Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 446 Energi Negatif


__ADS_3

Warga yang ada di Alas Kedhaton tiba-tiba saja sudah berkumpul semuanya, dan mereka duduk bersila di atas tanah. Di atas mereka, duduklah Wisanggeni dan Rengganis dengan ditemani oleh Ki Sancoko dan Sukendro. Melihat tatapan orang-orang yang ada di perkampungan itu, mata mereka seperti menyiratkan sebuah harapan baru untuk dapat membebaskan leluhur mereka dari penyiksaan yang tidak pernah berujung itu. Wisanggeni dan Rengganis saling bertatapan, tidak ada pilihan lain lagi bagi mereka berdua. Mungkin memang sudah menjadi catatan takdir bagi mereka, untuk membebaskan mereka dari penderitaan orang-orang itu.


"Ki Sancoko.. bisakah Aki menceritakan, sebenarnya apa yang terjadi dengan leluhur kampung Alas Kedhaton. Ketika tadi kami memasuki padang rumput, kami merasakan ada kekuatan besar yang penuh dengan aura negatif, tampak menyelubungi tempat itu. Dan kamipun juga menebak, jika keberadaan Ki Sancoko di tempat itu, sudah mempersiapkan diri dengan melapisi tubuh dengan energi positif. Bukankah demikian Aki..?" dengan suara lirih, Wisanggeni bertanya pada pemimpin Alas Kedhaton itu.


Ki Sancoko diam, dan tersenyum pahit.., kemudian..


"Benar apa yang kamu ucapkan anak muda... Beberapa puluhan warsa yang lalu, sebenarnya kami tidak tinggal di tengah hutan ini. Leluhur kami bermaksud untuk meningkatkan ilmu kanuragan, dan mereka bergabung dengan perguruan Tlatah Putih. Namun di tengah jalan... gerombolan Alap-alap mencegat dan akhirnya menawan para sesepuh, untuk mengajaknya bergabung dengan gerombolan mereka." Ki Sancoko mengawali ceritanya.


Wisanggeni menggenggam tangan Rengganis, keduanya mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka menyadari, jika Gerombolan Alap-alap sudah mereka musnahkan sangat lama, Tidak disangka ternyata kekuatan negatifnya masih tertinggal di tempat ini. Tugas berat untuk mereka membersihkan tempat itu kembali, dan membersihkan laten kejahatan besar di masa yang akan datang.


"Ternyata kala itu, mengetahui bagaimana kejahatan dan sepak terjang dari Gerombolan Alap-alap, para sesepuh kami menolak. Akhirnya orang-orang itu marah dan menarik sukma dari para leluhur kami, dan membiarkan jasadnya terkurung di goa-goa itu anak muda. Beberapa dari para sesepuh yang bisa menyembunyikan diri, memilih untuk menunggui mereka sambil menunggu waktu untuk kebebasan mereka. Tetapi ternyata itu hanya pepesan kosong saja. Itulah anak muda.. sekelumit cerita kenapa warga kami memutuskan untuk menyendiri di tempat ini." terlihat wajah Ki Sancoko tertunduk ke bawah. Air mata tergenang di sudut mata mereka..


Wisanggeni mengambil nafas, laki-laki itu juga menyadari betapa besarnya kekuatan hitam yang dimiliki Gerombolan Alap-alap. Bahkan untuk menumpasnya beberapa warsa yang lalu, Wisanggeni harus menyatukan diri dengan para pendekar dari berbagai penjuru untuk menghancurkannya. Tidak diduga, ternyata sebagian kecil kekuatannya yang tertinggal, masih bisa menyebabkan kekacauan seperti ini.


"Aki dan juga para warga yang lain.. Mohon ijin dan restu dari kalian.. kami berdua akan mencobanya. Meskipun kami sendiri tidak yakin apakah akan bisa membersihkannya kembali, namun kami akan berusaha." Wisanggeni akhirnya menyetujui untuk memberikan bantuan pada warga Alas Kedhaton.

__ADS_1


Begitu laki-laki itu selesai berbicara, tepuk tangan dan sorak sorai dari semua warga terjadi di tempat itu. Wajah sendu dan kelam orang-orang itu, menjadi sumringah.. mereka merasa ada harapan baru untuk membebaskan diri mereka dari beban berat yang ada di pundak mereka.


