
Dengan memegang cemeti Amarasuli di tangannya, Chakra Ashanka maju mendekati Kandar. Orang-orang yang berada disitu menahan nafas melihat anak muda itu berani menghampiri Kandar. Mereka tahu bahwa saat ini laki-laki yang berhadapan dengan Chakra Ashanka bukan Kandar yang sebenarnya, melainkan roh laki-laki tua yang menyusup ke tubuh laki-laki itu. Dengan tatapan menyala, Kandar menyambut baik kedatangan anak muda itu di depannya. Tiba-tiba tangan Kandar sudah membentuk sebuah simbol, dan tanpa sepengetahuan orang-orang.., Kandar mengirim serangan mendadak kepada Chakra Ashanka.
"Jeglar..." suara dentuman keras kembali menggelegar di tempat itu. Dengan ringan, Chakra Ashanka melompat ke atas menghindari serangan tersebut. Tangan kanan anak muda itu, memegang ujung cemeti yang ada di tangan kirinya. Tiba-tiba muncul keinginan di hati anak muda itu untuk mencoba cemeti Amarasuli yang ada di tangannya. Dengan sekali tebas, Chakra Ashanka mengayunkan cemeti dengan menggunakan tangan kanannya ke arah Kandar.
"Srettt..., blamm..." Kandar melompat menghindarkan diri dari sabetan cemeti itu. Lama karab memegang cemeti itu, Kandar tahu bagaimana bahaya yang ditimbulkan jika sampai terserempet oleh sabetan dari cemeti tersebut.
"Kurang ajar..., kamu menggunakan senjataku untuk menyerangku anak muda.. Siapa yang mengajarimu.." dengan marah, Kandar berteriak kasar pada Chakra Ashanka.
Kembali anak muda itu mengejar ke arah Kandar berlari, situasi di tengah hutan tempat mereka bertarung, kali ini terlihat sangat kacau. Pohon-pohon yang bertumbangan menjadi kering, terkena sambaran api yang melahap dari benturan kekuatan antara dua petarung itu, Keempat teman Kandar menyingkir dan melihat dari jauh ke arah pertarungan. Dengan merayap, Sayogyo, Prastowo dan Tarjono kembali masuk ke dalam goa.
Pertarungan yang terjadi antara dua orang itu masih terus berlangsung. Suasana panas yang muncul akibat pertarungan itu, bahkan membuat para binatang kabur melarikan diri dari tempat tersebut. Melihat kehebatan Chakra Ashanka dalam menandingi kekuatannya, membuat Kandar semakin tidak dapat mengendalikan emosinya. Matanya yang merah terus mengamati gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Chakra Ashanka.., sampai akhirnya..
"Kamu menguji batas kesabaranku anak muda. Aku akan menyerangmu dengan ajian andalanku.., kamu yang akan bertahan dan aku mati, ataukah kamu yang akan pergi dari dunia ini." dengan penuh kesombongan, Kandar berkata dengan suara keras pada anak muda itu. Chakra Ashanka tidak menanggapinya, anak muda itu mundur satu langkah ke belakang, dan bersiap membuat pertahanan. Cemeti Amarasuli dengan garang di taruh di depan dada anak muda itu.
__ADS_1
"Aku akan melawan semua ajian yang kamu berikan kepadaku..." terdengar suara Chakra Ashanka menjawab perkataan Kandar. Tangannya masuk ke dalam kepis, dan tanpa suara tangannya menarik keluar Singa Ulung dan melemparkannya ke dalam goa. Anak muda itu memiliki maksud, binatang itu akan terbang menyelamatkan teman-temannya jika terjadi sesuatu pada dirinya. Entah mengapa, sepertinya Chakra Ashanka memiliki firasat yang tidak bagus untuk akhir dari pertarungan ini.
"Auuuuummmmm..." begitu Singa Ulung keluar dari dalam kepis, tubuh binatang itu langsung membesar. Auman panjang menyeramkan, keluar dari mulut binatang itu. Dengan tatapan mata marah, mata binatang itu memindai pertarungan yang terjadi di depan mereka. Ketiga anak muda teman Chakra Ashanka ketakutan melihat kemunculan binatang singa putih besar di depan pintu goa tempat mereka bersembunyi.
