
Rengganis membaca buku-buku kitab kuno sendiri di ruang penyimpanan buku di Jagadklana. Gadis itu selalu mengambil tempat duduk di pojok ruangan, sehingga tidak sering terlewati lalu lalang orang. Orang tuanya yang meminta Rengganis untuk bersosialisasi dengan lingkungan, karena sejak kembali dari perjalanan terakhir, gadis itu hanya mengurung diri di dalam kamar.
"Dari jauh aku merasa ruang penyimpanan buku ini menjadi lebih bersinar hari-hari terakhir ini, ternyata karena sinar kehidupan dunia duduk di ruang ini." dengan senyum lebar Laksito mendekati Rengganis.
Rengganis tidak menanggapi godaan itu, dia tetap mengarahkan pandangan pada buku yang ada di hadapannya. Sesekali tangannya membalik ke halaman berikutnya, dan semua itu diamati laki-laki yang masih berdiri di sampingnya.
Merasa tidak ada tanggapan dari gadis yang dia inginkan, mata Laksito menangkap setangkai bunga mawar yang merekah di balik jendela. Bergegas laki-laki itu mengulurkan tangannya dari dalam ruangan, dan dengan cekatan mematahkan bunga itu dari tangkainya. Dengan membawa satu tangkai bunga mawar, Laksito membalikkan badan untuk memberikan bunga itu pada Rengganis.
"Kemana gadis incaranku tadi?" Laksito bergumam, matanya dia edarkan ke sekeliling ruangan. Tetapi dia tidak menemukan keberadaan Rengganis.
"Sialan.., kemana Rengganis? Bisa-bisanya tanpa berkata apapun, dia meninggalkan aku sendiri." dengan muka jelek, Laksito bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Sesampainya di pintu keluar, dia melihat Rengganis sedang berbicara dengan Sayekti di halaman. Dengan cepat, Laksito menghampiri gadis-gadis itu.
"Selamat siang Nimas Yekti dan Nimas Anis.." Laksito memberi sapaan akrab pada mereka.
Kedua gadis itu menoleh padanya.
"Siang juga kang Laksito.., tumben kang, berada di ruang penyimpanan buku. Biasanya ke tempat latihan Kanuragan atau berkeliling di sekitar padhepokan." Sayekti tersenyum sambil menanggapi perkataan laki-laki itu.
"Sebenarnya tadi aku sudah berangkat untuk berjaga Nimas.., tetapi sesampainya di depan ruang ini.., aku melihat sinar kehidupan memancar dari dalam. Ternyata matahariku Rengganis sedang duduk di pojok ruangan." dengan senyuman lebar, Laksito memberikan bunga mawar pada Rengganis.
Rengganis tersenyum sinis, dan tidak mau mengangkat tangan untuk menerima mawar itu.
"Aku tidak suka orang yang dengan arogan memotong bunga ini dari keindahan tanpa adanya satu tujuan yang jelas." perkataan judes keluar dari mulut kecil Rengganis.
"Jangan salah sangka padaku Nimas.., dalam pandanganku, aku merasa bunga mawar ini akan jauh terasa lebih indah jika berada di tanganmu Nimas." kata Laksito yang sama sekali tidak tersinggung dengan tanggapan gadis itu padanya.
__ADS_1
"Peganglah dulu Nimas, sedetik saja aku ingin melihatmu terpadu dengan kecantikan mawar merah ini." Laksito menambahkan lagi.
Rengganis tidak memperhatikan Laksito, dia malah menepuk bahu Sayekti.
"Aku sudah berjanji akan membantu Ibunda..., jadi kita berpisah dulu Yekti." kata Rengganis, dan tanpa menunggu jawaban Sayekti, dengan cepat Rengganis sudah berjalan meninggalkannya.
"Tunggu aku Nimas ..!" Laksito segera mengejar langkah Rengganis, kemudian menjejeri langkahnya.
"Ada apa Kang Laksito, aku sedang terburu-buru." tanya Rengganis tanpa menoleh.
"Kapan Nimas akan membuka hati untukku? Sudah terlalu lama aku menunggumu Nimas, beri kesempatan untukku!" Laksito memohon pada Rengganis.
"Pergilah Kang Laksito.., sampai matipun aku tidak akan mau bersama denganku. Aku sudah memiliki pria, yang bersamanya kita sudah mengikat diri." ucap Rengganis sambil terus berjalan cepat meninggalkan laki-laki itu.