"Terima kasih anak muda.., Nimas.. istirahatlah dulu untuk beberapa saat. Esok pagi.. kalian berdua bisa mulai melihat-lihat ke goa-goa yang ada di padang rumput itu." dengan perasaan senang yang tidak terungkapkan, Ki Sancoko meminta pasangan suami istri untuk beristirahat.


*********


Tengah Malam


Saat para warga Alas Kedhaton sudah terlelap di alam mimpi, Wisanggeni dan Rengganis terbangun, Mereka terduduk dan saling mengedipkan mata. Mereka memang menunggu saat ini, di kala para warga sudah terlelap, mereka ingin datang ke goa yang ada di padang rumput tersebut. Meskipun mereka sudah berada di tempat yang sedikit jauh dari goa-goa tersebut, tetapi aura negatif masih tertiup angin menerpa situasi di pemukiman tersebut.


"Apakah kamu sudah siap Nimas.. ingat perjalanan kita kali ini akan memiliki tingkat bahaya yang tinggi. Kita bisa ingat beberapa warsa yang lalu, sampai kakang harus menjalin ikatan dengan ibunda Parvati.. Maharani, semua juga berawal dari kejadian ini. Bahkan.. nyawa kita mungkin akan kita pertaruhkan untuk membebaskan penderitaan warga Alas Kedhaton ini.." Wisanggeni mengajak bicara Rengganis.


Pasangan suami istri itu saling memandang dan tersenyum, kemudian keduanya berpelukan. Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukan tersebut..


"Mari Nimas.. kita harus berjalan pelan untuk meninggalkan perkampungan ini. Kita tidak bisa melibatkan mereka untuk terlibat dalam masalah ini. Penderitaan mereka sudah cukup lama dan panjang, jangan kita tambah lagi dengan kebodohan untuk beradu dengan kekuatan Gerombolan Alap-alap." ucap Wisanggeni, sambil pelan-pelan turun dari bangsal.

__ADS_1


Rengganis menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya. Pasangan suami istri itu dengan hati-hati berjalan meninggalkan bangsal tersebut. Sebelum mereka berjalan lebih jauh, tatapan Rengganis bertatapan dengan tatapan mata seorang anak kecil yang tadi disentuh dagunya. Tatapan mata itu terlihat kosong, dan memandang Rengganis dengan penuh pengharapan.


"Ada apa Nimas.. apa ada yang menarik perhatianmu..?" Wisanggeni bertanya pelan.


Rengganis menunjuk ke tempat anak kecil itu berbaring dan sedang menatapnya. Wisanggeni tersenyum ketika melihat sikap anak kecil itu.


"Tatapan anak itu menunjukkan adanya harapan, agar kita bisa membebaskan mereka Nimas. Cepatlah.. kita tidak memiliki waktu lagi." Wisanggeni segera mengajak Rengganis untuk meninggalkan tempat itu,


Tanpa menjawab, perempuan muda itu segera mengikuti suaminya. Pasangan suami istri itu menyibak kegelapan malam, mereka mencari jalan untuk menuju ke tempat. Mata mereka dengan tajam menatap ke arah pepohonan, dan tampak binatang malam menyingkir melihat kedatangan dua orang itu.


"Kita akan langsung masuk ke dalam goa, atau melakukan pengamatan terlebih dahulu kakang. Aura pekat energi negatif mereka sudah tercium dari tempat ini. Sepertinya kita harus menyiapkan pertahanan terlebih dahulu.." Rengganis berhenti dan memberikan peringatan pada suaminya.


"Benar katamu Nimas... kita keluarkan dulu sebagian dari kekuatan energi kita. Gunakan energi yang kita serap dari makam kuno leluhur Eyang Widjanarko.. energi kuno itu akan dapat membantu kita untuk menetralisir energi negatif itu.." Wisanggeni menyetujui usulan dari istrinya.


"Baik kakang.. Nimas akan segera bersiap." sahut Rengganis,

__ADS_1


Pasangan suami istri itu segera duduk bersila, dan masuk dalam posisi meditasi. Tidak lama kemudian, aura tebal tampak mengalir keluar dari tubuh mereka kemudian menyelimuti tubuh mereka dengan cepat.


*******


__ADS_2