
Di depan penginapan, mata Rengganis menatap tanpa berkedip laki-laki muda yang berpakaian mewah itu di depannya. Merasa sudah berada di halaman penginapan, perempuan itu sudah merasa sedikit lebih tenang. Jikapun mereka harus melakukan pertarungan, tidak akan ada yang merasa terganggu dengan akibat yang akan muncul dari pertarungan itu.
"Hentikan sikap sadismu padaku Nimas.. Aku akan sangat menyayangkan jika kulit bersih nan mulusmu itu akan luka. Karena dalam pertarungan, senjata tidak memiliki mata.." sambil tersenyum licik, Narodho mengajak bicara Rengganis.
Tetapi Rengganis adalah seorang petarung perempuan, hanya ketika berada di samping suaminya Wisanggeni, perempuan itu akan menyimpan energinya. Namun, saat ini perempuan itu merasa sendiri. Bahkan putranya Chakra Ashanka juga tidak sedang bersamanya. Rengganis merasa memiliki kebebasan, dan tanpa disadari aura kekejaman untuk menghabisi musuh naik ke atas ubun-ubun perempuan itu.
"Tutup mulut kotormu Narodho.., jangan segan-segan untuk mengirimkan serangan kepadaku. Kita bukan kerabat, kamu adalah pengganggu, dan tugasku adalah untuk menganggu dan mengenyahkan pengganggu dari hadapanku." Rengganis berbicara dengan nada tinggi, satu sudut mulutnya diangkat ke atas.
Orang-orang bersembunyi, tetapi mereka mengintip dan akan melihat langsung bagaimana pertarungan antara kedua orang itu. Tetapi sedikitpun Narodho tidak bereaksi apapun, laki-laki itu terus tersenyum sambil melihat kecantikan perempuan di depannya itu.
Merasa jengkel melihat reaksi yang ditunjukkan Narodho, Rengganis kembali mengeluarkan kain panjang yang sejak tadi digenggam di tangannya. Dengan tangan kanannya, Rengganis mengelebatkan kain panjang ke depan, dan pusaran angin yang sangat besar tiba-tiba muncul dan berputar-putar di sekitar Narodho. Rupanya perempuan itu tidak ingin terlalu lama bermain-main dengan laki-laki di depannya itu. Beberapa barang yang ada di sekitar tempat itu, beterbangan terkena hempasan angin tersebut.
"Hmm.., ternyata aku tidak bisa meremehkan kekuatan perempuanku. Dadaku menjadi sesak, meskipun hanya pusaran angin saja yang dikeluarkannya. Aku harus segera bersiap.." Narodho berbicara pada dirinya sendiri. Pusaran angin yang semakin kencang menyerang ke arahnya, seperti mengikat tubuhnya, dan seketika saluran pernafasannya terasa terganggu,
Tanpa bicara laki-laki itu, mengeluarkan satu tangannya, dan tiba-tiba..
"Kamu ternyata memiliki kekuatan Nimas.., aku sudah keliru untuk memandangmu sebelah mata. Aku akan mengeluarkan kekuatanku untuk menandingimu.. Langit Bumi Membara... keluarlah.." begitu laki-laki itu berteriak, tiba-tiba muncul gumpalan awan di atas langit. Seketika, langit yang semula terlihat cerah dengan sinar matahari, tiba-tiba menjadi gelap tertutup awan tebal.
__ADS_1
Melihat penampakan tersebut, orang-orang berlarian menyembunyikan diri. Mereka merasa akan ada hujan badai yang menerjang tlatah tersebut. Kilat dari atas langit tiba-tiba menyambar..
"Clap... jeglarr..." lidah api petir menyambar turun ke bawah. melihat hal itu, tidak terlihat sedikitpun ketakutan di wajah Rengganis. Hal yang lebih mengerikan sudah pernah dia hadapi, dalam petualangan dengan suaminya Wisanggeni, Perempuan itu malah mengangkat sudut mulutnya, dia tersenyum sinis melihat hal itu.
Melihat tidak ada sedikitpun ekspresi ketakutan pada perempuan di depannya, Narodho menjadi seperti kebakaran jenggot. Laki-laki itu mengangkat satu tangannya ke atas, ternyata sebilah keris sudah terangkat ke atas.
"AKu akan melihat.., apakah kamu akan masih bisa tersenyum Nimas.. Menyerahlah kepadaku, dan jadilah gundikku.., maka aku akan memberikan ampunan kepadamu." dengan ucapan menghina, narodho berbicara pada Rengganis.
