Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 70 Petunjuk


__ADS_3

Di atas punggung Singa Ulung, Wisanggeni mengaktifkan telepati untuk memberi informasi pada semua ular yang berada di wilayah ini. Karena laki-laki muda ini ingin melanjutkan perjalanan ke Jagadklana, dia menitipkan pengawasan keselamatan ayahnda dan keluarganya pada ular-ular tersebut. Setelah mendapatkan balasan kesanggupan dari keluarga ular, Wisanggeni langsung melaju ke sisi selatan.


"Apakah kamu memiliki arah untuk menuju ke Jagadklana Ulung? Waktu usia kecil, kata ayahnda aku dilahirkan  di padhepokan itu, tetapi aku sendiri tidak bisa mengingatnya." Wisanggeni berbicara pada Singa Ulung.


"Auuummmm." Singa Ulung mengaum sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Singa Ulung terlihat sangat cerah suasana hatinya, dia merindukan berbulan-bulan harus menunggu untuk bertemu dengan laki-laki muda itu. Untungnya ada sekawanan ular yang sedang membicarakan tentang proses regenerasi Wisanggeni setelah dinyatakan mati suri karena pertempurannya dengan Tumbak Seto.


"Ya...ya..., aku paham maksudmu kawan. Kamupun juga tidak tahu arah kan? Baiklah.., carilah kawasan pemukiman terdekat, kita akan beristirahat dulu disana." sambil tertawa, Wisanggeni menepuk-nepuk punggung binatang kesayangannya itu.


Tanpa menunggu waktu lama, binatang Singa berwarna putih itu mulai pelan-pelan turun ke bawah. Setelah beberapa saat, Singa Ulung langsung menukik turun. Sebuah pemandangan kaki bukit dengan hamparan sawah yang ditanami padi dan sudah menguning terlihat di hadapannya. Desa yang ada di wilayah itu terlihat sangat makmur dan tentram.


"Berubah bentuk dulu Ulung..., jika tidak kamu akan menakuti penduduk desa itu." sebelum berhenti, Wisanggeni berpesan pada binatang itu untuk berubah bentuk dulu menjadi  seekor kucing. Karena saat ini mereka berada pada wilayah yang masih asing, pura-pura bertindak lemah akan lebih menguntungkan mereka. Dari pada mereka bertindak pamer dan terkesan arogan.


Di balik pohon jati besar, Singa Ulung menurunkan Wisanggeni, dan sekali lompatan laki-laki muda itu sudah berada di bawah. Untuk mempercepat langkah, Wisanggeni segera menepuk kaki atas kanan binatang itu, dan tidak lama kemudian seekor kucing imut berwarna putih sudah menggesek-gesekkan badannya di kaki Wisanggeni.


Dengan menggendong kucing putih, Wisanggeni segera keluar dari persembunyiannya. Melihat ada 3 orang di pinggir desa sedang berbincang-bincang, laki-laki muda itu berjalan menghampiri mereka.


"Permisi.., selamat sore." dengan ramah Wisanggeni memberi sapaan pada ketiga orang tersebut.


"Sore.., ada apa Ki Sanak, apakah ada yang bisa kami bantu?" salah satu dari orang tersebut menjawab sapaannya dengan ramah.


"Kebetulan saya baru saja sampai di desa ini. Saat ini saya membutuhkan tempat untuk meluruskan punggung saya barang sebentar. Apakah Ki  Sanak bertiga tahu dimana letak penginapan yang bisa saya sewa di tempat ini?" Wisanggeni menyampaikan maksudnya.


"Untuk desa ini belum memiliki penginapan Ki Sanak, karena jarang ada orang asing yang masuk ke desa kami. Jika Ki Sanak berkenan, mungkin kami bertiga bisa mengantarkan Ki Sanak pergi ke rumah Kepala Desa. Biasanya jika ada tamu dari kota, akan diinapkan di Bale Desa." orang yang lain membantu memberikan solusi untuk Wisanggeni.

__ADS_1


"Begitu ya.., jika tidak merepotkan, saya akan minta bantuan dari Ki Sanak bertiga untuk mengantarkan saya. Tapi jika repot, cukup berikan petunjuk untuk menuju ke rumah Kepala Desa."


"Mari kami antarkan Ki Sanak.., kebetulan kami sudah selesai melakukan pengecekan saluran air untuk mmengairi sawah-sawah kami."


Wisanggeni berjalan mengikuti ketiga warga desa itu.


