Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 425 Kesombongan


__ADS_3

Setelah mendengar kesanggupan tiga laki-laki yang bekerja di penginapan depan, akhirnya Rengganis berjalan meninggalkan mereka. Perempuan itu berpikir jika sudah merasa cukup memberikan pelajaran pada orang-orang itu, dan tinggal berpikir apa yang akan dilakukannya esok hari.


"Kukuruyuk.... kukuruyuk..." ayam jantan mulai berkokok, yang menandakan jika hari sudah menjelang pagi.


"Hari sudah mulai berganti pagi, tubuhku betul-betul merasa lelah dan ngantuk. Aku harus segera kembali ke kamar untuk beristirahat, sehingga jika kang Wisang mencariku, ayahnda Parvati tidak akan mencurigaiku." Rengganis meregangkan kedua tangannya, dan perempuan itu tanpa melihat lagi ke belakang segera berjalan cepat, menuju ke penginapan tempatnya menginap.


Rengganis terkejut melihat pemilik penginapan ternyata sudah terbangun. Laki-laki tua itu tampak sedang menyapu halaman depan penginapan. Rengganis berhenti dan berpikir.


"Paman pemilik penginapan itu tidak boleh melihatku masuk dari pintu depan. Akan muncul pertanyaan dari laki-laki itu jika melihatku berjalan sendiri masuk ke penginapan." Rengganis melihat ke sekeliling, Dan ketika melihat pohon trembesi besar yang tumbuh di samping penginapan, perempuan itu memiliki gagasan.


Tanpa berpikir panjang, Rengganis sudah melompat ke atas. Tidak lama kemudian perempuan itu sudah berada di dahan besar, yang dahannya mengarah ke genteng penginapan. Melihat dengan sekali lompatan, dirinya bisa masuk ke taman depan kamarnya, Rengganis tersenyum.


"Rupanya keberuntungan masih berpihak padaku. Tidak akan ada orang yang tahu, jika aku melewati tempat ini untuk masuk ke dalam kamarku kembali." gumam Rengganis pelan.


"Tap.. tap..." Rengganis melompat dari atas dahan menuju ke atas genteng, kemudian melompat turun ke ke bawah.


Tetapi perempuan itu terkejut, karena belum sampai kakinya menginjak tanah tubuhnya sudah terpeluk dengan erat. Belum sampai perempuan itu menyadari siapa yang berani menyentuhnya, orang itu sudah membawa Rengganis masuk ke dalam kamar. Tetapi mencium aroma tubuh pelaku tersebut, Rengganis diam dan hanya tersenyum membiarkan orang itu menjatuhkannya ke atas ranjang.


"Hmm.. sudah mulai berani ya, keluar sendiri tanpa memberi tahu suami." terdengar nafas hangat menghembus di belakang daun telinga perempuan itu.

__ADS_1


"Bukannya seperti itu kang, kenapa juga kakang diam saja tahu istrinya diganggu orang asing." ucap Rengganis pura-pura balik memprotes sikap Wisanggeni.


"Jika kakang tidak biarkan, bagaimana istri cantikku mampu untuk kembali melatih diri dan meningkatkan kekuatan. Kakang percaya dan yakin padamu Nimas.., dimana Nimas pasti akan bisa mengatasi masalah kecil dengan sangat baik." Wisanggeni membesarkan hati istrinya.


Rengganis yang memang hanya berpura-pura saja memprotes sikap Wisanggeni, tersenyum. Dengan cepat Wisanggeni memeluk erat tubuh Rengganis, dan untuk beberapa saat kedua tubuh itu berpelukan erat.


"Kang.. bagaimana jika Nimas segera kembali ke kamar. Nimas khawatir jika Parvati terbangun, dan akan mencari keberadaanku."teringat dengan putrinya, Rengganis berusaha melepaskan diri dari pelukan Wisang.


"Jangan khawatir Nimas, putri kita pasti akan tahu dan berpikir. Ibundanya bukan orang sembarangan, tidak akan ada yang berani bermain-main dengannya di tempat ini. Jadi.. jika tiba-tiba Nimas tidak ada di sisinya, gadis itu pasti sudah berpikir." Wisanggeni kembali menjelaskan pada istrinya itu.


"Maksud kakang, berpikir tentang apa gadis itu?" merasa bingung dengan perkataan suaminya, Rengganis menegaskan.


