
Chakra Ashanka duduk bersila di depan laki-laki tua itu. Sambil tersenyum arif, laki-laki tua itu menatap anak muda itu dengan perasaan senang. Sepertinya kemunculan Chakra Ashanka telah mengingatkan laki-laki itu pada masa mudanya. Perlahan tangan laki-laki tua itu menyentuh kepala anak muda itu, dan sebuah aliran dingin terasa masuk ke ubun-ubun Chakra Ashanka.
"Anak muda.., siapakah namamu..?" dengan suara tegas berwibawa, laki-laki tua dengan pakaian berwarna putih, dan juga rambut yang sudah putih itu bertanya pada Chakra Ashanka.
"Orang tua saya memberi nama saya Chakra Ashanka kakek.., dan biasa dipanggil dengan nama panggilan Ashan." dengan berani, anak muda itu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh laki-laki tua itu.
"Sebuah nama yang bagus, dengan Chakra bermakna kumpulan energi, dan Ashanka merupakan sebuah jalan penghidupan yang tenteram, merdeka, bahagia dan sempurna. Orang tuamu ingin membentukmu menjadi manusia yang memiliki tujuan seperti makna dari namamu. Kamu harus berjuang keras untuk mewujudkannya." laki-laki tua itu mengeja nama Ashan, kemudian juga menjelaskan maknanya.
Anak muda itu tersenyum dan menganggukkan kepala, dan tetap tenang mendengarkan perkataan dan wejangan yang diberikan oleh laki-laki tua tersebut.
"Ada sebuah warisan yang akan aku hadiahkan untuk orang yang berhasil naik ke lantai tujuh. Dan ternyata dari sekian banyak orang, hanya kamu satu-satunya yang berhasil untuk naik sampai ke lantai ini Ashan.. Aku akan bertanya padamu.., apakah kamu sanggup dan mau untuk menerima warisan ini. Aku ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu anak muda.." tidak diduga, laki-laki itu akan memberikan warisan untuk Chakra Ashanka.
Tanpa berpikir, dengan mantap anak muda itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Saya siap untuk menerimanya kakek.., tidak peduli apapun syaratnya, Ashan akan berusaha untuk memenuhi persyaratan yang kakek berikan.." dengan tegas dan yakin, anak muda itu menyanggupi apa yang diucapkan oleh laki-laki tua itu.
"Tidak ada persyaratan khusus sebenarnya anak muda. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan Kakek Ananta. Untuk bisa menerima warisan ini, kamu harus membuka tujuh cakra utama di sepanjang garis tubuhmu. Empat cakra di tubuh bagian atas, yang mengatur sifat-sifat mental kita, dan tiga cakra ada di tubuh bagian bawah, yang mengatur sifat-sifat bawaan kita. Cakra-cakra itu dikenal dengan Cakra Muladhara (dasar). Cakra Svadhisthana (sakral) Cakra Manipura (solar plexus) Cakra Anahata (jantung) Cakra Visuddhi (tenggorokan) Cakra Ajna (mata ketiga) Cakra Sahasrara (mahkota). Apakah kamu sanggup untuk membukanya?" kakek Ananta menjelaskan tentang pelajaran dasar untuk dapat menerima warisan tersebut.
Mendengar istilah-istilah yang baru pertama kali didengarnya, tanpa menjawab Chakra Ashanka menganggukkan kepalanya. Laki-laki tua itu tersenyum, kemudian menunjukkan gerakan-gerakan yang harus dilakukan oleh anak muda itu. Chakra Ashanka memperhatikan gerakan-gerakan itu dengan cermat. Sesekali anak muda itu menanyakan pada laki-laki itu jika ada yang tidak diketahuinya.
