
Upaya warga Alas Kedhaton untuk membebaskan leluhur mereka dari tawanan kekuatan kuno Gerombolan Alap-alap masih terus berlanjut. Satu persatu goa berhasil dihancurkan, meskipun berdampak pada tenaga dan kekuatan Wisanggeni serta Rengganis yang semakin lemah. Keduanya bertekad ingin segera menuntaskan urusan itu, karena tidak mau dihantui oleh rasa bersalah. Bersyukur, para leluhur yang berhasil dibebaskan, berhasil mengembalikan energi dan kekuatan mereka, sehingga tambahan bantuan kekuatan juga semakin banyak.
"Apakah Den Bagus Wisanggeni sudah siap untuk menghancurkan goa terakhir.." satu leluhur bertanya pada laki-laki muda itu, sesaat mereka sudah beristirahat dan memulihkan kekuatan.
"Kita akan mencobanya lagi Eyang... meskipun tidak bisa kami pungkiri, tenaga dan kekuatan kami sudah habis tersedot, namun jika satu goa itu tidak segera kita hancurkan, dan juga kita musnahkan kekuatan energi hitamnya, akan bisa menjadi laten kekuatan di kemudian hari.:" dengan lirih, Wisanggeni menjawab pertanyaan dari leluhur yang sudah berhasil dibebaskan.
"Heh.. aku akui besarnya tekadmu anak muda.. Kami hanya akan mengikuti arahanmu, abaikan usia kami semuanya. Aku juga sadar jika kekuatan dan energi hitam sebenarnya tidak semakin melemah, tetapi semua terserap masuk pada kekuatan di goa terakhir. Kali ini kita harus lebih berhati-hati untuk membebaskan leluhur kita." para leluhur, sesepuh dan beberapa anak muda mereka melakukan perbincangan. Mereka membicarakan strategi dan membahas kekuatan yang sudah berhasil mereka kendalikan,
"Iya.. leluhur yang diikat oleh kekuatan energi yang berada di goa terakhir itu sangat tangguh kekuatannya. Bahkan leluhur yang memiliki kekuatan paling sakti di antara kami, bisa tertawan seperti itu. Kalian tidak boleh menyepelekan kekuatan itu.." leluhur lainnya ikut menimpali.
Wisanggeni terdiam. sebenarnya para leluhur dan sesepuh Alas Kedhaton itu, bisa menggabungkan kekuatan mereka untuk membebaskan leluhur yang masih ada di dalam goa terakhir. Tetapi menurutnya apakah mereka akan bisa melakukannya. Yang dikhawatirkan laki-laki muda itu adalah bangkit dan menguatnya kembali energi dan kekuatan hitam Gerombolan Alap-alap, dan terserap pada salah satu tokoh kanuragan. Jika hal itu terjadi, maka akan menjadi permasalahan dalam dunia persilatan kali ini.
"Nimas Rengganis.. apakah Nimas masih mampu untuk mengeluarkan kekuatan energi lagi.." melihat istrinya yang tampak sudah kehabisan energi, Wisanggeni bertanya pelan.
"Semua sudah terlanjur kakang.. akan sangat disayangkan jika kita mundur di saat semua sudah seperti ini. Kita lanjutkan saja kakang, masa depan energi dan kekuatan hitam ada di dalam kendali kita saat ini. Apakah akan dipelihara dan dibiarkan, ataukah akan dimusnahkan tergantung kita saat ini kakang. Berkorbanpun untuk memberikan masa depan yang lebih baik pada anak cucu kita, Nimas rela kakang.." tidak diduga, mendengar jawaban yang keluar dari bibir istrinya, Wisanggeni sedikit tertotok. Perlahan laki-laki muda itu tanpa malu, di depan para sesepuh dan leluhur Alas Kedhaton, meraih telapak tangan Rengganis kemudian menciumnya di depan mereka semua.
__ADS_1
"Baiklah.. mari kita semua segera bersiap. Kami mohon... untuk kali ini para leluhur dan sesepuh yang berada di bagian depan. Mengingat kekuatanku dan Nimas Rengganis sudah banyak tersedhot keluar, kami berdua akan berada di belakang kalian. Jangan khawatir.. kami tidak akan melarikan diri meninggalkan kalian semuanya. Yakinlah kepada kemampuan diri kalian.." ucap Wisanggeni dengan semangat memberikan arahan apda orang-orang itu.
