Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 47 Peta


__ADS_3

Sebuah kitab kuno ditemukan Wisanggeni dari dalam kotak kayu tersebut. Saat kitab tersebut diangkat, dibawahnya terdapat gelang yang terbuat dari kayu akar bahar dengan bentuk ukiran menyerupai kepala dan ekor ular. Wisanggeni mengangkat gelang itu, kemudian meletakkannya pada telapan tangannya. Tiba-tiba sebuah kilat menyambar dari langit mengenai gelang tersebut, dan sebelum laki-laki itu tersadar gelang itu terserap masuk ke dalam kulit melalui telapak tangannya.


"Ada apa ini tadi, fenomena apakah barusan yang ada di depanku?" Wisanggeni mengamati telapak tangannya, dan meskipun kilat baru saja menyambar tangannya, sedikitpun dia tidak melihat ada bekas serangan atau bagian kulit yang terbakar.


"Ataukah serangan itu untuk memperkuat seranganku? Aku akan mencobanya." sambil tersenyum, laki-laki muda itu berdiri. Kemudian dia mengangkat tangannya, dan mengarahkan telapak tangannya pada gundukan batu besar yang ada di pinggir sungai. Seketika muncul pikiran terlintas di otaknya, dia akan menggabungkan pukulan dengan kekuatan Pasopati.


Setelah membentuk segel sebentar, dengan lirih..


"Kekuatan Pasopati.."


"Clap.., bang.., bang.., bang.." batu besar yang terkena serangan beruntun dari kekuatan yang dilemparkan Wisanggeni, langsung lebur menjadi tanah.


Wisanggeni terkejut melihat apa yang terjadi di depannya, sambil tersenyum, laki-laki itu menghampiri bekas batu hitam yang sudah hancur menjadi debu. Betul-betul hancur, bahkan kerikilpun tidak dia temukan dari remuknya batu tadi.


"Auuuummm." Singa Ulung kembali mengaum.


"Maafkan aku teman, aku terlalu kagum dengan apa yang baru saja aku temukan. Aku sampai lupa dengan kehadiranmu disini. Mari kita tinggalkan tempat ini, sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa kita dapatkan disini!" Wisanggeni kemudian berjalan menghampiri Singa Ulung yang masih setia menunggunya.


Singa Ulung merundukkan badannya ke tanah, dia memberi kesempatan pada laki-laki muda itu untuk menaiki punggungnya. Sekali lompat, Wisanggeni sudah berada di punggung singa ulung itu.


"Singa Ulung..., aku tidak tahu dimana saat ini kita berada. Bahkan dimana Nimas Rengganis aku juga tidak tahu tempatnya. Aku ikut saja, akan kamu bawa kemana aku." Wisanggeni berbicara pada Singa Ulung.


"Auuummm." setelah mengaum, Singa Ulung segera mengangkat badannya, dan dalam sekejap mereka sudah berada di atas awan. Karena sudah pasrah akan dibawa kemana oleh binatang itu, Wisanggeni tidak merasa khawatir akan diturunkan dimana.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mereka di atas awan, Singa Ulung tiba-tiba turun dengan menukik tajam. Di tengah desa, Singa Ulung menurunkan Wisanggeni. Beberapa orang yang berada di sekitar itu, langsung menuju ke tempat dimana Wisanggeni dan binatang itu mendarat. Laki-laki muda itu tersenyum pahit, melihat dimana mereka saat ini berada. Tetapi karena keputusan sudah sepenuhnya dia serahkan pada binatang itu, Wisanggeni mengabaikan perasaannya.


Baru saja Wisanggeni melompat turun dari atas tubuh Singa Ulung, sebuah pelukan erat melingkar di pinggangnya. Bibir laki-laki muda itu membentuk sebuah senyuman, saat melihat gadis yang dia rindukan sedang memeluknya erat.


"Kang Wisang..., akhirnya Akang datang juga. Untung Anis tetap teguh untuk menunggu Akang, akhirnya orang yang kutunggu datang juga akhirnya." Rengganis langsung menceritakan tentang penantiannya.


"Maksud Nimas?? Berapa lama akang sudah meninggalkan Nimas Rengganis?" tanya Wisanggeni dengan suara lembut.