Mendengar ucapan laki-laki yang tidak memiliki etika dan tata krama itu, emosi Rengganis seperti terbakar. Perempuan itu kembali mengelebatkan selendang di tangannya, dengan satu tangan mengusap kain tersebut sebelum dikelebatkan.
Kilatan api tampak muncul dan terlihat dari benturan dua kekuatan itu. Sedikitpun, Rengganis tidak merasakan kewalahan. Perempuan itu menambahkan aura energi dari tenaga dalamnya pada selendang pemberian suaminya Wisanggeni. Tidak diduga.., seperti seekor naga dengan lidah api yang berkibar, selendang itu mengacaukan serangan yang dikeluarkan oleh Narodho.
Keris di tangan Narodho mengeluarkan sinar yang memancar di ujungnya, dan berpadu dengan lidah petir yang turun dari langit. Kilatan api dan petir membuat suasana gelap menjadi terlihat terang menakutkan. Dengan menghentakkan energi, selendang Rengganis menyambar dan menggulung kilatan petir yang menyambar turun.
"Blam..., blamm... clap.. jueglarr..." Rengganis terus mengeluarkan aura energinya yang terus keluar tanpa kehabisan, dan mengeluarkan suara ledakan ketika berbenturan dengan kekuatan petir tersebut. Di satu sisi, Narodho sudah terlihat sempoyongan, laki-laki itu sepertinya sudah kehilangan banyak energi dari dalam tubuhnya.
Narodho mengangkat tangan kirinya ke atas, laki-laki itu bermaksud untuk menggabungkan kekuatannya dengan ilmu kanuragan yang lain. Tetapi belum sampai, formula di tangannya terbentuk, ujung selendang sudah demikian kerasnya menyambar tangannya. Formula yang sudah hampir jadi tiba-tiba ambyar.., dan ujung selendang menyerempet perutnya. Bau kain terbakar tercium di tempat itu.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu Nimas.. sepertinya kamu memang tidak bisa diajak untuk bicara baik-baik.." melihat perempuan itu yang terus mengejarnya dengan berbagai serangan mematikan, Narodho benar-benar merasa kewalahan. Bahkan laki-laki itu tidak bisa menambah kekuatannya, dan perlahan semua energi yang dikeluarkannya terlahap habis. Padahal kilatan petir di angkasa sudah semakin besar.., dan tiba-tiba Rengganis tersenyum lebar..
"Sreetttt...., jueglarrrr...." ujung selendang Rengganis membelit lidah kilat yang menyambar turun, kemudian menggulung dan menyeretnya ke bawah. Ledakan besar terdengar di tempat itu, dan langit yang semula terlihat gelap tiba-tiba menjadi terang benderang. Sinar matahari kembali bersinar dengan panasnya.. Tubuh Narodho terhuyung, dan terjungkal ke belakang. Darah tampak mengalir keluar dari mulutnya. Dengan wajah dan kulit menghitam, laki-laki itu tidak dapat dikenali lagi sebagai laki-laki bangsawan berpakaian mewah.
Tanpa melihat lagi, Rengganis berjalan meninggalkan laki-laki itu.
*******
Di depan penginapan
Mata Chakra Ashanka membulat, anak muda itu tidak percaya melihat pertarungan di depannya. Meskipun sudah sejak lama, anak muda itu mendengar kehebatan ibundanya dalam bertarung, namun baru kali ini, Chakra Ashanka melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dengan lincahnya dan dengan tepat pula., serangan demi serangan mengalir keluar dari tangan ibundanya,
"Kang Ashan.., benarkah itu Bibi Rengganis..?" dengan menutup mulut menggunakan satu tangan, Sekar Ratih bertanya pada Chakra Ashanka. Namun anak muda itu terlalu takjub melihat kehebatan dan ilmu kanuragan yang dimiliki ibundanya, sehingga tidak sempat menanggapi perkataan yang diucapkan Sekar Ratih.
"Perempuan itu sangat hebat, bahkan bisa mengalahkan Narodho laki-laki bejat dan mata keranjang itu. Kenapa tiba-tiba di kota ini, menjadi banyak sekali para petarung yang datang." terdengar suara Ayodya Putri mengagumi kelincahan dan kehebatan Rengganis. Gadis muda itu tidak mengetahui jika perempuan yang dipujinya, adalah ibunda dari anak muda yang sudah membuatnya tertarik.
***********
__ADS_1