Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 381 Sikap Spontan


__ADS_3

Chakra Ashanka terpekur meresapi kata-kata yang diucapkan kakek Mahesa. Dalam hati, muncul penolakan akan peluangnya untuk menduduki kedudukan sebagai Patih di kerajaan logandheng. Laki-laki itu merasa belum memiliki kesiapan, baik dari kejiwaan maupun kanuragan yang dimilikinya. Wisanggeni hanya tersenyum menatap wajah putranya yang kebingungan.


"Putraku Wisanggeni.. bisakah kamu menarik benang merah dari perkataan kakek Mahesa. Kesempatan tidak akan demikian baiknya mendatangi kita berkali-kali putraku. Peluang ini menurut ayahnda, akan bisa menambah deretan panjang pengalaman hidupmu. Dari setiap keadaan, kamu akan bisa mengambil hasil, apakah hasil itu bersifat menyenangkan, ataukah hasil itu bersifat tidak menyenangku. Semuanya akan menjadi bekal untukmu menjadi tumbuh besar putraku. Tetapkan langkah dan hatimu.." Wisanggeni menambahkan petuah untuk putranya.


Chakra Ashanka mengangkat wajahnya ke atas, anak muda itu menatap ke wajah ayahnda Wisanggeni yang mengulum senyum melihat kepadanya. Perlahan tangan kanan ayahndanya terangkat ke atas, tangan itu mengusap lembut pucuk kepala Chakra Ashanka.


"Maukah keponakanku ini mendengarkan petuah dari paman Lindhu Aji.." tiba-tiba kakak kedua Wisanggeni tidak mau ketinggalan. Laki-laki itu tersenyum sambil bertanya pada Chakra Ashanka.


"Ashan akan sangat berterima kasih paman, semua masukan akan menjadi bekal untuk tahapan kedewasaan yang akan dilewati oleh putra keponakan ini." dengan cepat, Chakra Ashanka memberikan respon atas pertanyaan yang diucapkan oleh pamannya itu.


"Ashan putraku.. lihatlah bagaimana keadaan paman Aji dan paman Janar di masa lalu. Dalam usia sepertimu, kakang berdua sudah meninggalkan kakek Mahesa, kami meninggalkan Trah Bhirawa kala itu. Semua hanya dilandasi oleh niat kami untuk mengembangkan diri, dan mencari kehidupan di tempat lain. Meskipun.. keinginan kami belum semuanya tercapai, tetapi tekad kami berdua yang bisa untuk kamu jadikan pembelajaran dalam hidupmu." dengan suara tegas, Lindhu Aji menceritakan masa lalunya.


"terima kasih paman Aji, ayahnda.. dan kakek Mahesa. Sebenarnya, Ashan tidak ingin mendapatkan ketenaran diri melalui sebuah jabatan atau kedudukan yang tinggi. Hidup di perguruan Gunung Jambu, dikelilingi orang-orang terdekat sudah merupakan sebuah kebahagiaan untuk Ashan. Kebahagiaan bukan hanya dilihat dari ada tidaknya materi, ataupun kekuasaan di sekitar kita. Ashan belajar banyak dari kehidupan ibunda Rengganis dan ayahnda Wisanggeni." Chakra Ashanka menyampaikan apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Tampak kegundahan melintas di wajahnya.

__ADS_1


Rengganis memeluk putranya, perempuan itu tidak berbicara apapun. Rengganis merasa ketiga laki-laki dewasa itu sudah cukup memberikan petuah untuk putranya Chakra Ashanka.


"Ashan.. ayah memahami apa yang ada di pikiranmu. Tetapi yang perlu kamu ketahui, kita adalah seorang laki-laki. Dimana pada saatnya nanti, kamu akan bertanggung pada kehidupan pasangan hidupmu, dan juga putra-putramu. Bahkan bisa jadi, kedua orang tuamu ini juga akan menjadi tanggunganmu pada saatnya nanti. Ayah harap, kamu bisa mengambil kesimpulan dari perkataan ayahnda.." merasa putranya belum menemukan makna kehidupan laki-laki dewasa, akhirnya Wisanggeni turut berbicara.