"Sudah tiga minggu Akang. Anis sudah dua minggu tetap menunggu Akang disini, sedangkan Anggoro, Sapto dan Hastho hanya tiga hari di sungai, dan sudah kembali kesini. Karena berpikir jika Akang tidak akan kembali kesini, satu minggu yang lalu, ketiga laki-laki itu meninggalkan desa ini."


"Terima kasih Nimas, aku harap selamanya Nimas akan selalu menungguku." kata Wisanggeni sambil tersenyum. Dia bahkan melupakan untuk merubah bentuk Singa Putih ke ukuran sebelumnya.


 


 


******************


 


"Darimana Nimas mendapatkan peta ini?" tanya Wisanggeni.


"Aku membelinya dari pedagang Akang di pasar. Saat Anis berjalan-jalan ke pasar untuk mengisi waktu menunggu Akang, aku menemukannya. Hanya dengan dua coin perak, aku bisa mendapatkan peta ini."

__ADS_1


Wisanggeni kembali mengamati gambar peta yang masih ada di tangannya, dia tampak puas dengan peta tersebut. Peta itu merupakan petunjuk untuk memasuki Gunung Baturetno, tempat tujuan mereka selanjutnya untuk menyelamatkan Ki Mahesa. Dia mengamati jalan yang harus mereka lewati, dan berapa lama mereka akan sampai ke tempat tujuan.


"Jika kita jalan kaki atau menggunakan kuda, kita akan sampai dalam waktu 1 bulan Nimas. Tapi aku yakin, dengan menaiki Singa Ulung, kita akan mempersingkat waktu perjalanan kita." ucap Wisanggeni tiba-tiba.


"Jalan kaki, naik kuda, atau naik Singa Ulung asalkan bersama dengan Kang Wisang, Anis akan ikut kang." kata Rengganis dengan manja. Matanya berkilat memancarkan rasa bahagia bisa berdekatan dengan laki-laki pujaan hatinya. Gadis itu sudah bertekad dalam hati, bahwa dalam kondisi apapun dia tidak akan meninggalkan laki-laki itu. Meskipun diusir dari Klannya, dia tetap akan memilih waktunya untuk dihabiskan dengan Wisanggeni.


Wisanggeni tersenyum mendengar perkataan yang diucapkan Rengganis, dia meraih kepala gadis itu kemudian menyandarkan di lehernya.


"Nimas.., jujur Akang sudah ingin memilikimu seutuhnya. Tapi.., banyak yang masih harus Akang lakukan, agar aku bisa dianggap pantas di hadapan keluargamu." kata Wisanggeni pelan sambil memberikan kecupan di kening gadis itu.


"Anis tidak peduli apapun Akang. Dalam keadaan apapun, akang selalu pantas bagi Rengganis. Bahkan jika saat inipun, Akang memintanya, maka Anis akan memberikan semuanya untuk Akang." kata Rengganis malu-malu. Pipi perempuan itu memerah semburat pink.


Wisanggeni menangkup kedua pipi Rengganis menggunakan kedua tangannya. Dengan perasaan tulus, dia memberikan kecupan di kedua pipi perempuan itu secara bergantian.


"Aku harus menjaga martabat keluargaku sayang, juga aku menghormati keluargamu. Kita akan bersabar, jika aku sudah berhasil membebaskan ayahnda.., secepatnya aku akan melamarmu untukku." laki-laki itu membuat janji secara tulus pada Rengganis.


"Meoongg." tiba-tiba singa putih yang sudah berubah bentuk menjadi kucing melompat ke pangkuan WIsanggeni.


"He..he..he.., kamu cemburu ya melihat kedekatanku dengan Rengganis?" Wisanggeni mengusap dengan lembut bulu-bulu di kepala singa putih. Singa Putih itu menggosok-gosokkan bulunya di perut Wisanggeni. Dengan perasaan gemas, Rengganis mengangkat tubuh kucing itu, kemudian menciumnya di hadapan Wisanggeni.


"Kali ini aku ijinkan Nimas mencium Singa Ulung, tetapi jika laki-laki lain, maka saat itu juga Akang akan memakanmu."


"Ha..ha..ha.., masak sama binatang peliharaan sendiri akan cemburu kang."

__ADS_1


 


********************


__ADS_2