Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 346 Pikiran Bocah


__ADS_3

Setelah selesai menikmati makanan, dan juga hadirnya para penari perempuan yang memberikan hiburan, Bhadra Arsyanendra diajak oleh raja Adhyaksa untuk berbicara. Tetapi bocah kecil itu meminta Chakra Ashanka untuk menemaninya. Meskipun anak muda itu emnolak ajakan tersebut, tetapi bocah itu terus memaksanya untuk ditemani, Raja Adhayaksa yang sedikit merasa keberatan dengan hadirnya putra Wisanggeni itu, akhirnya memberikan ijin agar tidak menjadikan hati keponakannya menjadi murka.


"Bagaimana istirahatmu tadi malam Raden Bhadra, aku harap kamu dapat menikmati istirahat dengan suasana tenang." Raja Adhyaksa berbasa-basi bertanya pada keponakannya.


"Persis dengan yang ada dalam pemikiran paman. Bhadra bisa beristirahat dengan sangat berkualitas tadi malam paman, bahkan saat bangun pagipun, pelayan juga sangat rajin memberikan pelayanan kepadaku." bocah kecil itu menyahuti dengan cepat perkataan dari raja Adhyaksa.


Raja Adhayaksa terdiam, berkali-kali laki-laki itu melirik ke arah kursi yang diduduki Chakra Ashanka. Sepertinya laki-laki itu memiliki keraguan untuk berbicara masalah penting, tetapi ada pihak luar yang turut berada di tempat itu. Melihat hal itu, sepertinya Chakra Ashanka menyadarinya jika keberadaannya di tempat ini akan mengganggu. Tanpa ada yang meminta, laki-laki ini langsung berdiri dan bersiap untuk keluar meninggalkan tempat berlangsungnya pertemuan.


"Kakang Ashan.., apakah kakangmas akan meninggalkanku sendirian disini?? Bukannya aku sudah meminta pada kakangmas, apapun keadaannya kakangmas harus selalu berada disini, untuk mendampingiku." namun, tiba-tiba Bhadra Arsyanendra melarang anak muda itu melangkah keluar dari dalam tempat pertemuan,


Melihat hal itu, Raja Adhayaksa melihat bagaimana kedekatan hubungan antara dua anak muda itu. Akhirnya setelah menghela nafas..


"Duduklah anak muda.., kamu sebagai pihak luar diijinkan untuk berada disini. Sepertinya keponakanku masih meragukan tentang rencanaku. Mungkin Raden Bhadra masih memiliki pikiran, jika aku akan dapat membuatnya celaka." tiba-tiba terdengar suara Raja Adhyaksa yang menambahkan.


"Baik Pangeran.., Raja Adhyaksa.., mohon ijin saya tetap berada dalam ruangan ini." akhirnya sambil tersenyum, Chakra Ashanka mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat pertemuan. Anak muda itu kembali duduk di tempat yang sudah dipilihnya sejak tadi.


"Bisa kita mulai paman, ada hal apa kiranya yang akan kita bicarakan..?" tiba-tiba Bhadra Arsyanendra meminta raja Adhyaksa untuk segera memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Baiklah Raden Bhadra. Setelah kepergianmu tadi malam, aku masih tergelitik dengan perkataan-perkataan yang kamu ungkapkan kemarin. Paman mengakui, selama paman memimpin kerajaan, paman memang terlalu menggampangkan setiap permasalahan, dan cukup memanfaatkan keberadaan dari patih Wirosobo. Penyerangan yang terjadi di perguruan Gunung Jambu-pun, paman juga tidak mengetahui cerita sebenarnya. Sehingga banyak keping uang keluar untuk membiayai perang tersebut." akhirnya Raja Adhyaksa memulai pembicaraan.


"Jadi hal itu yang paman selama ini lakukan. Menurut pandangan kami, patih Wirosobo sudah membuat kesalahan yang besar. Orang tua itu telah melakukan penyerangan ke desa yang terletak di perbatasan dengan perguruan Gunung Jambu, dikarenakan desa itu digunakan sebagai tempat persembunyianku. Karena tidak dapat menahan gempuran dari para prajurit kerajaan, akhirnya rakyat meminta bantuan dan bersembunyi di perguruan Gunung Jambu, Akhirnya hal itu yang akhirnya dipelintir oleh paman patih.." dengan jelas, dan dibantu para pengawal, Bhadra Arsyanendra menjelaskan duduk perkaranya. Merasa tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, Chakra Ashanka hanya diam mendengarkan. Tidak sedikitpun anak muda itu turut berbicara.


Beberapa saat kemudian..


