Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 416 Undangan Baik


__ADS_3

Wisanggeni agak berpikir melihat warna darah itu, tetapi dengan cepat laki-laki itu menetralkan pikirannya. Kemudian Wisanggeni merogoh kepisnya, kemudian kembali mengeluarkan porselin obat herbal dari dalamnya. Tanpa bicara, laki-laki itu kembali mengusap garis tengah punggung Ki Bawono, dan beberapa kali membuat putaran di tulang belikat laki-laki tua tersebut.


"Ki Bawono.. minumlah kapsul ini segera, dengan menggunakan air putih itu. Pil herbal ini akan melonggarkan ikatan-ikatan darah tersumbat, juga akan menghilangkan rasa nyeri pada saraf-saraf di tubuh Ki Bawono." Wisanggeni menyerahkan pil herbal pada laki-laki tua tersebut. Setelah mengamati pil yang sudah berpindah ke tangannya, laki-laki tua itu kemudian memasukkan pil ke dalam mulutnya. Satu gelas air putih segera diminumnya untuk menggelontorkan pil ke dalam kerongkongannya.


Beberapa saat kemudian, rasa hangat yang kemudian berubah menjadi rasa panas menyebar dari kerongkongan Ki Bawono, kemudian bergerak mengalir ke sela-sela saraf laki-laki itu. Ki Bawono mengolah rasa dan pernafasannya, kemudian beberapa saat mengendalikan rasa itu. Tidak lama sesudahnya, laki-laki tua itu.. menghembuskan nafas keluar.


Wisanggeni tersenyum melihat laki-laki tua itu, kemudian laki-laki itu menghentikan gerakan tangannya di punggung Ki Bawono. Rengganis melihat hal itu dengan penuh tanda tanya, namun perempuan itu sedikitpun tidak menyela apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Ki Bawono.. ijin bertanya, dan sebelumnya mohon dimaafkan atas kelancangan saya." Wisanggeni meminta ijin pada laki-laki tua di depannya itu.


Kening Ki Bawono berkerut, namun dengan cepat laki-laki tua kembali menetralisir ekspresinya.


"Ada apa nak mas.. hal apakah yang akan nak mas tanyakan kepada laki-laki tua ini?" sambil tersenyum, Ki Bawono menanggapi perkataan laki-laki muda itu.


"Apakah Ki Bawono pernah bertarung dengan seseorang..., karena tadi saya mengenali ada racun dadap hitam pada darah yang dimuntahkan oleh Aki..?" dengan suara lirih, Wisanggeni mengkonfirmasi penglihatannya.

__ADS_1


Ki Bawono terdiam, kemudian laki-laki itu tersenyum getir. Tampak tatapannta beralih ke ruang kosong, seolah laki-laki itu kembali ke peristiwa yang pernah dialaminya.


"Hal itu sudah berlangsung sekitar dua warsa yang lalu Nak mas.. Pertemuan kami terjadi karena ketidak sengajaan dengan Ki Banyusosro di tlatah wetan. Karena perbedaan salah paham di antara kami, akhirnya memicu pertarungan di antara para pendekar kala itu. Sungguh apes, akhirnya laki-laki tua ini terkena pukulan yang sangat menyakitkan. Itulah awal mula rasa sakit yang sering menghentak di dadaku.. dan ternyata ada racun yang tidak aku ketahui telah bersemayam dalam tubuh renta ini." sambil tersenyum pucat, Ki Bawono menceritakan asal mula dari penyakit yang ada di dadanya.


"Tidak perlu khawatir Ki.. racun dadap hitam ini bisa dihilangkan dengan ramuan herbal. Hanya saja, menurut Wisang.. Ki Bawono terlambat menyadarinya, sehingga tanpa sadar racun ini sedikit demi sedikit meracuni organ dalam tubuh Ki Bawono." Wisanggeni menjelaskan,


"Hmm.. apakah racun ini bisa hilang sama sekali Nak mas.. Namun jikapun tidak bisa.. usia Aki juga sudah cukup tua.. tidak akan menjadi masalah, jika Aki kembali ke asal yaitu kembali ke dalam tanah." Ki Bawono tersenyum getir.


