
Setelah dilakukan pembicaraan, akhirnya pemimpin desa menyatakan menyerah. Dan yang paling mengejutkan adalah, ternyata pemimpin desa itu bukan berasal dari penduduk pribumi di desa tersebut. Laki-laki paruh baya itu ternyata seorang yang sedang melakukan perjalanan, dan saat berhenti dan singgah di desa itu, muncul keinginannya untuk berkuasa di desa tersebut. Menggunakan bekal coin dan harta yang dia dapatkan, laki-laki itu menyuap beberapa warga yang bisa dia pengaruhi untuk mendukungnya sehingga bisa menjadi pemimpin di desa tersebut. Untuk mengembalikan semua harta yang sudah dia korbankan untuk menyuap, maka pengenaan upeti terhadap warga menjadi cara tercepat untuk mengembalikan kekayaannya itu. Bahkan, dari setiap hasil panen yang didapatkan warga desa, tidak segan-segan punggawanya memungut sampai dengan 40% untuk diserahkan kepada pihak desa.
"Kumpulkan perwakilan dari warga masyarakat desa ini di balai desa!! Ada pengumuman yang akan kami sampaikan pada warga masyarakat." Wisanggeni dengan suara tegas memerintah para punggawa desa untuk mengumpulkan perwakilan dari warga masyarakat desa. Ketakutan akan dihajar lagi oleh orang-orang yang dibawa Wisanggeni, para punggawa segera menjalankan perintah tersebut. Duduk di pojok ruangan, pemimpin desa yang semula dengan sombongnya dia berkuasa. Tatapan ketakutan terlihat jelas di sudut matanya.
"Baik Ki Sanak.., akan kami segera laksanakan perintah dari Ki Sanak." orang-orang itu bergegas meninggalkan balai desa untuk terjun langsung memanggil warga desa.
"Nimas.., minumlah dulu! Ajak yang lainnya, sini biar Ashan bersama dengan Akang." Wisanggeni mengambil alih Chakra Ashanka dari gendongan Rengganis. Kesibukannya bertarung dan berbicara dengan warga serta pemimpjn desa, melupakannya untuk sejenak menggendong putra laki-lakinya tersebut. Anak kecil itu menatap wajah ayahndanya sambil tangan mungilnya menepuk-nepuk janggut Wisanggeni.
"Baik Akang..., Nimas permisi dulu. Nimas akan ke belakang menemani Maharani, Niluh dan Gayatri." setelah menyerahkan Chakra Ashanka pada suaminya, Rengganis segera bergeser duduk di belakang persama dengan para kaputren lainnya.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Wisang..?" Pangeran Abhiseka bertanya pada Wisanggeni dengan suara pelan. Saat ini mereka masih menunggu para punggawa yang berkeliling untuk menyampaikan undangan pada warga desa.
__ADS_1
"Menurut saya Pangeran.., sudah tidak ada cara lain untuk melindungi jati diri Pangeran Abhiseka. menurut saya, sebaiknya Pangeran mengatakan dengan jujur kepada warga desa. Memang, kesalahan terbesar yang dihadapi kerajaan adalah hanya menerima pembagian upeti dari warga, tetapi terkadang melupakan kewajiban untuk membangun desa mereka." tidak bermaksud menggurui, Wisanggeni memberikan tanggapan atas pertanyaan dari pangeran. Mendengar jawaban Wisanggeni, Pangeran Abhiseka hanya tersenyum kecut. Perkataan itu terasa seperti sebuah sindiran yang dialamatkan untuk keluarga kerajaan. Sebagai bagian dari anggota kerajaan, mau tidak mau Wisanggeni merasa ikut tersentil.
"Iya Wisang.., benar apa yang kamu katakan. Aku juga menyadari keteledoran, bahkan kesewenang-wenangan masih banyak dirasakan masyarakat atas kepemimpinan ayahnda. Sesampainya di kerajaan, dengan cepat aku akan melaporkan temuan ini pada ayahnda." ucap Pangeran Abhiseka pelan. Laki-laki muda itu betul-betul merasa bersyukur dapat melihat sendiri bagaimana penderitaan rakyatnya. Padahal semua warga selalu menepati kewajiban mereka untuk mengirimkan upeti pada kerajaan.
