Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 238 Mencari Masalah


__ADS_3

Baru saja Rengganis menikmati keindahan cincin batu yang ada di tangannya, dari arah belakang tiba-tiba ada seorang gadis muda yang menyerobot masuk. Tidak mau menimbulkan keributan, Rengganis menggeserkan tubuhnya ke samping di depan tatapan tidak suka Chakra Ashanka. Melihat reaksi yang ditunjukkan putranya, Rengganis memegang lengan putra laki-lakinya untuk memberi isyarat agar Chakra Ashanka mengendalikan dirinya.


"Beri aku seperangkat perhiasan batu yang unik dan menarik! Pastikan hanya satu koleksi yang ada, bukan yang dibuat dalam jumlah banyak." dengan nada pongah, salah satu dari gadis tersebut berkata pada penjual perhiasan tersebut.


"Kalian berdua bisa melihat koleksi-koleksi kami yang ada di sebelah sini. Kami pastikan di tempat yang lain, tidak ada yang menjual perhiasan sama dengan yang sudah kami pajang disini. Semua koleksi di sebelah sini, kami sendiri yang membuat dan mendesainnya." dengan ramah, penjual menanggapi kedua gadis itu. Tanpa bicara kedua gadis bergeser ke tempat yang ditunjukkan penjual, dan tanpa sengaja mereka tidak sadar membuat Wisanggeni sampai memundurkan posisi berdirinya. Rengganis tersenyum sambil menutup mulutnya melihat hal tersebut.


"Ada yang lucu.., mentertawakan kami..?" tiba-tiba salah satu gadis tersebut berbicara dengan nada tidak suka pada Rengganis. Mendengar perkataan tersebut, Chakra Ashanka menarik Rengganis mundur ke belakang, kemudian anak laki-laki itu berdiri di depan ibundanya.


"Huh.., berani kalian berdua berbicara kasar dengan pihak yang lebih tua..?" dengan nada sinis, Chakra Ashanka berbicara pada kedua gadis tersebut. Melihat ada anak laki-laki tampan berbicara kepada mereka, kedua gadis itu mencoba bersikap baik.


"Oh maaf kang.., kami tidak sengaja! Akang sedang melihat-lihat perhiasan juga disini.., bisa bantu kami untuk memilihkan koleksi yang cocok untuk den ayu..?" tidak diduga, satu dari gadis tersebut bersikap ramah pada Chakra Ashanka. Sedang gadis yang satunya, terlihat diam tersipu di sebelah gadis tersebut.


"Aku tidak punya waktu.. untuk gadis yang tidak tahu sopan santun seperti kalian. Paman.., bisa dibungkuskan cincin untuk ibunda saya..?" malas menanggapi dua gadis tersebut, Chakra Ashanka langsung meminta penjual untuk membungkus pesanan mereka. Dengan tatapan tidak suka, kedua gadis itu cemberut dan tiba-tiba mata mereka terbelalak melihat cincin dengan batu permata merah muda yang diserahkan Chakra Ashanka pad apenjual tersebut.

__ADS_1


"Paman.., aku mau cincin seperti yang akan dibungkus itu. Siapkan satu untukku...!" tanpa bertanya terlebih dahulu, gadis itu meminta penjual untuk menyiapkan cincin yang sama persis dengan yang ada di tangan penjual.


"Maaf den ayu..., tadi sudah saya katakan jika perhiasan yang ada di sebelah sini, masing-masing hanya dibuat satu saja. Silakan den ayu memilih-milih koleksi yang lainnya, untuk cincin ini kebetulan sudah dari tadi dipesan oleh mereka." dengan nada halus, penjual menjelaskan kepada kedua gadis itu.


"Kamu tidak dengar penjual.., den ayu saya meminta cincin itu. Jika tidak ada yang lain, berikan cincin itu untuk den ayu kami. Jangan khawatir, kamu tidak akan mengalami kerugian. Kami akan membayar dua kali lebih lipat dari yang akan dibayarkan oleh mereka." masih dengan nada pongah, satu dari gadis tersebut mencoba menyuap penjual perhiasan.


