Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 317 Bepergian dengan Anggoro


__ADS_3

Mendengar laki-laki itu menyebut dirinya sebagai orang dekat dari keluarga kerajaan, Maharani yang semula tidak menyukai kehadiran Anggoro, merubah sikapnya terhadap laki-laki itu. Perempuan itu membalas senyuman yang diberikan Anggoro untuknya, dan Maharani menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan pada laki-laki itu.


"Terima kasih atas bantuan Ki Sanak.., sebenarnya saya bisa mengambil sendiri ke dapur, jika memang pelayan sedang sibuk untuk menyajikan ke meja ini." dengan sedikit menyindir, Maharani mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu. Tetapi rupanya laki-laki itu tidak merasa tersindir. Anggoro malah mendekatkan kursinya lebih dekat pada Maharani,


"Tidak perlu terlalu formal seperti itu Nimas.., panggil saja langsung dengan namaku Anggoro, atau bisa pula dengan sebutan kangmas. Jika dibolehkan tahu, siapa nama Nimas ini..., apakah ada urusan di wilayah kerajaan Logandheng?" sambil tersenyum, Anggoro bertanya tentang identitas Maharani. Tanpa risih, laki-laki itu terus menatap ke wajah putih dan cantik milik Maharani.


"Namaku Maharani... Anggoro. Aku sebenarnya ingin masuk ke kota kerajaan untuk mencari keluargaku yang sudah lama terpisah. Tetapi tidak kusangka, ternyata kerajaan ini sedang mengalami perebutan kekuasaan, dan dalam kondisi ini sangat sulit untukku menemukan keluargaku." Maharani menyebutkan namanya, perempuan itu tidak bermaksud untuk menyembunyikan identitasnya. Setelah berbicara, Maharani mengambil cangkir kayu, kemudian meneguk beberapa teguk minuman yang sudah menjadi dingin itu.


"Aku bantu untuk menuang kembali Nimas Maharani.., aku buang dulu minuman yang sudah ada di gelas. Bukankan minuman itu sudah menjadi dingin?" Anggoro mengangkat poci, berusaha untuk mengambil hati Maharani. Tetapi perempuan itu mengangkat tangannya, menolak tawaran yang diberikan oleh laki-laki itu.


"Tidak perlu Anggoro, aku malah lebih menyukai minuman seperti ini. Kita tidak perlu mengeluarkan tenaga tambahan untuk meniupnya agar dingin." jawab Maharani sambil tersenyum.


Untuk mengisi perutnya, Maharani mengambil owol-owol yang merupakan jajanan dengan bahan ketela pohon, dan kelapa parut, kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Beberapa saat, perempuan itu terkesan mengabaikan keberadaan Anggoro. Merasa diabaikan oleh perempuan yang ada di dekatnya, Anggoro mencoba menarik perhatian perempuan itu.


"Oh ya Nimas..., mendengar apa yang tadi kamu ceritakan kepadaku.., aku bisa mengajakmu untuk berkunjung ke rumahku. Denganku, akan lebih mudah untuk mencari keberadaan dari anggota keluargamu.." dengan mata berbinar, tidak disangka Anggoro memberikan penawaran kepada perempuan itu.

__ADS_1


Mendengar perkataan dari laki-laki itu, Maharani menghentikan aktivitas menikmati makanan, dan meletakkan makanan yang masih ada di tangannya, di atas lepek tempat makanan. Perempuan itu menatap mata Anggoro dengan menunjukkan reaksi senang.


"Apakah benar yang kamu katakan Anggoro.., sepertinya sangat menarik penawaran yang kamu berikan kepadaku. Tadi aku juga berpikir, akan sangat berbahaya bagi diriku, jika aku berusaha untuk mencari sendiri dimana keberadaan keluargaku. Seperti saat ini, lihatlah.. untuk melindungi diriku, aku sengaja mengambil kamar dengan harga paling tinggi di penginapan ini. Karena ada perlakuan khusus yang ditawarkan penginapan untukku, yang tidak bisa didapatkan oleh penyewa kamar yang lain." dengan wajah cerah, Maharani menanggapi perkataan Anggoro.


Mendapat kesempatan untuk menarik dan membawa Maharani, Anggoro merasa membesar hatinya. Laki-laki itu semakin berbicara besar untuk menarik perhatian dari perempuan itu. Akhirnya Maharani menyetujui penawaran yang diberikan oleh Anggoro. Melalui laki-laki itu, Maharani berharap dapat masuk ke dalam istana, dan melihat sendiri bagaimana keadaan di dalam sana. Jika ada kesempatan, perempuan itu akan menemui panglima perang yang mengobarkan penyerangan di sekitar wilayah tapal perbatasan.


