
Menjelang dini hari, Wisanggeni bersama Gayatri dan Niluh akhirnya sampai di padhepokan Klan Bhirawa yang ada di kota Laksa. Beberapa orang yang berjaga terlihat mengambil sikap siaga, karena mengira ada orang asing yang datang masuk ke wilayah Klan Bhirawa. Tetapi Wisanggeni langsung mengangkat tangan memberi isyarat pada mereka, karena tidak mau kedatangannya menimbulkan keributan di pagi ini.
"Maafkan kami Den bagus.., kami tidak mengenali kedatangan Den Wisang." orang-orang itu mendatangi Wisanggeni, dan meminta maaf padanya.
"Apakah masih ada satu kamar yang kosong dan dalam keadaan bersih?" Wisanggeni menanyakan keberadaan kamar untuk ditempati Gayatri dan Niluh agar mereka bisa beristirahat.
"Ada Den bagus..., untuk Aden atau untuk dua gadis muda ini?" orang-orang itu tidak mengenali Gayatri dan Niluh, karena sudah sangat lama mereka tidak bertemu.
Wisanggeni tersenyum pada dua gadis sepupunya itu, dia memberi isyarat untuk tidak mempermasalahkan karena dua orang itu tidak mengenali mereka. Gayatri dan Niluh tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Antarkan Nimas Gayatri dan Niluh untuk beristirahat. Dimana kamar Nimas Rengganis berada?" Wisanggeni meminta orang-orang itu untuk menunjukkan kamar untuk beristirahat Gayatri dan Niluh, sekalian menanyakan dimana kamar Rengganis.
"Den ayu menempati kamar yang biasa Den bagus Wisang tempati, ada di pojok luar Aden.." orang-orang itu kembali menjawab pertanyaan Wisanggeni. Setelah mendapatkan penjelasan, Wisanggeni kembali mendatangi Gayatri dan Niluh.
"Gayatri.., Niluh.., ikutilah mereka. Kita akan langsung beristirahat malam ini. Baru besok pagi kita akan menjumpai ayahnda dan kakangmas." Wisanggeni mengajak kedua saudara sepupunya itu untuk beristirahat.
"Baik Wisang.., ayo Niluh kita ikuti orang-orang itu!" Gayatri langsung mengajak Niluh untuk beristirahat. Melihat dua gadis itu sudah berjalan lebih dulu, Wisanggeni mengikutinya. Laki-laki muda itu langsung menuju kamar yang digunakan istri pertama dan putranya istirahat.
"Tok..., tok..., tok.." melihat pintu dikunci dari dalam, Wisanggeni mengetuk pintu dengan pelan.
"Krett.." tidak berapa lama, pintu dibuka dari dalam. Senyum kebahagiaan terlihat di wajah Rengganis, saat tahu siapa yang sudah mengetuk pintunya.
"Akang sudah sampai...," pelukan hangat dan erat langsung terjadi di antara mereka berdua. Wisanggeni langsung mengangkat tubuh Rengganis dan membawanya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Krett.." kembali pintu tertutup dengan satu kaki Wisanggeni mendorongnya.
"Klek.." tangan Rengganis dengan cepat menaik pengait kayu untuk mengunci pintu tersebut. Melirik Chakra Ashanka yang tertidur pulas, memberi kesempatan pada dua orang itu untuk menuntaskan rasa kangen mereka.
Ciuman demi ciuman terhujam dari bibir Wisanggeni di seluruh tubuh istrinya. Kedua bibir itu langsung menyatu seperti direkatkan dengan lem. Hisapan, belitan lidah keduanya saling mengisi, bahkan tidak memberi kesempatan mereka untuk saling beristirahat.
"Nimas..., Akang akan mandi dulu.. Akang baru saja kembali dari perjalanan jauh. Banyak debu yang menempel di tubuh Akang.." setelah beberapa saat, Wisanggeni berbisik di telinga Rengganis. Laki-laki muda itu bermaksud untuk membersihkan tubuhnya dulu. Dengan tatapan kurang puas, Rengganis melepaskan pelukannya.
**********
Keesokkan harinya, Gayatri dan Niluh tidak mempercayai penglihatannya. Mereka berpikir jika tidak akan lagi bertemu dengan orang-orang dari Klan Bhirawa, tetapi yang mereka lihat saat ini berbeda dengan apa yang mereka pikirkan. Di pagi hari ini, orang-orang sudah bersiap untuk menjalankan kegiatan mereka masing-masing.