Segera para sesepuh dan leluhur menempat diri, mereka membentuk formasi segi tiga di balik. Berada di paling ujung belakang. Wisanggeni dan Rengganis.
***********
Para leluhur di depan mencoba merangsek masuk dan menembus energi kekuatan hitam yang sangat pekat. Terlihat kesulitan di depan mereka, dan beberapa sudah mulai merasakan sesak. Untung saja, dengan royal Wisanggeni selalu memberikan mereka pil herbal untuk menangkal racun, sehingga meskipun mereka dalam keadaan terdesak, kabut beracun tidak begitu mempengaruhi kekuatan mereka.
Leluhur yang berdiri pada barisan paling depan mengangkat tangannya ke atas membentuk sebuah tangkupan tangan, kemudian perlahan diturunkan dan berhenti di depan dada. Dari belakang para leluhur yang lain, dan kemudian diikuti oleh para sesepuh melakukan hal yang sama. Tidak lama kemudian satu tangan kanan mereka mengeluarkan energi hangat dan telapak tangan itu ditempelkan di punggung leluhur yang berada paling depan.
Terdengar helaan nafas dari leluhur yang masih berada dalam tawanan. Meskipun tidak terdengar suara rintihan dari tawanan itu, namun helaan nafas yang dilakukannya mengandung makna kesakitan yang dalam. Beberapa saat mereka terus mencoba, namun belum ada tanda-tanda kabut hitam itu bisa terkoyak.
"Kakang mungkin bisa melepaskan tenaga kekuatan Pasopati kakang, dengan dipadukan kekuatan mustika Nabau.. Apalagi kakang juga sudah menyerap energi kuno kekuatan dari leluhur Eyang Bhirawa, Nimas yakin kita akan berhasil menembusnya. Nimas juga akan mengeluarkan kekuatan dari leluhur Trah Jagadklana.." Rengganis berucap pelan. Sejak tadi, matanya tidak berhenti mengamati pergolakan energi yang terjadi di depannya.
"Hmm.. tapi Nimas tahu sendiri bagaimana dampaknya bukan.. Kita sendiri tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi dan alami sesudahnya.": ucap Wisanggeni seperti agak ragu-ragu.
__ADS_1
"Sepertinya tidak ada pilihan lain kakang. Merupakan hal yang sama bagi kita, pilihan manapun yang akan kita pilih. Jika masih ada peluang untuk membebaskan diri dari kekuatan iblis ini, kenapa kita tidak melakukannya kakang." sahut Rengganis melihat keraguan yang masih ada dalam pikiran suaminya.
Wisanggeni terdiam, laki-laki itu membayangkan kemungkinan terburuk yang akan mereka hadapi. Tetapi beberapa saat kemudian, Wisanggeni juga berpikir tidak akan ada hasil yang lebih baik jika mereka tidak mencoba. Mereka hanya akan menjadi pecundang, di bawah bayang-bayang ketakutan bangkitnya lagi kekuatan kuno Gerombolan Alap-alap. Namun jika mereka mencoba, bahkan nyawa mereka yang akan menjadi taruhannya.
"Bagaimana kakang... apakah kakang sudah menetapkan pilihan. Kita tidak memiliki waktu lama untuk berpikir kakang, lihatlah ke depan. Para leluhur sudah semakin terdesak, dan beberapa sesepuh juga sudah mulai berjatuhan. Kita tidak memiliki cara lain lagi.." Rengganis terus mendesak.
"Baik Nimas... bersiaplah.." ucap Wisanggeni pelan.
Begitu mendengar perkataan dari Wisanggeni,. Rengganis segera mengangkat kedua tangan sambil memejamkan matanya. Begitu juga dengan Wisanggeni. mereka sudah berpikir untuk segera menyelesaikan urusan ini, meskipum dengan resiko berat yang akan mereka hadapi.
Terlihat angin kencang tiba-tiba menderu dari luar goa, dan langit cerah seketika berubah menjadi warna hitam.. Tidak diduga angin kencang itu seperti memiliki sebuah lidah berbentuk kilat, yang kemudian masuk menerjang ke dalam goa. Kilat itu melesat masuk ke telapak tangan Wisanggeni, kemudian laki-laki itu mencoba mengendalikannnya beberapa saat di tangannya.
"Tahan nafasmu Nimas..." bisik Wisanggeni dari belakang.
**********
__ADS_1