"Ha..., ha..., ha... ternyata banyak kejutan yang kamu sembunyikan dariku anak muda... Aku menjadi tertarik dan harus berterima kasih bisa bertarung denganmu kali ini. Terimalah ajianku kali ini.... Ajian Pelemah Raga..." dengan berteriak setelah tertawa terbahak-bahak, Kandar melempat sebuah serangan pada Chakra Ashanka.
Anak muda itu kembali melompat dan menghindar, tetapi belum sempat mengirimkan serangan balik pada laki-laki itu, dengan beruntun Kandar mengirimkan serangan mematikan kepada anak muda itu, Sepertinya kali ini, Kandar memiliki niat untuk membunuh dan menghabisi Chakra Ashanka. Terlihat mata SInga Ulung tidak bergerak menatap pertarungan itu dari depan pintu goa, Ekornya sejak tadi bergoyang-goyang menandakan jika binatang itu, baru merasakan satu kegelisahan.
*********
Rengganis berjalan membawa poci tanah liat di tangannya. Entah mengapa, sejak bangun tidur sampai sekarang hatinya merasa gelisah, dan tiba-tiba merindukan kehadiran Chakra Ashanka putranya, Baru saja meletakkan poci di atas meja, tiba-tiba...
"Prang..." terdengar suara vas bunga dari gerabah terjatuh ke lantai, dan langsung pecah. Dengan segera Rengganis berjalan menuju ke tempat tersebut, kemudian membersihkan pecahan gerabah yang berhamburan di atas tanah.
__ADS_1
"Apa yang terjadi Nimas...?" Wisanggeni yang baru masuk ke dalam ruangan, terkejut melihat Rengganis berjongkok di bawah. Laki-laki itu segera menghampiri istrinya, dan memegang pundak perempuan muda itu.
"Ini Akang..., tidak tahu kenapa tiba-tiba vas bunga ini terjatuh ke tanah. Sejak bangun tidur tadi, hati Nimas juga gelisah, seperti teringat dan merindukan Chakra Ashanka akang.." Rengganis mengikuti Wisanggeni, dan duduk di atas lincak yang ada disitu. Perempuan itu segera menceritakan apa yang digelisahkannya sejak tadi, dan jatuhnya vas tanpa sebab semakin menjadikan rasa gelisahnya bertambah,
"Tenanglah..., putra kita baik-baik saja. Kita tidak bisa meremehkan warisan energi dan kekuatan yang dimiliki putra kira Nimas. Anak itu sudah memiliki bekal yang cukup untuk mulai bertualang mencari pengalaman di dunia luar. Apalagi keberadaan Singa Ulung di sisinya, binatang itu akan membantu kita untuk menjaga dan mengawasi putra kita." Wisanggeni merapikan rambut Rengganis, Sesekali tangan laki-laki itu menyeka keringat yang ada di wajah perempuan muda itu.
"Iya Akang..., Nimas akan mencoba untuk tenang, dan mendoakan Ashan. Semoga semua kebaikan melimpahi dan membersamai perjalanan putra kita." ucap Rengganis akhirnya, meskipun di sudut hatinya yang paling dalam, kegelisahan masih jelas menyelimutinya.
Wisanggeni tersenyum, laki-laki itu menundukkan wajah dan memberi kecupan di kening perempuan muda itu. Tiba-tiba laki-laki itu merindukan Rengganis, kehadiran Maharani dengan membawa Parvati ke perguruan ini, telah menyita waktu luangnya setelah mengontrol suasana perguruan. Tetapi, bagaimanapun juga merupakan kewajibannya untuk memperhatikan Maharani, yang selama ini selalu mengalah dan mendahulukan Rengganis.
"Aku merindukanmu Nimas.., maukah pagi ini kamu menemaniku beristirahat..?" bisik pelan Wisanggeni di telinga Rengganis, sambil mendekatkan tubuh perempuan muda itu ke tubuhnya. Dengan malu-malu, Rengganis menganggukkan kepalanya. Tanpa bicara, Wisanggeni kembali menundukkan wajahnya, dan tidak lama kemudian kedua bibir itu sudah saling bersatu dan tertaut. Kerinduan dua anak manusia itu sepertinya sudah berada di ubun-ubun, keduanya saling meraup, mengisi dan saling menyelami hati mereka masing-masing. Perlahan Wisanggeni merebahkan tubuh Rengganis di atas lincak, dan tidak lama kemudian bibir dan tangan laki-laki itu sudah bergerak aktif menja**mah setiap jengkal bagian tubuh perempuan muda itu.
**********
__ADS_1