
Kepatihan Kerajaan Logandheng
Setelah membakar jasad Senopati Wiroyudho, Patih Wirosobo tampak melamun di kegelapan malam. Rasa dendam sangat membara di hati laki-laki itu, melihat putra sulungnya menjadi korban dalam pertarungan deng orang-orang di perguruan Gunung Jambu. Dari belakang laki-laki itu, tampak Anggoro melihat keberadaan romonya, dan berlahan berjalan mendekati laki-laki paruh baya tersebut.
"Sudah malam Romo.., ada baiknya romo segera beristirahat, untuk sebentar memejamkan mata dan mengistirahatkannya." ucap Anggoro pelan, berusaha mengajak ayahndanya berbicara.
Laki-laki paruh baya itu menoleh, dan melihat putra bungsunya itu. Tampak kekecewaan di wajah laki-laki paruh baya itu melihat kemunculan Anggoro di depannya. Memang prestasi anak muda itu belum bisa dibandingkan dengan Wiroyudho, yang sudah berhasil mendapatkan kepercayaan dari raja Logandheng terakhir untuk menjadi Senopati. Tetapi karena salah perhitungannya, akhirnya putra sulungnya itu menjadi korban dalam peperangan.
"Apakah romo tidak mendengar apa yang diucapkan Anggoro?" melihat Patih Wirosobo hanya menatapnya dengan tatapan kosong, putra bungsu laki-laki paruh baya itu mempertegas pertanyaannya,
Patih Wirosobo mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya kembali.
"Jika kamu ingin istirahat terlebih dahulu, istirahatlah ANggoro. Romo belum ingin istirahat, masih banyak yang berada di pikiran romo. Saat ini, romo hanya ingin sendiri berada disini." Patih Wirosobo menjawab pertanyaan Anggoro.
"Hmm..., selalu seperti itu perlakuan Romo terhadap Anggoro. Apakah karena kesalahan kecil saja, bisa memutuskan hubungan antara seorang ayahnda dan putranya?? Romo selalu membedakan perlakuan antara kang Wiroyudho dengan Anggoro.." tiba-tiba Anggoro mengungkit perlakuan ayahndanya, yang selalu berbeda dengan memperlakukan kakak tertuanya.
"Bukan begitu putraku.., jangan salah sangka terhadapku. Romo sangat terpukul, dan sangat menyesal atas kepergian kakang sulungmu. Perguruan Gunung Jambu..., mereka harus bertanggung jawab atas terbunuhnya Wiroyudho. Romo akan menuntut balas, dan tidak akan diam saja dengan kejadian ini." tampak raut wajah kemerahan menahan emosi, ditunjukkan oleh Patih Wirosobo.
__ADS_1
Melihat reaksi yang ditunjukkan ayahndanya, Anggoro hanya terdiam, Perlahan laki-laki itu mundur, dan meninggalkan Patih Wirosobo sendiri dalam kegelapan malam. Tampak suasana duka masih terlihat di setiap sudut rumahnya, bagaimana ibundanya yang belum bisa menghentikan tangisan terlihat dari suara isak tangis dari dalam kamar. Laki-laki muda itu perlahan berjalan meninggalkan ruangan itu, dan kembali ke padhepokannya sendiri.
**********
Kerajaan
Raja Logandheng sementara mengumpulkan beberapa pendamping kerajaan, dan Senopati yang tidak ikut berperang melawan perguruan Gunung Jambu. Di saat Patih Logandheng masih berduka, raja mengumpulkan pejabat kerajaan dengan tergesa-gesa, dan meminta mereka untuk segera datang di Kraton kilen, tempat beristirahat raja dan keluarganya.
"Jelaskan siapa yang memahami kejadian di luar sana! Aku seperti orang bingung, yang tahu-tahu Senopati Wiroyudho gugur dalam melawan perguruan gunung Jambu. Bukannya perguruan itu berada di luar kerajaan kita, dan beberapa waktu lalu masuknya perempuan bernama Maharani ke istana, yang ternyata juga berasal dari perguruan itu. Jelaskan padaku, apa sebenarnya yang telah terjadi!" Raja mengawali pertemuan dengan bertanya tentang kejadian sebenarnya yang sudah terjadi di kerajaan.
