
Para punggawa desa terdiam dan menundukkan kepala. Mereka tidak berani menatap langsung ke mata Chakra Ashanka dan kedua gadis yang bersamanya. Apalagi dari bicaranya, Chakra Ashanka terlihat cukup kenal dan memiliki hubungan dekat dengan Raja Abhiseka, raja yang baru saja menggantikan posisi ayahndanya.
"Apa sebenarnya yang menjadi tujuan kalian melakukan tindakan tercela itu, menindas ekonomi rakyat kalian sendiri?" dengan nada tinggi, anak muda itu bertanyalah pada para punggawa tersebut.
Ketiga laki-laki yang menjadi punggawa, saling berbagi, mereka menatap pada satu orang yang memiliki jabatan sebagai kepala desa tersebut. Menyaksikan hal itu, Ayodya Putri dan Sekar Ratih menjadi gemas. Keduanya tidak lagi memiliki kesabaran, dan tiba-tiba sebuah pisau kecil menancap di meja depan kepala desa duduk.
"Baik... baik.., kami berjanji tidak akan mengulangi lagi hal yang bodoh ini. Kami tidak ingin ada warga desa yang memiliki kekayaan melebihi kami, sehingga mereka akan dengan mudah menjadi jago dalam pemilihan kepala desa di masa depan." kepala desa dengan suara lirih mencoba menjelaskan.
"Bodoh kalian semua.. hanya demi kekayaan dan nama besar yang tidak ada artinya, kalian tega bertindak sendiri itu. Apalagi sampai menghancurkan sendi-sendi ekonomi di desa ini. Berapa keping uang yanga kalian korbankan untuk duduk dalam posisi ini?" dengan tatapan sengit, ayodance Putri bertanya pada kepala desa itu.
"Ampun Nimas... tidak ada keping kami yang diberikan kepada rakyat. Malah berlaku hal yang sebaliknya, dimana setiap anggota masyarakat harus menyerahkan sepersepuluh dari hasil mereka untuk diserahkan sebagai upeti kepada kami." dengan reaksi penuh ketakutan, satu punggawa menjawab pertanyaan Ayodya Putri.
"Bruakkk... jahanam kalian semua. Bahkan tidak hanya kekejaman yang kalian berikan pada rakyat desa ini. Tapi kalian sudah mengambil hak mereka." Sekar Ratih menggebrak meja di depannya.
Ke empat orang itu menjadi semakin ngeri dan takut dengan reaksi kedua gadis itu. Mereka baru merasa dan berpikir jika kali ini mereka mendapatkan lawan yang salah. Di balik kepolosan dan masih mudanya usia ketiga orang itu, ternyata mereka memiliki kekuatan dan juga kepandaian.
"Sudah... semua tidak akan kami perpanjang lagi. Tetapi kalian semua harus bertobat, dan tidak lagi melakukan kesalahan yang menyakiti hati rakyat banyak. Jika kalian tidak bersedia... silakan kalian semua pergi meninggalkan desa ini. Biar desa ini yang akan memilih siapa yang layak untuk menjadi kepala desa." akhirnya suara Chakra Ashanka terdengar, dan laki-laki itu menawarkan sebuah pilihan.
"Kami akan mengikuti kehendakmu anak muda.. tetapi jangan laporkan kejadian di desa kami pada Kanjeng Sinuhun. Kami sudah mendengar bagaimana sepak terjang kanjeng Sinuhun." kepala desa dengan tatapan ketakutan berusaha menyetujui perkataan anak muda itu.
__ADS_1
"Jika begitu kemauan kalian, aku akan menurutimu. Namun... jangan berpikir untuk mengkhianati hasil kesepakatan kali ini. Kalau sampai suatu saat, ada berita yang masuk ke telinga kami tentang kesewenang-wenangan kalian, aku tidak akan segan-segan untuk bertindak sendiri." seperti sebuah magnet, kalimat yang diucapkan Chakra Ashanka terpatri di hati orang-orang itu.
"Kita harus menuliskan kesepakatan ini pada daun lontar, kemudian kita sebarkan ke seluruh penjuru desa sehingga semua warga bisa mengetahuinya. Selain itu, perbesar ukuran tulisan dan pasang di setiap sudut desa." anak muda itu melanjutkan kalimatnya.
