
Warga Alas Kedhaton ketakutan melihat fenomena alam yang tiba-tiba berubah di depan mereka. Beberapa warga yang sebelumnya berada di tepian padang rumput, segera berlari untuk menyelamatkan diri mereka. Para anak muda juga demikian, mereka sampai tidak berani untuk mengambil nafas, dan beberapa saat mereka menahannya. Baru kali ini, orang-orang itu melihat fenomena alam yang menakjubkan tetapi juga mengerikan.
"Kita harus mencari perlindungan, jangan sampai kilat itu menyambar kita semua.." Sukendro memberi aba-aba pada para warga untuk mencari perlindungan, sambil berlari,
"Iya.. lihatlah kilat itu. Pada ujungnya seperti sebuah pisau belati, sangat runcing.. Kilat apa itu, kenapa aku tidak pernah melihatnya selama aku hidup, dan juga belum pernah mendengar cerita tentang kilat seperti itu.." salah satu warga berteriak mengagumi bentuk kilat tersebut.
"Benar.. ada warna ungu berpadu dengan kilatan putih. Betul-betul membentuk sebuah paduan warna yang indah.. Kita tidak boleh meninggalkannya, kita harus melihatnya dengan jelas apa yang akan terjadi selanjutnya.." warga yang lain menolak untuk berlindung, karena terlalu sayang untuk meninggalkan penampakan indah yang terjadi di depan matanya kali ini.
Sukendro terdiam, laki-laki yang tadi memimpin pelarian itu menjadi berhenti. Mulutnya ternganga melihat keindahan berbalut kekejaman itu di depan mata mereka. Akhirnya mereka yang tadi mau berlari untuk mencari perlindungan, berhenti dan tetap pada posisi terakhir mereka.
"Bluammm.... jueglarrr..." terlihat dari kejauhan atap goa meledak dan terlempar ke atas. Wisanggeni nampak sedang berdiri dengan memegang pisau belati yang terus memancing kilat, berusaha mengarahkan kilatan pada rantai api di badan dua leluhur Alas Kedhaton yang masih berteriak kesakitan. Rengganis tampak mendukung apa yang dilakukan suaminya, dari belakang terlihat Rengganis juga mengalirkan energi dan menyalurkannya ke tubug Wisanggeni melalui punggung laki-laki itu.
Para leluhur dan sesepuh sudah tidak terlihat campur tangan mereka. Orang-orang dengan umur rata-rata di atas paruh baya itu, sudah tergeletak pingsan dan tidak ada lagi energi yang mengalir dari tubuh mereka. Tiba-tiba gumpalan kabut hitam yang berwarna merah di dalamnya terlihat akan melarikan diri dari tempat itu, dan dua sesepuh yang semula diikat oleh kekuatan itu terlepas dan terjatuh ke belakang.
"Nimas.. masih kuatkah dirimu untuk mengirim kekuatan kepadaku. Jika tidak mundurlah Nimas.. aku yang akan menyelesaikan permainan ini.." Wisanggeni berteriak pada Rengganis. Laki-laki itu terus memicingkan mata mengawasi pergerakan kabut hitam itu.
__ADS_1
"Kita akan menghadapi kekuatan ini bersama-sama kakang.. Jangan pernah memiliki pikiran untuk meninggalkan Nimas Rengganis sendiri.." sambil meningkatkan kekuatannya, Rengganis kembali memberikan dorongan dari punggung laki-laki yang sangat dicintainya itu.
"Huuuur.... huuurrr.... trap...trap.." dengan gesit kabut hitam berapi itu berkelit menghindari serangan yang dikirimkan oleh Wisanggeni. Kabut itu mulai membubung ke atas, dan seekor binatang singa dengan Rengganis diatasnya, berlari terbang menjemput laki-laki itu, kemudian terus mengejarnya kemanapun gumpalan kabut hitam itu akan melarikan diri. Warga Alas Kedhaton terkejut melihat penampakan itu, mereka tidak menyangka begitu besar kepandaian yang dimiliki WIsanggeni dan Rengganis.
"Kamu mengajakku bermain-main kekuatan iblis..." sambil menyeringai, Wisanggeni terus mengacak pola serangannya. Laki-laki itu mengangkat tangan, dan membuat gerakan seperti sebuah kotak menggunakan kekuatan energinya berusaha mengelilingi kabut hitam itu. Dari belakang punggung suaminya, Rengganis terus membantunya mengalirkan energi kuno di tangannya.