"Bisa Aki... untuk tahap awal pemulihan. Ki Bawono rajin-rajinlah meminum daun Gondoruso, daun Kelor yang diulek halus sebanyak satu genggam tangan kita. Tumbuk atau ulek sampai halus daun-daun tersebut, dan campurkan dengan air, lalu minumlah. Lakukan hal itu setiap pagi dan sore sampai dengan dua purnama. Suatu saat.. kunjungilah Sendhang yang ada di tengah hutan, berendamlah disana Ki.. Air sendhang itu akan membantu menetralkan pengaruh buruk dari racun dadap hitam." Wisanggeni menyampaikan saran untuk menangani pengobatan racun yang terserap di tubuh laki-laki tua itu.


"Lupakan Aki.. kami yang berterima kasih mendapatkan peringatan ini. Putriku Parvati.. putraku Chakra Ashanka.. beri salam pada paman Bawono." menyadari jika kedua putra ada bersamanya, Wisanggeni meminta keduanya untuk menyapa laki-laki tua itu.


Dari belakang, Parvati dan Chakra Ashanka diikuti oleh Sekar Ratih dan Ayodya Putri melangkahkan kaki menghampiri Ko Bawono. Keempat anak muda itu menghaturkan sungkem pada laki-laki tua itu, dan Ki Bawono hanya tersenyum merasa tidak enak hati. Namun dengan penuh trapsilo.. Chakra Ashanka tetap menghaturkan sungkem untuk menghormati pihak yang lebih tua.


"Anak-anak muda yang sangat terdidik, penuh dengan etika tata krama yang bagus. Berbahagialah nak mas Wisanggeni, Den Ayu Nimas Rengganis.. kalian sangat beruntung bisa membesarkan dan memberikan didikan atas trapsilo dan tata krama keempat anak muda ini." Ki bawono menyanjung kesopanan keempat anak muda itu.

__ADS_1


"Bukan hanya saya Aki.. Nimas Rengganis yang lebih banyak mendampingi dan membersamai mereka semuanya. Selain itu, pengalaman mereka di masyarakat, juga membantu membentuk mereka Aki.. Tetapi.. itu semua tidak boleh membuat mereka menjadi sombong dan besar kepala. Mereka tetap harus santun, kepada siapapun.. terutama kepada pihak yang lebih tua.." Wisanggeni menanggapi pujian Ki Bawono.


Tiba-tiba Chakra Ashanka terlihat gelisah, sepertinya anak muda itu ingin segera beranjak dari tempat ini. Ibundanya Rengganis yang menyadari kegelisahan putranya, memegang bahu suaminya. Untungnya Wisanggeni segera menangkap isyarat yang diberikan oleh Rengganis.


"Aki.. sepertinya kami tidak bisa untuk berlama-lama di tempat ini. Ada sesuatu yang harus segera kami bereskan." untuk bisa dengan segera meninggalkan tempat itu, Wisanggeni segera berpamitan dengan Ki Bawono.


Laki-laki tua itu seperti belum mau berpisah dengan Wisanggeni dan keluarganya, namun melihat ekspresi Chakra Ashanka yang seperti memiliki sesuatu hal, yang harus segera diselesaikannya, akhirnya Ki Bawono hanya mengijinkan mereka untuk pergi dari situ. Sambil tersenyum, meskipun rasa kecewa masih jelas terlihat, ...


"Pergilah nak mas... jaga selalu anak cucumu dengan baik. Jika masih ada umur panjang, laki-laki tua ini akan selalu menagih janjimu untuk datang berkunjung ke padhepokan kami." Ki Bawono menyampaikan keinginannya.


"Dengan senang hati Ki.. kami pasti akan memenuhi undangan baik ini. Mari Ki.. kami berangkat pergi.." Wisanggeni segera menyanggupi permintaan itu.


Laki-laki itu segera berjalan meninggalkan pendhopo tempat Ki Bawono, untuk kembali menuju Kraton Kilen. Rengganis berjalan berdampingan dengan Rengganis, diikuti Parvati dan Ayodya Putri,. Berjalan di belakang sendiri, Sekar Ratih dan Chakra Ashanka. Beberapa pengawal memberikan pengawalan ketat pada rombongan itu. Dari belakang mereka, Ki Bawono dan orang-orangnya tampak mengiringi kepergian mereka.


**********

__ADS_1


__ADS_2