Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 201 Keturunan


__ADS_3

Maharani kaget mendengar suara berisik di depan pintu pendhopo. Perlahan perempuan muda itu keluar, dan melihat banyak orang sudah berada di luar. Dengan tatapan heran, Maharani memandang pada tiga sesepuh yang berdiri di depan sendiri. Dengan tidak mengetahui apa yang menjadi tujuan mereka, akhirnya Maharani keluar menemui mereka..


"Ada apa ini semuanya, kenapa beramai-ramai datang dan berdiri di luar pondhok ini?" Maharani langsung bertanya ada tujuan apa mereka berkumpul.


Satu dari tiga sesepuh naik ke atas tangga, dan berdiri di samping Maharani. Tangan kananya diletakkan di punggung Maharani bagian atas.


"Kami penasaran dengan aroma ramuan pil yang dapat meningkatkan kekuatan kaum kita. Ketika kami mengikuti arah aroma itu, sepertinya aroma ramuan itu berasal dari pondhok yang kamu gunakan untuk tempat tinggal. Apakah itu benar Maharani..., apakah kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari kami?" sesepuh itu langsung menjelaskan alasan mereka berada di tempat ini, dan sekaligus melakukan konfirmasi tentang aroma yang ditimbulkan dari pil esensi naga tersebut.


"Masuklah dulu ke dalam nek.., tidak mungkin jika Maharani akan memberikan penjelasan di tempat ini. Dan jangan lupa, minta semua orang untuk kembali ke tempat mereka masing-masing." tidak mau menimbulkan keributan, Maharani meminta pada neneknya untuk meminta orang-orang yang berdiri di depan pondhok untuk kembali ke tempatnya masing-masing. Perempuan tua itu tersenyum, kemudian membalikkan badannya memandang puluhan orang yang berdiri disitu.


"Tidak ada yang akan kalian temukan di tempat ini. Kembalilah ke tempat kalian masing-masing, jangan mengganggu aktivitas Ratu Maharani. Jika sudah saatnya, aku sendiri yang akan menjelaskan dan menyampaikan pada kalian semua, jika ada sesuatu yang perlu aku bagi pada kalian." dengan nada tegas, sesepuh itu meminta orang-orang yang berada disitu untuk kembali. Kemudian mengisyaratkan pada dua sesepuh lainnya untuk tetap bertahan di pondhok Maharani,..


Tidak lama kemudian, orang-orang itu pada berjalan meninggalkan tempat itu. Tinggallah tiga orang sesepuh yang masih tinggal di tempat itu.

__ADS_1


*********


Di dalam Pendhopo


Ketiga sesepuh itu dengan takjub memandang dua butir pil yang merupakan ekstrak dari esensi naga perak. Dari beberapa dekade, belum ada keturunan dari kaum ular yang bisa mendapatkan esensi itu. Hanya dengan beberapa purnama, ternyata Wisanggeni suami dari Ratu Maharani berhasil mendapatkannya, dan bahkan sudah mengolahnya menjadi sebuah pil. Sebagai orang-orang yang sudah lama berada dalam kehidupan, para sesepuh itu tahu jika membutuhkan kemampuan yang sangat luar biasa untuk bisa mendapatkan esensi itu. Saat ini, esensi naga perak betul-betul berada di tangan mereka. Maharani yang sudah menebak pil yang ada di botol porselin itu, tidak sebegitu senang akan keberadaannya.


"Kamu tidak salah untuk memilih seorang suami Maharani. Meskipun laki-laki itu berasal dari manusia murni, ternyata kemampuan dan ilmu kanuragannya sangat tinggi, dengan mudah dan tidak membutuhkan waktu lama, laki-laki itu sudah menunjukkan keseriusannya dalam menjadikanmu istri. Kita tidak boleh memandang rendah pada Wisanggeni, dan meskipun status laki-laki itu juga sebagai raja bagi suku kita, tetapi kita belum bisa menganggapnya secara utuh. Dengan menunjukkan pil esensi naga perak ini, aku akan mengawali untuk menganggap Wisanggeni sebagai sara sejati dari kaum ular." dengan suara tegas, sesepuh yang paling tua, mengakui Wisanggeni sebagai raja mereka. Kedua sesepuh lainnya, turut menganggukkan kepala menyatakan persetujuannya.