Chakra Ashanka menatap wajah ayahnda Wisanggeni, dan laki-laki itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Setelah terdiam sejenak, sepertinya Chakra Ashanka bisa mengambil kesimpulan dari apa yang diutarakan oleh kakek, paman, dan ayahndanya. Sebagai seorang laki-laki, akan banyak yang akan dipikulnya di masa depan. Tidak hanya ilmu kanuragan, kecukupan materi juga dibutuhkan untuk dapar mewujudkan kestabilan dalam hidupnya.


"Ashan sudah bisa membuat kesimpulan semuanya kakek, paman, ayahnda, dan ibunda. Ashan akan menerima tawaran dari Raden Bahdra, dan dalam waktu yang dekat, mohon ijin Ashan untuk segera memberi tahukan hal ini pada pangeran dari kerajaan Logandheng itu." akhirnya setelah beberapa saat, Chakra Ashanka mengambil sebuah kesimpulan.


**********


"Bolehkah aku duduk di samping kang Ashan.." sebelum memutuskan untuk duduk, gadis itu bertanya pada laki-laki itu. Chakra Ashanka tersenyum dan menganggukkan kepala perlahan. Tatapan matanya tidak lepas dari wajah gadis cantik itu. Tidak berapa lama, Ayodya Putri sudah duduk di samping Chakra Ashanka.


"Apakah ada yang mengganggu pikiran kakang. Dari depan sana, sejak tadi Putri memperhatikan sikap dan gerak-gerik kakang Ashan. Sepertinya ada yang mengganggu pikiran kang Ashan.." dengan suara pelan, Ayodya Putri bertanya pada laki-laki muda di sampingnya itu.

__ADS_1


Anak muda itu menoleh ke arah Ayodya Putri, kemudian menghela nafas perlahan.


"Nimas Putri.. aku tidak tahu sebenarnya apa dan kemana yang akan menjadi arah tujuanmu. Besok dini hari, aku sudah akan meninggalkan tempat ini Nimas.. aku akan pulang ke perguruan Gunung Jambu. Dan aku akan membawa Sekar Ratih untuk bersamaku, karena aku tidak akan bisa meninggalkan gadis muda itu. Ada janji yang harus aku jaga sampai kapanpun." akhirnya Chakra Ashanka menyampaikan apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Kenapa harus Sekar Ratih kakang.., kenapa kang Ashan tidak mengajak Nimas Putri untuk menyertai kang Ashan?" mendengar perkataan anak muda itu, tiba-tiba ada rasa sesak yang menghimpit dada gadis muda itu. Untuk mengurangi rasa sesak itu, Ayodya Putri memberanikan diri untuk bertanya pada Chakra Ashanka.


"Aku sudah terikat janji dengan keluarga Nimas Ratih.. kepada orang tuanya, kedua kakak laki-lakinya, aku sudah mengucap janji untuk selalu membawa gadis itu kemanapun. Sejak saat itu, aku sudah menganggap jika gadis itu adalah tanggung jawabku. Ayahnda dan ibunda juga sudah mengetahui dan menyetujuinya." anak muda itu menjelaskan posisi Sekar Ratih untuknya.


"Mengenai dirimu Nimas Putri.. Kita belum lama untuk saling mengenal, dan melihatmu.. kamu memiliki latar belakang keluarga yang bagus. Kedua orang tuamu akan mengarahkan dan membantumu untuk mewujudkan keinginanmu. Kamu harus tahu dan selalu untuk mengingat hal itu..." akhirnya Chakra Ashanka juga memberikan penilaian terhadap gadis yang ada di sampingnya itu.


Ayodya Putri terhenyak dan merasa kaget dengan kata-kata dari Chakra Ashanka. Tanpa permisi, tiba-tiba Ayodya putri memegang kedua bahu Chakra Ashanka. Tidak pernah diduga oleh laki-laki muda itu, gadis muda itu memeluk tubuhnya erat, dan hal itu membuat anak muda itu terkejut. Dengan tatapan kaget, Chakra Ashanka spontan dengan kedua tangannya mendorong tubuh gadis muda itu menjauh darinya.


Dengan hati berdebar-debar, Chakra Ashanka menatap wajah Ayodya Putri yang terlihat menunduk malu. Kedua orang itu terdiam untuk beberapa saat. Tidak ada satupun dari mereka yang mencoba untuk memulai pembicaraan.

__ADS_1


*********


__ADS_2