
Seorang perempuan tua berwajah teduh tersenyum menatap Wisanggeni, Rengganis dan Parvati. Meskipun ketiga orang itu bermaksud untuk menghancurkan pintu kecil batu di hadapannya, namun tidak terlihat ada wajah kekesalan sedikitpun dari perempuan itu. Perempuan tua itu tetap tersenyum, dan melihat pada Parvati. Wisanggeni berpikir, kenapa perempuan tua itu menatap Parvati. hal itu bisa jadi terkait dengan orang yang berhasil membuka pagar batuan hitam di depan sana. Dilandasi untuk perlindungan putrinya dengan Maharani, Wisanggeni memegang punggung Parvati kemudian memundurkannya ke belakang. Setelah gadis muda itu berada di belakang Wisanggeni, dengan cepat laki-laki menutup tubuh gadis muda itu dengan tubuhnya yang tinggi besar.
"Kedatangan kalian bertiga sudah lama aku nantikan.. masuklah ke dalam." dengan ramah, perempuan tua itu mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam.
Wisanggeni merasa curiga, dengan mudahnya perempuan tua yang baru kali ini mereka kenal, mempersilakan mereka masuk dengan mudah. Apalalgi mereka sudah masuk tanpa ijin ke wilayah mereka, yang sudah mereka kelilingi dengan pagar yang terbuat dari batuan hitam tempa, dan sangat sulit untuk ditembus orang biasa. Rengganis dan Parvati memegang lengan Wisanggeni, masing-masing satu lengan di kanan kiri laki-laki itu.
"Tempat apa ini Nini.. kenapa dengan mudahnya Nini mempersilakan orang asing masuk ke dalam. Apalagi kedatangan kami kesini, jelas-jelas tanpa ada undangan dari siapapun. Hanya karena unsur ketidak sengajaan kami bisa menemukan tempat ini, dan berhasil masuk ke dalamnya," Wisanggeni mempertegas keraguannya.
Perempuan tua itu membalikkan tubuhnya ke belakang, masih dengan senyum berkembang di bibir keriputnya, perempuan tua itu menatap pada ketiga orang itu. Tidak ada rasa tersinggung terlihat dari wajah tuanya, tetap keramahan yang tampak di wajah perempuan tua itu.
"Jangan mudah menafsirkan sesuatu sebelum mengetahui hal yang sebenarnya anak muda. Sudah beberapa warsa aku menunggu kedatangan kalian. Masuklah.. aku yakin dengan kekuatanmu juga istrimu.. kamu akan mudah mengalahkanku. Apalagi putrimu yang cantik itu memiliki kekayaan energi yang sangat pekat, tidak mudah untuk bisa menembus kekuatannya.." perempuan tua itu kembali berbicara.
Selesai berbicara, perempuan tua itu berjalan masuk ke dalam ruangan kecil yang menyerupai sebuah goa batu. Rengganis dan Parvati menatap Wisanggeni, kemudian setelah berpikir sejenak, laki-laki itu segera mengajak kedua perempuan yang datang bersamanya untuk masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, mata mereka terbelalak melihat ornamen dan susunan ruangan tersebut. Goa yang terlihat sempit, ternyata setelah mereka masuk ke dalam, menjadi terlihat luas.
"Duduklah anak muda..., aku tahu. Kalian pasti lapar dan juga haus, karena makanan yang sengaja aku suguhkan kepada kalian, sedikitpun tidak ada yang kalian sentuh. Ternyata kalian cukup berhati-hati, dan menjaga dari segala kemungkinan." perempuan tua itu duduk di kursi yang juga terbuat dari pahatan batu hitam/
__ADS_1
"Baik Nini.. kami akan duduk. Kami harap, Nini tidak mengkhianati kepercayaan kami.." Wisanggeni segera duduk, kemudian meminta Rengganis dan Parvati untuk mengikutinya.
Beberapa saat, suasana di dalam ruangan itu kembali diam. Perempuan tua itu hanya tersenyum pada mereka bertiga, dan tangannya sejak tadi sibuk menyiapkan minuman hangat untuk ketiga tamu yang tidak diundangnya itu. Setelah ketiga cangkir itu berisi minuman jahe panas, perempuan itu memindahkannya di depan Wisanggeni beserta istri dan putrinya.