"Nimas Rengganis... aku akan meledakkan energi acak yang sudah aku gunakan untuk mengurung kabut hitam itu. Tetapi resiko yang akan kita hadapi sangat besar Nimas.. bahkan bisa dimungkinkan, nyawa kakang juga akan terenggut. Apakah Nimas akan pergi dari tempat ini, ataukah akan tetap berada disini membantu kakang.." sebelum menjalankan strategi yang sudah disiapkannya, Wisanggeni bertanya pada istrinya dengan suara lirih,
"Nimas akan terus bersamamu kakang.. apapun yang akan terjadi.." sahut Rengganis tanpa berpikir panjang.
"Kekuatan Pasopati... Mustika Nabau... keluarlah... Bluarrrr.........." tidak diduga, Wisanggeni menggabungkan kekuatan tenaga dalam, dengan senjata mustikanya. Sebuah ledakan yang membuat tanah di sekitar tempat itu berguncang terjadi dengan sangat keras dan kencang. Tubuh Wisanggeni terpental dari punggung SInga Ulung, demikian juga dengan Rengganis yang berada di bawahnya. Perempuan itu terkulai lemas, dan dengan cepat SInga Ulung membawa Rengganis menjauh dari tempat itu. Sedangkan tubuh Wisanggeni setelah terpental dari punggung SInga Ulung, tubuh itu terbang tidak terkendali.. dan tiba-tiba ada sebuah bayangan yang melesat dan menangkap tubuh laki-laki itu untuk menyelamatkannya.
*********
Beberapa Saat Kemudian
__ADS_1
Setelah ledakan besar yang terjadi di padang rumput, terlihat warga Alas Kedhaton sudah mulai terbangun dari pingsan mereka. Beberapa laki-laki kemudian terduduk, berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi sebelumnya, Tetapi begitu mereka melihat kekacauan dan porak poranda di sekitar mereka, perlahan-lahan mereka mulai teringat kembali dengan apa yang baru saja terjadi dan mereka alami.
Kabut seperti asap masih terlihat ada di sekitar padang rumput yang tadi digunakan untuk pertarungan Wisanggeni dan Rengganis, beserta dengan para sesepuh dan leluhur warga Alas Kedhaton. Beberapa anak muda menunjuk ke tengah padang rumput, karena melihat beberapa di antara mereka tergeletak, tidak tahu apakah mereka dalam keadaan pingsan atau sudah meninggal.
"Kita harus melihatnya ke dalam, sepertinya kekuatan iblis sudah dimusnahkan oleh Den Bagus Wisanggeni dan Den Ayu Rengganis.." Sukendro mengajak beberapa rekannya yang sudah siuman untuk masuk ke dalam padang rumput.
"Apakah sudah dibolehkan Gendhon.. lihatlah masih banyak kabut asap disana sini.." salah satu rekan mereka, masih ragu untuk masuk ke dalam.
"Apakah kamu tidak bisa memfungsikan indera penciumanmu. Itu kabut biasa, sudah tidak ada lagi racun di dalamnya. Segera kita datangi dan kita berikan pertolongan pada mereka.." melihat beberapa temannya masih memiliki keraguan, Sukendro berjalan masuk ke padang rumput terlebih dahulu.
Para anak muda itu saling berpandangan, tetapi melihat Sukendro masih tetap berjalan dan tidak terjadi apa-apa, akhirnya mereka kemudian segera mengikuti langkah anak muda itu.
"Selamatkan Ki Sancoko.. aku merasa masih ada denyut jantung meskipun sangat lambat.." Sukendra meminta teman-temannya untuk menyingkirkan pemimpin mereka dari satu. Dengan sigap, satu anak muda segera mengangkat Ki Sancoko dan membawanya ke pinggir.
Satu persatu, Sukendro dibantu beberapa temannya melakukan pengecekan. Para warga maupun leluhur yang sudah tidak memiliki denyut nadi, dikumpulkan menjadi satu. Sedangkan yang masih terlihat ada sedikit kehidupan, segera di bawa ke pinggir padang rumput untuk dilanjutkan ke tempat tinggal mereka.
__ADS_1
*******