Laksito melihat punggung gadis itu dengan perasaan kecewa.
*********
Di dalam ruang tengah padhepokan Jagadklana. Ayahnda dan ibunda Rengganis sedang membicarakan acara perayaan tahunan Jagadklana. Mereka bertukar pikiran dengan mengajak beberapa sesepuh yang ada di padhepokan itu.
"Apa rencana kalian, aku dengar tamu-tamu dari wilayah lain sudah banyak berdatangan ke wilayah kita. Bahkan sampai 3 perahu tambahan dikirim oleh pekerja untuk menjemput para pengunjung." Ki Sasmito membuka pembicaraan.
"Iya.., tapi kita juga harus berbesar hati karena satu perahu kita patah di tengah perjalanan." seorang sesepuh menanggapi perkataan Ki Sasmito.
"Aku juga mendengar, tetapi belum ada yang melapor resmi padaku. Apakah ada yang tahu bagaimana cerita persisnya?" tanya Ki Sasmito.
"Ampun Ketua..., menurut laporan pengemudinya. Di tengah telaga mereka diserang Nogogini dan kedua naga lainnya. Untungnya tidak ada korban, karena konon menurut cerita ada satu anak laki-laki muda yang terbang dan berkomunikasi dengan naga-naga itu. Setelah berkomunikasi, naga-naga itu kembali menyelam ke dalam air. Dan laki-laki muda itu juga yang sudah menyelamatkan orang-orang kita." satu sesepuh menyampaikan informasi.
__ADS_1
"Siapakah laki-laki itu? Apakah dia dari orang kita atau dari wilayah lain?" tanya Ki Sasmito tertarik. Dia berusaha mencari informasi lebih lanjut.
"Bukan orang dari kita, kelihatannya orang yang berjalan-jalan ke wilayah kita." salah satu orang memberi informasi.
Ki Sasmito terdiam sebentar, kemudian...
"Kirim orang untuk menyelidiki, aku ingin bertanya padanya. Tidak mungkin Nagagini muncul, jika tidak ada pemicunya, jangan-jangan tanpa kita sadari kita sudah membuatnya tertindas." lanjut Ki Sasmito.
"Hanya orang yang masih memiliki garis keturunan Mustika Nabau yang bisa berbicara dengan kaum ular. Bisa jadi, anak muda itu memiliki mustika itu." seorang sesepuh menambahkan.
"Sudah, yang penting segera kirim orang untuk menyelidikinya, kemudian untuk perayaan tahunan apakah sudah disiapkan. Kita tidak boleh mengecewakan tamu-tamu kita, mengingat hanya waktu-waktu tertentu kita membuka portal masuk ke wilayah kita." kata Ki Sasmito.
"Iya Ketua, saya sudah arahkan penanggung jawab untuk menyiapkan semuanya." sahut salah satu yang hadir disitu.
"Para perempuan juga sudah bersiap untuk menyiapkan hidangan jamuan. Bahkan beberapa orang menyewakan rumah-rumah mereka untuk disewakan pada para tamu yang datang." Ibunda Rengganis ikut menambahkan.
"Syukurlah jika semua sudah siap untuk menyambut tamu yang datang. Sekarang aku akhiri pertempuran hari ini, silakan kalian kembali ke tempat kalian masing-masing." Ki Sasmito mengakhiri pertemuan.
Setelah semua yang hadir keluar dari ruangan, Ki Sasmito mengajak ibunda Rengganis untuk mengunjungi ke griya yang digunakan untuk kamar putrinya. Seperti pasangan muda, Ki Sasmito menggandeng tangan istrinya menyusuri kawasan padhepokan. Di depan bangunan Limasan dengan ornamen ukiran kayu, Ki Sasmito memegangi tangan istrinya menaiki tangga naik ke teras.
"Rengganis, buka pintu nak... Ayahnda dan ibunda ingin berbicara denganmu nak." sambil mengetuk pintu, Ibunda Rengganis memanggil putrinya.
"Ceklek.." suara handle pintu dibuka dari dalam, dan seraut wajah cantik tersembul dari dalam.
"Bunda..., ayah..." Rengganis langsung memeluk kedua orang tuanya. Kemudian mereka masuk ke dalam kamar.
**********
__ADS_1