"Ada dimana saat ini suamimu berada..? Aku akan menyampaikan secara tulus dan khusus, jika kami sudah mengakuinya secara mutlak." tiba-tiba satu dari sesepuh menanyakan keberadaan Wisanggeni. Mendengar pertanyaan itu, Maharani hanya dapt menjawab dengan tersenyum kecut.


"Kang Wisang yang sudah mengolah esensi naga perak itu menjadi sebuah pil nenek, Memang selain ilmu kanuragan, dan aura batin yang tinggi, Kang Wisang juga mewarisi keahlian dari Ki Cokro Negoro tentang penyiapan pengolahan obat-obat herbal. Tetapi karena ada urusan yang dirasa lebih penting, Kang Wisang tidak dapat mengantarkan pil ini kemari. Kang Wisang telah menggunakan merpati koleksi pribadi dari Pangeran Abhiseka untuk mengirimkannya." untuk mencegah para sesepuh merendahkan Wisanggeni, Maharani membuat pembelaan untuk melindungi laki-laki itu.


"Hmmm.., apa memang benar seperti itu?? Tapi sudahlah, meskipun aku sedikit kecewa dengan anak muda itu, yang menganggap kepentingan keturunan dari istrinya nomor ke sekian, tapi melihat keberhasilannya bisa mengolah esensi naga menjadi sebuah pil, aku cukup untuk berbangga hati." akhirnya salah satu dari sesepuh memaafkan Wisanggeni.

__ADS_1


"Marilah kita harus segera membuat ramuan dengan mencampurkan pil esensi naga perak ini, dengan ramuan herbal warisan dari para leluhur kita. Penyiapan keturunan yang akan dilahirkan oleh Maharani, harus segera kita persiapkan sematang mungkin. Aku sudah memperhatikan dan melihat ke dalam kulit Maharani, sepertinya tanda-tanda jika dia hamil sudah dapat kita lihat." sesepuh yang lain segera mengajak mereka untuk undur diri. Setelah kedua sesepuh lainnya menyetujui, perlahan ketiga sesepuh dari kerajaan ular itu, berjalan keluar dari pendhopo Maharani.


Maharani hanya menyaksikan ketiga sesepuh itu meninggalkan pondhoknya  dari belakang, untuk menjaga etika dan tata krama, Maharani mengantarkan kepergian ketiga sesepuh itu dengan mengantarkannya sampai depan pendhopo. Dengan perasaan malas dan kecewa karena merindukan Wisanggeni, Maharani segera kembali masuk ke dalam pondoknya.


*********


Beberapa saat kemudian, ketiga sesepuh itu mengantarkan dua pil esensi perak ke tempat pengolahan ramuan kerajaan. Di tempat itu, khusus dipersiapkan untuk mengolah bahan-bahan ramuan alami untuk kesaktian, kekuatan, dan juga keselamatan dari kaum manusia ular.


"Hmmm.., pil ini sangat rapi sekali. Terlihat tempaan pusaran angin besar, dan petir alam semesta dalam menyiapkan pil esensi naga perak ini. Aku mengakui kehebatan menantu dari kerajaan ini, kita tidak boleh memandangnya dengan pandangan meragukan. Di tangannya.., kaum kita bisa menjadi perhatian di seluaruh wilayah ini." sambil tersenyum, laki-laki tua itu membolak-balikkan pil yang ada di tangannya. Rasa kekagumannya tidak dapat disembunyikan melalui binar matanya.


"Iya Ki.., segera campurkan dengan ramuan warisan kerajaan suku ular. Kita harus memastikan jika keturunan yang akan menjadi pemimpin kita di masa mendatang, harus benar-benar memiliki kemampuan yang linuwih. Kita tidak akan membiarkan kaum kita tertindas." sesepuh menanggapi perkataan laki-laki itu.


"Keluarlah dari tempat ini.., aku membutuhkan sedikit waktu untuk dapat fokus dan konsentrasi. Bahan-bahan ini membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi, jadi tinggalkan aku sendiri di tempat ini." tanpa bermaksud mengusir, laki-laki tua itu meminta para sesepuh untuk meninggalkannya.

__ADS_1


************


__ADS_2