Wisanggeni memegang cangkir kayu tersebut, dalam hati laki-laki itu mengagumi kekuatan yang dimiliki oleh perempuan tua itu. Tidak terlihat ada api di tempat itu, namun cangkir yang dipegangnya terlihat dan terasa masih mengalirkan hawa panas. Membutuhkan energi dan kekuatan batin yang tinggi untuk mempertahankannya dalam kondisi tersebut.
"Nimas Rengganis, Parvati.. minumlah. Tidak ada pilihan lain bagi kita, selain kita harus menghormati pemilik pesanggrahan ini.." Wisanggeni berbicara lembut pada istri dan putrinya.
"Baik kakang..." kedua perempuan itu mengikuti permintaan dari laki-laki itu.
*********
Beberapa saat Wisanggeni menikmati kudapan dan minuman yang disajikan perempuan tua itu, tetap belum bisa mengetahui maksud dari perempuan itu menjamunya. Seakan-akan mereka bertiga memang seorang tamu yang datang di pesanggrahan itu. Sedikitpun perempuan tua itu juga belum membuka identitas dirinya pada mereka bertiga. Dan terasa tidak sopan, jika Wisanggeni menanyakan identitas dari perempuan itu, Jadilah mereka terlihat seperti saling menunggu.
"Nini.. kenapa nini membiarkan kami masuk ke dalam tempat ini. Sekarang ini, nini malah menolong kami, padahal kita tidak saling kenal sebelumnya. Jika Nini mengijinkan, agar tidak ada tipuan di antara kita, saya akan mengenalkan diri saya dan keluarga. Perempuan ini istri saya Nini.. namanya Nimas Rengganis. Sedangkan gadis muda ini adalah putri saya yang bernama Parvati.. Sedangkan nama saya sendiri adalah Wisanggeni Nini.." Wisanggeni mendahului mengenalkan dirinya pada perempuan tua itu.
__ADS_1
Perempuan tua itu tersenyum, kemudian mengangkat tangannya dan meminta Parvati untuk mendekat padanya. Tanpa ada pengulangan, Parvati datang dan mendekati perempuan tua itu tanpa sedikitpun rasa takut. Malah Rengganis yang menatap mereka dengan sedikit khawatir. Tapi Wisanggeni mengusap pelan lengan perempuan muda itu, agar membiarkan putrinya menghampiri perempuan tua itu.
"Gadis cantik... nini sudah lama menunggu kedatanganmu. Temanilah Nini di pesanggrahan ini untuk beberapa waktu, maukah Nimas Parvati." sambil tersenyum, tiba-tiba perempuan tua itu meminta Parvati untuk menemaninya beberapa saat di pesanggrahan.
Parvati diam, gadis muda itu tidak berani mengambil keputusan. Tatapan matanya tertuju pada ibundanya, kemudian ke ayahndanya Wisanggeni. Beberapa saat tidak ada yang bersuara di tempat itu..
"Nini.. apakah terlihat kurang adil, jika kami sudah mengenalkan siapa kami. Sedangkan nini sendiri tidak mau mengenalkan diriĀ Nini kepada kami. Sebagai kedua orang tua dari Parvati, tentu saja kami tidak akan dengan mudah menyerahkan putri kami pada orang asing seperti Nini. Apakah bisa dimaknai kata-kata yang saya ucapkan Nini...?" dengan tegas, Wisanggeni memberi tanggapan perkataan perempuan tua itu.
Perempuan tua itu tersenyum dan menatap ke arah Wisanggeni dan Rengganis. Parvati sedikit bergeser dari tempat duduknya, karena merasakan sebuah energi panas mengalirĀ dari perempuan tua itu.
"Ho.. ho.. ho.. ternyata masih ada juga yang tertarik dan ingin mengenal perempuan tua ini. Baiklah.. aku akan mengenalkan diriku pada kalian semua anak muda. Puluhan warsa yang lalu, orang memanggilku sebagai Nini Sinto Rini. Keserakahan, kekejaman manusia saat ini, memilihku untuk bersemayam di tempat ini. Karena ketenangan jiwa merupakan kunci dari semua kehidupan yang dicari setiap manusia." ucap perempuan tua itu.
Mendengar nama itu, Wisanggeni terkejut. Beberapa warsa silam, ketika masih kecil, Ki Mahesa sering menceritakan kehebatan perempuan tangguh yang bernama Sinto Rini. Namun... tanpa ada kabar, tiba-tiba saja perempuan tua itu menghilang.
**********
__ADS_1