Akhirnya kepala desa dan para punggawanya menyepakati apa yang disampaikan oleh anak muda itu. Mereka kemudian menetapkan satu hari untuk merealisasikan hal tersebut.
*********
Keesokan harinya
Di halaman balai desa, sejak pagi tempat itu sudah dipenuhi oleh warga desa. Berita tentang pencatatan janji baru para punggawa desa hari ini sudah tersebar luar, sehingga warga desa tidak mau ketinggalan berita. Mereka berduyun-duyun sejak pagi mendatang halaman balai desa tersebut.
"Kakang Ashan.. sepertinya kejadian hari ini akan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Punggawa desa akan membuat janji di depan semua warga desa, sehingga mereka tidak akan berani untuk mengingkarinya." Sekar Ratih menanggapi kejadian ini.
" Iya.. semoga akan menjadi pelajaran bagi semuanya, dan hari ini bisa menjadi awal untuk perkembangan desa ini ke depannya." Chakra Ashanka memberikan tanggapan.
Anak muda itu kemudian berjalan menyibak kerumunan dengan diikuti oleh Ayodya Putri dan Sekar Ratih di belakangnya. Untung beberapa warga mengenali mereka, sehingga tanpa menimbulkan kekacauan, warga masyarakat menyingkir sendiri begitu melihat mereka.
"Selamat datang Ki sanak.. Rayi Ashan, Nimas Putri dan Nimas Ratih.. kesinilah untuk menyaksikan penulisan janji di kursi ini." salah satu punggawa yang melihatnya segera menyiapkan tempat untuk ketiga anak muda itu.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, ketiganya segera duduk di kursi kayu yang sudah disiapkan untuk mereka. Tidak lama kemudian, kepala desa dengan menundukkan kepala memasuki tempat tersebut. Untuk tidak mengulur waktu, kepala desa meminta agar acara dipercepat.
"Ayo.. ayo.. turuti janji kalian..." kehebohan di depan balai desa mulai terdengar ketika kepala desa dan punggawa lainnya menuliskan janji mereka.
Satu persatu empat orang yang bertanggung jawab untuk pengelolaan desa, maju ke depan untuk menuliskan janji mereka di bawah tatapan ribuan orang di halaman balai desa. Chakra Ashanka tersenyum melihat kejadian itu, dan anak muda itu membayangkan jika pengawasan sampai di tingkat bawah akan sangat dibutuhkan dalam pemerintahan sebuah kerajaan. Menyadari jika tidak lama lagi, dirinya akan duduk menjadi seorang Patih kerajaan, Chakra Ashanka memutuskan untuk menjadikan kejadian di desa ini sebagai pelajaran.
"Kami berjanji tidak akan membuat kalian warga desa menjadi sengsara di masa depan. Jika hal itu terjadi, maka turunkan kami dari jabatan ini." terdengar suara Kepala desa dan para punggawa mengucap janji di depan warga.
" Catat... catat.." suara satu warga desa ditimpali oleh warga desa lainnya. Kepala desa dan punggawa sibuk memberi jawaban pada warga desa yang mengajukan pertanyaan.
"Nimas... bersiaplah. Tugas kita hanya mengawal kepala desa dan para punggawa untuk membuat perjanjian itu di depan warga desa. Selanjutnya sudah bukan menjadi urusan kita. Kita harus cepat meninggalkan tempat ini." Chakra Ashanka berbisik pada Ayodya Putri dan Sekar Ratih.
Kedua gadis itu segera tanggap dengan apa yang dimaksudkan oleh anak muda itu. Perlahan mereka segeralah berdiri, dan ketika fokus dan konsentrasi para warga desa pada kepala desa dan punggawanya, ketiga anak muda itu segera menyelinap pergi. Ketiganya terus menyusup di tengah keramaian, dan akhirnya sampailah mereka di pinggiran desa.
"Apakah kalian berdua sanggup untuk kita melanjutkan perjalanan lagi?" Chakra Ashanka bertanya pada kedua gadis itu.
"Kami sanggup kakang..." jawab kedua gadis itu hampir bersamaan.
********
__ADS_1