"Hmm..., jadi seperti itukah cerita yang sebenarnya. Kami akan mengirimkan beberapa orang untuk menyelidiki peristiwa ini, kita akan mencari tahu dan membuktikan cerita mana yang benar dan yang salah. Bukan berarti, aku tidak mempercayaimu Raden.. Hanya saja, aku perlu mencari tahu hal yang sebenarnya.." akhirnya Raja Adhayaksa membuat sebuah putusan.


"Monggo silakan paman prabu.. Semua menjadi hak dari paman.." Bhadra Arsyanendra hanya menanggapinya dengan perkataan yang singkat.


Merasa sudah saling melepaskan keraguan, akhirnya karena sudah memandang cukup, Bhadra Arsyanendra minta ijin untuk meninggalkan pasugatan. raja Adhyaksa memberikan ijin pada bocah kecil itu. Tetapi laki-laki itu berpesan pada Bhadra Arsyanendra, untuk mengajaknya bicara hanya berdua secara empat mata. Bocah kecil itu memberikan kesanggupan, kemudian mengajak rombongannya untuk pergi meninggalkan istana kerajaan.


Mengikuti janjinya dengan Raja Adhyaksa, Bhadra Arsyanendra akhirnya berangkat ke istana untuk bertemu dengan pemimpin kerajaan itu. Ketika para pengawas ingin menemani masuk ke dalam, bocah kecil itu melarang mereka untuk turut serta. Para pengawal akhirnya hanya menunggu di luar tempat mereka bertemu.


"Apa rencanamu selanjutkan keponakanku?? Apakah kamu sudah siap untuk menerima tampuk kepemimpinan ini?" dengan suara lirih, Raja Adhyaksa bertanya pada bocah itu.


Bhadra Arsyanendra tersenyum, dan bocah itu mengangkat wajahnya ke atas dan menatap pada Raja Adhyaksa.

__ADS_1


"Paman... Bhadra harap paman tidak bermain-main dengan amanah yang sudah ditetapkan oleh Ayahnda Sinuhun. Untuk saat ini, Bhadra masih merasa belum memiliki kemampuan paman.., dan masih berencana untuk meningkatkan kanuragannya di perguruan Gunung Jambu." bocah itu menanggapi perkataan pamannya.


"Perguruan Gunung Jambu, apakah aku tidak salah mendengarnya Raden Bhadra. Kenapa perguruan kecil itu yang kamu pilih untuk berlatih, kenapa tidak berlatih di Gunung Kawi?" Raja Adhyaksa terkejut, mata laki-laki itu menatap tajam ke arah Bhadra Arsyanendra.


"Boleh saja paman meragukan perguruan Gunung Jambu. Tetapi di perguruan itu, Bhadra tidak hanya akan berlatih Kanuragan. Tepo seliro, saling membantu, merasa dalam satu rasa persaudaraan, itu yang paling penting untuk membekaliku di masa depan paman. Hanya di perguruan itu, Bhadra dapat mempelajarinya." sambil tersenyum bocah ini menjelaskan kepada pamannya.


"Hhhaahhh..." terdengar Raja Adhyaksa menghela nafas.


"Dan satu lagi Paman, ... Bhadra tidak mau diatur dalam penentuan tata pamong kerajaan ini. Bhadra sudah memutuskan orang yang akan mendampingi dan memegang kekuasaan tertinggi di kerajaan Logandeng nantinya. semua yang akan terjadi di kerajaan ini, harus dengan sepersetujuannya." tidak diduga Bhadra menambahkan.


Raja Adhyaksa terkejut, dahi laki-laki itu tampak berkerut, berusaha memahami perkataan yang diucapkan oleh keponakannya itu. Apa yang ada di dalam pikiran bocah itu, sangat bertolak belakang dengan apa yang berkelebat di pikirannya.


"Hmmm.., tapi biarkan saja dulu. Bhadra masih seorang bocah, setiap saat pikirannya bisa mengalami perubahan." akhirnya Raja Adhyaksa menenangkan pikirannya sendiri.


"Bagaimana paman Adhyaksa, apakah paman sependapat dengan pikiran Bhadra?" terdengar suara Bhadra bertanya pada pamannya.


"Terserah apa yang ada di pikiranmu Raden.., untuk saat ini tidak ada pilihan lain. Paman akan mengikuti apa yang akan kamu lakukan." akhirnya dengan sikap pasrah, laki-laki itu menyetujui apa yang dikatakan oleh Bhadra Arsyanendra.

__ADS_1


"Paman sejak dulu memang yang paling mengerti apa yang Bhadra inginkan. Ada satu lagi Paman.." tiba-tiba bocah kecil itu masih memiliki permintaan.


*******


__ADS_2