"Kakang mesum pikirannya." sahut Rengganis pura-pura marah. Tetapi dengan cepat, Wisanggeni kembali mengeratkan pelukannya dan kedua tubuh itu kembali menjadi satu. Tidak ada yang akan berani mengganggu pasangan suami-istri itu melampiaskan kerinduan mereka.


*******


Keesokkan harinya di penginapan depan


Beberapa orang datang berkumpul di sebuah ruangan dalam penginapan tersebut. Orang-orang yang terluka terkena serangan dari Rengganis, terlihat sudah dapat menguasai dirinya kembali. Muka lebam, dan kulit penuh warna biru dan darah yang sudah mengering banyak terlihat di tubuh mereka. Di depan mereka tampak pemilik penginapan yang bukan merupakan orang biasa, tampak dengan garang melihat pada mereka dengan mata tajam.

__ADS_1


"Apakah kurang banyak, bayaran yang aku berikan kepada kalian semua. Hanya untuk urusan sekecil ini saja, kalian sudah tergeletak tidak berdaya?" dengan suara keras, orang yang berpakaian gemerlap bertanya pada orang-orang itu.


"Ampun ndhoro Kakung... lawan kali ini memang tidak bisa dianggap remeh. Lihatlah pengawal kita yang terluka, mereka memiliki ilmu Kanuragan jauh di atas kami, tetapi tetap saja mereka terluka dan bahkan mengalami pingsan. Jadi jangan timpakan semua kesalahan hanya pada kami Ndoro..." salah satu dari mereka membela diri.


"Plak... terlalu banyak bicara kamu. Untuk itulah aku membayar kalian, jangan hanya merasa jumawa dengan Kanuragan kalian. Aku tidak akan segan-segan untuk mecat kalian semua, dan menggantinya dengan orang baru yang lebih baik. Hanya bisa bicara saja kalian.." sebuah tamparan diberikan pemilik penginapan pada orang yang menjawabnya.


"Ampun.. jangan pecat kami Ndoro..kami akan berusaha lebih baik. Tolong Ndoro.. ampuni kami semua. Jika Ndoro memecat kami semua, akan bekerja dengan tempat mana lagi kami Ndoro..." beberapa orang menunduk di hadapan laki-laki yang berpakaiannya gemerlap itu. Bahkan mereka menjatuhkan lutut mereka di atas tanah, memohonkan pengampunan pada laki-laki itu.


"Ampun... ampun.. Hanya itu saja yang bisa kalian lakukan. Mengurus hal seperti itu saja, kalian tidak becus. Aku tidak mau tahu.. aku beri kalian satu kesempatan lagi. Jika orang-orang itu masih berada disini, jajar dan singkirkan mereka dari kota ini. Kalau aku masih mendengar mereka membuat kekacauan, dan apalagi melihatnya maka kalian sendiri yang akan aku hajar. Camkan itu..." dengan mata menyala, laki-laki itu menghardik mereka.


"Baik, baik.. Ndoro. Nanti kami akan mengeroyok perempuan itu, jika berani mencampuri urusan kita Ndoro..." salah satu pengawasan mencoba menenangkan Ndoro kakung mereka.


"Apa katamu.. Perempuan???? Hanya dengan seorang perempuan saja, kalian sebanyak ini tidak mampu menghadapinya. Sungguh membalik dan sangat nista." mendengar jika lawan mereka adalah seorang perempuan, laki-laki itu terlihat terkejut dan sangat marah.


"Tetapi perempuan itu bukan perempuan biasa Ndoro kakung. Kanuragan yang dimilikinya sangatlah tinggi, dan baru kali ini kami melihat perempuan itu berada di tlatah ini." para pengawas itu mencolok membela diri.


"Aku tidak mau tahu.. Jika perlu, jika kalian nanti bertemu kembali dengan perempuan itu, panggil aku. Akan aku lihat sendiri bagaimana kemampuan atau Kanuragan dari perempuan yang dengan mudahnya membuat kalian menjadi seorang banci seperti ini.." dengan nada penuh kesombongan, pemilik penginapan ingin mengenal Rengganis.


"Baik Ndoro.., secepatnya akan kami beri tahukan pada Ndoro jika perempuan itu datang lagi kemari." bergegas pengawal menyahuti juragannya.

__ADS_1


********


__ADS_2