"Ampun Sinuhun..., bukannya kami menutupi apa yang telah terjadi di kerajaan Logandheng. Beberapa waktu memang Patih Wirosobo, meminta pada kami para Senopati untuk berangkat menuju perbatasan Logandheng dengan kerajaan Laksa. Tetapi, menurut informasi terakhir, mereka malah bersitegang dengan perguruan Gunung Jambu, tetapi untuk kejadian persisnya kami tidak tahu Sinuhun." Senopati Baurekso yang tidak bergabung untuk penyerangan ke perguruan Gunung Jambu menambahkan informasi.
Satu persatu yang mengetahui cerita tentang peperangan itu, menceritakan apa yang diketahuinya. Raja Logandheng dan penasehat mendengarkannya dengan penuh perhatian. Kunci dari pembicaraan kali ini sepertinya terkait dengan menghilangnya Raden Bhadra Arsyanendra selaku pewaris utama kerajaan logandheng.
"Siapakah yang mengetahui informasi terakhir dari bocah kecil itu. Bagaimanapun keadaannya, pada saatnya nanti. raden Bhadra akan menggantikanku sebagai penerus kerajaan, Tahta ini bukan merupakan hakku, aku hanya menggantikan sementara karena carut marut kepemimpinan dalam kerajaan ini." mendengar perkataan raja terakhir, semua yang berada dalam kraton kilen itu terdiam.
"AKu yakin, tidak akan ada alasan jika perguruan Gunung Jambu, berani melanggar kesepakatan perjanjian yang sudah tertulis, jika bukan karena hal yang penting. Apakah kira-kira keberadaan Raden Bhadra berada di perguruan itu, sehingga Patih Wirosobo sangat ingin menghabisi orang-orang di perguruan?" merasa tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari orang-orang yang datang dalam pertemuan itu, raja Logandheng berusaha mencari tahu.
__ADS_1
Semua yang berada disitu terdiam, dan menundukkan kepala. Sebenarnya beberapa senopati yang turut bergabung dalam penyerangan melawan perguruan, mengetahui alasan sebenarnya mengapa mengirimkan pasukan ke perguruan tersebut. Tetapi mereka tidak memiliki keberanian untuk melawab Patih Wirosobo, apalagi putranya Wiroyudho baru saja menjadi korban dalam pertarungan tersebut.
"Baiklah.., karena aku tidak mendapatkan apapun dari pertemuan ini, sepertinya kita cukupkan dulu informasi ini. Aku pastikan, siapapun yang membocorkan hasil dari pertemuan ini, maka penjara bawah tanah akan menunggunya." untuk menjaga kerahasiaan pertemuan, raja Logandheng membuat ultimatum.
"Njih SInuhun.." akhirnya raja Logandheng berjalan meninggalkan tempat pertemua tersebut, kemudian memasuki istana tempat peraduannya.
*********
Trah Bhirawa
Lindhu Aji terkejut mendapatkan seekor burung merpati dengan daun lontar yang terikat di kakinya. Laki-laki itu kemudian mengambil daun lontar tersebut, kemudian membuka dan membaca isi yang terkandung di dalamnya. Dahi Lindhu Aji berkerenyit membaca isi berita tersebut, kemudian laki-laki itu bergegas masuk ke dalam pendhoponya.
"Nimas Larasati, hentikan aktivitasmu sebentar! Ada hal penting yang akan aku bicarakan denganmu." sesampainya di dalam, melihat Larasati yang sedang menyusun tumpukan pakaian, laki-laki itu meminta perempuan itu untuk berhenti.
"Baik kang Aji.." Larasati segera menyelesaikan menyusun lipatan-lipatan baju. Perempuan itu segera bergegas mendatangi suaminya Lindhu Aji, kemudian mengikuti suaminya duduk di atas lincak kayu.
"Ada hal penting apa kakangmas, sepertinya kakang menyembunyikan sesuatu?" melihat suaminya melamun, Larasati tidak sabar bertanya pada lindhu aji.
__ADS_1
"Kita harus segera menuju ke Perguruan Gunung Jambu, Dhimas Wisanggeni membutuhkan bantuanmu Nimas. Hal ini terkait dengan racun yang sudah merambat di seluruh bagian tubuh Nimas Maharani." Lindhu aji dengan suara tercekat menjawab pertanyaan istrinya itu.
************