
Kerajaan Logandheng.
Maharani segera merubah wujudnya kembali menjadi manusia biasa, karena sudah berhasil melewati gerbang pemeriksaan untuk masuk ke wilayah kerajaan tersebut. Semalam gadis itu tidak istirahat sama sekali, dan bahkan waktu di siang hari dihabiskan untuk berperang. Akhirnya saat ini, Maharani baru merasa lelah dan mengantuk.
"Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Luka di belakang leher, dan di punggung masih basah. Aku harus segera mencari tempat untuk beristirahat, aku tidak bisa memaksakan diri untuk tetap bertahan seperti ini." akhirnya Maharani mengakui, jika saat ini dia membutuhkan waktu untuk beristirahat. Perempuan itu mengedarkan tatapan ke sekiling. Terlihat wilayah itu sangat sepi, tidak terlihat ada yang hilir mudik lewat di tempat tersebut. Tetapi Maharani memaklumi apa yang dia lihat, karena waktu memang sudah masuk pada saat dini hari.
Tiba-tiba jauh di ujung jalan, Maharani masih melihat ada sebuah penginapan yang terbuka. Tidak mau memperlama membuang-buang waktu, perempuan itu segera bergegas mendatangi tempat tersebut. Dari luar penginapan yang hanya disinari oleh lampu teplok yang temaram di bagian depannya. Maharani masuk dan langsung menuju ke meja pemesanan.
"Selamat malam.., apakah ada orang disini..?" melihat tidak ada satupun orang di tempat itu, Maharani mengucap salam.
Tidak ada jawaban yang terdengar, perempuan itu berjalan lebih dekat menuju ke meja pemesanan. Tiba-tiba Maharani tersenyum, ternyata di belakang meja, ada seorang laki-laki paruh baya yang sedang tertidur. Perlahan Maharani mengetuk meja di depan laki-laki tersebut, dan tidak lama kemudian.. laki-laki itu terbangun.
"Maaf saya tertidur barusan.., ada apa Ki Sanak. Apakah ada yang bisa dibantu..?" dengan muka malu, sambil mengucek matanya laki-laki itu bertanya pada Maharani.
"Siapkan satu kamar untuk saya sekarang, saya ingin istirahat." tanpa membuang waktu, Maharani langsung memesan kamar. Tampak kelelahan terlihat di wajah perempuan itu.
__ADS_1
Laki-laki itu mengulum senyum, dan muncul penilaian yang tidak baik pada perempuan yang saat ini berdiri di depannya. Seorang wanita cantik, di waktu dini hari sedang sendirian, dan memesan sebuah kamar. Laki-laki itu berpikir jika saat ini, dia sedang berhadapan dengan seorang perempuan nakal.
"Apa yang kamu lihat.., apakah kamu tidak mendengar apa yang barusan aku katakan..?" melihat tatapan melecehkan dari laki-laki yang ada di depannya itu, dengan cepat Maharani menggertak laki-laki itu. Tatapan tajam terasa menghujan ke arah laki-laki di depannya itu.
"Jangan salah sangka Ki Sanak.., hanya harus saya beri tahukan, jika kamar untuk harga standar sudah habis terpesan semuanya. Yang tersisa untuk malam ini, tinggal satu kamar yang memiliki harga mahal untuk per harinya, yaitu dua keping emas." dengan gugup, laki-laki itu menjawab pertanyaan Maharani. Tidak tahu kenapa, laki-laki itu merasa tertindas dengan tatapan dari Maharani.
Maharani menghela nafas, perempuan itu menyadari jika malam ini dia sedang menjadi objek untuk dipermainkan. Tetapi memikirkan rasa perih luka yang ada di punggungnya, akhirnya tanpa berpikir ulang, perempuan itu langsung mengiyakan tawaran yang diberikan oleh laki-laki itu. Tidak diduga, Maharani meletakkan uang sebanyak enam keping uang emas di atas meja, dan mata laki-laki itu terbelalak.