Setelah mendapatkan penjelasan, Chakra Ashanka kemudian duduk bersila di depan laki-laki tua itu. Kedua kakinya dilipat di depan, dan kedua ujung ibu jari serta telunjuk bersentuhan perlahan dalam gerakan yang tenang. Hal itu dibiarkan untuk beberapa saat. Chakra Ashanka energi mengalir di sepanjang tubuhnya dengan merata dan seimbang, ketenangan mulai menjalari tubuh dan juga perasaannya.
*********
"Sekarang kamu harus membuka chakra jantung anak muda. Cakra ini disimbolkan dengan sebuah warna hijau, dan berkaitan dengan cinta, kepedulian, dan kasih sayang. Ketika cakra dalam tubuhmu ini terbuka, kamu akan terkesan penuh kasih dan ramah, dan akan dapat menyenangkan semua orang yang bertemu denganmu." kakek Ananta kembali memandu gerakan lainnya.
Masih dengan posisi gerakan tangan yang sama, Chakra Ashanka meletakkan tangan kiri di atas lutut kiri dan tangan kanan di depan bagian bawah tulang dada. Setelah merasa jika posisinya nyaman, anak muda itu memfokuskan perasaannya pada Cakra Jantung, pada tulang belakang, kemudian mensejajarkan keduanya. Setelah beberapa saat melakukannya, perasaan bersih dan kuat muncul dan mulai menyelimuti perasaan anak muda itu.
__ADS_1
Tanpa terasa sudah selama enam purnama, anak muda itu berlatih di tempat itu. Rahang Chakra Ashanka sudah ditumbuhi oleh cambang yang lebat, dan rambutnya juga tergerai lurus ke bawah. Untungnya gerakan-gerakan yang dilakukan anak muda itu, mengatur keseimbangan olah tubuh, juga rasa ternyata juga membawa dampak pada rambut yang tumbuh beraturan.
"Anak yang muda.., terimalah ilmuku yang terakhir yang juga merupakan dari puncak kekuatan dari apa yang sudah kamu pelajari selama ini." tiba-tiba kakek Ananta berbicara dengan nada tegas kepada anak muda itu.
"Siap kakek.." dengan suara lemah, Chakra Ashanka menjawab perkataan laki-laki tua itu.
Kakek Ananta mengangkat tangan ke atas, kemudian meletakkannya di atas kepala anak muda itu. Tiba-tiba sebuah lingkaran energi berwarna kuning kehijauan tampak jelas terbentuk di bawah telapak tangan laki-laki tua itu. Anak muda itu merasakan rasa panas yang sangat membakar di kepalanya, tetapi Chakra Ashanka tidak berani untuk membuka matanya.
"Bertahanlah anak muda..., akan ada sedikit rasa sakit di kepala dan juga seluruh tubuhmu. Tetapi tahapan ini harus kamu lalui, karena kamu sudah menyatakan sanggup untuk menerima warisan dariku." dengan tersenyum pahit, kakek Ananta berbicara pada Chakra Ashanka. Tetapi anak muda itu masih fokus menahan rasa panas yang seakan merobek tempurung kepalanya. Sedikitpun Chakra Ashanka tidak mampu untuk mendengar perkataan yang diucapkan oleh laki-laki tua itu.
Tiba-tiba kakek Ananta memutar kedua telapak tangannya dengan cepat di atas kepala anak muda itu. Jika dilihat dengan mata telanjang, gerakan itu seperti membuat bulatan-bulatan di atas kepala. Begitu kecepatan itu ditambahkan, Chakra Ashanka semakin merasakan sakit yang seakan mencengkeram kepalanya. Keringat mengalir deras dan membasahi pakaian yang dikenakan oleh anak muda itu. Selain rasa panas, rasa seperti disayat dengan pisau, dan rasa perih terasa jelas di batok kepala Chakra Ashanka.
Laki-laki tua itu terus menambah kecepatan tangannya, dan wajah anak muda itu sudah tidak dapat dikenali lagi. Warna merah kehitaman terlihat di wajah anak muda itu, dengan baju yang sudah oleh keringat yang membanjir.
__ADS_1
********