"Bagus Pangeran.., yang paling penting adalah bagaimana upaya perbaikan kita ke depan untuk memimpin dan mengarahkan bawahan kita." Wisanggeni tersenyum, satu tangannya menepuk punggung Pangeran Abhiseka. Perlakuan yang diberikan Wisanggeni, sedikit menenangkan hati Pangeran karena rasa bersalahnya yang besar pada warga desa.
Wisanggeni dan pangeran Abhiseka menoleh, beberapa warga masyarakat sudah mulai berdatangan. Mereka sebenarnya bersedia datang bukan karena ajakan atau undangan dari para punggawa desa, tetapi karena cerita dari beberapa warga yang sudah ditolong oleh Wisanggeni dan teman-temannya.
************
"Baiklah aku akan mengambil alih pengumuman pada siang hari ini. Untuk siapa yang akan menjadi pemimpin desa kalian ini, semua akan kami kembalikan pada warga desa. Pemimpin lama kalian, akan kalian pilih lagi atau akan kalian usir dari desa ini merupakan hak kalian sebagai warga desa. Saya akan mengenalkan pada kalian Pangeran Abhiseka, beliau adalah putra dari raja kalian Prabu Sancaka." Wisanggeni mengawali acara dengan mengenalkan pangeran Abhiseka di hadapan warga desa. Mendengar perkataan Wisanggeni, warga desa saling berpandangan, dan tidak lama kemudian, hampir semua warga desa menjatuhkan kaki mereka untuk berlutut dan bersujud di hadapan Pangeran putra dari raja mereka.
__ADS_1
Melihat perlakuan dari warga desa yang semuanya bersujud dan berlutut di depannya, Pangeran Abhiseka langsung berdiri di samping Wisanggeni.
"Duduklah kembali seperti semula wargaku semuanya. Ampuni ayahndaku yang belum bisa memperhatikan warga masyarakatnya sampai jauh ke pedalaman. Aku berjanji, sesegera mungkin aku akan menyampaikan pada ayahnda untuk menjaga keseimbangan pembangunan di semua desa, yang menjadi bagian dari wilayah kerajaan kami." Pangeran Abhiseka mengangkat tangannya ke atas, meminta para warga untuk duduk kembali seperti semula.
"Terima kasih Paduka..., ampuni kami yang tidak bisa mengenali Paduka sebagai putra yang akan mewarisi kekuasaan Paduka raja." satu orang dari warga desa meminta maaf pada Pangeran Abhiseka.
Pangeran itu tersenyum, dengan tangannya laki-laki muda itu mencoba menenangkan warga desa yang mulai riuh.
"Tenanglah wargaku.., kebetulan aku hanya mampir di desa ini. Dan syukurnya dapat nelihat dan merasakan sendiri bagaimana kalian semua tertindas selama ini. Jangan khawatir.., ke depan mereka sudah tidak akan berani lagi mengganggu kalian. Jika aku masih boleh meminta, bisakan aku dan teman-temanku disediakan tempat barang semalam untuk beristirahat disini?" suasana ini sekalian dimanfaatkan Pangeran Abhiseka untuk menyampaikan keinginannya agar bisa menginap dan beristiahat di desa itu.
"Baik Pangeran Abhiseka, segera akan kami siapkan semuanya." seorang warga langsung berdiri, dan diikuti oleh beberapa warga yang lain.
__ADS_1
Melihat respon dari warga yang masih menerimanya, meskipun kerajaan tidak berlaku adil pada mereka, Pangeran Abhiseka merasa terharu. Laki-laki itu kembali mundur, dan meminta Wisanggeni untuk melanjutkan pembicaraan dengan warga desa lainnya. Wisanggeni langsung mengambil alih menyampaikan beberapa hal pada warga desa. Bahkan Wisanggeni berjanji untuk mengirimkan beberapa merpati untuk menyampaikan keluhan permasalahan pada raja dan pangeran di kerajaan. Semua wajah warga desa terlihat ceria, akhirnya setelah sekian lama, mereka bisa terlepas dari jeratan pemimpin yang tidak bertanggung jawab.
************