"Mohon dimaafkan den ayu.., sebagai penjual saya tidak boleh mencurangi pembeli. Cincin ini sudah dari tadi dipilih oleh keluarga ini, maka saya juga akan memberikannya pada mereka. Ki Sanak.., silakan diambil cincinnya.., 3 keping emas harganya." tanpa melihat pada kedua gadis tersebut, penjual memberikan bungkusan cincin pada Chakra Ashanka, Anak laki-laki itu langsung membayar sesuai harga yang diminta oleh penjualnya. Dengan tatapan tidak suka, kedua gadis itu membalikkan badan kemudian pergi dari tempat tersebut.


***********


"Bunda mau coba gulali... Manis sekali.." anak laki-laki itu menyerahkan satu buah gulali kepada Rengganis, dan Wisanggeni hanya tersenyum melihatnya. Sejak tadi, Chakra Ashanka melayani ibundanya dengan menawarkan barang-barang yang dianggapnya unik.


"Terima kasih putraku..." Rengganis segera menerima pemberian tersebut. Meskipun Chakra Ashanka jarang bepergian keluar sendiri, ternyata anak laki-laki itu dengan cepat menyeseuaikan diri dengan keadaan yang terjadi di sekitarnya. Sering melewati masa sejak kecil, jarang didampingi oleh Wisanggeni menjadikan anak laki-laki itu memiliki jiwa mandiri.

__ADS_1


"Apakah masih ada yang mau dilihat, jika sudah tidak ada, kita segera kembali ke penginapan untuk beristirahat." melihat mereka sudah sampai di ujung terakhir tempat keramaian tersebut, Wisanggeni mengajak mereka kembali. Sebenarnya sejak tadi, laki-laki itu merasakan ada yang berjalan menguntit dan mengikuti mereka. Tetapi untuk tidak mengacaukan perjalanan mereka, Wisanggeni hanya diam mengamatinya sendiri.


"Rengganis sudah cukup Akang.., sepertinya putra kita juga sudah cukup juga. Bukan begiitu Ashan..?" Rengganis bertanya pada putranya.


"Iya ayah .., bunda.., ayo kita segera kembali. Tetapi sepertinya dalam perjalanan pulang, kita akan mengalami gambatan sebentar, karena sepertinya ada urusan yang belum kelar dengan kita.." tidak diduga, ternyata firasat yang dirasakan Chakra Ashanka juga tajam. Anak laki-laki itu juga mengenali jika ada yang menguntui perjalanan mereka. Rengganis dan Wisanggeni saling berpandangan, mereka berdua mengira hanya mereka yang merasakan, ternyata putra mereka juga memiliki firasat dan tatapan yang tajam juga.


"Benar putraku.., kita abaikan saja mereka. Selagi mereka tidak berbuat kurang ajar kepada kita, maka kita tidak perlu menanmbah daftar musuh untuk kita. kecuali mereka membuat keributan, maka tugas kita adalah membuat mereka kembali sadar dan insaf." dengan suara lirih, Wisanggeni menjelaskan pada putranya.


"Baik ayahnda.., Ashan akan selalu mengingat pesan yang disampaikan oleh ayahnda dan ibunda..." sambil tersenyum, Chakra Ashanka mengikuti langkah kedua orang tuanya, Mereka pura-pura tidak tahu, jika ada sedikit bahaya yang mengintai mereka.


Beberapa saat mereka berjalan kembali ke arah penginapan, dan baru beberapa langkah mereka meninggalkan keramaian. Terlihat di depan mereka, lima orang berdiri menghadang mereka di tengah jalan. Beberapa orang yang kebetulan berjalan bersama dengan keluarga Wisanggeni, mereka segera berbalik arah ketika melihat kelima orang tersebut. Tetapi tidak dengan Wisanggeni..


"Ayah.., bunda.., istirahatlah. Biarkan Ashan yang akan berbicara dengan mereka.." Chakra Ashanka menghentikan langkahnya. Kedua tangannya menghentikan langkah ayahnda dan ibundanya. Dengan berani, dibawah tatapan mata kedua orang tuanya, anak laki-laki itu berjalan mendatangi kelima orang tersebut. Di belakang anak laki-laki itu, Wisanggeni tersenyum dan menganggukkan kepala pada Rengganis.

__ADS_1


**************


__ADS_2