perempuan yang ada di depannya itu.


"Nimas Rengganis.. tidak akan ada yang tahu bagaimana nasib kita suatu saat nanti. Kita akan hidup dimana, tinggal dimana, ataupun kita akan kembali ke alam kubur pada saat kita dimana. Kita tidak boleh untuk memilihnya nimas.." perlahan dengan hati-hati, Wisanggeni mengajak Rengganis berbicara.


Rengganis terdiam, hatinya masih belum bisa membuka apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Perlahan Wisanggeni mendorong tengkuk Rengganis, dan mengarahkan kepala istrinya untuk lebih dekat berada di dekatnya. perlahan Wisanggeni mencium kening perempuan itu, kemudian turun dan bermain-main di bibir perempuan itu. Setelah beberapa saat, barulah laki-laki itu melepaskannya.


"Kita bisa mengingat apa yang telah kita lakukan dulu.. apakah kita melakukan ikatan dengan menghadirkan kedua orang tua kita. Tidak bukan..., kali ini hendaknya kita bersyukur Nimas.. Putri kita dipinang oleh laki-laki muda yang memiliki perilaku dan adab yang sangat santun, dan luar biasa keberaniannya. Kita masih bisa menunggu dan menyatukan ikatan mereka. Jikapun Nimas mau, kita bisa membawa SInga Ulung untuk pergi mendatangi keluarga Nak mas Dananjaya. Keberadaan nak Mas Arya, bisa mewakili keluarganya untuk saat ini." Wisanggeni melanjutkan.


"Huh.. baiklah kakang.. jika memang itu sudah dipikirkan oleh kang Wisang.. Sebagai ibundanya, Nimas hanya bisa mengikuti apa kata dari suami, dan juga anak-anak kita sudah saling menyepakati." akhirnya dengan berat hati, Rengganis menyetujui gagasan yang dipikirkan oleh suaminya itu.


"istriku memang sangat berhati mulia.., kakang sangat beruntung bisa mendapatkan Nimas Rengganis sebagai pendamping kakang.." ucap Wisanggeni sambil tersenyum, dan satu tangannya memegang dagu perempuan itu.


Rengganis tersenyum, dan tanpa disadari oleh perempuan itu, tiba-tiba Wisanggeni sudah mengangkat tubuh Rengganis, kemudian membawanya masuk ke dalam kamar peraduan.


********

__ADS_1


__ADS_2