"Nimas Niluh...,. benarkah ini kamu Nimas..?" Niluh menoleh ke samping kiri, perempuan ini mendengar ada yang memanggil namanya.
"Iya Niluh..., untungnya aku dan beberapa orang dari Klan Bhirawa ditemukan oleh Wisanggeni. Aku tidak tahu akan menjadi apa, jika tidak bertemu dengan Wisanggeni." Lasmini bercerita pada Niluh. Keduanya duduk di bawah tritisan air.
"Akupun demikian Lasmi..., setelah mendapatkan kabar kehancuran Klan Bhirawa, aku dan kang Sentono menjadi terpuruk. Untungnya Wisanggeni datang memberi tahukan pada kami, jadilah aku ikut Wisang kesini." Niluh juga menceritakan kisahnya pada Lasmini.
"Kemana kedua orang tuamu Lasmini?? Aku belum menemukan ayahndaku disini, padahal kang Aji pernah berkata padaku jika ayahnda juga berada di kota Laksa." kembali Niluh berbicara dengan suara pelan, tampak kekecewaan terbersit pada pancaran matanya. Melihat kekecewaan di mata Niluh, Lasmini segera memegang pundak Niluh.
"Hmm.., paman ada juga disini Niluh. Beberapa kali aku sering berjumpa dengan paman. Mungkin saat ini, paman lagi menerima pekerjaan memberikan pengawalan pada para bangsawan." mendengar ucapan Lasmini, mata Niluh kembali bersinar.
"Benarkah yang kamu katakan Lasmi.., aku sangat bahagia mendengarnya." Niluh kembali bertanya.
__ADS_1
"Iya Niluh.., aku tidak akan membohongimu. Beda denganku..., kedua orang tuaku menjadi korban dalam pertarungan itu. Aku sekarang tidak memiliki ayahnda dan ibunda Niluh." berbicara tentang orang tua, kembali mengingatkan Lasmini tentang kenangan pedih beberapa warsa yang lalu.
"Sudahlah lupakan semuanya Lasmini.., kedua orang tuamu tetap akan hidup selamanya di hati putra putrinya." Niluh kembali memeluk dan menghibur Lasmini.
Lasmini mengangguk, kemudian gadis itu berdiri. Dia teringat jika hari ini giliran dia untuk menjaga kedai kebutuhan sehari-hari di pasar.
"Mau kemana kamu Lasmini..., sepertinya ada urusan yang harus kamu selesaikan?" dengan tatapan kebingungan, Niluh bertanya pada Lasmini.
"Aku harus segera berangkat ke kedai Niluh. Kebetulan hari ini giliran aku menjaga kedai, yang ada di dekat pasar. Aku tinggal dulu ya.., nanti sore kita akan berbincang-bincang lagi." Lasmini menjawab pertanyaan Niluh.
"Baiklah Lasmini.., lakukan pekerjaanmu! Aku akan berkeliling tempat ini, sepertinya banyak yang aku lewatkan tentang perkembangan Klan kita. Klan Bhirawa saat ini jauh lebih berkembang, daripada saat masih di kota sebelumnya." Niluh melambaikan tangan pada Lasmini, gadis itu kemudian melangkah menuju halaman belakang.
Sinar matahari pagi tampak menembus pepohonan membentuk siluet yang indah. Niluh merentangkan kedua tangannya ke samping, terasa nyaman dan tentram bisa berkumpul lagi dengan saudara satu Klan.
"Niluh.., kamu sudah datang rupanya?" suara Lindhuaji mengejutkan gadis itu. Niluh menoleh, terlihat Lindhuaji sedang menuntun putranya.
"Iya Kang Aji ., dini hari kami bertiga dengan Wisang dan Gayatri sudah sampai sini." ucap Niluh membalas sapaan Lindhuaji.
"Mau kemana Akang.., sudah besar ternyata putramu sekarang." Niluh memegang pipi putra Lindhuaji. Tetapi tidak pernah bertemu dengan gadis itu, putra Lindhuaji bersembunyi di belakang tubuh ayahndanya.
"Mau ke halaman belakang Niluh.., mau cari keringat. Kebetulan ada jadwal latihan anak-anak Klan Bhirawa Mau bergabung?" Lindhuaji menawarkan pada Niluh untuk mengikutinya. Merasa tidak memiliki pekerjaan, Niluh mengikuti langkah Lindhuaji.
********
__ADS_1