"Baiklah jika Nimas Maharani sudah menyetujuinya, mungkin setelah menikmati sarapan, kita bisa berangkat untuk berkunjung ke kediaman saya." dengan senyum lebar, Anggoro mengajak Maharani.


Maharani tersenyum dan menganggukkan kepala, menanggapi perkataan yang diucapkan oleh Anggoro. Kedua orang itu segera menyelesaikan makan paginya, untuk segera melaksanakan rencana mereka.


*********


Sebuah kereta kencana berisi Maharani dan Anggoro meninggalkan penginapan. Banyak tatapan iri mengiringi kepergian dua orang itu. Tetapi melihat siapa yang berhasil memikat dan membawa perempuan cantik itu, akhirnya mereka hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Tiga orang yang mengendarai kuda, berjalan di belakang kereta kencana, dan demikian juga ada dua orang berkuda memberikan pengawalan di depan kereta tersebut.


"Minumlah Nimas Maharani.., anggaplah kereta kencana ini seperti keretamu sendiri. Nikmati semua makanan dan minuman yang sudah disiapkan oleh pelayan." Anggoro menawarkan fasilitas makanan dan minuman yang sudah ditata dan disajikan di dalam kereta kencana.

__ADS_1


"Terima kasih Anggoro, tetapi untuk saat ini perutku masih terasa penuh. Jika aku sudah merasa lapar kembali, aku akan mengambilnya sendiri tanpa kamu suruh." Maharani tampak berhati-hati untuk menyentuh makanan dan minuman yang sudah disajikan, tanpa melihat sendiri kapan penyajiannya.


Anggoro tersenyum mendengar jawaban itu, laki-laki itu kemudian menggeser posisi duduknya lebih mendekat ke arah Maharani. Memahami taktik laki-laki itu untuk tanpa sengaja pura-pura menyentuh kulitnya, Maharani sudah bergeser terlebih dulu. Perempuan itu menyandarkan punggungnya di papan penutup kereta kencana. Melihat hal tersebut, Anggoro hanya tersenyum kecut.


"Kira-kira berapa lama untuk menuju ke kota kerajaan Anggoro..?" untuk mengusir kekakuan di antara mereka, Maharani bertanya pada laki-laki itu.


"Tidak akan lama Nimas.., tidak akan sampai setengah hari, kita sudah akan masuk di wilayah kerajaan, Apalagi dengan bepergian bersamaku, kamu akan langsung diloloskan, tidak perlu menjalani serangkaian pemeriksaaan. Akhir-akhir ini, wilayah kerajaan sering muncul kejahatan, sehingga arah masuk dan keluar mendapatkan pemeriksaan yang ketat dari para penjaga kerajaan," dengan perasaan senang, Anggoro menjawap pertanyaan yang diajukan oleh Maharani,


"Begitu ya.., tetapi untungnya pemandangan di luar terlihat sangat indah. Jadi kita tidak bosan melakukan perjalanan, dengan menyaksikan pemandangan tersebut." Maharani mengalihkan pandangan ke jendela kecil yang ada di sisi tempatnya duduk.


"Apalagi bagiku Nimas..., lebih menyenangkan lagi. Jika di luar pemandangan terlihat begitu indahnya, keindahan sesungguhnya adalah apa yang saat ini ada di hadapaku. Seorang gadis yang cantik, dengan tutur kata yang indah dan sopan, saat ini berada dalam satu kereta, dan dalam satu perjalanan denganku." sambil tersenyum licik, Anggoro memperhatikan wajah Maharani dengan lebih dekat,


Maharani terdiam, perempuan itu menoleh dan melirik ke wajah laki-laki itu. Ada perasaan tidak suka melihat ketidak sopanan sikap yang ditunjukkan oleh Anggoro, tetapi karena saat ini dia membutuhkan bantuan dari laki-laki itu, Maharani hanya menghela nafas. Tetapi sepertinya Anggoro menyadari sikap yang ditunjukkan Maharani kepadanya.


"Maafkan kelancanganku Nimas.., aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Sejak melihatmu tadi pagi di penginapan, sudah muncul rasa khusus di hati ini untukmu Nimas..." ucap Anggoro sambil memegang kedua telapak tangan Maharani. Tetapi perempuan itu dengan cepat menarik tangannya.

__ADS_1


***********


__ADS_2