"Ini sebagai uang panjer.., jika masih kurang jangan segan-segan untuk meminta tambahannya padaku. Segera tunjukkan kamarnya, aku sudah mengantuk." Maharani segera meminta pelayan itu untuk mengantarnya ke kamar. Laki-laki itu terkejut, tidak mengira jika perempuan di depannya itu akan bergitu royal. Laki-laki itu kemudian berdiri, kemudian berjalan mendekat pada Maharani.
"Silakan beristirahat Ki Sanak, saya hanya bisa mengantarkan sampai disini. Semua fasilitas yang tersedia di dalam kamar, semuanya bebas untuk dinikmati selama Ki Sanak menginap di sini." sambil masih merasa gugup, laki-laki itu meninggalkan Maharani sendiri. Tanpa menjawab, Maharani segera masuk ke dalam kamar, kemudian mengunci pintu.
**********
Di dalam kamar
__ADS_1
Maharani merendam tubuhnya pada ember dengan air yang sudah ditaburi dengan ramuan penghilang rasa sakit. Sambil mendesis perempuan itu menahan rasa sakit yang muncul di punggungnya itu. Semula perempuan itu tidak berpikir jika torehan pedang dari pasukan kerajaan Logandheng, akan bisa meninggalkan luka seperti itu. Tetapi, sepertinya pedang mereka sudah ada yang dioles dengan racun.
"Kang Wisanggeni.., sebenarnya aku malu untuk menyebut namamu. Sepertinya tidak pantas bagiku, tetapi jujur aku sangat merindukanmu. Aku membutuhkanmu kali ini..." tanpa sadar, dalam keadaan setengah tertidur, Maharani menyebut nama suaminya.
"Aku akan menunjukkan kepadamu, jika aku memang pantas untuk menjadi pendamping hidupmu, menjadi istrimu. Hanya doa dan pintaku, dimanapun saat ini kang Wisanggeni berada.., kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan selalu memberkahimu.." kembali bibir Maharani bergumam.
Beberapa saat berendam di air, dan setelah rasa nyeri dan perih di punggungnya berkurang, perempuan itu kemudian keluar dari dalam ember kayu. Menggunakan kain, perempuan itu kemudian mengeringkan air yang masih menetes kemudian mengenakan pakaian.
Perlahan Maharani berjalan menuju ke arah tempat tidur, kemudian mengeluarkan beberapa makanan kering di dalam kepis. Setelah memakan beberapa makanan, perempuan itu kemudian membaringkan tubuhnya di atas dipan. Maharani meluruskan kakinya ke bawah, sekaligus untuk melakukan peregangan, dan menghilangkan rasa pegal yang masih terasa di sekujur tubuhnya.
"Besok aku akan mencoba untuk memasuki kota, aku akan menyamar agar dapat masuk ke dalam istana kerajaan. Jika dimungkinkan, aku akan melihat, sebenarnya siapa yang saat ini menggantikan posisi raja, dan melakukan penindasan kepada rakyat yang tidak bersalah." kembali Maharani bergumam. Perempuan itu menatap langit-langit kamar di atasnya, membayangkan hal yang akan dia lakukan esok hari.
"Tapi.., aku harus segera beristirahat malam ini. Hari ini dan kemarin betul-betul melelahkan. Nimas Rengganis.., Parvati..., maafkan aku. Aku terpaksa untuk melakukan hal ini, karena aku ingin menghindarkan malapetaka yang bisa menghancurkan perguruan Gunung Jambu." Maharani tersenyum kecut, air mata tanpa sadar menetes di sudut matanya, ketika perempuan itu teringat akan putrinya Parvati.
"Untuk apa aku menghabiskan air mataku untuk hal sepele seperti ini. Aku yakin, jika terjadi apa-apa denganku, Nimas Rengganis dan Kang Wisanggeni akan memperlakukan Parvati dengan baik. Juga masih ada Chakra Ashanka yang akan menjaga adik perempuannya." dengan cepat, Maharani menghapus air mata. Kemudian perempuan itu mencoba untuk memejamkan matanya.
__ADS_1
**********