************


Seperti yang disampaikan oleh 3 orang yang bertemu dengan Wisanggeni, Kepala Desa menyambut baik kedatangannya. Malam ini, dia diantar menuju  salah satu kamar yang ada di Bale Desa tersebut. Terlihat jelas keramahan dari warga desa tersebut dalam menyambutnya, betul-betul warga yang sangat memuliakan tamu yang berkunjung.


"Nak Wisang.., ayo kita nikmati pisang godog ini dulu. Temannya teh jahe serai yang dibuat ibu-ibu warga sini pasti cocok." Ki Jongko selaku Kepala Desa menawari Wisanggeni untuk mengobrol malam hari.


"Iya paman, ini Wisang mau minum dulu." Wisanggeni kemudian mengambil cangkir, dan menyesap beberapa teguk teh jahe serai. Rasa hangat mengalir di tenggorokannya, membuat badannya menjadi hangat dan terasa segar. Terlihat di ujung tikar, Singa Ulung sedang tidur.


Ki Jongko dan beberapa warga laki-laki mengepulkan asap tingwe kulit jagung, dari mulut mereka. Malam ini mereka ngobrol menemani Wisanggeni di emperan bale desa, sambil menjaga desa dari gangguan pencuri.


"Ngomong-omong Nak Wisang ini dari wilayah mana, kok bisa sampai di desa ini?" salah satu warga bernama Jono bertanya pada Wisanggeni.


Wisanggeni meletakkan cangkir gembreng di atas lantai, kemudian menoleh pada orang yang mengajaknya bicara.


"Wisang mau pergi ke Jagadklana kangmas, tapi apesnya tersesat tidak tahu arah saat sampai di desa ini. Apakah kangmas pernah mendengar nama daerah itu?" Wisanggeni menjawab pertanyaan Jono, dan akhirnya balik bertanya.


"Jagadklana yang konon kabarnya berisi penduduk yang sangat pintar-pintar itu ya? Tetapi sayangnya, karena kepintarannya menjadikan banyak anak muda di wilayah itu menjadi sombong-sombong. Tidak  mudah mereka bisa menerima orang baru untuk masuk ke wilayahnya." sahut Karno.

__ADS_1


"Mungkin Kangmas.., tapi aku betul-betul sudah lupa dimana letak persis posisinya." Wisanggeni menambahkan.


"Kamu bisa menempuh perjalanan selama satu minggu untuk menuju kesana dengan berjalan kaki Wisang. Tetapi itu baru sampai di pinggiran danau, karena kebetulan wilayah itu berada di tengah-tengah danau. Sehingga mendukung mereka untuk cenderung mengisolasi diri, menjauhkan dari masyarakat lainnya. Namun, mereka memiliki kemajuan yang sangat bagus." Ki Jongko menanggapi.


Wisanggeni melihat pada Kepala Desa.


"Untuk menuju lokasi tersebut, jika mereka mengisolasi diri, kita akan naik apa paman?" tanyanya ingin tahu.


"Satu purnama sekali, mereka akan membuka diri dan mengijinkan orang dari luar wilayah mereka untuk masuk ke kawasan tersebut. Mereka memiliki sebuah kapal untuk dapat digunakan menyeberang kesana. Sepertinya Rabu depan, kebetulan jadwal mereka membiarkan orang luar bisa masuk ke wilayahnya." jawab Ki Jongko.


Wisanggeni dan beberapa orang yang ada disitu manggut-manggut mendengar penjelasan dari Kepala Desa.


"Berarti kamu bisa kesana Wisang..., ayolah ajak aku dan beberapa pemuda disini untuk menemanimu!" Jono meminta Wisanggeni untuk mengajaknya.


"Benarkah Kangmas.., jika kalian akan ikut menemaniku. Karena hari ini kebetulan jatuh pada hari Selasa, berarti besok pagi, kita sudah harus melakukan perjalanan kesana. Jika tidak, kita masih harus menunda sampai purnama depan." kata Wisanggeni.


"Benar apa katamu Wisang.. Siapa lagi yang akan ikut aku dengan Wisang pergi ke Jagadklana?" Jono mengajak pemuda lainnya untuk mengikuti Wisnaggeni.


"Aku mau."


"Aku juga."


Akhirnya ada 3 orang pemuda di desa itu yang tertarik untuk pergi bersama dengan Wisanggeni berkunjung ke Jagadklana.

__ADS_1


*************


__ADS_2